Selasa, 28 Februari 2012

Kucing-kucing Tuti

0


12910467932122047616

Tuti mengejar kucing-kucing itu. Semuanya ada tiga ekor. Dia lalu menaruhnya dalam box yang berukuran sedang. Tuti lega akhirnya kucing-kucing itu berhasil dia amankan. Tapi siapa yang akan membuangnya? Kata mama anak-anak kucing itu harus di buang dekat warung makan biar tidak kelaparan.Tuti teringat Gea tetangganya yang mata duitan. Di beri duit saja pasti dia akan melaksanakan tugas yang di berikan.

Tuti bergegas mencari Gea. Kebetulan anak itu sedang bermain di teras rumahnya. Dengan sekali panggil Gea berbalik. Dia kemudian menghampiri Tuti.

“ Saya ada tugas untuk kamu, kamu nanti saya beri duit lima ribu”

“ Tugas apaan, kak?”

“ Membuang anak kucing. Kamu harus buang dekat warung makan. Tapi yang jauh ya.Terserah di warung makan yang mana. Yang pasti harus di warung makan. Mengerti?”

Gea mengangguk tanda mengerti. Dia kemudian membawa box berisi anak-anak kucing itu. Sementara Tuti langsung masuk ke dalam rumah. Dia bernafas lega tugasnya telah selesai.

“ Gimana kucingnya?” mamanya menyambut dalam rumah. Tuti tersenyum.

“ Tenang, ma. Urusan beres. Nanti kalau kak Nano pulang, rumah sudah bersih dari kucing” katanya bangga. Urusan kucing memang menjadi masalah buat mereka. Dulu di rumah mereka ramai kucing berseliweran. Kucing mempunyai kebebasan untuk hidup di rumah ini. Tapi ketika kehadiran mereka mulai tidak terkontrol. Nano, kakak Tuti mulai bersikap tegas. Satu persatu kucing di buangnya. Hingga tersisa hanya satu ekor kucing betina. Kucing betina Tuti beri nama Halimah. Entah mengambil dari silsilah atau sejarah apa yang pasti Tuti bangga dengan kucingnya. Sebenarnya Halimah masuk dalam daftar yang akan di buang. Tapi saat dia dalam rencana untuk di buang, Nano harus mengadakan penelitian di kabupaten lain. Akhirnya Halimah selamat  tidak jadi di buang.

Setelah kepergian Nano, Halimah hamil. Dia melahirkan tiga ekor anak kucing jantan yang cakep-cakep. Bulu-bulunya berwarna-warni sangat indah. Kelahiran anak Halimah membuat Tuti sibuk luar biasa. Bukan karena mengurus proses persalinan tapi karena ketiga ekor anak kucing yang lahir adalah jantan, maka nyawanya dalam bahaya. Kucing jantan senior tidak senang ada jantan-jantan baru yang lahir. Mereka dengan segala macam cara berusaha untuk membunuh tiga bayi kucing tersebut. Proses penyelamatan mereka sungguh heroik. Tuti dan semua yang ada dalam rumah siaga satu dalam rangka menyelamatkan kucing-kucing tersebut. Masing-masing dari mereka bertugas silih berganti untuk mengawasi sepak terjang kucing-kucing senior yang biasa muncul secara tiba-tiba mengagetkan seisi rumah.

Setelah beberapa lama dalam pengawasan akhirnya kucing-kucing kecil itu selamat dan menjadi kucing-kucing yang lucu. Semuanya menjadi kesayangan Tuti. Tuti memberi nama mereka Riko, Rino dan Riri. Mereka adalah temannya bermain, makan bahkan tidur. Tuti sangat menyayangi kucingnya. Tapi sms dari Nano yang mengabarkan dia akan datang membuat Tuti kalang-kabut. Walau dia menyayangi kucing-kucingnya, tapi dia tidak ingin Nano datang dan melihat rumah telah ramai dengan kucing-kucing. Maka dengan inisiatif dan keputusan bersama seluruh keluarga,kucing-kucing itu kemudian di buang. Eksekutornya adalah Tuti sendiri, majikan yang sangat menyayangi kucing-kucing itu tapi terpaksa tega melakukan hal kejam.

Nano tiba di rumah dengan gembira. Dia senang bisa ada di rumah lagi. Tapi dari tadi dia berjalan-jalan dalam rumah dia merasa ada yang aneh.

“ Nggak ada kucing ya, ma?” tanya Nano yang membuat Tuti yang mendengarnya jadi deg-degan.

Mamanya yang sedang duduk di teras memandangnya dengan heran.

“ Kan sudah di buang semua tempo hari”

“ Sayang sekali. Padahal kalau ada kucing, rumah ini bakalan ramai” Tuti terpana melihat kakaknya. Apakah pendengarannya tidak salah? Kenapa sekarang Nano malah mencari-cari kucing?

“ Kak Nano mencari kucing untuk di buang ya?”

“ Bukan. Kan asyik ada kucing, jadi ada teman bermain”

Tuti makin merasa aneh. Kenapa Nano jadi berubah? Dulu dia tidak suka kucing tapi kenapa sekarang malah mencari-cari kucing untuk jadi teman bermain?

Tuti langsung berlari ke rumah Gea. Gea lagi asyik makan di teras.

“Gea, kucing yang tempo hari saya suruh buang, sekarang di mana?”

“ Lho, napa lo cari-cari lagi? Kan sudah saya buang?”

“ Iya. Kamu buang di mana? Cari lagi, ntar saya kasih duit tiga kali lipat”

Mata Gea membulat. Dia masuk ke dalam rumah menaruh piring nasinya di meja makan. Kemudian dia keluar menemui Tuti.

“ Janji ya, tiga kali lipat” Gea mengulangi kata-kata Tuti seolah takut Tuti akan ingkar janji.

Tuti menunggu di teras rumah Gea. Lima menit kemudian Gea muncul. Tuti memandangnya dengan heran. Kenapa secepat itu?

“ Kamu buang di mana sih? Kog cepet sekali?” Gea cengengesan.

“ Aku buang di rumah mbak kiki. Dia kan punya warung makan..he…he. “ Gea tertawa. Tuti melongo. Rumah mbak kiki itu persis di belakang rumahnya, berdekatan. Tembok rumah Tuti dan mbak Kiki nyaris berdempetan. Tuti merasa di tipu. Dia mengambil tiga ekor anak kucing itu dari tangan Gea lalu berjalan pulang kerumahnya.

“ Tuti, janji ya tiga kali lipat!” teriak Gea. Tuti tidak perduli. Dia kesal karena telah di permainkan oleh Gea. Susah payah di suruh membuang kucing ternyata tempat pembuangannya di dekat rumah juga. Apa bedanya kucing itu tetap ada di rumahnya dasar Gea mata duitan, omel Tuti.

Ternyata setelah selidik punya selidik. Nano berubah jadi penyayang kucing karena pacarnya suka dengan kucing. Tuti tersenyum. Sepertinya pacar Nano bisa menjadi teman yang baik. Sama-sama penyayang kucing.

0 komentar:

Posting Komentar