Aku sedang duduk di kelas waktu Lisa masuk sambil berteriak.
” Semuanya, dengar! Nela sakit! Dia sekarang ada di rumah sakit!” teriaknya penuh emosi.
” Apa? Kapan?” Tanya Ratna yang langsung menghampiri Lisa
” Kemarin, sepulang sekolah dia di bawa ke rumah sakit..”
Aku terdiam ditempatku. Nela sakit? Benarkah? Apakah karena kejadian kemarin? Mudah-mudahan saja tidak, doaku dalam hati.
” Pasti gara-gara kamu..!!” tiba-tiba saja Lisa sudah ada didepanku. Juga teman-teman yang lain. Mereka memandangku dengan sorot mata tajam.
” Iya. Karena kamu, Nela jadi sakit. Gara-gara ular yang kamu taruh dalam tasnya. Kamu kan tahu dia jantungan…” Ratna juga ikut bicara.
” Tapi aku kan tidak sengaja. Aku cuma mau godain dia kog..”
” Enak di kamu, nggak enak di dia dong. Sekarang apa akibatnya? Untung saja dia nggak koit..”
” Apa?” tanyaku kaget. Jantungku rasanya berhenti berdetak.
” Pake kaget lagi. Kamu memang sengaja kan? supaya dia mati. Biar kamua nggak punya saingan” Ucap Lisa sambil berlalu. Wajahnya tersirat kebencian yang dalam. Teman-teman yang lain juga meninggalkanku.
Aku termenung ditempatku. Sungguh keji tuduhan yang Lisa berikan padaku. Walaupun dalam pelajaran Nela lebih unggul dari aku, tapi tidak pernah terlintas niat untuk mencelakakan dia. Kemarin aku memang sengaja menaruh ular mainan dalam tasnya. Tujuanku hanya ingin menggodanya karena dia murid baru yang pintar dan cantik tapi pendiam. Baru tiga bulan sekolah dia sudah bisa mengalahkan aku dalam hal pelajaran. Aku memang jarang berbicara dengannya. Tapi bukan karena itu aku jadi punya niat jahat. Aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun, tapi dia keburu pingsan. Nasibku memang lagi apes. Sekarang aku seperti terdakwa yang ada dalam ruang pengadilan. Teman-teman sekelas terlanjur menuduhku. Apa yang harus aku lakukan?
**
Nela sedang tidur waktu aku masuk kekamarnya. Karena keluarganya orang kaya dia ditempatkan di ruang VIP. Aku duduk di kursi, disamping tempat tidurnya. Saat ini Nela sendirian. Entah kemana orang-orang yang menjaganya. Lama kupandangi Nela yang sedang tidur. Aku baru bisa melihat dengan jelas wajah Nela. Ternyata dia lebih cantik dari yang aku lihat selama ini. Rambutnya tergerai hitam memenuhi bantal. Dia benar-benar seperti bidadari.
Tiba-tiba Nela terbangun. Dia terkejut melihatku.
” Ya..yadi?’ tanyanya heran sambil berusaha bangun. Aku menahannya dan dengan bahasa isyaratnya aku memintanya untuk tetap berbaring. Nela mengikuti permintaanku.
” Aku hanya ingin menjengukmu sekalian minta maaf dengan kejadian kemarin..” kataku pelan. Nela tersenyum.
” Kamu nggak salah kog..”
” Tapi kamu masuk rumah sakit gara-gara aku kan?”
” Bukan. Sebenarnya kemarin aku di larang ke sekolah sama mami. Dadaku terasa sakit sejak beberapa hari ini. Tapi aku tetap masuk sekolah.Pas liat ular mainanmu, sakitnya memang lagi kambuh. Tapi bukan karena ular mainan kamu itu. Aku sudah biasa kog dengan ular-ular seperti itu..”
” Jadi ular mainanku bukan penyebab sakitmu?” kembali Nela tersenyum
” Tidak kog. Percaya deh. Terima kasih karena sudah mau menjengukku..”
” Syukurlah. Aku tidak bisa tidur memikirkan kejadian kemarin. Oh, ya Nela. Nggak ada yang jagain kamu, ya?”
” Nggak. Aku sudah biasa. Kalau kamu nggak keberatan, kamu mau temani aku sampai mamiku datang?”
Aku bersorak dalam hati. Permintaan itu seperti anugrah yang lama kunantikan. Aku dan Nela berbincang lumayan lama. Aku baru pulang ketika maminya datang.Malamnya aku bermimpi berlari-lari sambil berpegangan tangan dengan Nela. Aku bangun pagi-pagi dengan perasaan masih terbawa irama mimpi semalam. Semoga mimpi itu menjadi kenyataan, pintaku.*********
0 komentar:
Posting Komentar