Kabut masih menghiasi pagi, matahari
juga masih enggan menampakkan diri. Suasana desa nampak lengang. Belum
nampak para warga yang akan ke pasar atau ke sawah. Namun tidak demikian
dengan kantor desa. Meski hari minggu, salah satu ruang di kantor desa
telah terang oleh cahaya lampu.
Nampak Asih dengan balutan sweater,
duduk menggigil menahan dingin sambil mengetik sesuatu didepan komputer.
Sesekali dia berhenti lalu membaca kalimat-kalimat yang telah diketik.
Kali ini kembali dia menghela nafas lalu menghapus kalimat-kalimat
tersebut. Sambil bergumam tak jelas, dia menghempaskan tubuhnya pada
sandaran kursi.
Matanya kembali menatap layar komputer.
Asih memejamkan mata mencoba menenangkan batinnya. Sejak kedatangan
Firman menemui ayahnya, Asih merasa tak tenang. Ada ruang dalam hatinya
yang penasaran dan ingin tahu maksud kedatangan Firman. Apakah itu murni
kunjungan biasa atau ada maksud lain yang belum terungkap?
Asih beranjak meninggalkan ruangan. Dia
tak bisa konsentrasi menyelesaikan tugas mendadak yang baru saja dia
terima via sms. Gubernur akan berkunjung ke kabupaten dan setiap desa
harus membuat laporan mengenai program yang telah dan akan dilaksanakan.
Kabarnya, ada anggaran yang bakal dikucurkan. Asih berharap itu bukan
hanya sekedar kabar yang menyenangkan warga tapi benar-benar nyata demi
kemajuan desa Rangkat.
Sambil berusaha menenangkan diri, Asih
berjalan diantara ruang-ruang yang masih gelap di kantor desa. Dia ingin
sekejap saja bisa menghilangkan bayang Firman dalam benaknya, namun
nampaknya sia-sia. Makin berusaha, wajah dan senyuman Firman makin jelas
terlihat.
Asih mengerjapkan mata, berharap ilusi itu hilang tapi tetap saja sulit melepaskan diri dari bayang-bayang Firman.
“Tidak boleh seperti ini. Mas Firman
datang untuk orang lain, bukan saya yang ingin dia temui..” suaranya
lirih dengan mata berkaca-kaca namun dengan cepat dia mengusap matanya.
Langkahnya menuju dapur karena tiba-tiba
saja lambungnya terasa perih. Dengan segelas teh hangat, Asih kembali
keruangannya. Satu tegukan yang baru saja menghangatkan tenggorokannya,
telah membuat semangatnya pulih. Sebentar lagi, Aa Kades akan membawa
laporan ini, saya harus menyelesaikannya, batinnya penuh semangat.
Waktu terus berjalan dan sinar mentari
mulai menerobos masuk kisi-kisi jendela. Ruangan yang semula dingin
mulai terasa hangat. Asih rupanya tak menyadari perubahan tersebut, dia
tetap serius mengetik. Nampak dua gelas telah kosong di sebelah
komputer. Asih sekilas melihatnya lalu kembali mengetik sebelum akhirnya
menarik nafas lega. Dia tersenyum saat menyandarkan tubuhnya.
“Akhirnya selesai juga..” seru Asih dengan perasaan lega.
Setelah data selesai di print dia
bergegas meninggalkan kantor desa menuju rumah Aa kades. Baru saja Aa
kades menelpon dan meminta data itu segera. Asih mempercepat langkahnya
ketika bunyi pesan sms terdengar.
“Sabar Aa kades, saya sudah dalam
perjalanan..” Asih berbicara sendiri sambil merogoh saku sweaternya.
Pesan sms segera dia baca namun mendadak langkahnya terhenti.
Tersenyumlah. Simpanlah asa itu di hatimu.
Jadikan cobaan sebagai penguji hati.
Semoga ketegaran menyertai kita.
Dariku yang merindukanmu, Firman.
Asih terpaku menatap layar hape.
Jantungnya berdetak cepat. Angin tiba-tiba terasa berhembus kencang dan
seolah hanya dia sendiri yang saat ini berdiri di jalan. Sesaat Asih
hanya bisa diam dan membaca berulang-ulang pesan tersebut. Dia teringat
pesan yang sama saat Firman menghilang beberapa waktu yang lalu. Pesan
yang menggetarkan hatinya. Membuat aliran darahnya sejenak terhenti.
Asih tersadar, perlahan dia menyimpan hape itu.
“Ini pasti hanya halusinasi. Pesan ini tak pernah ada.” Gumamnya lalu dengan langkah pelan menuju rumah Aa kades.
***
Tiba kembali di rumah, Asih meletakkan
hape begitu saja diatas pembaringan. Dia masih percaya jika sms dari
Firman hanya halusinasi. Asih tak ingin menghilangkan keraguannya dengan
kembali melihat pesan tersebut.
“Pesan itu pasti tak ada.” Ucapnya sambil melangkah menuju kamar mandi.
Hingga sore Asih sama sekali tak
menyentuh handphone. Dia tak bergeming walau rasa penasaran sejak tadi
menggodanya. Keinginan itu terus dia redam dengan menyibukkan diri
mengerjakan pekerjaan rumah. Dia berusaha keras melupakan pesan dari
Firman dan terus berkeyakinan kalau itu hanya halusinasi. Firman tak
pernah mengirim pesan untuknya.
“Assalamu Alaikum.” Terdengar sapa
seseorang. Asih menoleh dan tertegun melihat pemilik suara tersebut.
Perlahan dia berdiri setelah sebelumnya jongkok membersihkan rumput di
sekitar tanaman bunga. Asih gugup hingga lupa jika rumput masih dalam
genggamannya.
“Wa Alaikum Salam, mas Firman?” Balasnya
dengan suara gemetar. Asih memalingkan pandangan ke arah lain karena
tak tahan menatap sepasang mata hitam yang terus memandangnya tak
berkedip. Pemilik mata itu rupanya menyadari.
“Maaf, mbak Asih..” ucap Firman lalu mendekati Asih yang makin gugup.
“Silahkan masuk, mas Firman. Ayah ada didalam..” Asih mencoba mengusir rasa gugup dengan melangkah menjauh menuju teras.
“Pesan sms ku sudah mbak Asih baca?” tanya Firman sambil mengikuti langkahnya.
Asih menoleh. Pesan? Jadi pesan sms itu benar-benar nyata dikirim mas Firman untuknya?
“Pesan?”
“Iya, mbak Asih tidak menerima pesanku tadi pagi?” Firman nampak bingung.
Asih baru saja hendak menjawab ketika suara riang adiknya, Acik terdengar memanggil namanya.
“Mbak Asih!!! Ini aku bawakan duren!!!”
Keduanya berbalik melihat kedatangan
Acik yang menenteng empat biji durian. Keinginan menjawab pertanyaan
Firman akhirnya terhenti dan hanya mengendap dalam benak Asih. Ekspresi
Acik saat melihat Firman membuat Asih bimbang. Haruskah dia jujur atau
membiarkan saja kesalahpahaman ini terus berlanjut? Jika ada Acik di
dalamnya mungkin lebih baik dia mendiamkan saja masalah ini. Asih tidak
tega menyakiti perasaan adiknya itu.
( Bersambung)
0 komentar:
Posting Komentar