Sabtu, 06 Agustus 2011

Trauma Cah Ingusan

2




Ilustrasi google.com


” Saya tidak mau di poligami!!!!!!! suara teriakan Asih hampir sampai di puncak gunung Naras seandainya Cah Ingusan atau Erwin ESP tidak segera menutup mulutnya. Cah Ingusan terlonjak kaget. Dia tidak pernah menduga reaksi Asih akan demikian histeris.

” Loh..jangan teriak-teriak mbak Asih..eh salah Asih..kita kan sudah jadian..jadi panggilnya Asih saja ya?” Wajah Asih masih jauh dari keramahan. Seperti banteng yang mengeluarkan asap dari hidungnya. Asih penuh dengan kemarahan.

” Ini kan baru wacana, belum juga jadi kenyataan.” bujuk Cah Ingusan dengan suara lembutnya. Asih mendelik marah.

” Kalau bukan rencana itu yang ada dalam kepala mas Erwin, kenapa selalu menyebut-nyebut tentang poligami? Saya nggak mau seperti kembang dan Dewa. Lebih baik sekarang kita putus!”

” Waduh! Kitakan baru jadian, Sih. Masak langsung putus?”

” Karena mas Erwin sudah punya rencana menduakan saya.” Cah Ingusan menghela nafas sambil berusaha mencari cara untuk menenangkan Asih.

” Ehm begini saja. Mulai sekarang aku tidak akan mengatakan tentang poligami lagi. Aku bisa jadi tipe setia kok. Peristiwa Kembang dan Dewa itukan masa lalu. Kita sudah sepakat masa lalu biarlah berlalu, seperti Asih dengan masa lalu yang sedih.” Ucap Cah Ingusan dengan wajah serius. Asih menatap tanpa sedikitpun senyuman. Dia seperti mencari kesungguhan dari kata-kata Cah Ingusan.

” Janji ya, jangan ada orang lain.” Ucap Asih akhirnya yang disambut anggukan kepala oleh Cah Ingusan. Sungai menjadi saksi pertemuan mereka di pagi itu dan hari ini. Cah Ingusan sengaja mengajak Asih jalan-jalan untuk membicarakan masalah mereka. Mereka baru saja resmi mengikat janji sehati. Dan hari ini adalah pertama kalinya mereka keluar untuk menikmati kebersamaan sebagai sepasang kekasih.

” Mas, sebenarnya saya gak mau kita pacaran.” ucap Asih tenang sambil jemarinya memainkan bunga yang tadi diberikan Cah Ingusan.

” Asih nggak mau pacaran dengan aku?” balas Cah Ingusan dengan wajah kaget.

” Saya nggak mau kita pacaran. Saya mau kita segera menikah seperti bunda Selsa dan pak RT Ibay. Mereka gak ada kabar langsung menikah.” Cah Ingusan tersenyum senang.

” Tenang Ci sayang, tidak perlu menunggu lama. Kalau mau, sekarang juga kita bisa menghadap penghulu.” Asih menatap haru. Bukan karena Cah Ingusan menyetujui keinginannya untuk menikah. Tapi panggilan Ci itu yang membuat hati Asih bergetar. Darimana Cah Ingusan tahu nama yang hanya saudaranya saja yang tahu.

” Mas tahu darimana?”

” Lho, namanya mau nikah siapa lagi yang dihubungi kalau bukan penghulu. Iya, kan?”

” Bukan itu. Tadi mas Erwin memanggil namaku dengan nama Ci. Mas tahu dari mana kalau itu panggilan kesayangan dari orang-orang yang sangat dekat dengan saya.” Cah Ingusan tersipu.

” Aku telpon ke rumahmu, nanya kabar mamamu. Dari mamamu aku tahu, kalau dirumah namamu Ci. Gimana kalau aku panggil Asih dengan nama itu. Tapi nggak boleh ada orang lain yang memanggil dengan sebutan itu ya? Cuma mas Erwinmu seorang..” Asih mengganguk setuju. Dia senang Cah Ingusan memanggil dia dengan sebutan itu. Panggilan dengan nama Ci memberi tanda kalau hubungan mereka sudah sangat dekat.

” Tapi jangan salah panggil ya mas, adikku Acik namanya mirip dengan namaku.”

” Nggak mungkin salah. Panggilan dengan hati, maka hati juga yang akan mendengarnya. Biar mulut tak berucap, Ci sayang pasti tahu kalau yang mas panggil itu adalah kamu.”

Sedang asyik ngobrol tiba-tiba dari arah belakang, tepatnya dari sungai terdengar seperti benda yang tercebur. Suaranya sangat keras.

” Aduh!!!!!!!! terdengar jeritan seseorang. Asih dan Cah Ingusan berlari mendatangi arah suara tersebut. Nampak Rey si penyair jalanan sedang meringis kesakitan sambil berjalan tertatih keluar dari sungai.

” Ngapain di situ, Rey? Tiap aku kesungai pasti ketemu kamu. Apa Desa Rangkat ini tidak ada tempat lagi buat menyepi? Kamu mengintip kami ya.” Cah Ingusan tak bisa menyembunyikan rasa curiganya. Asih buru-buru menyentuh lengannya lalu dengan isyarat meminta Cah Ingusan untuk sabar.

” Siapa yang mengintip? Aku tuh kecebur waktu manjat pohon itu tuh..” tunjuk Rey dengan dagunya ke arah pohon mangga. Tapi Cah Ingusan makin curiga karena pohon itu jaraknya sangat dekat dengan tempat dia dan Asih duduk.

” Lagian, mas dan mbak juga, ngapain selalu mojok di pinggir sungai. Banyak kok tempat untuk mojok. Di pos ronda, di sawah. Di gunung naras juga bisa.”

” Kami tuh sukanya disini, karena tempat ini…” Cah Ingusan tak melanjutkan kata-katanya. Percuma menceritakan kisah asmara mereka pada Rey. Biarlah itu jadi rahasia mereka.

” Ada yang terluka ya, mas Rey?” tanya Asih sambil mendekati Rey si penyair jalanan yang masih meringis.

” Nggak apa-apa, mbak Asih.”

” Benar tidak apa-apa?” Asih melihat luka yang masih menitik darah. Rey mengangguk.

” Kalau gitu kami mau pulang dulu ya, Rey. Ayo mas Erwin, sudah lapar nih. Belum makan siang.”

Mereka berdua kemudian meninggalkan sungai. Meninggalkan Rey yang menatap mereka dengan rasa lega.

” Hampir saja ketahuan kalau aku ngintip.” gumam Rey dengan nafas panjang sambil memijat luka di kakinya.

~ ~

” Ci, gimana kalau sekarang juga kita ke penghulu.” ucap Cah Ingusan tiba-tiba saat mereka sudah lumayan jauh dari sungai. Asih tertegun kaget.

” Sekarang? Proses lamarannya gimana? Trus urus surat-suratnya gimana?” tapi pertanyaan-pertanyaan Asih itu tidak segera di jawab Cah Ingusan. Dia malah menarik tangan Asih menuju rumah penghulu. Jantung Asih berdebar kencang saat tiba di rumah penghulu.

” Sekarang kita telpon mamamu. Minta restu untuk menikah. Kita bisa minta Pak Kades atau Pak RT untuk jadi saksi kita. Adikmu si Acik, kita panggil kemari. Pokoknya siang ini juga kita harus menikah!”

Ucapan Cah Ingusan yang tegas itu membuat Asih tak berkutik. Semua rasa bercampur aduk dalam hatinya.

” Gimana Ci? Kamu setuju?” Cah Ingusan menatap lekat ke arah Asih.

Asih terdiam berpikir beberapa detik. Tapi kemudian dia tersenyum sambil mengangguk membuat Cah Ingusan lega.

Dalam sekejap berkumpullah orang-orang di rumah penghulu. Pak Kades datang dengan baju batiknya, begitu juga dengan pak RT dan istrinya, bunda Selsa yang datang dengan dandanan sangat cantik.

” Maaf, tadi dandan agak terburu-buru, soalnya pemberitahuannya mendadak.” ucap Bunda Selsa saat masuk ke rumah penghulu. Acik, adik Asih datang dengan tergopoh-gopoh. Matanya mencari sosok sang kakak, saat dia memasuki ruangan. Sambil senyam-senyum, Acik beringsut mendekati Asih yang sedang duduk melantai di sebelah Cah Ingusan.

” Mbak Asih yakin mau menikah dengan mas Erwin?” bisik Acik. Asih mengangguk mantap.

” Mas Erwin kalo tidur ngorok, mbak. Mbak siap punya suami yang tidurnya ngorok?”

” Kata siapa?” tanya Asih tanpa bisa menyembunyikan ekspresi kaget dari wajahnya. Asih memang pernah curhat soal ngorok ke Acik. Tapi itu sudah lama, rupanya Elva masih mengingatnya.

” Kata orang-orang sih.”

Elva dan Asih tidak melanjutkan obrolan mereka karena penghulu sudah masuk dalam ruangan.

” Assalamu Alaikum Wr.Wb.. maaf atas keterlambatan saya, karena ini nikah mendadak maka saya juga belum mempersiapkan diri..”

Penghulu terus bercuap-cuap sementara Asih dan Cah Ingusan merasakan kalau debaran jantung mereka kian cepat berpacu. Sesekali Asih dan Cah Ingusan saling pandang sambil tersenyum. Rasa bahagia itu tidak bisa mereka sembunyikan.

Tiba-tiba handphone Asih berbunyi pesan sms. Asih membaca pesan yang diterimanya. Matanya melotot dan jantungnya nyaris lepas saat membaca pesan itu. Cah Ingusan yang melihat kegelisahan di wajah calon istrinya, jadi ikut gelisah.

” Kamu kenapa, Ci?” Asih menatap bingung. Wajahnya pucat. Bibirnya terkatup tak mampu berkata-kata. Cah Ingusan makin bingung.

” Mas Erwin ESP, siapkah kamu menjadi suami dari mbak Asih?” tanya penghulu yang mengagetkan Cah Ingusan.

” Siap..saya siap pak penghulu…” jawab Cah Ingusan cepat. Pandangan penghulu tertuju ke Asih. Asih terlihat gugup. Dia menunduk saat penghulu menanyakan pertanyaan yang sama.

” Mbak Asih, siapkah mbak Asih menjadi istri dari mas Erwin?” Asih memandang penghulu dan Cah Ingusan bergantian. Mulutnya tetap terkatup dengan sinar mata kecemasan terlihat jelas. Cah Ingusan mulai panik. Dia teringat perkawinan pertama dan keduanya yang berantakan. Akankah kali ini peristiwa itu terulang lagi?

” Ci sayang kamu kenapa?” bisik Cah Ingusan. Asih tiba-tiba berdiri. Dengan cepat dia menarik tangan Cah Ingusan. Mereka keluar dari ruangan menuju halaman. Tamu yang hadir mengikuti langkah mereka dengan tatapan heran.

” Kamu kenapa, Asih? Tidak mau menikah dengan aku..?” Cah Ingusan tidak bisa lagi menahan rasa gelisah dalam hatinya. Asih menggeleng cepat.

” Bukan itu mas. Tadi saya terima sms dari kakak saya. Katanya mas Wawan, pacarku yang dulu kami kira sudah meninggal ternyata masih hidup.” ucap Asih dengan mata berkaca-kaca.

” Maksud kamu?”

” Mas Wawan datang kerumah melamar saya mas. Dia bermaksud menjemput saya ke Desa Rangkat kalau saya tidak juga pulang ke rumah.”

” What?? jadi maksud kamu kita batal menikah?” suara Cah Ingusan meninggi membuat orang-orang dalam rumah melongok ke luar melihat mereka. Asih tidak menggeleng tapi juga tidak mengangguk membuat Cah Ingusan makin putus asa.

” Kita kan sudah mau menikah Ci sayang..mas tidak mengerti kenapa harus batal..apa kamu tidak mencintai mas lagi?” Asih menggeleng cepat.

” Bukan itu..tapi saya harus bertemu dengan mas Wawan mas..saya harus tahu perasaan saya. Saya tidak mau menikah dengan mas Erwin sementara pikiran saya terus di penuhi bayangan wajah mas Wawan yang sedih.”

Cah Ingusan terduduk di bawah pohon. Jiwa raganya terasa lemah. Hari itu langit serasa runtuh dan mendung hitam menyelimuti desa Rangkat. Pernikahan akhirnya batal diadakan. Para tamu undangan pulang dengan raut wajah yang sama. Sama-sama dipenuhi keheranan. Tapi Asih tidak memperdulikan itu. Dipikirannya hanya ada satu nama Wawan. Kekasih yang sangat dia cintai dan telah membuatnya terluka karena mengira kekasihnya itu telah meninggal tenggelam di lautan ganas.

Setelah sekian lama merindukan kekasihnya itu, tiba-tiba ada pesan kalau dia masih hidup dan sekarang tengah menantinya membuat perasaan Asih tidak karuan. Rasa yang tak pernah padam kini makin menyala. Cinta itu ternyata masih ada. Cinta yang telah menutupi bayangan wajah Cah Ingusan yang hanya bisa melepas kepergian Asih di gerbang desa dengan wajah sedih. Tak ada ucapan perpisahan dari Asih. Dia hanya membalas tatapan mata Cah Ingusan dengan ekspresi yang tidak di mengerti oleh Cah Ingusan.

Berhari-hari sejak kepergian Asih, Cah Ingusan seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Makan dan minum tidak membuatnya berselera. Tidur di rumah Asih tidak lagi membuatnya nyaman karena itu dia memilih tidur di mesjid untuk menenangkan batin. Acik yang merasa kasihan melihat calon iparnya itu hanya bisa menghela nafas. Dia tidak berdaya untuk membujuk Cah Ingusan yang sudah kehilangan selera untuk hidup.

Suatu siang tiba-tiba Cah Ingusan berlari keluar dari mesjid. Wajahnya pucat. Matanya terus menatap handphonenya. Dia membaca berulang-ulang pesan sms dari Asih.

Mas Erwin, maafkan saya. Kita tidak bisa menikah. Pernikahan kita batal.

“Arghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh……Ci sayangggggggggg..kenapa kamu begitu tega pada masmu yang mencintaimu dengan sepenuh hati…” teriak Cah Ingusan di tepi jurang. Matanya terus memandang aliran sungai yang mengalir deras. Cah Ingusan teringat kisah saat dia terjatuh ke dalam jurang. Sekarang haruskah dia terjun lagi untuk melepas rasa sakit hatinya?

” Mas Erwin, mau bunuh diri lagi ya?” tegur seseorang yang membuat Cah Ingusan berbalik kaget. Nampak pak Kades melangkah mendekatinya.

” Pak Kades? Kenapa bisa ada disini?”

” Jangan tanya itu. Jawab dulu pertanyaanku tadi. Mas Erwin mau bunuh diri lagi ya.”

Cah Ingusan tertunduk sedih.

” Jangan memecahkan masalah dengan bunuh diri. Ayo sekarang mas Erwin ikut ke rumah.”

” Ada masalah apa, Pak Kades?”

Pak Kades tidak menjawab. Dia menarik tangan  Erwin yang masih bingung dengan maksud Pak Kades.

” Nanti saja di rumah, mas Erwin liat kejutan yang kami siapkan untuk mas Erwin.”

” Kejutan? Kejutan apa?”

” Kami mau menikahkan mas Erwin.”

Cah Ingusan terlonjak kaget.

” Jangan pak Kades. Saya tidak mau di paksa menikah dengan wanita yang tidak saya cintai. Saya hanya mau menikah dengan Asih.”

” Tidak ada yang memaksamu. Kamilah yang terpaksa menikahkan mas Erwin karena kami khawatir mas Erwin bakal bunuh diri lagi.”

” Tapi saya bakal menikah dengan siapa, pak Kades?”

” Pokoknya kamu akan menikah dengan wanita.Titik.” jawab Pak Kades yang membuat Cah Ingusan bungkam.

Cah Ingusan kemudian melangkah dengan lesu mengikuti Pak Kades. Sepanjang jalan Pak Kades menyuruh Cah Ingusan memakai jas dan kopiah miliknya. Meski terlihat kedodoran tapi Cah Ingusan tetap terlihat menarik dengan tampilan seperti itu.Tanpa sepengetahuan Cah Ingusan beberapa meter di belakangnya, nampak warga yang penasaran dengan spanduk yang dibentangkan pasangan hansip, Dorma dan Hans disisi kiri dan kanan jalan hingga menutupi jalan. Spanduk yang bertuliskan….

” Hadirilah…….. Pernikahan Mas Erwin dan Mbak Asih..tersedia hadiah untuk sepuluh pemenang”

Warga yang ingin menyaksikan pernikahan dan sekaligus mendapatkan hadiah berbondong-bondong mengikuti rombongan yang lebih dulu ada. Cah Ingusan baru menyadari kalau warga telah mengikutinya sejak tadi saat tiba di teras rumah Pak Kades.

” Kenapa juga ikut-ikut! Mau melihat pernikahan terpaksa ya.” ucap Cah Ingusan sewot. Warga hanya cengengesan sementara Dorma dan Hans sudah menghilang entah kemana. Cah Ingusan belum sempat melihat mereka saat kedua hansip itu berbalik dan berlari sebelum mereka tiba dirumah pak Kades. Dorma dan mas Hans tertawa terbahak-bahak di pos ronda. Entah apa yang mereka tertawakan.

Sementara itu di rumah Pak Kades. Cah Ingusan terbelalak kaget saat melihat wanita yang duduk di depan penghulu adalah Asih. Dengan cepat Cah Ingusan memilih duduk di sebelah Asih yang tersenyum malu-malu.

” Ci sayang, ternyata kamu memang wanita yang setia. Mas hampir saja terjun dari jurang karena mengira akan patah hati lagi.” bisik Cah Ingusan karena tidak ingin terdengar oleh undangan yang sudah memenuhi rumah pak Kades.

” Sekarang saya sudah yakin kalau pria yang saya cintai adalah mas Erwin seorang.” jawab Asih dengan tenang. Senyumannya membuat Cah Ingusan begitu lancar saat mengucapkan ijab kabul. Semangat yang didasari cinta telah membuat hatinya berbunga-bunga. Mereka kini telah resmi sebagai pasangan suami istri. Acara pernikahan yang berlangsung sederhana itu diakhiri dengan acara makan-makan ala kadarnya yang telah disiapkan oleh keluarga pak Kades. Nampak Uleng dan Djingga, kedua putri pak Kades dan Mommy begitu sibuk melayani tamu. Tante mereka, mbak Deasy juga tak ketinggalan. Matanya mencari-cari sosok yang sejak tadi tidak dia temukan. Dalam rasa gelisahnya mbak Deasy tak menyadari kalau penampilannya yang cantik hari itu telah membuat seseorang terpikat.

Tapi ketenangan pesta berubah keriuhan saat terdengar suara dari warga.

” Hadiahnya mana? Katanya disediakan hadiah untuk sepuluh pemenang! Mana hadiahnya!”

Pak Kades dan keluarganya bergegas keluar. Disusul pasangan pengantin baru Cah Ingusan dan Asih.

” Hadiahnya mana!?!?!” teriak warga lagi.Tak ada yang membalas pertanyaan warga. Mereka semua masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Di waktu yang sama dua orang masih tertawa terbahak-bahak di pos ronda.***

2 komentar: