Selasa, 07 Agustus 2012

[ECR#5] Saya Golpuuuttt….

0

1344234308548112819

Setelah cuti beberapa hari karena keadaan Jingga yang memprihatinkan dan butuh perhatian khusus, Asih kembali kerutinitas kerja. Jingga telah dijemput mommy dan kini dalam pengawasan ibu kandungnya itu. Sesekali Asih menjenguk adiknya itu sekalian menengok ponakannya yang makin hari makin terlihat lucu. Wajahnya perpaduan antara Jingga dan mas Ibay, cantik sekali. Menghadirkan rasa kangen jika tak melihatnya sehari saja.

“Kabar Jingga gimana, Sih?” tanya mas Hans saat muncul di kantor desa. Penampilan Aa kades pagi ini sangat berwibawa. Asih tertegun mencium aroma farfum dari mas Hans.

“Gimana kabarnya Jingga, Sih? Kok malah bengong?” Asih tersenyum tipis sementara mbak Kim foeng dan Dorma hanya cekikikan melihat Asih yang lola sesaat.

“Oh.. baik mas Hans. Beberapa hari ini memang kurang baik, tapi sejak kemarin udah lumayan. Jingga sekarang ada di rumah mommy..” Jawab Asih sambil melirik dua orang yang menahan tawa melihatnya.

“Di rumah mommy, ya?” mas Hans nampak berpikir.

Asih kemudian melanjutkan kerja dan tak lagi memperhatikan mas Hans yang berjalan masuk ke ruangannya. Dia lalu sibuk membuka berkas-berkas dan dokumen yang menumpuk diatas meja.

“Mbak Asihhhhh..” Dorma berdiri di pintu sambil memanggil dengan suara tertahan.

Dorma  masuk dan  duduk dengan wajah serius. Dia nampak gelisah.

“Dorma? Kamu kenapa?”

“Gimana mbak Jingga? Apa kang Inin belakangan ini dekat dengan mbak Jingga?”

“Iya. Kenapa?” Dorma menghela nafas.

“Mas Hans cemburu sama kang Inin, mbak. Mungkin sebentar lagi mas Hans bakal nengok mbak Jingga..”

“Cemburu? Sama kang Inin? Kang Inin tidak ada hubungan apa-apa dengan Jingga. Kang Inin kalau menjenguk Jingga hanya nyanyi lagu sunda untuk Kanaya. Si bayi diam dan nggak rewel kalau kang Inin nyanyi. Cuma itu..”

“Oh, begitu ya..” Dorma terlihat mulai tenang.

“Baguslah..jadi rencana mas Hans melamar mbak Jingga bisa terlaksana.” Ucap Dorma lalu bangkit berdiri.

“Apaaaa? Melamar? Dorma, tunggu dulu!” buru-buru Asih mendekati Dorma. Di saat yang sama melintas mas Hans dengan seikat bunga serta kado di tangannya. Keduanya serempak menengok dan mengikuti mas Hans hingga  halaman kantor desa. Mas Hans bersiul lalu menghidupkan motor dinasnya. Dia tak menyadari staf kantor desa telah berkerumun dekat pintu dan jendela untuk melihat sikap yang luar biasa ini.

“Tragedi Gladiol terulang lagi..Aa kades bakal kemana ya?” seorang staf  bersuara.

“Apa kita perlu menyebar untuk tahu yang sebenarnya?” sambung yang lain.

Asih menatap tajam dan berdehem.

“Kembali bekerja. Bukan hak kita untuk mencampuri kegiatan mas Kades..”

Kerumunan langsung bubar. Asih terlupa dengan ucapan Dorma tentang lamaran mas Hans pada Jingga. Dia baru tersadar ketika  Ranti muncul dengan senyum yang sangat manis.

“Assalamu Alaikum, mbak Asih..” sapanya ramah. Mendadak Asih teringat dengan Dorma. Dia mulai gelisah dan mengundang tanya dalam benak Ranti. Walau Asih membalas salamnya tetap tidak nyaman rasanya berkunjung sementara yang dikunjungi nampak tak ada respon.

“Mbak Asih, sedang ada masalah ya. Kedatangan saya mengganggu, ya?” tanya Ranti dengan lembut.

“Oh, tidak! Hanya ada yang terlupa sama Dorma.” Asih akhirnya duduk dan berusaha tenang.

“Tadi saya lihat Dorma lari terbirit-birit. Nggak tahu mau kemana..” Ucap Ranti sambil meletakkan rantang di atas meja kerja Asih. Aroma hidangan  menyebar di ruangan.

“Mungkin Dorma ada urusan. Oh, ya, ada yang bisa saya bantu mbak Ranti?” tanya Asih akhirnya.

“Saya mau minta tolong. Kalau bisa sih, mbak Asih temani saya jenguk Jingga di rumah Mommy. Saya nggak enak datang sendiri. Setelah dipikir-pikir yang bisa menemani saya cuma mbak Asih. Mbak kan kakaknya. Itu kalau mbak Asih nggak keberatan..” Ucap Ranti dengan senyum yang memikat.

Asih tertegun bukan karena senyuman Ranti tapi karena saat ini pasti mas Hans masih ada di rumah Mommy. Akan kacau jika terjadi pertemuan segitiga disana. Rumah mommy akan meledak tanpa tabung gas.

Asih nampak berpikir keras. Dia pamit sebentar lalu mendatangi mbak Kim Foeng yang sibuk membimbing siswa PKL yang lagi magang di kantor desa.

“Dorma kemana, mbak Kim?” tanyanya dengan suara pelan takut terdengar Ranti.

“Katanya ada sapi yang lepas dari kandang dan mengamuk, mbak Asih.” Asih  kembali bingung. Dia lalu merogoh saku rok mencari hape tapi sedetik kemudian dia nampak kecewa.

“Baterainya lowbatt, lupa di charge..” keluhnya.

“Mbak Kim, bisa pinjam Hape bentar, cuma sms..” ucap Asih.

“Pulsanya nol, mbak Asih. Tadi lupa isi pulsa..”

Asih makin panik. Tidak mungkin dia meminjam hape sama staf yang lain. Rencana ini bersifat rahasia, jika terbongkar akan menjatuhkan nama dan kredibilitas Aa kades yang saat ini sedang naik daun untuk pemilihan bupati.

Asih akhirnya mengambil keputusan yang tergolong nekad. Dia kembali ke ruangan dengan wajah sumringah.

“Mbak Ranti, sekarang bawa hape?” Ranti mengangguk.

“Hapenya nggak lowbatt dan masih ada pulsa, kan?” Kembali Ranti mengangguk. Dia mengeluarkan hape layar sentuh yang tampak keren. Sejenak Asih bingung saat hape itu dalam genggamannya.

“Gimana caranya untuk kirim sms, mbak Ranti?”

“Oh, gini mbak.” Ranti memperlihatkan caranya. Walau belum paham, Asih tetap mengetik huruf-huruf yang berisi pesan untuk mas Hans. Setelah selesai dia menekan tulisan mengirim. Beres. Sekarang batinnya tenang.

“Mbak Ranti sabar, ya. Nanti saya temani..”

Namun pesan balasan tak jua datang dari mas Hans. Sementara Ranti mulai gelisah walau beberapa kali Asih memintanya untuk bersabar.

“Bisa berangkat sekarang, mbak Asih?soalnya saya ada janji dengan mama Yety, mau ke pasar belanja keperluan untuk lebaran nanti.”

Dengan berat hati, Asih beranjak dari kursinya. Setelah menitip pesan pada Kim Foeng, dia bersama Ranti meninggalkan kantor desa dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan Asih terus berdoa semoga mas Hans sudah meninggalkan rumah Mommy. Dia takut terjadi keributan atau kesalahpahaman yang berujung pada kecemburuan salah satu pihak.

Asih tidak memilih siapapun. Jika mas Hans tertarik pada Jingga atau Ranti, itu adalah hak mas Hans. Wajar jika mas Hans masih menimbang-nimbang calon yang pantas mendampinginya sebagai ibu kades. Karena asyik melamun, Asih tidak menyadari jika diam-diam Ranti membuka hape dan membaca pesan yang tadi dikirim Asih. Maklum karena tidak tahu sistem hape, Asih lupa menghapus isi pesan tersebut.

Mendadak Ranti menghentikan langkah. Bahunya turun naik menahan emosi saat membaca pesan di hape..

Mas Hans, cepat tinggalkan rumah Mommy! Mbak Ranti mau kesana sekarang!!!

“Aduuhhhh!!” tiba-tiba Ranti memegang perutnya. Asih berbalik kaget.

“Mbak Ranti kenapa? Sakit perut ya?” Ranti mengangguk sambil meringis.

“Iya, mbak Asih. Nanti saja ya ke rumah Mommy, saya mau pulang dulu..” Ucap Ranti lalu buru-buru meninggalkan Asih yang merasa lega. Beban yang tadi mengikuti sekarang hilang.

“Syukurlah, tidak jadi. Bisa perang dunia kalau sampai terjadi pertemuan enam mata..”gumamnya dengan perasaan senang.

Tapi rasa lega Asih tidak lama. Dari kejauhan muncul Dorma dan mas Hans yang bermandikan keringat. Baju mereka basah dan nampak kelelahan.

“Loh Dorma? Mas Hans? Ada apa? Kenapa kalian berkeringat begini?”

“Mengamankan sapi yang mengamuk mbak Asih..” Dorma terduduk di rumput. Mas Hans mengikuti sambil menyeka keringat di dahinya.

“Kalau Dorma, saya tahu lagi ngurus sapi. Tapi mas Hans? Bukankah tadi mau ke rumah Mommy?”

“Gimana mau ke rumah Mommy, Asih. Dorma udah teriak-teriak minta pertolongan. Katanya sapi yang stress itu sapi betina, harus orang ganteng yang mengamankan..”

Dorma tertawa ngakak tak memperdulikan mas Hans yang melotot melihatnya.

“Syukurlah, itu artinya mas Hans belum ke rumah Mommy. Hampir saja…” ucapan menggantung dari Asih membuat alis mas Hans terangkat.

“Hampir apa, Asih? Ada sesuatu yang Asih sembunyikan?”

“Saya nggak menyembunyikan sesuatu mas Hans. Tadi saya malah ngirim sms ke mas Hans kalo mbak Ranti mau ke rumah Mommy. Takutnya bakal ketemu dan terjadi keributan..”

Buru-buru mas Hans membuka hape dan membaca pesan yang masuk.

“Kok malah pesan dari Ranti?” tanyanya heran.

“O, itu. Tadi saya ngirim sms pake hape mbak Ranti, mas Hans..” jawab Asih tenang.

Mas Hans mulai gelisah.

“Pesan yang terkirim udah kamu hapus?” Asih menggeleng. Membuat mata mas Hans kembali melotot.

“Asihhhhhh!!!!’ teriaknya putus asa sambil mengucek rambutnya.

“Saya nggak tau cara hapusnya..” jawab Asih dengan perasaan bersalah.

“Itu artinya Ranti bakal membaca atau mungkin udah membaca pesan itu, asihhhhh..” Mas Hans terlihat gemas.

“Apa iya seperti itu?”

“Ya, iyalah. Asih  pikir mbak Ranti tidak akan melacak sms yang sudah Asih kirim? Tentu saja dia akan membacanya dan sudah pasti dia akan mengamuk. Baru saja mengurusi sapi yang mengamuk sekarang harus mengurus yang lebih gawat lagi..” Mas Hans bangkit berdiri.

“Tapi tadi mbak Ranti tenang saja, mas Hans..”

Mas Hans tak menanggapi ucapan Asih. Wajahnya terlihat tegang menatap dua orang bawahannya tersebut.

“Sekarang kalian ikut aku. Kita ke rumah bunda Yety sekarang juga untuk klarifikasi.”

Mas Hans menarik tangan Dorma dan Asih.

“Ta..ta..tapi mas Hans. Saya GOLPUT, netral tidak mendukung salah satu calon..” Ucap Asih sambil berusaha melepaskan pegangan mas Hans.

“Aku tidak peduli. Mau GOLPUT, GOLPIT atau GOLPOT. Yang pasti kalian berdua temani aku menjelaskan ke bunda Yety. Aku tidak mau kesana sendirian dan menjadi sasaran dari panci-panci yang beterbangan..”

( Bersambung)

***********

0 komentar:

Posting Komentar