Minggu, 08 Juli 2012

Impian Dena #7

0



13417258211623784714

Dalam perjalanan kami tak berbicara. Farhan maklum kalau saat ini aku sedang malas untuk mengobrol. Dia bahkan tak bertanya kemana tujuanku. Aku juga tak berniat untuk singgah di suatu tempat. Mengelilingi kota sepertinya hal yang menarik dan bisa menghilangkan kegundahanku.

“Masih bete? Nggak pengen singgah minum es kelapa?” tegur Farhan sambil menepikan motornya. Aku tak menjawab hanya memandang deretan penjual  disepanjang jalan.

“Kita istrahat dulu ya disini..” Aku mengangguk lalu turun dari motor. Setelah memarkir motor, Farhan dan aku memilih duduk didekat salah satu tenda penjual. Si penjual tersenyum lalu mendekati kami.

“Pesan es kelapa yang pakai sirup, gula pasir atau gula merah?” tanya si ibu dengan ramah.

“Mau minum apa, Dena?” Farhan melihatku.

“Ikut kamu saja.”jawabku sambil memandang lalu lalang kendaraan. Semakin sore hilir mudik kendaraan semakin ramai.

“Es kelapa yang pakai sirup dua, bu.” Ucap Farhan. Si ibu lalu meninggalkan kami.

“Ternyata sifat kamu bisa berubah ya kalau lagi bete seperti ini..” Aku menoleh melihat Farhan yang tersenyum.

“Apanya yang berubah?sifat asliku memang seperti ini.”

“Bukan. Sebelumnya aku melihat kamu sosok yang mandiri, seolah tidak butuh seseorang.”

“Maksudmu?”

“Mungkin lebih tepatnya aura yang terpancar dari sikapmu, itu yang aku baca. Perasaanmu mungkin tidak seperti itu, tapi sikap yang kamu hadirkan membuat setiap orang berpikir demikian.”

“Itu yang kamu lihat dari aku selama ini? Apa itu baik atau buruk?”

Aku makin serius menyimak perkataan Farhan. Baru kali ini kurasakan sosoknya benar-benar berbeda.

“Bukan masalah baik atau buruk. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan. Kau perempuan, kelembutan mungkin seharusnya lebih dominan. Kemandirianmu bisa menjauhkan takdir yang seharusnya mendekatimu.”

Aku mengernyitkan kening. Kurang paham dengan ucapan Farhan barusan.

“Menurutmu aku kurang lembut?”

Farhan tertawa. Aku tersenyum kecut. Dia menghentikan tawa ketika ibu penjual menghantarkan es kelapa yang kami pesan.

“Bukan seperti itu. Bagaimana ya, aku juga bingung menjelaskan. Begini… jaman boleh saja berubah menjadi sangat modern. Perempuan juga boleh setara dengan lelaki dalam hal apapun, tapi untuk urusan pengabdian, tak pernah berubah sejak jaman dulu hingga sekarang. Lelaki jika ingin memiliki istri tetap mendambakan perempuan dengan nilai-nilai tradisionalnya. Mungkin aku yang salah menilaimu, semoga saja.”

Aku tak menanggapi ucapan Farhan. Aku teringat mama yang begitu berbakti pada papa. Padahal dulu mama adalah karyawati sebuah perusahaan ternama tapi demi mengurus keluarga, mama rela meninggalkan semua titel wanita karier yang melekat padanya. Mama betah menjadi ibu rumah tangga sejati, mengurus suami dan anak-anaknya.

“Kenapa melamun?” Farhan menyikut lenganku.

“Aku ingat mama.”

“Aku juga teringat mamaku. Dia wanita yang hebat, mengurus kami dengan semangat sejak ayahku meninggal.”

“Kalau begitu mamamu wanita mandiri?” Farhan mengangguk.

“Apa karena itu kamu tidak ingin memiliki istri yang mandiri?” kali ini dia menggeleng.

“Bukan seperti itu. Sejak kecil kami sering di tinggal kerja mama. Aku bukan anak bungsu jadi perhatian yang aku terima sangat kecil. Mama mungkin telah berhasil membiayai kami, tapi kebutuhan batin, aku rasa mama telah gagal. Walau begitu kami tidak ingin mendikte mama dengan segala hal yang telah dia lakukan. Bagaimanapun dia telah membesarkan kami dengan sekuat tenaga. Kalau kami masih memberi kritik, maka kami akan jadi anak durhaka.” Farhan berhenti sejenak.

“Aku kurang kasih sayang, karena itu jika memiliki istri nanti aku ingin dia berada dirumah, memberi kasih sayang untuk aku dan anak-anakku.”

Aku tercenung mendengar ucapan Farhan. Pemikirannya tidak salah. Pengalaman masa lalu memberi banyak pelajaran padanya. Wajar jika dia ingin mengubah hal-hal yang tidak ingin dialami kembali bersama anak-anaknya jika kelak menikah dan memiliki keluarga lengkap.

“Lho kok kita malah membahas ini? Kamu kan lagi ada masalah seharusnya itu yang kita bahas tapi kalau kamu keberatan ya nggak usah cerita..”

Aku menyendok serutan kelapa yang lembut dan enak.

“Tidak apa-apa. Hanya masalah keluarga. Tapi aku sudah punya pemecahannya, boleh minta tolong lagi?”

“Boleh.”

“Aku ingin ke rumah sakit menengok papa.”

“Papamu sakit?”

Aku mengangguk pelan.

Setelah menghabiskan segelas es kelapa, aku dan Farhan kemudian meninggalkan trotoar jalan untuk selanjutnya menuju rumah sakit tempat papa dirawat. Ada rasa gundah dalam hatiku, perasaan was-was yang tak juga hilang sejak aku berniat untuk menengok papa. Coba kuhilangkan kecemasanku dengan terus menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan namun tetap saja debar jantungku makin kencang. Aku gugup.

Setengah jam kemudian kami tiba di rumah sakit sesuai nama yang diberikan oleh lelaki yang menemuiku didepan toko.

“Mbak, ruangan Pak Harudin di mana ya?” wanita itu mengalihkan pandangan dari buku di depannya ketika aku muncul. Meja yang agak tinggi membuatnya tak langsung melihat kedatanganku.

“Tunggu sebentar ya, mbak saya cek dulu.” Dia lalu melihat layar  komputer.

“Lantai 2 no. 15.”

“Makasih.”

Kami lalu bergegas menuju lift.  Perasaanku makin berkecamuk namun aku terus melangkah. Dalam hati aku berterima kasih pada Farhan, karena dia aku jadi punya keberanian untuk menjenguk dan memastikan jika benar papa sedang dirawat di rumah sakit. Kisah Farhan tentang masa lalu yang menurutnya menyedihkan, menyadarkanku akan arti kebersamaan.

Aku masih memiliki papa dan mama. Kehidupanku masih lebih baik dibanding Farhan yang tak lagi memilki papa. Tidak seharusnya aku menjauh padahal waktu jua yang akan membuat mereka pergi dariku. Sebelum  aku kehilangan mereka, aku ingin menikmati kebersamaan meski itu harus dalam tangis.

“Farhan, tunggu dulu..” kusentuh lengan Farhan ketika kulihat pintu kamar no. 15.

“Ada apa?”

“Aku ingin kamu menemaniku didalam tapi apapun yang kamu dengarkan, kamu lihat, tolong rahasiakan itu dan hanya kita berdua saja yang tahu.”

“Ok, kamu tenang saja. Aku akan merahasiakannya.” Jawab Farhan sambil menepuk pundakku. Aku suka melihat sikapnya yang sangat melindungiku. Figur seorang kakak yang sangat aku rindukan. Aku tersenyum sendiri, benarkah aku merindukannya sebagai seorang kakak?

( Bersambung )   1  2  3   5  6   8  9  10  11  12  13  14  15  16  17  18  19  20

21  22  23  24  25  26  27  2 8 29


0 komentar:

Posting Komentar