Rafli merapatkan jaketnya. Hujan yang tiba-tiba turun mengantarkan hawa dingin yang mulai menusuk kulit.. Dia melirik lagi jam tangannya. Sudah jam sepuluh malam. Sejak jam lima sore tadi dia duduk di teras rumah kost Vina, adiknya. Tapi sampai sekarang Vina belum datang juga. Sesekali tetangga kamar kost Vina, membuka pintu sekedar untuk menyapa. Bahkan seorang gadis manis mengantarkan teh hangat saat hari mulai beranjak malam.
Rafli sudah menyadarkan tubuhnya ke tembok dan baru beberapa menit menutup matanya ketika sentuhan dingin menyentuh pipinya. Rafli membuka matanya. Dilihatnya Vina sedang membuka pintu kamarnya.
“ Apa setiap hari kamu pulang jam segini?” tanya Rafli sambil berdiri. Dia merentangkan tangannya untuk melemaskan badannya yang pegal karena sejak tadi duduk di teras.
“ Namanya juga cari duit, kak. Mau bagaimana lagi”
Vina melangkah masuk ke dalam kamar kostnya. Dinyalakannya lampu kamar lalu melangkah ke dapur. Sementara Rafli menutup pintu lalu tiduran di atas karpet. Sejak tadi merasakan hawa dingin membuat Rafli merasa nyaman berada dalam kamar Vina.
“ Kenapa nggak telpon dulu, kak? Aku kan bisa minta temen gantiin aku sementara” ucap Vina sambil membawa dua gelas teh panas dan kripik singkong yang tadi dibelinya di lorong depan. Rafli bangun lalu duduk menghadapi teh dan kripik singkong. Diraihnya gelas lalu meminum isinya seteguk.
“ Aku nggak mau ngerepotin kamu” ucapnya sambil mengunyah kripik singkong yang masih hangat.
“ Tapi kak Rafli jadi lama nunggu di luar” Vina berbicara dari dapur. Tidak lama kemudian dia keluar sambil membawa dua mangkok mie instant.
“ Makan ini saja ya,kak. Soalnya tadi nggak sempet beli”
Rafli meraih mangkok berisi mie tersebut.
“ Justru ini yang pas. Lagi dingin begini” ucap Rafli sambil mengunyah makanannya.
Mereka duduk berhadapan. Asyik menikmati hidangan ala kadarnya yang disediakan Vina.
“ Kabar ibu gimana, kak? Terakhir minggu lalu aku telpon ibu”
“ Ibu baik-baik saja. Cuma sekarang ibu lagi banyak pikiran” Vina menghentikan makannya.
“ Ibu pikirin apa sih, kak? Kita anaknya kan baik-baik aja” agak lama Rafli terdiam.
“ Ibu sibuk nyariin jodoh untuk kamu” Vina tersedak. Dia baru saja meminum tehnya. Mangkok berisi mie yang ada ditangannya diletakkannnya di atas nampan.
“ Hah? Ibu nyariin jodoh buat aku? Aku kan bersuami, kak”
“ Tapi itu delapan tahun yang lalu, selama ini kamu sama sekali tidak punya suami. Ibu nggak mau liat kamu menyia-nyiakan hidup hanya untuk menanti suami yang menghilang entah kemana”
Vina terdiam. Apa yang dikatakan Rafli memang betul. Dia menikah saat berusia tujuh belas tahun. Pernikahan berdasarkan perjodohan yang ditentukan orang tua.Tidak ada cinta di awalnya. Hanya ketika Vina hamil anaknya yang pertama, dia mulai merasakan getar-getar cinta terhadap suaminya. Sayang sekali. Ketika kandungannya berusia tujuh bulan, suaminya menghilang entah kemana. Tanpa kabar. Keluarga suaminya juga tidak bisa diharapkan untuk memberikan informasi karena mereka juga sama sekali tidak tahu keberadaan Rasyid, suaminya.
Vina menanti suaminya dengan setia. Apalagi dengan kehadiran Zahwa, anak perempuan semata wayangnya. Membuat Vina bertahan untuk menanti suaminya. Vina tidak ingin ada ayah lain dalam kehidupan anaknya. Anaknya hanya tahu kalau ayahnya adalah Rasyid. Tapi sudah delapan tahun berlalu. Apakah dia termasuk golongan orang yang sabar atau bodoh karena mati rasa. Tidak melihat kenyataan kalau suaminya tidak akan pernah kembali. Tapi benarkah Rasyid tidak akan pulang? Lalu kemana dia? Apakah dia sudah mati? Vina terdiam. Dia tidak sanggup membayangkan kemungkinan terakhir.
*
Rafli pulang saat mentari baru sedikit menampakkan sinarnya. Dia pulang dengan sebuah pesan untuk adiknya. Pesan yang selalu ada dalam pikiran Vina tapi dia selalu menyingkirkan segala hal yang berkaitan dengan jodoh. Dia tidak ingin menikah karena dia masih sah sebagai istri Rasyid. Kecuali Rasyid telah menceraikannya. Keyakinan itulah yang terus menebalkan tekad Vina untuk tetap sendiri. Entah sampai kapan..
“Mbak, tolong ambilkan baju yang itu” tegur seorang wanita. Vina yang sejak tadi berdiri di samping wanita dan anaknya itu tersadar dari lamunan. Dia mengikuti arah mata wanita yang menunjuk baju warna kuning. Baju anak perempuan yang modelnya sangat cantik. Vina menurunkannya. Pandangannya tidak lepas menatap ketika wanita itu mendekatkan baju yang tadi pilihnya ke badan putrinya yang cantik. Vina memperhatikan dengan sedih. Dia ingat Zahwa anaknya. Wajah anak perempuan yang ada didepannya sekarang ini mirip sekali dengan Zahwa. Vina jadi rindu dengan anaknya. Terakhir dia bertemu Zahwa waktu lebaran lalu. Itu artinya sekitar lima bulan yang lalu. Nasib yang mengharuskan mereka untuk hidup terpisah. Walau ada keinginan untuk bersama tapi Vina hanya bisa menyimpan dalam angannya. Zahwa semakin hari membutuhkan biaya. Terus bergantung sama ibunya tentu tidak nyaman untuk Vina. Karena ibunya juga mengandalkan nafkah dari warung kecil-kecilan yang letaknya di depan rumah. Walau ibu mengatakan sanggup untuk mengurus Vina, namun Vina tahu ibu sudah sangat lelah. Maka kepergian Vina ke kota untuk mencari nafkah tidak bisa di cegah ibu. Kenyataan mengharuskan Vina untuk bekerja keras. Kenyataan kalau dia adalah seorang ibu yang mempunyai seorang anak yang harus dia biayai demi masa depan anaknya.
“ Bagaimana, mbak?” tanya Vina.Wanita itu tersenyum.
“ Yang ini saja. Cocok buat dia. Tolong dibuatkan nota”
Vina mengambil nota lalu menuliskan kode pakaian tersebut beserta harganya.
“ Ma, papa dapat satu nih, ma. Sepertinya pas, mama mau liat?” suara seorang pria membuat Vina mendongak diantara kegiatan tangannya yang sedang menulis.Vina terdiam. Tatapannya nanar menatap pria yang baru datang tersebut. Sang wanita yang ternyata adalah istrinya tersenyum. Sang suami memperlihatkan stelan celana panjang kain yang baru saja dia temukan.Tangan Vina gemetar saat menyelesaikan tulisannya. Telinganya harus merasakan hawa panas saat dia mendengarkan obrolan ke dua orang suami istri tersebut.
“ Ini bu, notanya. Nanti bayarnya di kasir tiga”
Bergetar bibir Vina saat berbicara. Kantong belanjaan di tangannya nyaris terlepas saat dia menyerahkannya ke wanita tersebut. Sang wanita tak tahu, suaminya terpaku dalam tatapan dengan Vina. Wanita itu terus berjalan menuju kasir. Tanpa sadar meninggalkan suaminya yang terdiam di depan Vina.
“Semua sudah berakhir. Dia cinta pertamaku. Hiduplah yang tenang. Lupakan aku” kata Rasyid dengan tenang tanpa beban masa lalu.
Mata Vina berkaca-kaca. Dia ingat Zahwa.
“ Lalu Zahwa.., siapa dia? Tidakkah dia berarti dalam hidupmu?”
“ Dia ada kamu, ada ibumu.Ada saudara-saudaramu. Tapi Nilam? dia yatim piatu. Dengan siapa dia berbagi selain denganku? Maafkan aku”
Rasyid berlalu meninggalkan Vina yang bersusah payah menahan air matanya. Vina terduduk diantara deretan pakaian. Dia mengeluarkan handphone dari saku roknya. Menekan nomor-nomor yang makin kabur karena tertutupi barisan embun yang siap berjatuhan.
“Hallo ibu..terima saja lamaran kak Makmur. Vina tidak masalah. Kak Makmur dulu kakak kelas Vina. Vina yakin dia baik”
Telpon di tutup. Tangis Vina pecah. Teringat masa delapan tahun yang dilewatinya. Malam-malam dalam kesendirian. Berteman Zahwa yang masih merah.Hingga beranjak kanak-kanak. Berharap dalam penantian. Menunggu detakan jam. Harusnya dia telah siap. Tapi mengapa tetap terasa ada penyesalan?
Hari ini Vina melepaskan Rasyid dari dalam hatinya.
0 komentar:
Posting Komentar