Dalam kebimbangan aku tak bersuara.
“ Baiklah, lain kali semoga aku lebih beruntung.” Ucap Farhan dengan helaan nafas kemudian berlalu.
Aku masih berdiri sejenak sebelum
akhirnya melangkahkan kaki menuju pinggir jalan. Sejak tadi aku tidak
melihat Etha, biasanya kami pulang bersama. Apa saat ini dia lagi kesal
padaku?
Aku terus berjalan dan tak lagi menoleh
ke belakang. Suara klakson mobil mengagetkanku. Aku berbalik dan melihat
si pengemudi yang menghentikan kendaraan tepat di depanku. Dia turun
dari mobil lalu menghampiriku sambil tersenyum sebelum menyapa.
“ Mbak Dena?” tegurnya.
“ Iya. Bapak siapa?” tanyaku. Aku belum pernah bertemu dengan pria ini. Dia mengulurkan tangan.
“ Saya ditugaskan Pak Harudin untuk menjemput mbak.”
Aku mundur karena kaget. Ucapan pria ini
membuatku ingat dengan segala hal menyakitkan yang membuatku kabur
dari rumah. Aku berusaha bertahan agar tidak emosi menghadapinya.
“ Untuk apa aku pulang? Mau menjadikan
aku burung dalam sangkar lagi? Tolong sampaikan pada papa dan mama, aku
tidak mau pulang!” teriakku kesal lalu melangkah menjauh.
“ Pak Harudin sakit, mbak..” suara pria itu pelan. Aku menghentikan langkah lalu menoleh melihatnya.
“ Benarkah? Ini bukan kebohongan seperti dulu yang selalu di lakukan papa?”
Dia menggeleng.
“ Kalau mbak nggak percaya, sekarang juga ikut saya ke rumah sakit. Semua saudara mbak berkumpul di sana..”
Aku tercenung. Teringat dengan kejadian
yang berulang kali aku alami. Kali ini juga tak lantas membuatku
percaya. Aku muak selalu di bohongi.
“ Pulanglah, pak. Aku tidak mau ikut. Katakan pada orang-orang di rumah, jangan lagi membohongiku. Aku tidak mau pulang..”
“ Tapi mbak, kasihan bapak..”
“ Aku tidak mau pulang!” aku berlari
menahan angkot lalu duduk di sudut. Syukurlah tak ada penumpang lain
hingga aku bisa menangis tanpa merasa sungkan. Aku sedih karena tetap
saja papa dan mama menyuruh orang untuk menjemputku. Tidak adakah
keinginan dalam hati mereka untuk datang sendiri meyakinkan aku kalau
semuanya sudah berubah?
Keinginanku begitu sederhana. Aku bukan
anak bungsu yang manja hingga harus diatur seperti anak kecil.
Seharusnya mama lebih mengerti keinginanku karena dia juga anak bungsu.
Banyak hal yang bisa mama pahami di bandingkan dengan papa. Namun mama
hanya bisa diam dan menuruti keinginan papa.
Dunia ternyata begitu sempit hingga
orang suruhan papa bisa dengan mudah menemukanku. Seharusnya aku aman
karena tempatku bekerja bukan kantor besar yang dengan mudah terlacak
oleh papa. Apa aku harus pindah kerja lagi? Tapi kemana aku akan pindah?
Andai Siska sudah menemukan lowongan kerja untukku, maka secepatnya aku
akan keluar dari tempat kerja yang sekarang.
Kuseka air mataku. Bulir-bulir bening
itu seolah mengerti kesedihanku. Tak ada yang mengerti selain diriku
sendiri. Sejak papa bangkrut dan kehidupan kami menjadi pas-pasan,
kakak-kakak yang lebih dulu menikah tak bisa memberi bantuan sesuai
harapan. Kami maklum, masing-masing rumah tangga mempunyai kebutuhan dan
problem sendiri. Tapi semakin lama aku semakin kesal pada mereka
terutama papa dan mama.
Keputusan papa dan mama untuk menjual
rumah membuatku kecewa. Kami akhirnya menetap di rumah mas Damar.
Menetap di rumah orang sekalipun itu saudara sendiri, tentu berbeda.
Terutama karena mas Damar memiliki keluarga, istri dan anak-anak yang
beranjak dewasa. Aku merasa tidak leluasa, namun papa dan mama tidak
berdaya. Uang hasil penjualan rumah ludes untuk membayar segala macam
tunggakan tagihan.
Kecemasanku akhirnya terbukti. Keluarga
mas Damar yang sebelumnya memang tidak terlalu dekat dengan kami
menunjukkan sikap kurang bersahabat sejak kami tinggal. Aku tidak
menyalahkan istri dan anak-anak mas Damar. Kemungkinan mbak Mia, masih
menaruh rasa sakit hati karena dulu di tolak mentah-mentah oleh papa
dan mama. Sebagai menantu, mbak Mia tidak terlalu dianggap. Mungkin
karena status mbak Mia yang berasal dari desa terpencil dan kurang latar
pendidikan.
Rasa cinta yang dalam membuat mas Damar
nekad dan memilih untuk menikahi mbak Mia meski tanpa restu dari papa
dan mama. Namun sejak dua tahun yang lalu ketika usaha papa mulai
terbelit masalah, tidak ada saudara lain yang bisa membantu selain mas
Damar. Papa dan mama akhirnya luluh dan mulai bisa menerima mbak Mia.
Sayang, hati mbak Mia terlanjur terluka. Mungkin butuh waktu baginya
untuk melupakan masa lalu.
Sementara aku yang terbiasa hidup di
rumah sendiri mulai merasa tidak betah. Perlakuan dan sikap kurang
bersahabat membuatku lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah.
Pekerjaan apapun aku lakukan agar ada kesibukan dan tidak cepat kembali
ke rumah mas Damar.
Masalah ternyata tidak juga berhenti
menimpaku. Mas Damar dan istrinya ternyata diam-diam berniat menjodohkan
aku dengan kenalannya. Ide ini mendapat dukungan dari papa dan mama.
Pertama kalinya kulihat mereka bisa duduk bersama dalam suasana yang
hangat. Entah ada maksud apa di baliknya.
Aku tidak setuju. Protesku bukan tanpa
alasan. Aku makin marah setelah tahu ternyata mas Damar memiiki bisnis
bersama dengan calonku itu. Mas Damar berharap mendapat bantuan modal
yang lebih besar lagi karena itu dia ingin aku menikah dengan temannya.
Alasan yang membuatku marah dan pergi dari rumah. Berulangkali mereka
melacak keberadaanku. Berulangkali pula aku kembali dan kemudian kabur
lagi.
Sekarang bagaimana aku bisa mempercayai berita sakitnya papa jika mereka sering membohongiku?
Aku menghentikan angkot dan turun di
sebuah swalayan. Rasanya malas untuk kembali ke rumah Siska. Aku ingin
menenangkan pikiranku.
“Dena!”suara Farhan mengangetkanku.
“Farhan?kok kamu ada disini?”
Farhan hanya tersenyum tipis. Tatapannya membuatku menunduk.
“Aku mengikutimu. Aku penasaran melihatmu menangis naik angkot..”
Aku terperangah. Terharu mendengar
ucapan Farhan. Hilang sudah sikap acuh yang beberapa hari ini aku
perlihatkan padanya. Saat ini aku sedang gelisah. Pikiranku tidak
tenang. Aku tidak peduli lagi dengan Etha. Maafkan aku Etha, ijinkan aku
sejenak menikmati kebersamaan dengan Farhan. Aku butuh seseorang yang
bisa membuatku melupakan masalahku.
“Maafkan sikapku tadi. Aku sedang
bingung dan saat ini pikiranku tidak tenang.” Kataku dengan rasa
menyesal. Aku benar-benar menyesal membuatnya kecewa.
Farhan rupanya mengerti, dia menarik
tanganku menuju parkiran. Entah apa yang ada dalam pikiran Farhan
tentangku. Andai harapan dalam hatinya kian besar, mungkin itu juga
bukan masalah bagiku. Cukup selama ini aku mengabaikan perhatiannya.
Ternyata aku membutuhkan dirinya lebih dari yang aku pikirkan.
0 komentar:
Posting Komentar