Senin, 27 Februari 2012

Ketika Aini Jatuh Cinta

0

Aini masuk ke toko buku dengan tergesa-gesa. Dia langsung menuju tempat buku yang dicarinya. Karena beberapa hari yang lalu dia datang, maka dia tidak kesulitan menemukan buku tersebut.  Buku itu tertata rapi di antara deretan buku lainnya. Aini langsung mengambilnya kemudian bergegas menuju kasir. Selesai membayar Aini kemudian keluar dari toko buku.

Dia setengah berlari menuju area parkir. Arah kakinya terus mendekati mobil hitam yang terparkir tidak terlalu jauh dari pintu ke luar.

Cepat sekali, kamu pake ilmu lari cepat, ya” tegur Wandi, kakak sepupunya begitu Aini masuk ke mobil dan duduk di sampingnya.

Kak Wandi, nyindir ya? Aku tahu kog, Kak Wandi mau kuliah, jadi harus cepat-cepat beli bukunya..” Aini tersenyum Wandi kemudian menjalankan mobil keluar dari lokasi parkir meninggalkan Mall Citra.

Buku apa, sih” tanya Wandi setelah mereka cukup jauh dari Mall Citra. Aini hanya tersenyum. Dia memeluk buku yang masih terbungkus tersebut dengan erat.

Rahasia..”

Oh, aku tahu. Pasti teknik biar cepat pintar ya? Kamu kan rada bloon dikit..” Aini langsung cemberut.

Biar bloon tapi Aini manis khan?” Wandi tertawa.

Kalau rambutmu di panjangin, kamu baru manis. Rambut cepak begitu. Apanya yang manis?”

Aini kembali cemberut. Tapi dalam hati dia berbunga-bunga. Dia senang dengan kata-kata Wandi. Itu artinya Wandi memperhatikan penampilannya. Aini kemudian tersenyum. Sekilas dia memandang Wandi yang serius menyetir. Ada aliran sejuk yang mengalir di hatinya. Perasaan itu ada sejak Wandi tinggal dirumahnya. Sejak Wandi ada, Aini merasa tiap hari hidupnya di hiasi bunga warna-warni. Apalagi Aini anak tunggal . Kehadiran Wandi seperti seorang kakak yang memanjakan dan melindungi Aini.

*

Tiba di kamarnya Aini langsung membuka buku yang tadi di belinya. Judulnya Petunjuk Menjadi Wanita Feminim. Aini membaca buku itu dengan serius. Sesekali dia berdiri melihat dirinya di depan cermin. Makin lama dia merasa terlalu banyak hal yang harus di benahi dalam dirinya. Ibarat mobil yang harus masuk bengkel ketok magic, dia juga sepertinya harus di make over. Tiba-tiba dia merasa gugup bukan karena buku yang sedang di pegangnya. Dia teringat kata-kata Wandi seminggu yang lalu.Waktu itu mereka sedang nonton acara di TV. Dalam siaran TV tersebut ada cuplikan seorang gadis dengan gaya tomboy. Wandi yang saat itu duduk berdampingan dengannya di depan TV langsung mengelus rambutnya.

Kamu jangan seperti itu ya? Wanita itu harus lembut, feminim, keibuan.” elusan tangan Wandi di kepala Aini membuat Aini serasa kesetrum aliran listrik. Sejak itu Aini perlahan-lahan mengubah sikapnya. Dia tidak lagi suka berlari-lari dalam rumah. Berteriak dengan suara seperti terompet tahun baru. Dia juga tidak mengenakan lagi celana pendek yang merupakan pakaian favoritnya. Dia juga mulai belajar untuk lebih sabar terhadap Mbok Mun pembantu mereka. Padahal dulu sebelum kedatangan Wandi kerumahnya, hampir tiap detik Mbok Mun kena omelannya. Cocok dengan lagu dari Hijau Daun, setiap detik.

*

Siang itu sepulang kuliah, Wandi mencari Aini di kamarnya. Ternyata Aini sedang ada di kamar mandi. Iseng-iseng Wandi duduk di depan meja belajar Aini. Dia melihat-lihat buku yang tersusun rapi di atas meja belajar Aini. Matanya kemudian tertuju ke buku yang masih terbuka. Seperti buku harian. Wandi tidak menyentuhnya. Tapi dia tidak bisa mencegah rasa penasarannya untuk membaca tulisan yang ada di buku tersebut..

Kenapa akhir-akhir ini, aku selalu memikirkan kak Wandi? Rasanya badanku gemetar kalau dekat-dekat kak Wandi. Apa ini yang namanya jatuh cinta?

Wandi tertegun. Dia bergegas ke luar dari kamar Aini terus masuk ke dalam kamarnya. Berbaring di tempat tidur menatap langit-langit kamarnya. Walau matanya ke atas tapi sebenarnya Wandi sedang berusaha menetralkan perasaannya. Dia tidak pernah membayangkan Aini akan jatuh cinta padanya. Wandi tiba-tiba merasa ada beban yang harus segera dia singkirkan.

*

Aini berjalan anggun memasuki rumah. Biasanya setiap pulang sekolah dia berlari masuk ke dalam rumah tapi sesuai dengan petujnuk dari buku yang dia beli tentang bagaimana menjadi wanita feminim.Dia kemudian mulai mempraktekkan satu persatu tips dari buku tersebut.

Assalamu Alaikum..” Aini mengucapkan salam.

Waalaikum Salam..”

Aini langsung tertegun di tempatnya. Bukan karena suara balasan dari salam yang dia ucapkan. Melainkan dua orang yang ada di ruang tamu. Wandi dan seorang wanita berambut panjang. Wajahnya sangat ayu. Kelihatan kelembutan dari sikapnya. Entah kenapa, Aini merasa ada sesuatu diantara Wandi dengan wanita itu. Wandi langsung tersenyum. Dia kemudian berdiri menghampiri Aini.

Ini, nih Nora, yang aku ceritakan itu. Adikku yang manis Aini.” Wandi memegang kedua pundak Aini dan membawanya ke depan wanita yang bernama Nora. Nora mengulurkan tangan sambil tersenyum.

Nah, Aini. Ini Nora, pacarnya kak Wandi..”

Dengan rasa terkejut Aini terpaksa mengulurkan tangannya. Walau kemudian cepat-cepat dilepaskannya. Rasanya Aini tidak ingin berada di tempat itu lebih lama lagi. Dia tidak sanggup melihat kemesraan Wandi dan Nora. Dia juga tiba-tiba merasa ada bagian hatinya yang terasa sakit. Satu hal lagi yang membuatnya kesal. Dia merasa Wandi memperlakukan dia seperti anak kecil. Aini langsung meninggalkan mereka berdua, kemudian masuk ke dalam kamarnya.

Aini menyandarkan tubuhnya di pintu. Berbagai pertanyaan bergantian datang dalam pikirannya. Tapi yang paling membuatnya tersiksa adalah sikap Wandi terhadap Nora. Tadi sebelum menutup pintu kamarnya dia melihat Wandi memegang tangan Nora dengan sikap lembut. Rasanya Aini ingin marah. Dia tidak suka kalau Wandi berdua saja dengan Nora.

Sampai malam Aini tidak keluar dari kamarnya. Wandi yang sejak tadi duduk di depan TV, melihat Mbok Mun membawa makanan ke kamar Aini hanya menghela nafas. Dia tahu kenapa Aini tidak ingin keluar dari kamarnya. Tapi dia tidak bisa membiarkan Aini memelihara asa dihatinya. Dia tahu Aini mencintainya. Wandi tidak ingin memberi harapan terlalu tinggi untuk Aini. Wandi berpikir lebih baik Aini sakit hati sekarang. Daripada nanti dia akan terluka lebih dalam lagi. ****

0 komentar:

Posting Komentar