Handphoneku
berdering lagi. Aku segera meng offkan dan menaruhnya di dalam lemari.
Aku tidak ingin diganggu saat ini. Aku ingin istrahat. Tidak bisakah aku
istrahat walau sejenak? Aku melangkah mendekati jendela kamar yang
kacanya tampak buram. Ku dorong jendela itu agak lebih lebar agar hawa
segar lebih leluasa masuk ke dalam kamarku. Kuhirup udara dengan pelan,
sungguh menyegarkan. Sejak tadi hanya berkutat dengan komputer membuatku
lupa untuk berdiri sekedar merenggangkan tubuh.
Aku memandang ke bawah. Melihat keindahan bunga dari
lantai dua rumah mama memang sangat memanjakan mata. Suasana rumah
dengan alam yang sejuk membuat aku nyaman setelah beberapa hari tinggal
di rumah mama. Kulihat Pak Haryo, pengurus kebun dan taman mama
berlari-lari mendekati seseorang yang sedang berdiri di depan pagar.
Seorang pemuda yang lumayan tampan berdiri dengan tenang menanti Pak
Haryo mendekatinya. Aku membiarkan mataku melihat keindahan yang lain
dari tempat ini. Menatap wajah tampan setelah jenuh dengan kegiatan
benar-benar membuka mataku.
Pemuda itu tersenyum saat berhadapan dengan Pak
Haryo, dia memberikan sesuatu ke Pak Haryo. Aku tidak jelas melihatnya
karena terhalang oleh tubuh Pak Haryo yang membelakangiku. Setelah itu
dia kemudian pergi meninggalkan Pak Haryo. Tapi belum lama melangkah,
tiba-tiba dia berbalik. Aku tersentak kaget karena dia memandangku
sambil tersenyum. Aku yang tidak siap menerima senyuman dari seseorang
yang berwajah tampan dan tidak aku kenal, membalasnya dengan tersenyum
pula.
Dia kemudian berbalik lagi lalu melangkah. Kupandangi
tubuhnya yang makin jauh dengan senyum masih tersungging di wajahku.
Aku tidak sadar berapa lama aku tersenyum sendiri sampai kemudian
kurasakan sentuhan lembut dibahuku.
" Namanya, Hadi. Dia tinggal tidak jauh dari sini." suara mama mengagetkanku. Aku menoleh memandang mama.
" Mama? Sejak kapan mama dibelakangku?" tanyaku kaget. Mama merangkulku.
" Sejak kamu melihat Hadi. Bagaimana? Dia tampan kan?" pertanyaan mama membuatku tersipu. Mama seolah tahu yang aku pikirkan.
" Dia anak Pak Haryo."
" Anak Pak Haryo? Penjaga kebun mama?" mama mengangguk.
" Dia kuliah di kota. Sekarang lagi nyusun skripsi.
Makanya dia kembali ke sini untuk menyusun skripsinya. Sama seperti kamu
dia juga sibuk mengetik, cuma bedanya kamu mengarang cerpen sedangkan
dia mengetik skripsinya."
" Dia tinggal dimana, ma? Pak Haryo kan tinggal bersama kita disini."
" Dia juga tinggal disini." Jawab mama pelan. Kurasakan mataku membelalak karena kaget.
" Hah?? yang benar ma? Kenapa selama dua hari ini dia tidak kelihatan?" mama mencubit hidungku.
" Dasar anak mama. Kamu lupa ya? Dua hari ini kamu
terus mendekam dikamar. Bagaimana kamu bisa melihatnya? Padahal dia
selalu hilir mudik di dalam rumah." Ada sesal yang timbul dalam hatiku.
Mengapa aku tidak menyadari didalam rumah mama ada tinggal seorang
pemuda tampan? Sepertinya mulai sekarang aku harus rajin- rajin keluar
kamar. Biarlah untuk sementara aku santai saja mengerjakan ketikan untuk
novelku. Toh mas Ivan juga tidak terlalu ngotot memintaku untuk segera
menyelesaikannya. Ada dua naskah yang aku serahkan kemarin. Dia bisa
memilih naskah mana yang ingin dia terbitkan lebih dulu.
" Mama turun dulu, ya. Jangan lupa, bentar lagi makan
siang. Kamu turun makan bareng sama mama. Dua hari ini, mbok Karmi yang
terus membawa makanan kekamarmu. Bagaimana bisa kenalan dengan Hadi?"
mama tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku membalas dengan
senyum sambil mengangguk.
Setelah mama keluar dari kamarku. Aku kembali duduk
di depan komputer. Mataku melihat layar komputer. Ada pesan masuk di
facebook, dari Nando. Kubuka pesan dari Nando..
Kamu marah, ya? Handphonemu tidak aktif sejak tadi. Demi, jangan bersikap seperti ini. Kelakuanmu seperti anak-anak.
Kupandangi pesan di inbox facebook dengan rasa
gundah. Nando tidak kehabisan akal untuk menghubungiku. Setelah
handphone aku matikan, dia memilih cara lain untuk menghubungiku.
Menaruh pesan di facebook. Kulihat jam dipesan itu. Dia baru saja
mengirimnya. Aku keluar dari facebook. Percuma mengaktifkannya kalau
hanya untuk membaca pesan dari Nando.
Rasa marahku belum hilang tiap kali mengingat
bagaimana Nando sudah membohongiku. Selama ini ternyata dia backstreet
dengan Yeni. Nando memang bukan pacarku, dia hanya sahabatku. Aku tidak
sepantasnya marah kalau dia mempunyai pacar. Aku kesal karena tidak
berterus terang padaku. Apa susahnya berterus terang. Aku toh tidak akan
marah. Aku justru akan bahagia bila sahabatku menemukan tambatan hati.
Tapi Nando tidak mengerti itu. Dia membiarkan aku berpikir kalau dia
masih sendiri. Hingga suatu saat aku bertengkar dengan Yeni. Aku marah
karena Yeni menggunakan uang kelompok tanpa memberitahu kami. Kami
tergabung dalam suatu kelompok yang semua anggotanya adalah penulis
cerpen. Ada dana operasional yang rutin kami kumpulkan setiap bulan.
Uang itulah yang dipakai Yeni dengan diam-diam.
Semua terungkap saat Retno heran dengan semua tagihan
yang datang karena belum terbayar. Saat itulah aku mendatangi Yeni yang
bertugas sebagai bendahara. Ternyata semua tagihan itu tak satupun yang
dibayar. Aku berharap Yeni meminta maaf karena sudah khilaf. Tapi sikap
yang aku terima jauh dari yang aku harapkan, Yeni malah marah-marah dan
menuduhku yang telah menggunakan sebagian dana itu sewaktu kami
mengadakan kunjungan ke suatu daerah. Aku yang semula bersikap sabar
akhirnya tak tahan juga. Adu mulut kami berakhir saat aku menampar Yeni.
Saat itulah Nando langsung melerai. Dia bukannya menenangkan aku tapi
malah merangkul Yeni. Rasa emosi dan terkejut karena melihat kenyataan
didepanku membuatku tak sanggup berkata-kata. Nafaasku tidak beraturan
karena amarah yang meledak.
" Demi, tidak bisakah kamu mengendalikan emosimu?
Kenapa selalu orang-orang yang ada disekitarmu kamu sakiti?" Nando
menatapku tajam. Dia masih merangkul Yeni. Yeni hanya menangis. Aku
mencibir. Sepertinya Yeni tahu betul memanfaatkan kelemahan Nando. Dia
terus menangis tanpa mengeluarkan satu katapun.
" Kamu baru saja datang, Nando. Kamu tanya saja dia!
Aku pulang dulu." aku segera keluar lalu mengambil tas dan mapku yang
ada di atas meja. Retno mengejarku saat aku berjalan keluar menuju
mobilku.
" Mbak Demi, kenapa tidak menjelaskan semuanya ke Nando?" tanyanya sambil menahan pintu mobil yang hendak aku tutup.
" Aku pergi dulu, Ret. Aku mau menenangkan diri
dulu." segera kutarik pintu mobil. Retno melepasku dengan wajah cemas.
Kulihat lewat kaca mobil, dia masih berdiri memandangku. Aku benar-benar
marah. Marah karena perbuatan Yeni, marah karena kata-kata Nando yang
menyudutkanku. Terutama aku marah karena sikap Nando ke Yeni. Harus aku
akui mungkin karena itulah aku menjadi lebih marah. Aku shock melihat
keakraban mereka. Nando yang aku tahu tidak pernah bersikap lembut ke
pada perempuan lain selain terhadapku tiba-tiba memperlihatkan
pemandangan itu didepanku.Mataku sakit melihatnya.
Kujalankan mobil dengan kencang. Aku tidak tahu rasa
apa yang tengah berkecamuk dalam hatiku saat ini. Aku tidak suka dengan
kedekatan Nando dan Yeni. Terlebih karena perubahan sikap Nando padaku.
Nando tidak pernah berkata keras padaku. Tapi yang tadi dilakukannya,
membuatku terkejut. Nando menuduhku telah menyakit Yeni. Tuduhan yang
yang tidak berdasar. Aku muak untuk menjelaskan. Hatiku sudah terlanjur
kecewa. Laju mobilku tak terasa tiba dirumah mama. Aku katakan rumah
mama karena mama dan papa sudah bercerai sejak aku masih kecil. Mama
memilih tidak menikah sementara papa menikah dengan sekretarisnya, tante
Silvi. Aku sendiri lebih senang tinggal di rumahku. Sebuah rumah type
54 dengan model minimalis yang dibeli papa untukku.
" Non Demi, dipanggil nyonya. Katanya disuruh ke
bawah untuk makan siang." Suara mbok Karmi membuyarkan lamunanku. Segera
mematikan komputer lalu bergegas turun ke ruang makan. Sampai dibawah
aku melihat pemandangan yang tidak biasa. Di meja makan telah berkumpul
mama, Pak Haryo, mbok Karmi dan si tampan yang tadi aku lihat, Hadi.
Mama mengajakku bergabung setelah melihatku terdiam beberapa saat karena
terkejut dengan apa yang baru aku lihat.
" Ayo, sayang. Selama ini kamu makan di kamar, makan
sendiri. Nggak enak lho makan sendiri. Begini lebih nikmat, makan
bareng-bareng." mama menyendokkan nasi untukku. Menunjukkan lauk yang
kira-kira aku sukai.Aku masih kikuk dengan suasana yang tidak biasa ini.
Untunglah mama segera menyadari situasi. Satu persatu lauk tersaji
diatas nasi yang tadi mama ambilkan untukku. Mama menaruhnya di depanku.
Pak Haryo, mbok Karmi dan Hadi menatapku. Mereka tersenyum. Aku
membalas senyum mereka lalu cepat-cepat menyendokkan makanan ke mulutku.
Selama makan sekali-kali aku melirik Hadi. Mama
terlihat begitu memperhatikan Hadi, seolah Hadi adalah anaknya sendiri.
Tapi aku harus memberi jempol untuk mama. Baru kali ini aku melihat
majikan dan pembantunya makan bersama-sama dalam satu meja. Mama
terlihat lepas. Begitu juga dengan Pak Haryo beserta istri, mbok Karmi
dan anaknya Hadi. Tak ada kesan kalau mereka adalah majikan dan
pembantu. Sebuah harmoni kehidupan yang membuatku terpesona. Suasana
keakraban tercipta lewat obrolan-obrolan diantara mereka. Aku hanya
menyimak sambil menikmati makananku. Lidahku rasanya kelu. Tak bisa
berkata-kata. Sejak kecil terbiasa di asuh papa dengan sikap yang
berbeda dalam memperlakukan pembantu membuatku tak terbiasa harus
mengobrol dengan mereka di saat sedang makan seperti ini.
" Nak, Hadi. Kalau ada waktu, kapan-kapan ajak Demi
keliling bukit ini ya? Demi biasa kesini tapi hanya diam dikamar. Tidak
pernah berjalan-jalan melihat pemandangan, padahal sekitar tempat ini
sangat menarik lho, sayang." mama menoleh padaku. Aku menatap Hadi
sekilas. Dia mengangguk lalu pandangannya beralih dari mama ke aku.
Senyumnya yang menawan serasa menekan kerongkonganku hingga aku harus
meraih gelas berisi air yang ada didepanku. Aku melihat ke arah lain.
Apa ini hanya perasaanku saja ataukah Hadi yang merasa sok cakep. Aku
merasa saat aku melihat ketempat lain, ekor mataku seolah melihatnya
menatapku. Segera aku menoleh untuk memastikan pikiranku, ternyata
benar. Dia menatapku dengan tatapan mata yang membuatku gemetaran.
Cepat-cepat kuselesaikan makanku lalu pamit ke mama untuk kembali kekamarku.
" Sayang, ntar sore Hadi bersedia menamani kamu jalan-jalan. Jadi kamu siap-siap saja, ya."
Aku mengangguk lalu berjalan cepat meninggalkan ruang
makan. Saat kakiku menaiki anak tangga satu persatu, iseng aku berbalik
melihat ke meja makan. Pandanganku bertemu dengan mata Hadi yang tengah
melihatku. Aku gugup tak menyangka Hadi masih memperhatikan aku. Karena
gugup tak sengaja kakiku terpeleset. Aku terjatuh menuruni beberapa
anak tangga. Saat itulah sebuah tangan menahanku. Aku melihatnya. Hadi
memelukku dari belakang, menahan tubuhku agar tak terjatuh lagi.
Aku bangun lalu mengucapkan terima kasih dengan dada
berdebar. Kulihat mama, Pak Haryo dan mbok Karni menatapku dengan wajah
cemas.
" Kamu nggak apa-apa kan, sayang?" mama mendekatiku memeriksa tubuhku, mungkin ada yang terluka.
" Nggak apa-apa kok, ma. Hanya terkilir. Kakiku yang terasa sakit."
" Kaki yang mana? Kalau kamu nggak kuat naik ke atas,
biar Hadi yang bantuin kamu." ucap mama dengan suara bergetar. Aku
menggeleng. Tawaran itu sungguh menarik. Tapi tidak untuk sekarang.
Jantungku bisa lepas kalau sampai Hadi memapahku naik kekamarku.
Sekarang saja debarnya tak bisa lagi aku tahan.Masih dengan menahan rasa
sakit pelan-pelan aku menaiki anak tangga. Aku baru bernafas lega
setelah tiba dikamarku. Tempat tidur terasa sangat nyaman saat ini. Aku
berbaring. Meluruskan kakiku yang tadi terkilir. Baru terasa sakitnya.
Kuperhatikan tumitku berdarah. Kulitnya terkelupas. Sebagian betisku
juga tergores. Benar-benar perih.
Tiba-tiba pintu terbuka. Dari balik pintu menyembul
wajah Hadi. Dia tersenyum lalu bergerak masuk ke dalam kamarku. Aku
hanya melongo menatapnya melenggang mulus tanpa rasa sungkan padahal
yang dia masuki sekarang ini adalah kamar perempuan..
" Ke..ke..napa kamu masuk kemari? Aku kan tidak
memanggilmu?" tanyaku setelah kuraih selimut untuk menutupi kakiku. Hadi
hanya tersenyum.
" Mamamu yang menyuruhku kemari. Karena mamamu sudah
aku anggap seperti ibuku sendiri, maka aku juga akan menganggapmu
sebagai adikku." Dia menyerahkan obat luka dan kapas.
" Pakai ini. Mudah-mudahan lukamu cepat sembuh.
Ehm..apa rencana nanti sore kita batalkan saja? Kamu habis terjatuh
tentu tidak nyaman untuk berjalan-jalan dengan kondisi kaki yang luka."
" Iya. Aku belum bisa. Nanti saja kalau kakiku sudah sembuh."
Hadi berdiri setelah sebelumnya dia duduk ditempat
tidurku. Dia menuju meja komputerku. Melihat kertas-kertas yang
berserakan diatas meja. Dia mengambil selembar lalu membacanya.
Sementara sambil menahan perih, aku terus mengolesi luka di kaki dan
betisku.
" Kamu pengarang ya?" Hadi bertanya tanpa berbalik.
" Iya. Kenapa?"
" Aku baru baca selembar. Tapi sepertinya tulisanmu masih perlu polesan."
Aku menghentikan mengolesi lukaku dengan obat.
Kupandangi Hadi yang membelakangiku. Aku penasaran dengan kata-katanya.
Baru kali ini ada yang mengatakan kalau tulisanku perlu polesan.
" Maksudmu?"
" Iya. Aku bukan ingin membandingkan tulisanmu dengan
tulisan-tulisan yang pernah aku baca. Tapi apa selama ini kamu banyak
membaca tulisan-tulisan pengarang lain?"
" Iya. Aku jelas harus banyak membaca untuk menambah
pengetahuan. Bukan hanya membaca novel tapi juga tulisan-tulisan yang
berkaitan dengan judul tulisanku." jawabku.
Hadi berbalik.
" Aku punya koleksi naskah cerita. Aku tidak tahu apa
menurutmu cerita yang ada di naskah itu menarik atau tidak. Aku hanya
ingin kamu melihatnya."
" Untuk apa aku melihatnya?" tanyaku heran.
" Naskah itu terlihat sudah sangat tua. Tulisannya
sudah sangat buram. Kertasnya juga sudah berwarna coklat. Aku
menemukannya di lantai bawah rumah ini. Tapi saat membacanya, aku merasa
cerita itu aneh. Kalau melihat model kertasnya, pastinya umurnya sudah
sangat tua. Tapi jika membaca ceritanya, maka kondisinya pas dengan
keadaan kita sekarang. Disana disebutkan handphone, internet, masih
banyak lagi. Padahal kalau dibanding dengan usia, jelas kertas itu jauh
lebih tua."
" Mungkin kertas itu terkena hujan." kataku mencoba berpikir realistis.
" Kalau seperti itu, tulisannya pasti akan ikut
hilang. Tapi ini tidak. Jelas-jelas kertas itu berubah karena termakan
usia. Sementara tulisannya menggunakan tulisan EYD. Anehkan? Seingatku,
beberapa puluh tahun sebelumnya bahasa yang dipakai menggunakan ejaan
lama yang antara tulisan dan bacaan ada yang tidak sama. Misalnya kata
Jang jaman dulu dibaca yang. Tapi tulisan dikertas itu menggunakan ejaan
sekarang. Coba kamu pikir, bagaimana orang dulu menggunakan ejaan jaman
sekarang?" aku makin tertarik dengan ulasan yang dipaparkan Hadi.
Sepertinya naskah yang dia maksud benar-benar menarik untuk dibaca.
" Kapan aku bisa melihatnya?" tanyaku akhirnya. Aku jadi ingin membacanya.
" Aku menaruhnya di gudang. Kalau kamu berminat, sekarang juga aku akan kesana untuk mengambilnya."
" Iya. Aku ingin membacanya. Kebetulan saat ini aku
lagi hang. Semua ide lenyap dari kepalaku. Padahal aku masih harus
membuat beberapa cerita lagi."
" Baiklah. Aku pergi sekarang. Oh, ya obatnya kamu simpan disini saja."
Hadi kemudian keluar dari kamarku. Setelah mengolesi
lukaku dengan obat aku beranjak menuju meja komputerku. Mencoba membaca
kembali tulisanku yang tadi dikritik Hadi. Aku mengambil selembar.
Kubaca berulang-ulang. Tetap saja aku tidak menemukan hal-hal yang perlu
polesan. Atau mungkin karena ini adalah hasil karyaku, jadi aku sama
sekali tidak melihat cela untuk aku kritik.
Setelah lima belas menit menunggu akhirnya Hadi muncul dengan sebuah naskah ditangannya. Dia menyerahkan naskah itu.
" Sekarang coba kamu liat sendiri lalu bandingkan. Kertas itu dari tahun sekarang atau dari beberapa tahun yang lalu?"
Aku memperhatikan naskah yang kini berada ditanganku.
Benar kertasnya sudah terlalu tua. Walaupun kertas sekarang terkena
hujan, pasti bentuknya akan lain. Sementara kertas ini terlihat terawat.
Hanya karena termakan usia menjadikan warnanya menjadi coklat. Aku
mulai membaca kalimat demi kalimat. Dari judulnya tidak bisa ditebak
dari tahun berapa tulisan ini dibuat. Tapi melihat susunan
kalimat-kalimatnya, sepertinya tulisan ini baru dibuat dalam tahun-tahun
terakhir. Tapi bagaimana bisa?
" Aku tinggalkan naskah ini disini. Oh, ya aku hanya
membawa satu naskah kemari. Masih banyak lagi digudang. Tapi sebagai
permulaan untuk kamu baca, cukuplah itu saja. Kalau nanti kamu
penasaran, cukup bilang sama aku. Nanti aku akan bawa kemari. Aku
kebawah dulu, tadi mamamu memanggilku"
" Makasih Hadi." ucapku saat dia mendekati pintu.
Hadi berbalik sambil tersenyum. Dia menarik pintu, menutupnya setelah
dia berada diluar. Aku kembali ke pembaringan. Sepertinya membaca
tulisan ini lebih nyaman sambil menyandarkan tubuh dibantal. Aku meraih
bantal, menaruhnya di ujung tempat tidur. Aku mengatur posisi dudukku
agar terasa nyaman. Setelah itu aku mulai membaca kalimat demi kalimat
dalam naskah tersebut. Baru membaca lembaran pertama, aku sudah mulai
tertarik. Cerita awal sudah membuat aku penasaran untuk terus membaca
kelanjutannya. Aku terus membaca hingga tak terasa hari sudah sore saat
aku menyelesaikan membaca dan meresapi setiap kalimat dari tulisan
tersebut. Tiba-tiba sebuah ide muncul dalam kepalaku.
Aku melangkah keluar kamar. Menuruni anak tangga satu
persatu. Saat itu aku melihat mbok Karmi melintas di ruang tengah. Aku
langsung memanggilnya, mbok Karmi mendongak melihat dari bawah. Dia
segera mendatangiku begitu aku memanggilnya.
" Tolong panggilkan Hadi,mbok." kataku. Mbok Karmi
dengan terburu-buru melangkah menuju dapur. Sementara aku kembali
kekamarku. Aku memegang lagi naskah itu. Semoga Hadi menerima ide yang
aku usulkan. Dalam kepalaku sudah terbayang berbagai macam rencana.
Semua berkaitan dengan naskah tua ini. Naskah tua tapi cerita didalamnya
benar-benar baru.
" Kamu mencariku?" Hadi muncul dengan nafas tersengal-sengal. Mungkin dia berlari saat menuju kemari.
" Iya. Kemari dan duduklah. Aku punya ide yang
menurutku sangat cemerlang. Begini bagaimana kalau naskah ini aku daur
ulang? Maksudnya aku ketik ulang lalu aku bawa ke penerbit. Karena
ternyata setelah aku baca, naskah ini benar-benar menarik dan layak
untuk diterbitkan. Aku heran siapa pengarang dari naskah ini. Sama
sekali tidak ada nama atau petunjuk yang menggambarkan tentang
penulisnya."
" Aku juga tidak tahu siapa yang menulis naskah itu
karena saat aku temukan beberapa bulan yang lalu, ayahku juga tidak tahu
kapan naskah itu ada di gudang. Ehm..soal rencanamu untuk mendaur
ulang, aku rasa itu ide yang bagus. Karena aku juga menilai, tulisan
dalam naskah itu tidak kalah dengan novel-novel yang pernah aku baca."
" Jadi kamu setuju, kalau aku mengetiknya kembali? Aku yakin naskah ini setelah jadi novel akan jadi best seller."
Hadi mengangguk setuju. Akhirnya sore itu kami
sepakat untuk menjalankan proyek ini berdua. Proyek yang membuatku
berdebar-debar karena kami tidak tahu siapa pengarang sebenarnya dari
naskah misterius itu. Aku hanya menganggap mungkin ini adalah jawaban
dari doa-doaku karena sampai sekarang beberapa ide yang aku tuangkan
dalam tulisan selalu macet dan terhenti setelah beberapa halaman
ketikan.*
Bersambung....
sambungannya dimana mb. Asih?
BalasHapusMakasih Marul sudah berkunjung, lanjutannya ada di Arsip, berdekatan dengan bagian 1 :)
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus