Minggu, 08 April 2012

Itu Rumahku

0

Kisman yang bekerja sebagai sopir, merasa malu ketika bertemu dengan temannya Mahmud. Syukurlah Mahmud maklum dan tidak menambah malu dirinya di depan Linda.
Hari berlalu, tiba-tiba Kisman bertemu dengan temannya yang lain. Demi gengsi, Kisman mengajak serta Rahmat, temannya untuk ikut dalam mobil.
“ Kamu hebat, ya. Sekarang punya mobil. Sayang sekali mobilku mogok jadi aku terpaksa naik taksi. Syukur ketemu kamu di pinggir jalan.”
Kisman makin bangga. Dia ingin membuat Rahmat makin takjub padanya. Sengaja dia memasuki kompleks perumahan elit. Wajah Rahmat nampak gembira. Namun belum sempat berbicara Kisman lebih dulu bersuara.
“ Mau singgah di rumahku atau mau langsung aku antar ke rumahmu?”
“ Gak usah. Aku buru-buru harus tiba di rumah. Anakku sakit.” Jawab Rahmat.
“ Itu rumahku. Kapan-kapan singgah ya.” Kisman menunjuk sebuah rumah mewah dengan pagar tinggi. Namun ucapannya membuat bingung Rahmat.
“ Stop di sini saja, Kis.”
“ Kenapa? Aku antar sampai rumahmu.”
“ Gak usah. Biar aku naik taksi saja.” Kisman akhirnya menjalankan mobilnya meninggalkan Rahmat yang geleng-geleng kepala.
“ Sifat sombongmu ternyata tidak juga berkurang, Kis.” Gumamnya sambil melangkah menuju rumah besar yang tadi di akui Kisman sebagai rumahnya.
“ Gimana, putriku, mbok.” Tegur Rahmat saat seorang wanita paruh baya membuka pintu pagar.
“ Masih di dalam, tuan. Nyonya menunggu tuan.” Rahmat kemudian melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam rumah.****

0 komentar:

Posting Komentar