Sore menjelang ketika Asih melangkah
meninggalkan kantor desa. Tugas tambahan membuat jadwal pulang molor
dari semestinya. Sinar lembayung yang mulai berwarna jingga menyadarkan
Asih untuk segera berkemas. Dia memeriksa kembali data terakhir sebelum
mengatur dokumen-dokumen lalu meletakkannya didalam lemari.
Saat menutup pintu kantor desa, Asih
melihat sekilas warga yang lalu lalang di jalan berbatu. Mereka
menikmati keindahan sore di Rangkat. Meski tersenyum, dalam hati Asih
merasa miris. Proposal perbaikan jalan di desa Rangkat sejak dua tahun
yang lalu belum juga ada realisasi. Bolak balik mas Hans selaku kepala
desa mengurus ke kabupaten namun belum juga ada tanggapan.
“Jangan patah semangat ya mas Hans,
mungkin pejabat kabupaten terlalu sibuk hingga proposalnya belum juga di
setujui..” Ucap Asih ketika mas Hans bersiap menuju kantor bupati.
“Semoga kali ini berhasil. Kalian doakan ya..” pesan Aa kades sebelum berlalu.
Asih asyik dalam lamunan hingga tak
menyadari seseorang tengah memacu sepeda ke arahnya. Dia berhenti tepat
di samping Asih yang terlonjak kaget.
“Mbak Ranti?” seru Asih. Ranti hanya
tertawa membuat wajahnya semakin manis. Asih terpaku. Membayangkan
tampilan Ranti dalam busana kebaya dan berdiri anggun di samping Aa
Kades.
“Serasi..”gumam Asih.
“Apanya yang serasi, mbak Asih?”tanya Ranti sambil turun dari sepedanya.
“Oh, itu. Baju mbak Ranti, keren..serasi dengan warna jilbabnya…”
“Oh..”
Asih bernafas lega berhasil menemukan
alasan sementara Ranti makin senang mendengar pujian Asih. Mereka lalu
berjalan beriringan.
“Baru pulang ya, mbak Asih? udah dengar kabar kalau mas Firman udah balik lagi ke desa Rangkat?”
Langkah Asih terhenti. Wajahnya nampak tegang.
“Benarkah? mbak Ranti dapat informasi dari mana?”
“Aku lihat sendiri, mbak. Tadi mas Firman turun dari angkot.”
“Benar dia mas Firman? mbak Ranti tidak salah mengenali orang kan?”
“Seratus persen dia mas Firman.” jawab Ranti penuh keyakinan.
Asih tak bertanya lagi. Dia bahkan
segera pamit pada Ranti untuk melewati jalan lain bukan jalan desa yang
biasa dia lalui. Ranti hanya berdiri sambil memegang sepedanya. Dia
heran melihat ekspresi Asih ketika mendengar kabar kedatangan Firman.
Lelaki yang hingga kini masih menghuni ruang rindu di hati Asih.
“Aneh. Seharusnya dia gembira..”gumam Ranti lalu memacu sepedanya.
***
Asih tiba di rumah dan melewati ayahnya
yang sedang membaca buku. Pak Windu menoleh melihat putrinya yang
terburu-buru. Meski mengucapkan salam namun sekejap Asih telah masuk
kedalam rumah.
“Kamu kenapa, nak? Kok kelihatan panik?”
Asih berbalik kaget mendengar suara ayahnya
“Tidak apa-apa, ayah. Nanda hanya ingin
cepat tiba di rumah..” Jawabnya lalu bergegas masuk ke dalam kamar
meninggalkan tanda tanya dalam benak ayahnya.
Apakah dia sudah tahu kalau nak Firman telah kembali? batin pak Windu cemas.
Sementara di dalam kamar, Asih membuka
lemari lalu mengeluarkan plastik berisi ilalang kering. Dia menatap
ilalang tersebut dengan perasaan sedih.
“Saya harus kuat. Meski dia kembali tapi
dia kini tak sendirian. Dia sudah menikah. Tak boleh hadir perasaan
lain di antara kami. Saya harus melupakannya..” ucapnya lirih.
Asih meraih bungkus plastik tersebut
lalu keluar dari rumah menuju halaman samping. Disana dia menggali tanah
menggunakan sekop. Setelah nampak lubang yang tidak terlalu dalam, dia
kemudian bersimpuh meletakkan bungkusan plastik lalu menimbunnnya
dengan tanah. Tangan Asih bergetar. Matanya berkaca-kaca.
“Ini kenangan darimu mas Firman.
Sekarang saya tidak boleh lagi menyimpannya. Ilalang kering ini biarlah
terkubur bersama kisah kita..” air mata Asih menetes. Di balik jendela,
Pak Windu melepas kacamata untuk menghapus air matanya.
“Tabahlah anakku..” Ucapnya menatap pilu pada putrinya.
======
0 komentar:
Posting Komentar