Senin, 09 April 2012

Naskah Tua Dari Gudang ( 1 )

3

Ilustrasi google.com

Handphoneku berdering lagi. Aku segera meng offkan dan menaruhnya di dalam lemari. Aku tidak ingin diganggu saat ini. Aku ingin istrahat. Tidak bisakah aku istrahat walau sejenak? Aku melangkah mendekati jendela kamar yang kacanya tampak buram. Ku dorong jendela itu agak lebih lebar agar hawa segar lebih leluasa masuk ke dalam kamarku. Kuhirup udara dengan pelan, sungguh menyegarkan. Sejak tadi hanya berkutat dengan komputer membuatku lupa untuk berdiri sekedar merenggangkan tubuh.

Aku memandang ke bawah. Melihat keindahan bunga dari lantai dua rumah mama memang sangat memanjakan mata. Suasana rumah dengan alam yang sejuk membuat aku nyaman setelah beberapa hari tinggal di rumah mama. Kulihat Pak Haryo, pengurus kebun dan taman mama berlari-lari mendekati seseorang yang sedang berdiri di depan pagar. Seorang pemuda yang lumayan tampan berdiri dengan tenang menanti Pak Haryo mendekatinya. Aku membiarkan mataku melihat keindahan yang lain dari tempat ini. Menatap wajah tampan setelah jenuh dengan kegiatan benar-benar membuka mataku.

Pemuda itu tersenyum saat berhadapan dengan Pak Haryo, dia memberikan sesuatu ke Pak Haryo. Aku tidak jelas melihatnya karena terhalang oleh tubuh Pak Haryo yang membelakangiku. Setelah itu dia kemudian pergi meninggalkan Pak Haryo. Tapi belum lama melangkah, tiba-tiba dia berbalik. Aku tersentak kaget karena dia memandangku sambil tersenyum. Aku yang tidak siap menerima senyuman dari seseorang yang berwajah tampan dan tidak aku kenal, membalasnya dengan tersenyum pula.

Dia kemudian berbalik lagi lalu melangkah. Kupandangi tubuhnya yang makin jauh dengan senyum masih tersungging di wajahku. Aku tidak sadar berapa lama aku tersenyum sendiri sampai kemudian kurasakan sentuhan lembut dibahuku.


" Namanya, Hadi. Dia tinggal tidak jauh dari sini." suara mama mengagetkanku. Aku menoleh memandang mama.

" Mama? Sejak kapan mama dibelakangku?" tanyaku kaget. Mama merangkulku.

" Sejak kamu melihat Hadi. Bagaimana? Dia tampan kan?" pertanyaan mama membuatku tersipu. Mama seolah tahu yang aku pikirkan.

" Dia anak Pak Haryo."

" Anak Pak Haryo? Penjaga kebun mama?" mama mengangguk.

" Dia kuliah di kota. Sekarang lagi nyusun skripsi. Makanya dia kembali ke sini untuk menyusun skripsinya. Sama seperti kamu dia juga sibuk mengetik, cuma bedanya kamu mengarang cerpen sedangkan dia mengetik skripsinya."

" Dia tinggal dimana, ma? Pak Haryo kan tinggal bersama kita disini."

" Dia juga tinggal disini." Jawab mama pelan. Kurasakan mataku membelalak karena kaget.

" Hah?? yang benar ma? Kenapa selama dua hari ini dia tidak kelihatan?" mama mencubit hidungku.

" Dasar anak mama. Kamu lupa ya? Dua hari ini kamu terus mendekam dikamar. Bagaimana kamu bisa melihatnya? Padahal dia selalu hilir mudik di dalam rumah." Ada sesal yang timbul dalam hatiku. Mengapa aku tidak menyadari didalam rumah mama ada tinggal seorang pemuda tampan? Sepertinya mulai sekarang aku harus rajin- rajin keluar kamar. Biarlah untuk sementara aku santai saja mengerjakan ketikan untuk novelku. Toh mas Ivan juga tidak terlalu ngotot memintaku untuk segera menyelesaikannya. Ada dua naskah yang aku serahkan kemarin. Dia bisa memilih naskah mana yang ingin dia terbitkan lebih dulu.

" Mama turun dulu, ya. Jangan lupa, bentar lagi makan siang. Kamu turun makan bareng sama mama. Dua hari ini, mbok Karmi yang terus membawa makanan kekamarmu. Bagaimana bisa kenalan dengan Hadi?" mama tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku membalas dengan senyum sambil mengangguk.

Setelah mama keluar dari kamarku. Aku kembali duduk di depan komputer. Mataku melihat layar komputer. Ada pesan masuk di facebook, dari Nando. Kubuka pesan dari Nando..


Kamu marah, ya? Handphonemu tidak aktif sejak tadi. Demi, jangan bersikap seperti ini. Kelakuanmu seperti anak-anak.

Kupandangi pesan di inbox facebook dengan rasa gundah. Nando tidak kehabisan akal untuk menghubungiku. Setelah handphone aku matikan, dia memilih cara lain untuk menghubungiku. Menaruh pesan di facebook. Kulihat jam dipesan itu. Dia baru saja mengirimnya. Aku keluar dari facebook. Percuma mengaktifkannya kalau hanya untuk membaca pesan dari Nando.

Rasa marahku belum hilang tiap kali mengingat bagaimana Nando sudah membohongiku. Selama ini ternyata dia backstreet dengan Yeni. Nando memang bukan pacarku, dia hanya sahabatku. Aku tidak sepantasnya marah kalau dia mempunyai pacar. Aku kesal karena tidak berterus terang padaku. Apa susahnya berterus terang. Aku toh tidak akan marah. Aku justru akan bahagia bila sahabatku menemukan tambatan hati. Tapi Nando tidak mengerti itu. Dia membiarkan aku berpikir kalau dia masih sendiri. Hingga suatu saat aku bertengkar dengan Yeni. Aku marah karena Yeni menggunakan uang kelompok tanpa memberitahu kami. Kami tergabung dalam suatu kelompok yang semua anggotanya adalah penulis cerpen. Ada dana operasional yang rutin kami kumpulkan setiap bulan. Uang itulah yang dipakai Yeni dengan diam-diam.

Semua terungkap saat Retno heran dengan semua tagihan yang datang karena belum terbayar. Saat itulah aku mendatangi Yeni yang bertugas sebagai bendahara. Ternyata semua tagihan itu tak satupun yang dibayar. Aku berharap Yeni meminta maaf karena sudah khilaf. Tapi sikap yang aku terima jauh dari yang aku harapkan, Yeni malah marah-marah dan menuduhku yang telah menggunakan sebagian dana itu sewaktu kami mengadakan kunjungan ke suatu daerah. Aku yang semula bersikap sabar akhirnya tak tahan juga. Adu mulut kami berakhir saat aku menampar Yeni. Saat itulah Nando langsung melerai. Dia bukannya menenangkan aku tapi malah merangkul Yeni. Rasa emosi dan terkejut karena melihat kenyataan didepanku membuatku tak sanggup berkata-kata. Nafaasku tidak beraturan karena amarah yang meledak.

" Demi, tidak bisakah kamu mengendalikan emosimu? Kenapa selalu orang-orang yang ada disekitarmu kamu sakiti?"  Nando menatapku tajam. Dia masih merangkul Yeni. Yeni hanya menangis. Aku mencibir. Sepertinya Yeni tahu betul memanfaatkan kelemahan Nando. Dia terus menangis tanpa mengeluarkan satu katapun.

" Kamu baru saja datang, Nando. Kamu tanya saja dia! Aku pulang dulu." aku segera keluar lalu mengambil tas dan mapku yang ada di atas meja. Retno mengejarku saat aku berjalan keluar menuju mobilku.

" Mbak Demi, kenapa tidak menjelaskan semuanya ke Nando?" tanyanya sambil menahan pintu mobil yang hendak aku tutup.

" Aku pergi dulu, Ret. Aku mau menenangkan diri dulu." segera kutarik pintu mobil. Retno melepasku dengan wajah cemas. Kulihat lewat kaca mobil, dia masih berdiri memandangku. Aku benar-benar marah. Marah karena perbuatan Yeni, marah karena kata-kata Nando yang menyudutkanku. Terutama aku marah karena sikap Nando ke Yeni. Harus aku akui mungkin karena itulah aku menjadi lebih marah. Aku shock melihat keakraban mereka. Nando yang aku tahu tidak pernah bersikap lembut ke pada perempuan lain selain terhadapku tiba-tiba memperlihatkan pemandangan itu didepanku.Mataku sakit melihatnya.

Kujalankan mobil dengan kencang. Aku tidak tahu rasa apa yang tengah berkecamuk dalam hatiku saat ini. Aku tidak suka dengan kedekatan Nando dan Yeni. Terlebih karena perubahan sikap Nando padaku. Nando tidak pernah berkata keras padaku. Tapi yang tadi dilakukannya, membuatku terkejut. Nando menuduhku telah menyakit Yeni. Tuduhan yang yang tidak berdasar. Aku muak untuk menjelaskan. Hatiku sudah terlanjur kecewa. Laju mobilku tak terasa tiba dirumah mama. Aku katakan rumah mama karena mama dan papa sudah bercerai sejak aku masih kecil. Mama memilih tidak menikah sementara papa menikah dengan sekretarisnya, tante Silvi. Aku sendiri lebih senang tinggal di rumahku. Sebuah rumah type 54 dengan model minimalis yang dibeli papa untukku.

" Non Demi, dipanggil nyonya. Katanya disuruh ke bawah untuk makan siang." Suara mbok Karmi membuyarkan lamunanku. Segera mematikan komputer lalu bergegas turun ke ruang makan. Sampai dibawah aku melihat pemandangan yang tidak biasa. Di meja makan telah berkumpul mama, Pak Haryo, mbok Karmi dan si tampan yang tadi aku lihat, Hadi. Mama mengajakku bergabung setelah melihatku terdiam beberapa saat karena terkejut dengan apa yang baru aku lihat.

" Ayo, sayang. Selama ini kamu makan di kamar, makan sendiri. Nggak enak lho makan sendiri. Begini lebih nikmat, makan bareng-bareng." mama menyendokkan nasi untukku. Menunjukkan lauk yang kira-kira aku sukai.Aku masih kikuk dengan suasana yang tidak biasa ini. Untunglah mama segera menyadari situasi. Satu persatu lauk tersaji diatas nasi yang tadi mama ambilkan untukku. Mama menaruhnya di depanku. Pak Haryo, mbok Karmi dan Hadi menatapku. Mereka tersenyum. Aku membalas senyum mereka lalu cepat-cepat menyendokkan makanan ke mulutku.

Selama makan sekali-kali aku melirik Hadi. Mama terlihat begitu memperhatikan Hadi, seolah Hadi adalah anaknya sendiri. Tapi aku harus memberi jempol untuk mama. Baru kali ini aku melihat majikan dan pembantunya makan bersama-sama dalam satu meja. Mama terlihat lepas. Begitu juga dengan Pak Haryo beserta istri, mbok Karmi dan anaknya Hadi. Tak ada kesan kalau mereka adalah majikan dan pembantu. Sebuah harmoni kehidupan yang membuatku terpesona. Suasana keakraban tercipta lewat obrolan-obrolan diantara mereka. Aku hanya menyimak sambil menikmati makananku. Lidahku rasanya kelu. Tak bisa berkata-kata. Sejak kecil terbiasa di asuh papa dengan sikap yang berbeda dalam memperlakukan pembantu membuatku tak terbiasa harus mengobrol dengan mereka di saat sedang makan seperti ini.

" Nak, Hadi. Kalau ada waktu, kapan-kapan ajak Demi keliling bukit ini ya? Demi biasa kesini tapi hanya diam dikamar. Tidak pernah berjalan-jalan melihat pemandangan, padahal sekitar tempat ini sangat menarik lho, sayang." mama menoleh padaku. Aku menatap Hadi sekilas. Dia mengangguk lalu pandangannya beralih dari mama ke aku. Senyumnya yang menawan serasa menekan kerongkonganku hingga aku harus meraih gelas berisi air yang ada didepanku. Aku melihat ke arah lain. Apa ini hanya perasaanku saja ataukah Hadi yang merasa sok cakep. Aku merasa saat aku melihat ketempat lain, ekor mataku seolah melihatnya menatapku. Segera aku menoleh untuk memastikan pikiranku, ternyata benar. Dia menatapku dengan tatapan mata yang membuatku gemetaran.

Cepat-cepat kuselesaikan makanku lalu pamit ke mama untuk kembali kekamarku.

" Sayang, ntar sore Hadi bersedia menamani kamu jalan-jalan. Jadi kamu siap-siap saja, ya."

Aku mengangguk lalu berjalan cepat meninggalkan ruang makan. Saat kakiku menaiki anak tangga satu persatu, iseng aku berbalik melihat ke meja makan. Pandanganku bertemu dengan mata Hadi yang tengah melihatku. Aku gugup tak menyangka Hadi masih memperhatikan aku. Karena gugup tak sengaja kakiku terpeleset. Aku terjatuh menuruni beberapa anak tangga. Saat itulah sebuah tangan menahanku. Aku melihatnya. Hadi memelukku dari belakang, menahan tubuhku agar tak terjatuh lagi.

Aku bangun lalu mengucapkan terima kasih dengan dada berdebar. Kulihat mama, Pak Haryo dan mbok Karni menatapku dengan wajah cemas.

" Kamu nggak apa-apa kan, sayang?" mama mendekatiku memeriksa tubuhku, mungkin ada yang terluka.

" Nggak apa-apa kok, ma. Hanya terkilir. Kakiku yang terasa sakit."

" Kaki yang mana? Kalau kamu nggak kuat naik ke atas, biar Hadi yang bantuin kamu." ucap mama dengan suara bergetar. Aku menggeleng. Tawaran itu sungguh menarik. Tapi tidak untuk sekarang. Jantungku bisa lepas kalau sampai Hadi memapahku naik kekamarku. Sekarang saja debarnya tak bisa lagi aku tahan.Masih dengan menahan rasa sakit pelan-pelan aku menaiki anak tangga. Aku baru bernafas lega setelah tiba dikamarku. Tempat tidur terasa sangat nyaman saat ini. Aku berbaring. Meluruskan kakiku yang tadi terkilir. Baru terasa sakitnya. Kuperhatikan tumitku berdarah. Kulitnya terkelupas. Sebagian betisku juga tergores. Benar-benar perih.

Tiba-tiba pintu terbuka. Dari balik pintu menyembul wajah Hadi. Dia tersenyum lalu bergerak masuk ke dalam kamarku. Aku hanya melongo menatapnya melenggang mulus tanpa rasa sungkan padahal yang dia masuki sekarang ini adalah kamar perempuan..

" Ke..ke..napa kamu masuk kemari? Aku kan tidak memanggilmu?" tanyaku setelah kuraih selimut untuk menutupi kakiku. Hadi hanya tersenyum.

" Mamamu yang menyuruhku kemari. Karena mamamu sudah aku anggap seperti ibuku sendiri, maka aku juga akan menganggapmu sebagai adikku." Dia menyerahkan obat luka dan kapas.

" Pakai ini. Mudah-mudahan lukamu cepat sembuh. Ehm..apa rencana nanti sore kita batalkan saja? Kamu habis terjatuh tentu tidak nyaman untuk berjalan-jalan dengan kondisi kaki yang luka."

" Iya. Aku belum bisa. Nanti saja kalau kakiku sudah sembuh."

Hadi berdiri setelah sebelumnya dia duduk ditempat tidurku. Dia menuju meja komputerku. Melihat kertas-kertas yang berserakan diatas meja. Dia mengambil selembar lalu membacanya. Sementara sambil menahan perih, aku terus mengolesi luka di kaki dan betisku.

" Kamu pengarang ya?" Hadi bertanya tanpa berbalik.

" Iya. Kenapa?"

" Aku baru baca selembar. Tapi sepertinya tulisanmu masih perlu polesan."

Aku menghentikan mengolesi lukaku dengan obat. Kupandangi Hadi yang membelakangiku. Aku penasaran dengan kata-katanya. Baru kali ini ada yang mengatakan kalau tulisanku perlu polesan.

" Maksudmu?"

" Iya. Aku bukan ingin membandingkan tulisanmu dengan tulisan-tulisan yang pernah aku baca. Tapi apa selama ini kamu banyak membaca tulisan-tulisan pengarang lain?"

" Iya. Aku jelas harus banyak membaca untuk menambah pengetahuan. Bukan hanya membaca novel tapi juga tulisan-tulisan yang berkaitan dengan judul tulisanku." jawabku.

Hadi berbalik.

" Aku punya koleksi naskah cerita. Aku tidak tahu apa menurutmu cerita yang ada di naskah itu menarik atau tidak. Aku hanya ingin kamu melihatnya."

" Untuk apa aku melihatnya?" tanyaku heran.

" Naskah itu terlihat sudah sangat tua. Tulisannya sudah sangat buram. Kertasnya juga sudah berwarna coklat. Aku menemukannya di lantai bawah rumah ini. Tapi saat membacanya, aku merasa cerita itu aneh. Kalau melihat model kertasnya, pastinya umurnya sudah sangat tua. Tapi jika membaca ceritanya, maka kondisinya pas dengan keadaan kita sekarang. Disana disebutkan handphone, internet, masih banyak lagi. Padahal kalau dibanding dengan usia, jelas kertas itu jauh lebih tua."

" Mungkin kertas itu terkena hujan." kataku mencoba berpikir realistis.

" Kalau seperti itu, tulisannya pasti akan ikut hilang. Tapi ini tidak. Jelas-jelas kertas itu berubah karena termakan usia. Sementara tulisannya menggunakan tulisan EYD. Anehkan? Seingatku, beberapa puluh tahun sebelumnya bahasa yang dipakai menggunakan ejaan lama yang antara tulisan dan bacaan ada yang tidak sama. Misalnya kata Jang jaman dulu dibaca yang. Tapi tulisan dikertas itu menggunakan ejaan sekarang. Coba kamu pikir, bagaimana orang dulu menggunakan ejaan jaman sekarang?" aku makin tertarik dengan ulasan yang dipaparkan Hadi. Sepertinya naskah yang dia maksud benar-benar menarik untuk dibaca.

" Kapan aku bisa melihatnya?" tanyaku akhirnya. Aku jadi ingin membacanya.

" Aku menaruhnya di gudang. Kalau kamu berminat, sekarang juga aku akan kesana untuk mengambilnya."

" Iya. Aku ingin membacanya. Kebetulan saat ini aku lagi hang. Semua ide lenyap dari kepalaku. Padahal aku masih harus membuat beberapa cerita lagi."

" Baiklah. Aku pergi sekarang. Oh, ya obatnya kamu simpan disini saja."

Hadi kemudian keluar dari kamarku. Setelah mengolesi lukaku dengan obat aku beranjak menuju meja komputerku. Mencoba membaca kembali tulisanku yang tadi dikritik Hadi. Aku mengambil selembar. Kubaca berulang-ulang. Tetap saja aku tidak menemukan hal-hal yang perlu polesan. Atau mungkin karena ini adalah hasil karyaku, jadi aku sama sekali tidak melihat cela untuk aku kritik.

Setelah lima belas menit menunggu akhirnya Hadi muncul dengan sebuah naskah ditangannya. Dia menyerahkan naskah itu.

" Sekarang coba kamu liat sendiri lalu bandingkan. Kertas itu dari tahun sekarang atau dari beberapa tahun yang lalu?"

Aku memperhatikan naskah yang kini berada ditanganku. Benar kertasnya sudah terlalu tua. Walaupun kertas sekarang terkena hujan, pasti bentuknya akan lain. Sementara kertas ini terlihat terawat. Hanya karena termakan usia menjadikan warnanya menjadi coklat. Aku mulai membaca kalimat demi kalimat. Dari judulnya tidak bisa ditebak dari tahun berapa tulisan ini dibuat. Tapi melihat susunan kalimat-kalimatnya, sepertinya tulisan ini baru dibuat dalam tahun-tahun terakhir. Tapi bagaimana bisa?

" Aku tinggalkan naskah ini disini. Oh, ya aku hanya membawa satu naskah kemari. Masih banyak lagi digudang. Tapi sebagai permulaan untuk kamu baca, cukuplah itu saja. Kalau nanti kamu penasaran, cukup bilang sama aku. Nanti aku akan bawa kemari. Aku kebawah dulu, tadi mamamu memanggilku"

" Makasih Hadi." ucapku saat dia mendekati pintu. Hadi berbalik sambil tersenyum. Dia menarik pintu, menutupnya setelah dia berada diluar. Aku kembali ke pembaringan. Sepertinya membaca tulisan ini lebih nyaman sambil menyandarkan tubuh dibantal. Aku meraih bantal, menaruhnya di ujung tempat tidur. Aku mengatur posisi dudukku agar terasa nyaman. Setelah itu aku mulai membaca kalimat demi kalimat dalam naskah tersebut. Baru membaca lembaran pertama, aku sudah mulai tertarik. Cerita awal sudah membuat aku penasaran untuk terus membaca kelanjutannya. Aku terus membaca hingga tak terasa hari sudah sore saat aku menyelesaikan membaca dan meresapi setiap kalimat dari tulisan tersebut. Tiba-tiba sebuah ide muncul dalam kepalaku.

Aku melangkah keluar kamar. Menuruni anak tangga satu persatu. Saat itu aku melihat mbok Karmi melintas di ruang tengah. Aku langsung memanggilnya, mbok Karmi mendongak melihat dari bawah. Dia segera mendatangiku begitu aku memanggilnya.

" Tolong panggilkan Hadi,mbok." kataku. Mbok Karmi dengan terburu-buru melangkah menuju dapur. Sementara aku kembali kekamarku. Aku memegang lagi naskah itu. Semoga Hadi menerima ide yang aku usulkan. Dalam kepalaku sudah terbayang berbagai macam rencana. Semua berkaitan dengan naskah tua ini. Naskah tua tapi cerita didalamnya benar-benar baru.

" Kamu mencariku?" Hadi muncul dengan nafas tersengal-sengal. Mungkin dia berlari saat menuju kemari.

" Iya. Kemari dan duduklah. Aku punya ide yang menurutku sangat cemerlang. Begini bagaimana kalau naskah ini aku daur ulang? Maksudnya aku ketik ulang lalu aku bawa ke penerbit. Karena ternyata setelah aku baca, naskah ini benar-benar menarik dan layak untuk diterbitkan. Aku heran siapa pengarang dari naskah ini. Sama sekali tidak ada nama atau petunjuk yang menggambarkan tentang penulisnya."

" Aku juga tidak tahu siapa yang menulis naskah itu karena saat aku temukan beberapa bulan yang lalu, ayahku juga tidak tahu kapan naskah itu ada di gudang. Ehm..soal rencanamu untuk mendaur ulang, aku rasa itu ide yang bagus. Karena aku juga menilai, tulisan dalam naskah itu tidak kalah dengan novel-novel yang pernah aku baca."

" Jadi kamu setuju, kalau aku mengetiknya kembali? Aku yakin naskah ini setelah jadi novel akan jadi best seller."

Hadi mengangguk setuju. Akhirnya sore itu kami sepakat untuk menjalankan proyek ini berdua. Proyek yang membuatku berdebar-debar karena kami tidak tahu siapa pengarang sebenarnya dari naskah misterius itu. Aku hanya menganggap mungkin ini adalah jawaban dari doa-doaku karena sampai sekarang beberapa ide yang aku tuangkan dalam tulisan selalu macet dan terhenti setelah beberapa halaman ketikan.*

Bersambung....

3 komentar:

  1. Balasan
    1. Makasih Marul sudah berkunjung, lanjutannya ada di Arsip, berdekatan dengan bagian 1 :)

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus