Suara
tawa terdengar dari halaman depan membuat Asih bergegas ke teras. Dia
tersenyum senang saat melihat kakak sepupunya Umi Rere datang bersama
dengan kedua anaknya. Namun saat melihat mas Firman juga ada diantara
mereka dan terlihat begitu akrab bercanda dengan ke dua anak Umi Rere. Rasa penasaran sekelebat hadir.
“ Assalamu Alaikum, mbak Asih.” Ucap mas Firman saat
tiba di depan Asih. Mas Firman duduk di teras sementara Umi Rere masuk
ke dalam rumah. Hanya ke dua anaknya yang menemani mas Firman. Mereka
terlihat begitu akrab seolah telah kenal lama. Asih tercenung melihat
pemandangan di depannya.
“ Kalian dari mana tadi?” tanya Asih pada dua orang ponakannya.
“
Dari sawah tante. Tadi kami main-main dengan paman Firman.” Ucap Raka
dengan semangat dan riang sekali. Nabila, si adik bungsu juga tak kalah
senangnya.
“
Nanti kita main-main lagi ya, paman.” Pintanya dengan manja makin
membuat miris perasaan Asih. Entah mengapa dia merasakan sesuatu yang
lain hadir dalam hatinya. Dia bingung menjabarkan rasa yang tiba-tiba
menyeruak dan membentuk aliran aneh yang membuatnya seperti tak rela
melihat ke akraban ponakannya dengan mas Firman. Bukankah wajar mereka
terlihat akrab? Tapi bukankah mereka baru kenal? Asih membatin dengan
rasa cemas.
Saat
Umi Rere keluar membawa minuman, juga tidak lepas dari pengamatan Asih.
Pandangan mas Firman yang tidak pernah lepas menatap Umi Rere membuat
jantung Asih berdebar kencang. Dia melihat sesuatu yang tidak biasa.
Sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan akan terjadi. Sesuatu yang baru
saja hadir dan entah mengapa baru hadir saat ini.
Tidak
biasanya pandangan mas Firman seperti itu. Lagipula mereka juga baru
bertemu dan kenalan, mengapa secepat itu mas Firman menaruh hati.
Ataukah ini hanya perasaannya saja? Pikiran Asih mulai berkecamuk.
Perhatian dan tutur kata mas Firman serta pandangan matanya, sungguh
menyiratkan cinta yang sangat dalam.
Karena
tak tahan lagi, Asih minta izin untuk ke kamar mandi. Dia menyandarkan
tubuhnya di pintu kamar mandi dan berusaha menenangkan dirinya. Ada apa
denganku? Bukankah wajar mas Firman terpesona melihat sosok Umi Rere
yang begitu bersahaja? Bukan masalah jika mas Firman tertarik dengan
wanita lain. Seorang duda bertemu dengan janda, itukan hal yang wajar
jika mereka jatuh cinta?
Tapi
mengapa batin Asih seperti tidak rela. Tiba-tiba mata Asih
berkaca-kaca. Dia terduduk lunglai di dalam kamar mandi. Asih rupanya
mulai menyadari rasa yang ada dalam hatinya. Dia cemburu. Sesuatu yang
tidak pernah dia bayangkan akan hadir mewarnai kisah hidupnya dengan mas
Firman. Selama ini dia menganggap mas Firman hanyalah teman bahkan
nyaris jadi saudara karena pernikahan Acik dengan Mas Firman di masa
lalu.
Namun
sekarang, jika rasa cemburu itu datang manakala dia melihat keakraban
mas Firman dengan Umi Rere. Apakah itu pertanda bahwa mulai ada cinta
dalam hatinya?
Cerita terkait :
ECR4
0 komentar:
Posting Komentar