Senin, 28 November 2011

Lilin ( # 1 )

0

 Ilustrasi google.com

Suatu pagi di sebuah villa di atas bukit.

” Andre..! Andre! ” suara wanita terdengar memanggil dari dalam rumah. Wanita itu kemudian terlihat berdiri di teras. Dia adalah ibu Prita, menantu pemilik villa. Pandangannya mengitari halaman villa. Raut wajah wanita setengah baya itu kemudian berubah dari cemas menjadi tersenyum saat melihat seorang anak muda tengah berjalan kearahnya.

” Kamu dari mana saja, sayang? Apa kamu lupa kita mau pulang?” wanita itu bertanya sambil merangkul anak muda itu.

” Nggak kog ma, Andre nggak lupa. Tadi Andre pamitan dulu dengan pak Wiryo.”

” Ya sudah, sekarang kamu sarapan dulu. Kakek dan Nenek juga Papa sudah nunggu di meja makan.” Mereka kemudian beriringan masuk ke dalam rumah.

Satu jam kemudian keluarga itu meninggalkan villa. Mobil yang mereka tumpangi melaju pelan meninggalkan villa.

” Kita ke rumah yang mana, pa?” tanya ibu Prita memecahkan kesunyian setelah sekian lama mereka terdiam dan hanya ditemani alunan musik dari tape mobil. Pak Sukiman, sopir mereka mengecilkan volume musik.

” Mama maunya kita ke rumah yang mana? Biasanya kan mama yang tentukan setiap kita pulang dari luar negeri.” Pak Herman menjawab tanpa ekspresi. Pandangannya tetap tertuju kedepan tanpa sedikitpun dia memandang istrinya. Ibu Prita mengeluh pelan. Dia sebenarnya hanya ingin membuka pembicaraan dengan suaminya.

Dia tahu sejak rencana mereka untuk kembali lagi ke Indonesia, suaminya mulai malas untuk di ajak bicara. Sebenarnya bukan karena mereka kembali ke Indonesia yang membuat suaminya berubah tapi karena alasan yang membuat mereka harus kembali. Perusahaan yang selama ini dikelola oleh adik ibu Prita sedang dalam masalah dan nyaris bangkrut. Hal itulah yang menurut ibu Prita mungkin menjadi penyebab suaminya jadi sedikit marah kepadanya.

” Biasanya kan mama yang tentukan, mungkin sekarang papa mau menentukan kita di rumah yang mana?” Ibu Prita masih mencoba bersabar. Pak Herman menarik nafas dalam-dalam seperti berusaha menahan emosi yang siap meledak.


” Mama pikir dengan pindah-pindah rumah, perasaan papa bisa tenang? Apa mama nggak mikir kalau sekarang ini papa betul-betul pusing?” nada suara Pak Herman meninggi. Pak Sukiman yang sejak tadi mengemudikan mobil mulai merasa tegang. Dia sudah bisa meramal kalau sebentar lagi akan terjadi keributan.

” Lho, papa kog jadi marah begitu? mama kan hanya ngasih saran, lagi pula papa pikir hanya papa saja yang stress, mama juga stress, tapi masalah kan tidak harus di atasi dengan pikiran kacau, pikiran kita harus tetap jernih” Ibu Prita masih berusaha mengendalikan emosinya.

” Bagaimana papa bisa tenang! Mama jelas saja bisa tenang, kalau orang lain dan bukan adikmu yang bikin perusahaan papa bermasalah, apa mama bisa tenang?!”

Ibu Prita sudah mulai emosi. Wajahnya langsung memerah.

“Lho, kenapa bawa-bawa si Dicky. Dia memang adik mama, tapi soal perusahaan nggak ada hubungannya..”

” Nggak ada hubungan bagaimana? Apa mama pikir selama ini papa nggak tahu, kalau setiap Dicky ada masalah di perusahaan, mama yang berusaha selesaikan? Mama pikir, papa hanya tahu Dicky bikin masalah baru kali ini saja?Papa hanya tidak mau bikin kepala papa jadi pusing. Kalau mama bisa selesaikan, pasti sekarang ini kita tidak perlu balik ke sini.”

” Kenapa jadi mama yang di salahin?”

” Karena mama terlalu memanjakan Dicky. Adikmu itu harusnya dibiarkan mandiri, belajar mengatasi masalahnya sendiri. Dari awalkan papa hanya mau memberikan modal biar dia bikin usaha sendiri, tapi mama maunya Dicky dapat perusahaan yang sudah ada, jadi tidak perlu kerja keras. Sekarang hasilnya apa? sudah lima tahun pegang perusahaan, perkembangannya apa? malah sekarang perusahaan itu sudah hampir bangkrut, entah bagaimana kekacauan di sana. Papa sudah bisa membayangkan kekacauan yang di buat adikmu itu.”

” Papa jangan menyalahkan mama dong, semua itu kan juga untuk kepentingan papa. Apa papa tidak malu punya ipar yang kesana kemari kerjaannya nggak jelas? papa punya perusahaan bonafid tapi dia nggak ada kegiatan, mau taruh di mana muka kita?klien-klien papa nanti menilai kita bagaimana? mama hanya berusaha supaya keluarga kita nggak malu.”

” Tapi kalau mama terus-terusan melindungi dia setiap ada masalah, selamanya dia tidak akan pernah mandiri. Apa mama pikir itu bagus?”

Suasana dalam mobil semakin tegang. Andre yang duduk di depan bersama sopir hanya menutup matanya. Dia sudah membayangkan pasti mama dan papanya akan ribut saat pulang ke tanah air. Tapi Andre tidak menyangka kejadiannya akan secepat ini.

” Habis mau bagaimana lagi, Dicky kan adik mama satu-satunya. Saudara mama cuma dia. Kalau bukan mama yang menolong dia, siapa lagi? Memangnya papa tega liat Dicky jadi stress karena nggak ada kerja?” ibu Prita juga makin sengit mempertahankan pendapatnya.

Tapi ketegangan itu tidak berlanjut. Pak Herman tidak membalas ucapan istrinya. Dia terdiam dan tidak berbicara lagi. Tapi wajahnya tetap menyiratkan kemarahan yang amat sangat. Sementara istrinya mengalihkan pandangan keluar. Wajah ibu Prita juga tidak jauh beda dengan pak Herman. Kelihatan jelas kalau ibu Prita juga menahan amarahnya.

Andre membuka matanya. Karena suasana dalam mobil tidak begitu nyaman, Andre kemudian memasang headphone ditelinganya dan memutar lagu-lagu kesukaannya. Walau mendengarkan lagu dan sedang melihat pemandangan yang mereka lewati sepanjang jalan, perasaan Andre tidak sepenuhnya tenang. Sebenarnya bukan karena pertengkaran papa dan mamanya yang membuat Andre sedikit gundah. Dia sudah terbiasa dengan pertengkaran papa dan mamanya. Jadi hal itu bukan lagi menjadi sesuatu yang luar biasa dan harus ditakuti. Dalam pikiran Andre pasti begitu tiba di Jakarta, papa dan mamanya akan damai kembali.

Sejak meninggalkan villa Andre masih teringat pembicaraannya dengan pak Wiryo, penjaga Villa mereka. Dari informasi yang pak Wiryo berikan, Andre baru tahu kalau Miko dan Lilin, sahabatnya sejak kecil tidak tinggal lagi di desa di mana Villa Andre berada. Miko ternyata sudah menikah dan pak Wiryo tidak tahu sekarang keberadaannya. Sedangkan Lilin, sejak ayahnya meninggal, ikut dengan pamannya yang berdomisili di Jakarta.

Andre berharap bisa bertemu dengan mereka berdua namun jika hanya salah satupun itu tidak mengurangi kebahagiaannya. Andre teringat masa-masa di mana dia bersama Miko dan Lilin. Ibu Miko dulu bekerja mengurus Villa Kakek Andre, sedangkan ayah Lilin mengurus taman dan kebun. Pak Wiryo sebelum bekerja di Villa Kakek Andre dulunya adalah pengurus salah satu Villa yang ada di desa itu. Karena ayah Lilin meninggal, Pak Wiryo kemudian pindah ke Villa kakek Andre dan menjadi pengurus Villa sampai sekarang.

Waktu umur delapan tahun Andre sekolah didesa tersebut. Andre tidak tahu ada masalah apa waktu itu. Tiba-tiba kakek Andre datang dan membawa Andre tinggal bersamanya di Villa. Waktu itu kakek Andre marah-marah kemudian membawa Andre pergi. Papa dan mamanya kala itu hanya terdiam dan tidak berusaha mencegah kepergian Andre. Andre sama sekali tidak merasa di paksa oleh kakeknya. Dia malah senang karena kakek dan neneknya sangat menyayangi dia.

Andre tinggal selama lima tahun dengan kakek dan neneknya. Papa dan mamanya selalu datang mengunjungi tapi tidak pernah berani mengajak Andre untuk ikut pulang dengan mereka. Andre juga tidak merasa kesepian karena ada Miko dan Lilin yang mengisi hari-harinya. Mereka bermain bersama, kesekolah bersama-sama, belajar bersama. Andre tersenyum mengingat pertama kali dia berkenalan dengan Miko dan Lilin.

Waktu itu Lilin meminta Miko untuk mengambilkan jambu tapi Miko tidak berani untuk memanjat pohon. Padahal pohon jambunya pendek sekali. Karena Lilin terus merengek, Andre yang mendengar pembicaraan mereka jadi berpikir. Andre kemudian mengambil besi yang ada di gudang yang biasa di pakai kakeknya untuk mengait buah-buahan. Akhirnya mereka bertiga makan jambu bersama-sama.

Itulah awalnya Andre, Miko dan Lilin jadi akrab. Hari-hari Andre banyak diisi dengan bermain bersama kedua orang teman barunya itu. Andre jadi terbiasa tidak bersama papa dan mamanya. Dia bahkan merasa takut setiap kali papa dan mamanya datang. Andre takut kalau orang tuanya memintanya untuk ikut dengan mereka karena Andre sudah merasa betah dan nyaman tinggal dengan kakeknya.

” Papa mamamu tidak rindu ya sama kamu?” tanya Lilin. Siang itu sepulang dari sekolah, mereka bertiga sedang melihat anak-anak ayam yang ada di kandang. Anak-anak ayam itu di lepas dan berkeliaran di sekitar mereka. Kakek Andre selain berkebun juga memiliki peternakan ayam. Ayah Lilin yang ditugaskan untuk mengurus peternakan itu. Lilin mengambil anak ayam dan mengelus-elus wajah ayam itu.

” Papa mamaku sibuk sih. Mungkin kalau mereka tidak sibuk lagi, baru mereka tinggal disini. Kakek nggak mau aku ikut mereka. Kakek bilang papa dan mama harus jagain aku. Begitu kata kakek.” jawab Andre. Dia sendiri tidak tahu mau memberikan jawaban seperti apa karena dalam pandangan anak kecilnya papa dan mamanya memang terlalu sibuk.

” Mereka lucu-lucu ya.. cantik-cantik juga.” Lilin tertawa-tawa melihat ulah anak-anak ayam yang lagi makan. Miko malah sibuk mengejar anak ayam yang sejak tadi berkeliaran. Andre jadi tertawa juga melihat ulahnya.

” Jangan dikejar, Ko. Mereka kan lagi makan.!” teriak Andre. Miko hanya tertawa. Tidak lama kemudian ayah Lilin datang. Mereka kemudian ke kandang ayam yang lain lagi. Sampai sore mereka menemani ayah Lilin di peternakan.

Begitu tiba di rumah, nenek Andre langsung kaget begitu tahu Andre dari peternakan. Nenek Andre mengomel sambil memandikan Andre karena tidak suka cucunya bermain dikandang ayam. Sementara kakeknya tidak perduli. Katanya siapa lagi yang nanti melanjutkan peternakannya kalau bukan cucunya, jadi sejak kecil Andre harus dibiasakan bergaul dengan ayam.

” Andre! Andre!” Panggil mamanya dari belakang. Andre tidak mendengar. Pak Sukiman langsung menyentuh lengannya kemudian memberikan isyarat kebelakang. Andre kemudian melepaskan headsetnya.

” Ada apa, ma?” tanya Andre sambil berbalik melihat kebelakang. Andre melihat papanya sudah tertidur.

” Kamu sudah menelpon Monik? dia sudah tahu kamu mau pulang kan?” wajah Andre berubah lesu. Dia kemudian berbalik lagi memandang ke jalan didepannya. Dasar mama, pikir Andre. Bukannya memikirkan perusahaan papa, malah memikirkan Monik. Andre menarik nafas lalu menghembuskannya dengan kencang. Pertanda dia kesal dengan pertanyaan mamanya. Monik adalah tunangan Andre. Proses pertunangannya karena dijodohkan. Mereka dijodohkan untuk kepentingan usaha tanpa memikirkan perasaan yang ada di antara Andre dan Monik.

Walau mereka sudah bertunangan, Andre masih merasa biasa-biasa saja. Kalau bukan karena kasihan melihat Monik, Andre mungkin tidak akan memperhatikannya. Monik selain berwajah cantik, tutur katanya juga sangat halus. Andre tahu monik juga pasrah dijodohkan, karena tidak punya kekuatan untuk menolak. Gadis itu terlalu lembut untuk bisa berkata-kata kasar atau yang tidak sopan. Belum berbicara saja bibirnya sudah gemetaran. Entah didikan macam apa yang diberikan kedua orang tuanya. Tapi kalau melihat kedua orang tua Monik yang arogan, wajar saja kalau Monik tidak berani untuk mempunyai pendapat atau ide sendiri. Semua hal yang terjadi dalam kehidupannya sudah di atur. Dia jadi seperti boneka yang pasrah diapakan saja.

” Andre, udah telpon belum?” mamanya bertanya lagi.

” Kalau Monik tahu kamu datang, dia bisa langsung ke rumah. Apa kamu nggak kangen sama dia?” Andre langsung memencet handphonenya. Tapi dia tidak menelpon Monik, dia hanya mengirim sms. Beberapa menit kemudian ada balasan sms. Andre melihatnya, dari Monik.

Aku lagi dirumahmu. Semoga selamat sampai dirumah.

Aku tunggu.

Singkat. Padat. Seperti biasa. Monik memang baik. Walau mungkin dia tidak setuju dijodohkan tapi dia tetap bersikap baik. Sama dengan dirinya. Tapi Ibu Prita tahu Andre tidak setuju dijodohkan. Dia selalu berusaha membujuk Andre supaya menerima perjodohan ini dan bersedia menikah dengan Monik. Andre hanya menjalani hari. Berharap ada keajaiban yang mengubah semuanya. Tapi sudah tiga tahun berlalu keajaiban itu tidak kunjung datang. Andre berusaha mencari cara agar Monik membencinya. Tapi tiap kali mendengar suara Monik, Andre jadi tidak tega. Bagaimana mungkin dia tega menyakiti wanita yang lembut seperti benang sutra yang bahkan gurat-gurat kemarahan pun tidak terlihat diwajahnya.

Suasana kembali hening. Hanya suara kendaraan yang terdengar. Andre berharap mamanya tidak berbicara lagi. Dia sedang ingin menyendiri saat ini tanpa diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan mamanya. Pikirannya masih terbang ke Miko dan Lilin. Andre menyesal tidak datang ke Villa waktu setahun yang lalu dia balik ke Indonesia. Padahal waktu itu Lilin masih sering berkunjung ke desa mengunjungi makam ayahnya. Tapi sekarang dia tidak pernah datang lagi. Menurut Pak Wiryo mungkin karena Lilin sudah bekerja jadi tidak ada kesempatan untuk selalu datang.

” Pak Wiryo tahu alamat Lilin di Jakarta?” tanya Andre tadi pagi waktu dia mau berpamitan. Pak Wiryo tersenyum sambil menggeleng.

“ Saya nggak tahu, nak Andre. Tapi kapan-kapan kalo kebetulan dia atau pamannya datang, nanti saya tanyakan. Jadi nak Andre, telpon kemari saja.” Andre berpamitan dengan perasaan hampa. Sebenarnya ada kisah yang membuat Andre, Miko dan Lilin jadi terikat hati dan jadi seperti saudara. Mereka bertiga pernah jatuh dari pinggir bukit, untunglah ada akar pohon yang keluar dari dalam tanah.

Mereka memegang akar pohon itu dan bergantian naik keatas. Tapi saat giliran Andre untuk naik ke atas, akar pohon itu menjadi rapuh. Lilin menjerit-jerit menangis sambil memanggil nama Andre. Dia berusaha membantu Miko untuk secepatnya menarik Andre sebelum akar pohon itu menipis. Untunglah Andre telah memegang tangan Miko ketika akar pohon itu akhirnya benar-benar terlepas. Susah payah Miko dan Lilin menarik Andre naik keatas.

Mereka langsung berpelukan begitu Andre tiba di atas. Lilin malah semakin keras menangis. Andre dan Miko berusaha membujuknya supaya tenang dan tangisnya mereda. Sejak itu mereka selalu berhati-hati kalau berjalan-jalan atau bermain dimanapun. Peristiwa itu sengaja tidak Andre ceritakan ke kakek dan neneknya. Andre takut tidak diijinkan lagi bermain di sekitar bukit kalau kakek dan neneknya tahu kejadian itu.

*

Lewat tengah hari mereka tiba di rumah besar yang mewah. Rumah bercat hijau muda itu makin terasa sejuk karena dihalamannya banyak pohon. Belum lagi tanaman hias yang makin menambah keindahan rumah itu. Saat mobil memasuki teras, seorang gadis cantik bergaun putih motif bunga-bunga berdiri menyambut mereka. Dia  tersenyum begitu ibu Prita turun dari mobil. Pak Herman menyusul dibelakangnya.

” Selamat datang, ma.” ucapnya sambil memeluk ibu Prita. Ibu Prita juga membalas pelukannya dengan hangat.

” Monik sayangku.Bagaimana keadaanmu sayang? Kamu sehat-sehat saja?” Monik mengangguk sambil tersenyum.

” Papi mamimu bagaimana kabarnya? baik-baik sajakan?” kembali Monik mengangguk.

” Papi dan mami titip salam, ma.”

Pak Herman tersenyum lebar melihat Monik dan memeluk calon menantunya itu.

” Anakku monik. Papa kangen sekali. Tapi coba papa liat dulu, tiga bulan lalu waktu kamu ke Amerika, kamu tidak kurus begini? Kamu sakit ya?” Monik menggeleng sambil tersenyum. Sekilas pandangannya beralih ke Andre yang turun dari mobil langsung berjalan ke dalam rumah tanpa menegurnya.

” Nggak apa-apa kog, pa. Monik sehat-sehat saja.” jawab Monik walau hatinya kecewa karena sikap Andre yang tidak peduli padanya. Ibu Prita rupanya menyadari situasi, dia menyentuh pundak Monik.

” Sekarang lebih baik kamu susul Andre, ya, sayang. Dia mungkin masih pusing karena perjalanan. Papa dan mama nggak apa-apa kog.” Ibu Prita tersenyum miris. Dia tahu Andre tidak perduli dengan kehadiran Monik walau gadis itu menyambut mereka dengan manisnya.

Sementara Andre terus melangkah menuju kamarnya, dia tidak menyadari Monik mengikutinya dengan mata berkaca-kaca. Monik tahu, akan bertunangan. Dia muncul kemudian dengan mulut bau alkohol. Dia mabuk. Monik sedih. Bukan seperti itu yang dia inginkan. Dia awalnya juga tidak setuju di jodohkan dengan Andre. Tapi untuk menentang orangtuanya sejak awal pertunangan, Monik tidak mau.

Dia berharap semua masalah akan selesai dengan sendirinya tanpa harus bersitegang dengan kedua orang tuanya. Tapi sudah tiga tahun berlalu, sikap Andre sama sekali tidak berubah. Walau terkadang Andre memberikan perhatian lebih, tapi Monik tahu itu karena tekanan dari kedua orang tua Andre. Monik menghentikan langkahnya. Andre ternyata telah masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu. Apakah tadi Andre tahu dia ada dibelakang? Pikir Monik.

Monik berdiri di depan pintu kamar Andre cukup lama sambil berpikir apa yang harus dia lakukan. Apakah dia harus mengetuk pintu kamar Andre? Pikirannya berkecamuk. Monik sendiri tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Ada bagian dalam hatinya yang merasa terluka karena sikap acuh Andre. Padahal sikap Andre kepadanya selama ini tidak lebih baik dari hari ini.

Dulu Monik tidak peduli, Andre memperhatikannya atau tidak itu bukan masalah selama Andre masih menganggap Monik adalah tunangannya. Tapi sekarang Monik ingin diperhatikan. Monik ingin Andre melihatnya dengan sikap hangat karena mereka telah terpisah jarak dan waktu yang lumayan lama. Tapi semua itu tidak ada. Monik tahu dia tidak boleh berharap lebih. Tapi entah kenapa Monik ingin hal itu Andre lakukan saat ini.

Monik kemudian memegang gerendel pintu. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan setelah bertemu dengan Andre tapi yang pasti mereka harus berbicara. Monik tidak mau bersikap seperti biasanya. Ada hal yang harus Andre ketahui dan itu harus disampaikan sendiri oleh Monik. Pintu terbuka, tapi Monik tidak melihat Andre. Monik kemudian melangkah perlahan menuju sofa yang ada di sudut kamar lalu duduk dengan manis.

Kamar ini sebenarnya tidak asing lagi buat Monik. Selama Andre diluar negeri Monik biasa tinggal di rumah Andre sesuai permintaan ibu Prita. Dia tadi bahkan istrahat di kamar ini sambil menunggu Andre dan keluarganya datang. Tidak lama kemudian Andre keluar dari kamar mandi. Dia berjalan sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk. Hanya helaan nafas yang Monik dengar.

Mata Monik berkaca-kaca. Dalam hati Monik berdoa diberikan kekuatan agar bisa menyampaikan perasaannya. Monik tidak tahu kalau Andre sebenarnya juga bingung harus bersikap bagaimana menghadapi Monik. Waktu melihat Monik berdiri di teras dengan gaun putih selutut motif bunga-bunga, seketika jantung Andre berdetak kencang. Andre terpesona melihat penampilan Monik walaupun dia tahu Monik cantik tapi penampilannya kali ini benar-benar beda. Ada aura keibuan yang terpancar dari penampilan Monik.

Monik salah tingkah. Menurut Monik seharusnya Andre yang lebih dulu menegurnya tapi kenapa Andre hanya diam saja?.

” Ndre, kamu baik-baik saja kan?” Akhirnya Monik membuka pembicaraan. Dia tidak betah dengan situasi saling diam seperti tadi.

” Alhamdulillah, aku sehat-sehat saja. Kalo kamu?” Andre balik bertanya tanpa membalikkan badannya. Dia tetap menghadap ke cermin. Monik tertunduk. Dia menatap karpet yang menutupi lantai kamar Andre. Dia tidak tahu kalau Andre memperhatikannya lewat cermin. Andre masih merasakan debar-debar didadanya dan berusaha menenangkan dirinya.

” Aku sehat cuma akhir-akhir ini aku nggak selera makan, makanya berat badanku turun..” Monik tertawa tapi hatinya pedih. Kenapa masalah berat badan saja harus dia sampaikan ke Andre? Seharusnya Andre bisa melihat sendiri keadaannya. Begitu tidak pedulikah Andre hingga harus Monik sampaikan semuanya?

Andre kemudian duduk di sofa agak jauh di samping Monik. Dia memandang Monik yang lagi tertunduk sambil memainkan jemarinya. Tiba-tiba Monik melihatnya. Andre tidak sempat memalingkan wajahnya. Akhirnya mereka saling pandang. Andre melihat mata Monik yang berkaca-kaca dan bibir Monik yang gemetar seperti menahan kepedihan. Andre seketika merasa iba.

Tanpa sadar tubuh Andre bergerak lebih dekat dengan Monik. Dia kemudian mengulurkan tangannya merangkul monik dan memeluknya. Monik tidak berbicara tapi dia tidak bisa lagi menahan airmatanya. Dia menangis dalam pelukan Andre. Andre juga tidak berkata-kata. Mereka seakan paham apa yang terjadi tanpa harus diungkapkan dengan kata-kata.

” Aku tahu kamu tidak sanggup menjalani semua ini. Kalau kamu ingin semuanya berakhir, biar aku saja yang bicara dengan papa dan mama supaya pertunangan kita dibatalkan..” ucap Andre pelan sambil tetap memeluk Monik yang tersentak kaget. Dia melepaskan pelukan Andre.

” Kamu ingin pertunangan kita dibatalkan? Kamu nggak mau jadi tunangan aku lagi?” tanya Monik cepat dengan linangan air mata. Andre memandang Monik dengan heran.

” Ada apa? bukankah selama ini kamu menderita karena kita bertunangan? Jadi untuk apa pertunangan kita dipertahankan kalo kamu menderita? Aku nggak mau menyiksa kamu lebih lama lagi..”

” Aku nggak tersiksa, Dre. Aku justru tersiksa dan menderita karena perasaanku sendiri. Aku nggak tahu mau bagaimana lagi. Aku takut dengan perasaanku.” Monik menangis. Dia bingung harus bagaimana mengungkapkan perasaannya.

” Kamu kenapa, Nik? Aku nggak ngerti. Kalau kamu nggak tersiksa kenapa kamu selalu sedih? Aku jadi bingung. Aku takut memaksakan hubungan padahal kamu tidak punya perasaan sedikitpun sama aku..” Andre tidak melanjutkan kata-katanya. Bukan karena dia kehabisan kata-kata. Tapi karena Monik langsung mencium bibirnya. Ciuman pertama sejak mereka bertunangan tiga tahun yang lalu. Bahkan waktu acara pertunangan, mereka tidak berciuman sama sekali. Andre terkejut dan belum hilang rasa terkejutnya, Monik menghentikan ciumannya.

” I Love You, Ndre. Aku cinta kamu..” ucap Monik pelan sambil memandang Andre dengan tatapan lembut. Andre terpana. Dia tidak menyangka Monik akan mengatakan kata-kata seperti itu. Selama ini dia merasa tidak nyaman menjalani pertunangannya dengan Monik karena mengira Monik sama sekali tidak ingin bertunangan dengannya. Dia juga tidak berani bertanya langsung ke Monik karena dia takut mendengar jawaban dari Monik. Bagaimana kalau jawaban itu bukan hal yang dia harapkan. Bagaimana kalau Monik menjawab sama sekali tidak mencintainya dan mencintai orang lain?

” Sejak kapan? Sejak kapan kamu mencintai aku?” tanya Andre akhirnya setelah terdiam beberapa saat. Dia memandangi Monik dan memegang jemarinya. Mereka seperti terhanyut dalam situasi. Baru kali ini Monik dan Andre bisa duduk berdua dan mencurahkan perasaan mereka.

” Aku nggak tahu pastinya kapan. Cuma beberapa bulan ini aku banyak ngobrol dengan nenekku sebelum dia meninggal. Nenekku banyak cerita kisah hidupnya. Tentang cinta, cita-citanya juga harapannya terhadap keluarga. Dari semua hal yang nenekku ceritakan, ada satu hal yang sangat dia tekankan. Karena waktu itu aku juga bercerita tentang pertunangan kita. Nenekku bilang, cinta itu seperti tanaman, bisa tumbuh dan hilang sesuai cara kita merawatnya. Tanaman, sekalipun awalnya kokoh tapi kalau tidak pernah di siram dan dirawat maka akan mati dengan sendirinya.

Begitu juga kalau tanaman itu tidak ada, tapi kalau kita rajin menyiram tanahnya, maka akan tumbuh tanaman lain. Jadi menurut nenekku, sebarkan cinta dan kasih sayang disekitarmu, Insya Allah kebahagiaan akan selalu mengelilingi. Aku jadi berpikir. Kamu dan aku sudah tunangan, seharusnya kita bisa saling menyayangi. Berusaha untuk saling memahami.Seharusnya di antara kita tidak boleh membandingkan pasangan kita dengan orang lain, karena tiap orang punya kelebihan dan kekurangan.

Bagaimana kita berdua bisa saling memahami, bisa saling menyayangi kalo kita tidak pernah memberikan kesempatan untuk kita bisa saling mengenal. Aku selalu menjauh, kamu juga. Akhirnya selama tiga tahun kita bertunangan, kita bukannya akrab malah kita semakin jauh. Kata nenek, proses perjodohan itu adalah sarana. Semua sudah ditakdirkan. Apa bedanya kalau kita bertemu di bis, sama-sama tempat kuliah atau bertemu di tempat kursus lalu kita saling mengenal dan jatuh cinta.

Semua itukan hanya beda tempat dan cara. Intinya kita dipertemukan oleh takdir. Kita jangan menyalahkan orang tua kita, karena semua orang tua mau yang terbaik untuk anaknya. Jadi kita harus selalu berpikiran positif. Sejak itu aku jadi memikirkan kamu. Apa yang sudah aku lakukan untuk membuat kamu bahagia? Apa yang harus aku lakukan supaya aku merasa bahagia? Saat aku pikirkan kamu, aku jadi takut kehilangan kamu. Aku tahu, kalau kita mencoba saling memahami, kita pasti bahagia…”

Monik berhenti berbicara. Tapi dia juga jadi terkejut. Seumur hidup baru kali ini dia berbicara panjang lebar tanpa rasa gugup. Dia sendiri heran dari mana datangnya keberanian itu. Andre juga terpana. Dia menatap Monik tanpa berkedip. Inikah wanita yang selama ini dia acuhkan dan berusaha dia hindari atau lebih tepatnya ingin dia tinggalkan?

Andre memeluk Monik. Kali ini dengan segenap rasa cinta yang dimilikinya. Dia merasa hampir saja membuat kesalahan fatal, mau melepaskan mutiara yang sudah ada dalam genggamannya.

” I Love You Too.” ucap Andre lirih tapi membuat Monik kembali meneteskan airmata. Monik terharu. Dia ingat neneknya. Dalam hati Monik bersyukur karena masih diberi kesempatan bertemu neneknya sebelum neneknya meninggal. Monik menggerakkan tangannya. Dia memeluk Andre. Mereka berpelukan dalam rasa cinta yang dalam yang baru mereka sadari.

” Maafkan aku…” ucap Andre.

” Harusnya sejak awal aku yang harus mengajakmu bicara. Bukan saling menghindar dan membiarkan pikiran kita memikirkan hal yang tidak-tidak..”

Andre tidak tahu kalau di ruang tengah, mamanya sedang berdebat dengan pamannya, Dicky yang baru saja tiba. Kalau di lihat dari atas, maka kondisi kamar-kamar di rumah Andre sangat berbeda jauh. Dikamarnya Andre sedang berpelukan dengan Monik, sedangkan di ruang tengah mamanya sedang berdebat dengan pamannya. Sementara di kamar lain, papanya sedang stress membuka laporan-laporan dari perusahaan yang Dicky tangani. Hidup memang berwarna warni.

( Bersambung )


0 komentar:

Posting Komentar