Senin, 14 Mei 2012

Namanya Bara

0

  by : Asih

 

Di sebuah sekolah menengah atas pinggiran kota nampak seorang gadis berlari meninggalkan halaman sekolah dengan berlinang air mata. Tidak dihiraukannya teriakan Masno, tukang ojek yang selalu mengantar dan menjemputnya ke sekolah. Hapsari terus berlari ke belakang gedung sekolah. Kakinya yang mungil menapak di jembatan kecil yang mulai rapuh. Sementara kedua tangannya erat berpegangan pada kawat besi yang mulai renggang.

“ Hapsari! Mau kemana?!? Teriak Masno di pinggir jembatan. Dia tidak berani menjejakkan kaki demi melihat jembatan kecil yang hanya bisa di lewati satu orang tersebut nyaris roboh karena papan kayu yang mulai lapuk. Masno nampak khawatir apalagi jembatan tersebut makin mendekati aliran sungai tiap kali Hapsari melangkah.

Hapsari terus melangkah tanpa memperdulikan teriakan Masno.

“ Hapsari!!!” teriakan Masno sangat keras namun tak membuat Hapsari menghentikan langkah kakinya. Hapsari terus melangkah sambil sesekali menyeka air matanya yang makin deras mengalir dari kedua matanya.

“ Aku tidak mau pulang! Aku tidak mau pulang!” gumamnya dengan bibir bergetar. Perasaan terluka membuatnya marah hingga bersikeras tak ingin kembali. Beberapa saat kemudian tiba-tiba  tubuhnya menegang persis di tengah jembatan. Rupanya Hapsari menyadari jika jembatan tersebut mulai mendekati air sungai. Masno yang menyaksikan dari kejauhan makin panik. Dia  hanya bisa berdiri bingung karena takut menyentuh jembatan tersebut. Dia khawatir bobot tubuhnya akan merobohkan jembatan. Namun melihat Hapsari yang kaku di tengah jembatannya, batinnya bergolak.

“ Hapsari!jangan maju, mundur saja perlahan-lahan!” teriaknya mencoba menenangkan Hapsari yang tampak mulai ketakutan.

“ Aku tidak berani!” balas Hapsari tanpa berbalik. Jika tadi dia merasa sedih maka sekarang rasa takut yang membuatnya  menangis. Tangisan Hapsari membuat Masno makin panik. Dalam hati dia merasa geram karena tidak bisa bertindak untuk menyelamatkan Hapsari. Dilematis. Jika dia nekad, jembatan itu pasti segera roboh padahal dia tidak pandai berenang. Namun jika diam saja, maka cepat atau lambat Hapsari terjatuh dan hanyut bersama jembatan tersebut.

Karena panik, Masno berbalik lalu berlari menuju arah sekolah. Dia berencana meminta bantuan penduduk sekitar. Hapsari kaget saat  menoleh dan tak melihat sosok Masno . Merasa ditinggalkan sendiri, Hapsari menjerit histeris.

“ Tolong!tolong aku! Tolonggggggggggggg!!!!!” suaranya melengking menembus pepohonan. Sementara dari balik rerumputan muncul seraut wajah dengan mata hitam membulat. Dia bergerak cepat berlari mendekati Hapsari. Langkah kakinya membuat jembatan terayun-ayun kekiri dan kanan. Hapsari yang panik hanya bisa terpaku melihat sosok anak lelaki yang sebaya dengannya.

“ Tenang, jangan panik. Kalau panik kamu tidak akan bisa berjalan.” Serunya sambil mendekati Hapsari. Perlahan-lahan dia mendekati Hapsari. Tangannya terulur untuk meraih tangan Hapsari.

“ Ayo ulurkan tanganmu. Jangan takut. Aku pandai berenang.” Katanya lagi ketika melihat wajah Hapsari masih diliputi keraguan.

“ Ayo, cepat!”  teriaknya.

Hapsari mengulurkan tangannya dan melangkah pelan menuju pinggir jembatan.

“ Jangan takut, melangkah saja. Jembatan ini memang hampir roboh..” ucapnya seraya meraih tangan Hapsari yang terasa dingin. Dia terus berusaha menenangkan gadis itu.

Mereka berdua terus melangkah hingga ke pinggir jembatan. Setelah menjejakkan kaki di seberang, Hapsari baru bernafas lega. Mereka duduk di atas rerumputan. Tangis ketakutan kini berganti dengan tangis kesedihan saat dia teringat alasan dia melarikan diri dari Masno.

“ Namaku Bara. Aku tidak pernah melihatmu melewati jembatan ini. Kenapa tiba-tiba kamu ada di jembatan?” Bara duduk di sebelah Hapsari. Menatap Hapsari dengan sorot mata yang aneh. Hapsari yang melihat sekilas buru-buru memalingkan pandangan ke arah seberang. Matanya mencari sosok Masno yang belum juga terlihat.

Bara menyikut lengannya.

“ Kamu kenapa lewat jembatan ini? Begitu nekad. Jembatan ini sudah tidak layak untuk di lewati. Hanya aku seorang yang berani karena rumahku di sana. Dekat sawah sebelah sana..” Bara menunjuk sebuah rumah dekat persawahan. Nampak rimbun pohon mangga dari kejauhan.

“Aku kesal. Marah. Aku benci karena hanya dapat peringkat ke tiga..” Hapsari menunduk menyeka air matanya yang  menetes.

“ Peringkat ke tiga? Itu sudah lumayan di banding aku yang tidak dapat rangking. Trus kenapa kamu malah nekad ke jembatan ini. Itu berbahaya..”

“ Aku tidak tahu kalau jembatan ini hampir roboh. Aku hanya ingin lari karena kesal.”

“ Kenapa harus kesal?”

“ Karena aku batal liburan ke kota dan membeli motor. Ayah menjanjikan motor jika aku bisa rangking satu..” Hapsari menangis. Hatinya  perih tiap kali teringat motor yang batal di pakai ke sekolah.

Bara tertegun mendengar ucapan Hapsari.  Nampak kepedihan dalam matanya namun hanya sekilas. Mata itu kembali berbinar. Senyum menghiasi wajahnya yang tampan. Dia berdiri lalu menarik tangan Hapsari.

“ Ayo bangun! Kalau karena motor hingga kamu menangis seperti ini, sebaiknya kamu ikut aku. Aku yakin, saat pulang kerumahmu nanti, kamu tidak akan merasa sedih..”

Hapsari tak menampik tangan Bara yang menggenggam jemarinya. Berdua mereka menyusuri pematang sawah, menghilang di balik rimbun rerumputan. Hanya selang beberapa saat setelah kepergian mereka, Masno muncul di seberang bersama beberapa orang warga. Dia nampak bingung karena tak melihat Hapsari di tengah jembatan.

“ Hapsari!Hapsari! teriaknya memanggil-manggil nama Hapsari. Namun yang di cari tak lagi mendengar. Hapsari telah jauh berjalan bersama Bara. Mereka tak menuju rumah Bara melainkan terus menyusuri pematang sawah, masuk ke dalam hutan.

“ Kemana anaknya mas?” sahut seorang pemuda mungil yang berdiri di samping Masno.

“ Nggak tau, nih. Kok tiba-tiba menghilang? Sudahlah, aku tunggu di warung depan saja.”

Masno lalu melangkah menjauh dari jembatan bersama beberapa warga yang tadi ikut bersamanya.

Sementara Hapsari terus mengikuti Bara tanpa tahu tujuan mereka.

“ Kita mau kemana, Bara?” tanya Hapsari.

“ Mencari sesuatu yang membuat sedihmu hilang..”

“ Apa itu?”

“ Nanti saja kamu lihat sendiri...”

Bara melangkah sambil menggandeng tangan Hapsari. Dia berhenti di sebuah sungai kecil. Aliran air  seperti kaca yang terpantul sinar matahari. Hapsari nampak gembira lalu menjulurkan tangannya menyentuh air sungai yang sangat jernih.

“ Kamu suka?” tanya Bara. Dia ikut mempermainkan air dengan jemarinya. Hapsari menggangguk senang.

“ Orang tuaku tidak kaya. Kami hidup sangat sederhana. Kadang dalam hatiku timbul keinginan bisa seperti teman-teman yang memiliki orang tua kaya. Tapi aku sadar aku terlalu memaksa diri dan membuat orang tuaku sedih kalau aku berharap hidup seperti mereka. Karena itu kalau aku lagi sedih dan gundah, aku bermain ke hutan ini.”

Hapsari memperhatikan Kembara yang bercerita.

“ Sejak kecil hingga sekarang, aku selalu bermain di sini. Pernah juga ada beberapa teman yang mengajak main ke kota. Tapi aku tidak punya uang. Aku dengar permainan yang ada di mall harus di bayar. Karena itu aku menolak untuk ikut dan lebih memilih bermain di tempat ini.”

“ Kamu sekolah di mana?”

Bara menggeleng.

“ Aku tidak sekolah, hanya ikut kelompok belajar yang di buat salah seorang guru.”

Sinar mata Bara nampak sedih. Wajahnya berubah murung. Hapsari menyentuh pundaknya tanpa berbicara sepatah katapun. Sentuhan tangan Hapsari membuat Bara tersenyum.

“ Kamu baik. Biasanya orang-orang yang tahu nasibku  memberikan nasehat seolah-olah mereka simpati padaku, merasakan kehidupanku. Padahal tidak ada satupun yang bisa mereka rasakan karena kehidupan kami berbeda. Kamu lain..”

“ Karena aku tidak tahu makanya aku hanya diam. Hanya kamu seorang yang bisa merasakan hidupmu bukan aku. Sebenarnya kehidupanku juga tidak mewah. Karena aku cuma dua bersaudara hingga ayah dan ibu bisa fokus mengurus kami. Tapi bukan berarti ayah dan ibu langsung mengabulkan setiap keinginan kami. Seperti sekarang, aku harus dapat rangking 1 baru ayah memberikan hadiah motor seperti yang aku inginkan. Jadi semuanya tetap butuh kerja keras.”

Bara manggut-manggut. Dari penuturan Hapsari, dia bisa menebak Hapsari gadis yang baik.

“ Kedua orang tuamu mendidik dengan cara yang benar..”

“ Oh, iya. Tadi kamu bilang, tempat ini bisa menghilangkan kesedihanku. Apa sungai ini yang kamu maksudkan?”

Bara mengangguk.

“ Sungai ini bukan sungai sembarangan. Meski kecil tapi bagus untuk tempat merenung. Batin kita akan kembali tenang. Namun sebaiknya jika gundah, kita sholat saja. Batin akan lebih tenang jika kita memohon petunjuk dari Allah. Kalau lagi banyak beban masalah, aku sholat dan berdoa di tempat ini.”

Hapsari menyimak kata-kata Bara dan mulai menikmati suasana yang dihadirkan sungai dan alam sekitarnya. Benar saja, saat mereka berdua terdiam, suasana hening memberi pesona tersendiri. Hapsari lalu memejamkan matanya. Beberapa menit dia mulai merasakan batinnya tenang tak lagi sedih seperti di awal pertemuan dengan Bara.

Hapsari terbuai hingga tak menyadari jika dia telah cukup lama memejamkan matanya. Dia bahkan nyaris tertidur.

“ Hapsari!Hapsari! ayo, bangun!” suara seseorang menyadarkan Hapsari. Dia membuka mata perlahan dan melihat Masno tengah bersimpuh di sampingnya. Hapsari tersadar dan bangun dari duduknya.

“ Mas Masno kapan kemari? eh, kemana Bara? Tadi dia ada di sini menemaniku. Kenapa dia menghilang?” Hapsari  melihat ke sekeliling. Dua orang lelaki yang menemani Masno menatap penuh tanya.

“ Nyari siapa, mbak?” tegur salah seorang yang bertubuh mungil.

“ Nyari teman. Dia tadi menemaniku ke tempat ini..” Alis lelaki itu berkerut.

“ Menemani ke mari? Jadi dia yang mengajak mbak kemari?” Hapsari mengangguk.

“ Boleh tahu namanya siapa?” tanya si lelaki. Sekilas dua lelaki itu saling pandang dengan tatapan yang aneh. Hapsari dan Masno tidak melihat hal itu.

“ Namanya Bara. Apa kalian mengenalnya?” mendengar jawaban Hapsari sontak kedua wajah lelaki itu berubah pucat. Hapsari  dan Masno terheran-heran melihat sikap keduanya.

“ Mbak..bertemu Ba..bara?” Suara lelaki itu bergetar. Sekali lagi Hapsari mengangguk kali ini dengan perasaan bingung melihat tingkah dua lelaki di depannya yang nampak ketakutan.

“ Orangnya tinggi, putih dan memakai ikat kepala berwarna putih?” tanya lelaki yang lain. Hapsari mengangguk cepat.

“ Maaf, sebaiknya kita kembali saja. Nanti di sana baru kami ceritakan..”

Dua lelaki itu bergegas berjalan meninggalkan Masno dan Hapsari yang masih kebingungan. Namun mereka terus melangkah meninggalkan hutan terus melewati persawahan dan kembali ke depan sekolah melewati jembatan yang lain. Tentu saja jembatan tersebut lebih kuat dan tidak mudah roboh.

“ Maaf, pak. Tolong jelaskan, ada apa sebenarnya? Sejak tadi kami berdua bingung, kenapa kalian nampak ketakutan?”

Lama kedua lelaki itu terdiam. Menghela nafas berulang-ulang sebelum berbicara.

“ Mbak baru saja bertemu hantu Bara..” suara lelaki itu pelan namun membuat tubuh Hapsari sedikit limbung. Syukurlah ada Masno yang berdiri di sampingnya hingga saat tubuhnya oleng, ada Masno yang sigap menahannya.

“ Hantu? Bara itu hantu?” suara Hapsari tertahan. Tubuhnya merinding dan gemetaran. Masno hanya bisa melotot tak berbicara. Tenggorokannya tiba-tiba kering hingga tangannya bergerak meraih  botol air mineral yang terpajang di meja warung.

Ke dua lelaki itu mengangguk bersamaan.

“ Benarkah?kenapa semua tampak nyata. Dia bahkan menolongku melewati jembatan..”

“ Karena dia meninggal di jembatan itu. Dia terbawa arus sungai ketika tiba-tiba air sungai meluap.” Jelas si lelaki.

Hapsari terduduk di kursi kayu panjang. Ada rasa tidak percaya di sela-sela rasa takutnya. Benarkah dia baru saja bertemu hantu Bara? Rasanya tidak masuk akal. Andai ibu pemilik warung tidak ikut membenarkan cerita kedua lelaki itu, mungkin sulit bagi Hapsari untuk mempercayai cerita mereka.

“ Benar, nak. Sejak dia meninggal, kedua orang tuanya memilih untuk pindah dan tinggal di tempat lain. Mereka sedih dan tidak sanggup tinggal di tempat ini lagi..”

“ Lalu rumah yang  di seberang sungai itu, rumah mereka?”

Si ibu menatap bingung.

“ Rumah yang mana? Setahu ibu tidak ada rumah di seberang sungai. Yang ada hanya sawah..” balasnya.

“ Ada kok. Bara menunjuk rumah yang dekat pohon kapuk itu.”

Si ibu terpana. Kedua lelaki itu juga demikian.

“ Itu bukan rumah, nak. Itu kuburan nak Bara.”

Jawaban si ibu membuat Hapsari terlonjak. Masno makin pucat di sebelahnya padahal dia tidak bertemu Bara. Rasa takutnya melebihi Hapsari.

“ Benarkah? Jadi..ja...jadi...itu benar hantu Bara. Masya Allah....Semoga Bara tenang di sana. Ayo, mas Masno kita pulang. Makasih pak, bu..” pamit Hapsari lalu meninggalkan warung tersebut. Si ibu dan kedua lelaki itu tak melepaskan pandangan hingga keduanya lenyap bersama suara motor mereka.

**

Ke esokan harinya, dengan di temani Masno, Hapsari mendatangi makam Bara. Sambil bersimpuh dia menaburkan bunga di makam Bara.

“ Bara, makasih atas nasehat kamu. Karenamu, aku bisa lebih bersyukur karena masih di beri kesempatan untuk menikmati hidup yang tidak sempat kamu rasakan. Andai kamu masih hidup, aku ingin berteman denganmu. Sayang sekali kamu telah tiada tapi kebaikanmu akan selalu aku kenang. Tenanglah di alam sana. Sekali lagi terima kasih..”

Airmata Hapsari berlinang. Berulangkali dia mengusap kedua matanya dengan tissu. Dengan perasaan sedih Hapsari melangkah pulang setelah sebelumnya pamit di makam Bara. Masno yang menyaksikan tak urung merasa sedih. Jika kemarin dia ketakutan, maka hari ini dia bisa merasakan kesedihan Hapsari. Bara yang malang.

======


0 komentar:

Posting Komentar