Asih lari terbirit-birit ke kantor
desa. Beberapa warga yang melihat hanya melongo. Mereka menegur namun
teguran mereka tak mendapat balasan. Asih sudah sangat panik ketika tiba
di kantor desa.
” Gawat! gawat Acik. Pokoknya sekarang juga kita harus mengungsi.” serunya sambil berdiri mengatur nafas.
Acik yang kaget hampir saja menumpahkan teh panas yang baru saja dibuatnya. Dengan cepat dia menaruh di atas meja.
” Memang ada apa, mbak Asih? kok kita harus ngungsi?” tanyanya heran.
” Bakal ada perang.”
” Hah? hari gini masih perang? Siapa yang perang dan kenapa kita harus mengungsi?”
” Kita harus mengungsi karena yang
perang itu mas Kades Hans, mas Reporter, mas Erwin dan kang Inin. Perang
memperebutkan Kembang.” jelas Asih dengan wajah panik cenderung pucat.
Acik tertawa.
” Aduh, mbak Asih itu mah lagu lama. Mereka udah terbiasa perang sejak dulu.”
” Tapi ini lain, Cik! ini gawat dan kita harus mengungsi.”
” Kenapa begitu?”
” Kamu belum paham juga. kantor desa
bakal jadi sasaran tembak. Aa kades bakal di serbu. Mbak gak mau jadi
korban di kantor desa ini. Ayo, kita kabur secepatnya!”
Acik baru paham. Dari wajah tenang akhirnya dia juga ikut panik. Siang itu juga mereka berdua kabur meninggalkan kantor desa.
*************
0 komentar:
Posting Komentar