Senin, 27 Februari 2012

Hari Pertama Masuk TK

0

1290436959894471630

Jam menunjukkan pukul enam pagi ketika Rini masuk ke dalam rumah kakaknya.

” Dedi sudah bangun, mbak?” tanyanya ketika bertemu Fatma,kakak iparnya di ruang tengah. Fatma tengah menyusui si kecil yang berusia tiga bulan. Rini berlutut  di dekat ponakannya. Dipegangnya tangan si mungil.

” Belum, tolong kamu bangunkan.. sepertinya dia tidak mau sekolah. Dari tadi malam dia nangis..”

Rini mencium pipi ponakannya.

” Lho, kenapa mbak?”

” Katanya si Mano yang badannya besar itu, sudah bilang sama dia, kalau mereka sekelas. Dedi kan takut sama Mano..” Rini tertawa.

” Dasar Dedi, Mano itu badannya saja yang besar.. anaknya penakut..”

Rini beranjak ke kamar ponakannya. Nampak Dedi tidur dengan terbungkus selimut. Sungguh tidak tega membangunkan laki-laki kecil itu. Tapi dia harus bangun karena ini hari pertama dia belajar di TK Kemala.

Rini mendekati ponakannya. Menarik selimutnya dengan perlahan lalu menyentuh badannya.

” Dedi.. bangun sayang, katanya mau sekolah..ayo bangun..” Dedi belum bergerak.

” Dedi.. ayo bangun. Katanya mau main sama teman. Di sana ada ayunan loh, ada prosotan juga. Dedi bisa main sama teman-teman..”

Dedi membuka matanya dengan malas. Dia berbalik ke samping.

” itung sampe seratus tante…” Rini tersenyum. Dia kemudian menghitung sampai seratus. Selesai menghitung Rini membalikkan badan Dedi, ternyata dia tidur lagi.

” Dedi, ayo bangun sayang…nanti tante anterin ke TK Dedi..”

” Tidak mau sekolah… Mano ada di sana juga….”

” Makanya, nanti tante anterin Dedi, ayo bangun..” Dedi membuka matanya tapi belum bangun dari pembaringan. Dengan rasa sayang Rini menggendong ponakannya masuk ke kamar mandi.

*

Dedi sudah rapi. Berseragam TK lengkap dengan tas yang berisi minuman dan snack. Dia mencium tangan mamanya sebelum berangkat. Dengan malu-malu dia berjalan sambil memegang tangan Rini. Sejak semalam Dedi merasa tidak nyaman. Dia takut kalau harus sekelas dengan Mano yang gemuk laksana beruang. Dedi pernah lewat depan rumah Mano dan dengan sekali siutan anjing-anjing Mano berlarian ke depan pagar. Menggonggong, mengangetkan Dedi yang baru saja lewat. Dedi berlari dengan ketakutan, dia bahkan kencing celana karena sangat ketakutan. Sejak itu Dedi jadi takut dengan Mano. Dia selalu teringat anjing-anjing Mano yang besar seperti kuda.

Mereka tiba di TK yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Sudah banyak ibu-ibu yang berkumpul di halaman dan teras. Ada yang mengantar anaknya, adiknya atau seperti Rini yang mengantar keponakannya. Sejak tadi Dedi tidak melepaskan genggaman tangannya dari Rini. Dia menyandarkan tubuhnya di Rini. Pandangan Dedi sekali-kali terarah ke ayunan dan prosotan serta permainan lain yang ada di halaman. Sejak setahun lalu dia memimpikan bisa bermain di tempat tersebut. Selama ini dia hanya bisa melihat anak-anak TK yang bermain dengan gembira. Sekarang dia belajar di tempat ini. Impiannya sebentar lagi akan jadi kenyataan.

Setengah jam kemudian mereka di minta memasuki ruangan. Suasana langsung ribut karena ibu-ibu dan pengantar mereka sibuk memilihkan tempat duduk dengan posisi terbaik. Ada juga yang sudah membuat kesepakatan dengan ibu-ibu yang lain sewaktu berada di luar. Mareka ingin agar anak mereka duduknya berdekatan. Ada juga yang menginginkan anaknya duduk paling depan. Malah ada anak yang menangis karena tidak mau duduk. Dia ingin berdiri terus dengan ibunya. Susah payah sang ibu membujuk agar si anak mau duduk dan ibunya bisa keluar dari ruangan. Sementara Rini memilihkan tempat duduk untuk ponakannya di dekat jendela menghadap ke pintu keluar. Jadi walaupun Dedi ada dalam ruangan dia tetap dapat melihat Rini yang berdiri di luar tanpa harus menderita pegal leher karena terus memandang keluar.

Kegiatan belajar di mulai. Guru mulai memberikan kata-kata sambutan. Mengabsen sekaligus mengenal murid-muridnya satu persatu. Banyak kejadian lucu yang membuat mereka dan pengantar mereka tertawa. Rini berdiri di dekat pintu. Pandangan terus tertuju ke Dedi. Kadang dia memberikan isyarat agar Dedi menjawab saat gurunya mengajukan pertanyaan kepadanya.

Saat jam istrahat suasana lebih ramai. Anak-anak berebutan untuk bermain di tempat permainan yang disediakan. Akhirnya guru mereka turun tangan. Semua anak harus ikut antrian. Ini untuk menertibkan anak terutama ibu mereka yang main salip saja.

Waktunya pulang. Sejak tiba di rumah Dedi tidak berhenti bercerita tentang pengalamannya masuk TK. Dia senang dan bahagia. Ternyata ketakutannya tidak terbukti. Mano adalah teman yang baik, walaupun badannya besar tapi dia sangat kalem. Tadi malah Dedi dan Mano bermain bersama. Mano juga membagi kue yang dibawanya untuk Dedi. Dedi tidak takut lagi dengan Mano. Maka hari-hari selanjutnya, Rini tidak mengantar lagi Dedi ke TK Kemala. Mano datang menjemput Dedi. Mereka setiap hari bersama-sama menuju TK mereka.****

0 komentar:

Posting Komentar