Minggu, 17 Juni 2012

Impian Dena #6

0

13399166111079480816

Dalam kebimbangan aku tak bersuara.

“ Baiklah, lain kali semoga aku lebih beruntung.” Ucap Farhan dengan helaan nafas kemudian berlalu.

Aku masih berdiri sejenak sebelum akhirnya melangkahkan kaki menuju pinggir jalan. Sejak tadi aku tidak melihat Etha, biasanya kami pulang bersama. Apa saat ini dia lagi kesal padaku?

Aku terus berjalan dan tak lagi menoleh ke belakang. Suara klakson mobil mengagetkanku. Aku berbalik dan melihat si pengemudi yang menghentikan kendaraan tepat di depanku. Dia turun dari mobil lalu menghampiriku sambil  tersenyum sebelum menyapa.

“ Mbak Dena?” tegurnya.

“ Iya. Bapak siapa?” tanyaku. Aku belum pernah bertemu dengan pria ini. Dia mengulurkan tangan.

“ Saya ditugaskan Pak Harudin untuk menjemput mbak.”

Aku mundur karena kaget. Ucapan pria ini membuatku ingat dengan segala hal  menyakitkan yang membuatku kabur dari rumah. Aku berusaha bertahan agar tidak emosi menghadapinya.

“ Untuk apa aku pulang? Mau menjadikan aku burung dalam sangkar lagi? Tolong sampaikan pada papa dan mama, aku tidak mau pulang!” teriakku kesal lalu melangkah menjauh.

“ Pak Harudin sakit, mbak..” suara pria itu pelan. Aku menghentikan langkah lalu menoleh melihatnya.

“ Benarkah? Ini bukan kebohongan seperti dulu yang selalu di lakukan papa?”

Dia menggeleng.

“ Kalau mbak nggak percaya, sekarang juga ikut saya ke rumah sakit. Semua saudara mbak berkumpul di sana..”

Aku tercenung. Teringat dengan kejadian yang berulang kali aku alami. Kali ini juga tak lantas membuatku percaya. Aku muak selalu di bohongi.

“ Pulanglah, pak. Aku tidak mau ikut. Katakan pada orang-orang di rumah, jangan lagi membohongiku. Aku tidak mau pulang..”

“ Tapi mbak, kasihan bapak..”

“ Aku tidak mau pulang!” aku berlari menahan angkot lalu duduk di sudut. Syukurlah tak ada penumpang lain hingga aku bisa menangis tanpa merasa sungkan. Aku sedih karena tetap saja papa dan mama menyuruh orang untuk menjemputku. Tidak adakah keinginan dalam hati mereka untuk datang sendiri meyakinkan aku kalau semuanya sudah berubah?

Keinginanku begitu sederhana. Aku bukan anak bungsu yang manja hingga harus diatur seperti anak kecil. Seharusnya mama lebih mengerti keinginanku karena dia juga anak bungsu. Banyak hal yang bisa mama pahami di bandingkan dengan papa. Namun mama hanya bisa diam dan menuruti keinginan papa.

Dunia ternyata begitu sempit hingga orang suruhan papa bisa dengan mudah menemukanku. Seharusnya aku aman karena tempatku bekerja bukan kantor besar yang dengan mudah terlacak oleh papa. Apa aku harus pindah kerja lagi? Tapi kemana aku akan pindah? Andai Siska sudah menemukan lowongan kerja untukku, maka secepatnya aku akan keluar dari tempat kerja yang sekarang.

Kuseka air mataku. Bulir-bulir bening itu seolah mengerti kesedihanku. Tak ada yang mengerti selain diriku sendiri. Sejak papa bangkrut dan kehidupan kami menjadi pas-pasan, kakak-kakak yang lebih dulu menikah tak bisa memberi bantuan sesuai harapan. Kami maklum, masing-masing rumah tangga mempunyai kebutuhan dan problem sendiri. Tapi semakin lama aku semakin kesal pada mereka terutama papa dan mama.

Keputusan papa dan mama untuk menjual rumah membuatku kecewa. Kami akhirnya menetap di rumah mas Damar. Menetap di rumah orang sekalipun itu saudara sendiri, tentu berbeda. Terutama karena mas Damar memiliki keluarga, istri dan anak-anak yang beranjak dewasa. Aku merasa tidak leluasa, namun papa dan mama tidak berdaya. Uang hasil penjualan rumah ludes untuk membayar segala macam tunggakan tagihan.

Kecemasanku akhirnya terbukti. Keluarga mas Damar yang sebelumnya memang tidak terlalu dekat dengan kami menunjukkan sikap kurang bersahabat sejak kami tinggal. Aku tidak menyalahkan istri dan anak-anak mas Damar. Kemungkinan mbak Mia, masih menaruh rasa sakit hati karena dulu di tolak  mentah-mentah oleh papa dan mama. Sebagai menantu, mbak Mia tidak terlalu dianggap. Mungkin karena status mbak Mia yang berasal dari desa terpencil dan kurang latar pendidikan.

Rasa cinta yang dalam membuat mas Damar nekad dan memilih untuk menikahi mbak Mia meski tanpa restu dari papa dan mama. Namun sejak dua tahun yang lalu ketika usaha papa mulai terbelit masalah, tidak ada saudara lain yang bisa membantu selain mas Damar. Papa dan mama akhirnya luluh dan mulai bisa menerima mbak Mia. Sayang, hati mbak Mia terlanjur terluka. Mungkin butuh waktu baginya untuk  melupakan masa lalu.

Sementara aku yang terbiasa hidup di rumah sendiri mulai merasa tidak betah. Perlakuan dan sikap kurang bersahabat membuatku lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah. Pekerjaan apapun aku lakukan agar ada kesibukan dan tidak cepat kembali ke rumah mas Damar.

Masalah ternyata tidak juga berhenti menimpaku. Mas Damar dan istrinya ternyata diam-diam berniat menjodohkan aku dengan kenalannya. Ide ini mendapat dukungan dari papa dan mama. Pertama kalinya kulihat mereka bisa duduk bersama dalam suasana yang hangat. Entah ada maksud apa di baliknya.

Aku tidak setuju. Protesku bukan tanpa alasan. Aku makin marah setelah tahu ternyata mas Damar memiiki bisnis bersama dengan calonku itu. Mas Damar berharap mendapat bantuan modal yang lebih besar lagi karena itu dia ingin aku menikah dengan temannya. Alasan yang membuatku marah dan pergi dari rumah. Berulangkali mereka melacak keberadaanku. Berulangkali pula aku kembali dan kemudian kabur lagi.

Sekarang bagaimana aku bisa mempercayai berita sakitnya papa jika mereka sering membohongiku?

Aku menghentikan angkot dan turun di sebuah swalayan. Rasanya malas untuk kembali ke rumah Siska. Aku ingin menenangkan pikiranku.

“Dena!”suara Farhan mengangetkanku.

“Farhan?kok kamu ada disini?”

Farhan hanya tersenyum tipis. Tatapannya membuatku menunduk.

“Aku mengikutimu. Aku penasaran melihatmu menangis naik angkot..”

Aku terperangah. Terharu mendengar ucapan Farhan. Hilang sudah sikap acuh yang beberapa hari ini aku perlihatkan padanya. Saat ini aku sedang gelisah. Pikiranku tidak tenang. Aku tidak peduli lagi dengan Etha. Maafkan aku Etha, ijinkan aku sejenak menikmati kebersamaan dengan Farhan. Aku butuh seseorang yang bisa membuatku melupakan masalahku.

“Maafkan sikapku tadi. Aku sedang bingung dan saat ini pikiranku tidak tenang.” Kataku dengan rasa menyesal. Aku benar-benar menyesal membuatnya kecewa.

Farhan rupanya mengerti, dia menarik tanganku menuju parkiran. Entah apa yang ada dalam pikiran Farhan tentangku. Andai harapan dalam hatinya kian besar, mungkin itu juga bukan masalah bagiku. Cukup selama ini aku mengabaikan perhatiannya. Ternyata aku membutuhkan dirinya lebih dari yang aku pikirkan.

(Bersambung)  Part    8  9  10  11  12  13  14  15  16  17  18  19  20

21  22  23  24  25  26  27  28 29


0 komentar:

Posting Komentar