Setelah cuti beberapa hari karena
keadaan Jingga yang memprihatinkan dan butuh perhatian khusus, Asih
kembali kerutinitas kerja. Jingga telah dijemput mommy dan kini dalam
pengawasan ibu kandungnya itu. Sesekali Asih menjenguk adiknya itu
sekalian menengok ponakannya yang makin hari makin terlihat lucu.
Wajahnya perpaduan antara Jingga dan mas Ibay, cantik sekali.
Menghadirkan rasa kangen jika tak melihatnya sehari saja.
“Kabar Jingga gimana, Sih?” tanya mas
Hans saat muncul di kantor desa. Penampilan Aa kades pagi ini sangat
berwibawa. Asih tertegun mencium aroma farfum dari mas Hans.
“Gimana kabarnya Jingga, Sih? Kok malah
bengong?” Asih tersenyum tipis sementara mbak Kim foeng dan Dorma hanya
cekikikan melihat Asih yang lola sesaat.
“Oh.. baik mas Hans. Beberapa hari ini
memang kurang baik, tapi sejak kemarin udah lumayan. Jingga sekarang ada
di rumah mommy..” Jawab Asih sambil melirik dua orang yang menahan tawa
melihatnya.
“Di rumah mommy, ya?” mas Hans nampak berpikir.
Asih kemudian melanjutkan kerja dan tak
lagi memperhatikan mas Hans yang berjalan masuk ke ruangannya. Dia lalu
sibuk membuka berkas-berkas dan dokumen yang menumpuk diatas meja.
“Mbak Asihhhhh..” Dorma berdiri di pintu sambil memanggil dengan suara tertahan.
Dorma masuk dan duduk dengan wajah serius. Dia nampak gelisah.
“Dorma? Kamu kenapa?”
“Gimana mbak Jingga? Apa kang Inin belakangan ini dekat dengan mbak Jingga?”
“Iya. Kenapa?” Dorma menghela nafas.
“Mas Hans cemburu sama kang Inin, mbak. Mungkin sebentar lagi mas Hans bakal nengok mbak Jingga..”
“Cemburu? Sama kang Inin? Kang Inin
tidak ada hubungan apa-apa dengan Jingga. Kang Inin kalau menjenguk
Jingga hanya nyanyi lagu sunda untuk Kanaya. Si bayi diam dan nggak
rewel kalau kang Inin nyanyi. Cuma itu..”
“Oh, begitu ya..” Dorma terlihat mulai tenang.
“Baguslah..jadi rencana mas Hans melamar mbak Jingga bisa terlaksana.” Ucap Dorma lalu bangkit berdiri.
“Apaaaa? Melamar? Dorma, tunggu dulu!”
buru-buru Asih mendekati Dorma. Di saat yang sama melintas mas Hans
dengan seikat bunga serta kado di tangannya. Keduanya serempak menengok
dan mengikuti mas Hans hingga halaman kantor desa. Mas Hans bersiul
lalu menghidupkan motor dinasnya. Dia tak menyadari staf kantor desa
telah berkerumun dekat pintu dan jendela untuk melihat sikap yang luar
biasa ini.
“Tragedi Gladiol terulang lagi..Aa kades bakal kemana ya?” seorang staf bersuara.
“Apa kita perlu menyebar untuk tahu yang sebenarnya?” sambung yang lain.
Asih menatap tajam dan berdehem.
“Kembali bekerja. Bukan hak kita untuk mencampuri kegiatan mas Kades..”
Kerumunan langsung bubar. Asih terlupa
dengan ucapan Dorma tentang lamaran mas Hans pada Jingga. Dia baru
tersadar ketika Ranti muncul dengan senyum yang sangat manis.
“Assalamu Alaikum, mbak Asih..” sapanya
ramah. Mendadak Asih teringat dengan Dorma. Dia mulai gelisah dan
mengundang tanya dalam benak Ranti. Walau Asih membalas salamnya tetap
tidak nyaman rasanya berkunjung sementara yang dikunjungi nampak tak ada
respon.
“Mbak Asih, sedang ada masalah ya. Kedatangan saya mengganggu, ya?” tanya Ranti dengan lembut.
“Oh, tidak! Hanya ada yang terlupa sama Dorma.” Asih akhirnya duduk dan berusaha tenang.
“Tadi saya lihat Dorma lari
terbirit-birit. Nggak tahu mau kemana..” Ucap Ranti sambil meletakkan
rantang di atas meja kerja Asih. Aroma hidangan menyebar di ruangan.
“Mungkin Dorma ada urusan. Oh, ya, ada yang bisa saya bantu mbak Ranti?” tanya Asih akhirnya.
“Saya mau minta tolong. Kalau bisa sih,
mbak Asih temani saya jenguk Jingga di rumah Mommy. Saya nggak enak
datang sendiri. Setelah dipikir-pikir yang bisa menemani saya cuma mbak
Asih. Mbak kan kakaknya. Itu kalau mbak Asih nggak keberatan..” Ucap
Ranti dengan senyum yang memikat.
Asih tertegun bukan karena senyuman
Ranti tapi karena saat ini pasti mas Hans masih ada di rumah Mommy. Akan
kacau jika terjadi pertemuan segitiga disana. Rumah mommy akan meledak
tanpa tabung gas.
Asih nampak berpikir keras. Dia pamit
sebentar lalu mendatangi mbak Kim Foeng yang sibuk membimbing siswa PKL
yang lagi magang di kantor desa.
“Dorma kemana, mbak Kim?” tanyanya dengan suara pelan takut terdengar Ranti.
“Katanya ada sapi yang lepas dari
kandang dan mengamuk, mbak Asih.” Asih kembali bingung. Dia lalu
merogoh saku rok mencari hape tapi sedetik kemudian dia nampak kecewa.
“Baterainya lowbatt, lupa di charge..” keluhnya.
“Mbak Kim, bisa pinjam Hape bentar, cuma sms..” ucap Asih.
“Pulsanya nol, mbak Asih. Tadi lupa isi pulsa..”
Asih makin panik. Tidak mungkin dia
meminjam hape sama staf yang lain. Rencana ini bersifat rahasia, jika
terbongkar akan menjatuhkan nama dan kredibilitas Aa kades yang saat ini
sedang naik daun untuk pemilihan bupati.
Asih akhirnya mengambil keputusan yang tergolong nekad. Dia kembali ke ruangan dengan wajah sumringah.
“Mbak Ranti, sekarang bawa hape?” Ranti mengangguk.
“Hapenya nggak lowbatt dan masih ada
pulsa, kan?” Kembali Ranti mengangguk. Dia mengeluarkan hape layar
sentuh yang tampak keren. Sejenak Asih bingung saat hape itu dalam
genggamannya.
“Gimana caranya untuk kirim sms, mbak Ranti?”
“Oh, gini mbak.” Ranti memperlihatkan
caranya. Walau belum paham, Asih tetap mengetik huruf-huruf yang berisi
pesan untuk mas Hans. Setelah selesai dia menekan tulisan mengirim.
Beres. Sekarang batinnya tenang.
“Mbak Ranti sabar, ya. Nanti saya temani..”
Namun pesan balasan tak jua datang dari
mas Hans. Sementara Ranti mulai gelisah walau beberapa kali Asih
memintanya untuk bersabar.
“Bisa berangkat sekarang, mbak
Asih?soalnya saya ada janji dengan mama Yety, mau ke pasar belanja
keperluan untuk lebaran nanti.”
Dengan berat hati, Asih beranjak dari
kursinya. Setelah menitip pesan pada Kim Foeng, dia bersama Ranti
meninggalkan kantor desa dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan Asih
terus berdoa semoga mas Hans sudah meninggalkan rumah Mommy. Dia takut
terjadi keributan atau kesalahpahaman yang berujung pada kecemburuan
salah satu pihak.
Asih tidak memilih siapapun. Jika mas
Hans tertarik pada Jingga atau Ranti, itu adalah hak mas Hans. Wajar
jika mas Hans masih menimbang-nimbang calon yang pantas mendampinginya
sebagai ibu kades. Karena asyik melamun, Asih tidak menyadari jika
diam-diam Ranti membuka hape dan membaca pesan yang tadi dikirim Asih.
Maklum karena tidak tahu sistem hape, Asih lupa menghapus isi pesan
tersebut.
Mendadak Ranti menghentikan langkah. Bahunya turun naik menahan emosi saat membaca pesan di hape..
Mas Hans, cepat tinggalkan rumah Mommy! Mbak Ranti mau kesana sekarang!!!
“Aduuhhhh!!” tiba-tiba Ranti memegang perutnya. Asih berbalik kaget.
“Mbak Ranti kenapa? Sakit perut ya?” Ranti mengangguk sambil meringis.
“Iya, mbak Asih. Nanti saja ya ke rumah
Mommy, saya mau pulang dulu..” Ucap Ranti lalu buru-buru meninggalkan
Asih yang merasa lega. Beban yang tadi mengikuti sekarang hilang.
“Syukurlah, tidak jadi. Bisa perang dunia kalau sampai terjadi pertemuan enam mata..”gumamnya dengan perasaan senang.
Tapi rasa lega Asih tidak lama. Dari
kejauhan muncul Dorma dan mas Hans yang bermandikan keringat. Baju
mereka basah dan nampak kelelahan.
“Loh Dorma? Mas Hans? Ada apa? Kenapa kalian berkeringat begini?”
“Mengamankan sapi yang mengamuk mbak Asih..” Dorma terduduk di rumput. Mas Hans mengikuti sambil menyeka keringat di dahinya.
“Kalau Dorma, saya tahu lagi ngurus sapi. Tapi mas Hans? Bukankah tadi mau ke rumah Mommy?”
“Gimana mau ke rumah Mommy, Asih. Dorma
udah teriak-teriak minta pertolongan. Katanya sapi yang stress itu sapi
betina, harus orang ganteng yang mengamankan..”
Dorma tertawa ngakak tak memperdulikan mas Hans yang melotot melihatnya.
“Syukurlah, itu artinya mas Hans belum
ke rumah Mommy. Hampir saja…” ucapan menggantung dari Asih membuat alis
mas Hans terangkat.
“Hampir apa, Asih? Ada sesuatu yang Asih sembunyikan?”
“Saya nggak menyembunyikan sesuatu mas
Hans. Tadi saya malah ngirim sms ke mas Hans kalo mbak Ranti mau ke
rumah Mommy. Takutnya bakal ketemu dan terjadi keributan..”
Buru-buru mas Hans membuka hape dan membaca pesan yang masuk.
“Kok malah pesan dari Ranti?” tanyanya heran.
“O, itu. Tadi saya ngirim sms pake hape mbak Ranti, mas Hans..” jawab Asih tenang.
Mas Hans mulai gelisah.
“Pesan yang terkirim udah kamu hapus?” Asih menggeleng. Membuat mata mas Hans kembali melotot.
“Asihhhhhh!!!!’ teriaknya putus asa sambil mengucek rambutnya.
“Saya nggak tau cara hapusnya..” jawab Asih dengan perasaan bersalah.
“Itu artinya Ranti bakal membaca atau mungkin udah membaca pesan itu, asihhhhh..” Mas Hans terlihat gemas.
“Apa iya seperti itu?”
“Ya, iyalah. Asih pikir mbak Ranti
tidak akan melacak sms yang sudah Asih kirim? Tentu saja dia akan
membacanya dan sudah pasti dia akan mengamuk. Baru saja mengurusi sapi
yang mengamuk sekarang harus mengurus yang lebih gawat lagi..” Mas Hans
bangkit berdiri.
“Tapi tadi mbak Ranti tenang saja, mas Hans..”
Mas Hans tak menanggapi ucapan Asih. Wajahnya terlihat tegang menatap dua orang bawahannya tersebut.
“Sekarang kalian ikut aku. Kita ke rumah bunda Yety sekarang juga untuk klarifikasi.”
Mas Hans menarik tangan Dorma dan Asih.
“Ta..ta..tapi mas Hans. Saya GOLPUT,
netral tidak mendukung salah satu calon..” Ucap Asih sambil berusaha
melepaskan pegangan mas Hans.
“Aku tidak peduli. Mau GOLPUT, GOLPIT
atau GOLPOT. Yang pasti kalian berdua temani aku menjelaskan ke bunda
Yety. Aku tidak mau kesana sendirian dan menjadi sasaran dari
panci-panci yang beterbangan..”
( Bersambung)
***********
0 komentar:
Posting Komentar