Sabtu, 06 Agustus 2011

Rasa Cinta

0




1310262325838690037


Aku hanya bisa diam melihatnya terus berbicara. Bukan berbicara seperti biasa yang penuh kelembutan. Kali ini dalam nada suaranya ada kemarahan. Kemarahan yang aku tak tahu dari mana asalnya. Seolah aku telah berbuat salah yang teramat besar. Dia terus menatap kertas itu. Sepertinya kalimat demi kalimat yang aku tulis tak ada yang dia mengerti. Sambil menatap kertas itu, dia terus berbicara.

Makin lama aku merasa terpojok. Aku semakin yakin kalau akulah yang telah membuatnya marah hari ini. Aku ingin bertanya tapi mulutku terkatup seperti telah ada lem yang merekatnya menjadi sangat kuat hingga sulit untuk aku pisahkan. Suaraku terasa hilang. Pikiranku juga tiba-tiba terasa kosong.

“ Aku suka setiap kali kali kamu selesai membuat sebuah puisi atau cerpen, kamu perlihatkan padaku.”

Suara itu membuyarkan lamunanku. Aku memandang pemilik suara yang sudah akrab denganku sejak dua tahun lalu. Dia biasa membaca puisi dan cerpen yang aku buat. Aku bangga memperlihatkan padanya, karena aku yakin dia bisa memberi penilaian positif atau negatif. Kedua hal itu sangat aku tunggu. Aku tidak ingin melulu sebuah pujian. Aku butuh saran yang membangun untuk kemajuan karya-karyaku.

“ Dari sekian banyak karyamu yang sudah aku baca, akhirnya sekarang aku harus memberimu satu pertanyaan. Pertanyaan yang sebenarnya sejak dulu ingin aku utarakan. Tapi aku tunda. Aku ingin melihat semuanya baru aku bisa menarik kesimpulan. Sekarang kesimpulan yang harus kamu dengarkan. Aku merasa karya-karyamu tercipta tidak dengan cinta. Bagaimana aura cinta tak hadir di setiap cerpen-cerpen percintaan yang kamu buat? Apa kamu tidak pernah pacaran?”

Pertanyaan itu seperti menampar wajahku hingga menjadi merah. Aku terdiam dengan wajah bersemu merah. Bukan karena malu tapi karena pertama kalinya ada yang mengatakan hal seperti itu.

“ Maksud mas Handi?” mulutku yang terkatup akhirnya terbuka juga.

“ Aku bukan menuduhmu tidak pernah pacaran atau kamu harus pacaran baru bisa membuat cerita percintaan. Bukan seperti itu. Aku hanya ingin kamu banyak menambah ilmu dengan membaca. Bukan membaca buku saja, tapi membaca apa yang kamu lihat, dengar, rasakan. Orang yang membuat tema pembunuhan, peperangan, atau drama romantis, tidak harus mengalami baru bisa membuat sebuah cerita. Kalau seperti itu, maka novel-novel tidak akan hadir dengan banyak tema. Memang ada juga yang mengalami sendiri lalu menulisnya menjadi sebuah cerita. Tapi kan tidak selalu harus seperti itu. Kita bisa mendapat masukan dari membaca atau melihat kehidupan sekitar kita.”

Aku menyimak kata-kata dari mas Handi. Dia menyerahkan kertas itu kembali kepadaku. Aku melihat kembali tulisanku. Membaca kalimat demi kalimat yang telah aku hafal di luar kepala karena terlalu sering membacanya. Tapi aku belum menemukan kekurangan seperti yang mas Handi sampaikan.

“ Pulanglah. Baca dengan rasa tenang. Baca dengan hatimu. Pasti akan kamu temukan apa yang aku temukan.” Ucapnya saat mengantarku menuju pintu rumahnya yang juga adalah sanggar kami.

Aku berjalan pulang sambil terus merenung. Tiba di rumah aku membaca lagi semua tulisanku. Tapi aku tetap tidak menemukannya. Akhirnya karena penasaran aku mengirim sms ke mas Handi. Aku ingin tahu mengapa dia mengatakan hal seperti itu.

Balasan dari pesanku…

Apa pernah seseorang menyatakan cinta padamu? Apa kamu pernah jatuh cinta? Kalau pernah apa yang kamu rasakan? Rasa itu tuangkan  dalam tulisanmu..

Aku terduduk lemas di tempat tidur. Kata-kata mas Handi benar. Aku belum pernah merasakan getaran saat seseorang menyatakan cinta padaku. Bagaimana aku bisa merasakan kalau sampai detik ini tak ada seorang lelaki pun yang menyatakan perasaannya. Kalau seperti ini haruskah aku jatuh cinta dulu? Bukankan cukup dengan informasi dari sahabat-sahabatku yang telah merasakan pacaran?

“ Jangan terlalu diambil hati, Mel. Mas Handi memang seperti itu orangnya. Kan nggak mungkin kamu harus pacaran dulu, baru bisa buat cerpen tentang percintaan.” Ucap Jenifer, rekanku di sanggar. Kami baru saja selesai berburu buku di Gramedia dan sekarang sedang menikmati dada ayam dan pepsi cola di KFC.

Aku mengunyah makananku dengan pelan.

“ Kalau seperti ini, aku nggak mau hadir dulu deh di sanggar. Jadi segan sama mas Handi.” Meli tertawa.

“ Santai saja. Lama-lama juga mas Handi lupa. Kemarin saat kamu datang, karangan teman-teman yang masuk cuma dua. Jelas saja mas Handi membaca cerpenmu dengan begitu detil. Lebih baik naskahmu nanti aku sisipkan dengan punyaku. Kalau mbak Kia yang melihat, dia pasti setuju kalau cerpenmu sudah layak untuk ikut dibukukan.”

” Usul yang bagus. Setidaknya aku bisa bernafas lega dan mulai berpikir untuk memulai cerpen baru dengan judul yang baru.”

Setelah puas menyantap hidangan, kamipun meninggalkan mall dengan langkah santai. Karena arah rumah kami berbeda, maka angkot yang kami tumpangi pun berbeda. Jenifer lebih dulu menemukan angkot tujuan ke rumahnya, sedangkan aku masih harus menunggu karena angkot yang seharusnya aku tumpangi belum juga muncul.

Lama berdiri dibawah terik matahari membuatku tak tahan juga. Akhirnya aku menyingkir ke sebuah pohon yang tidak terlalu besar. Batang pohonnya lumayan untuk menghalangi sinar matahari menyentuh tubuhku.

“ Ehm, lagi ngapaian Mel?” suara seseorang tiba-tiba mengagetkanku. Aku berbalik kaget. Lama kupandangi wajah pemuda yang tersenyum manis di depanku.

“ Kamu lupa ya, Mel. Aku Aldo, teman smp kamu? Masak sih kamu nggak inget?” Aku tersenyum walau pikiran masih bingung. Kupaksa otakku berpikir cepat ke beberapa tahun silam. Samar-samar makin terlihat bayangan Aldo di masa smp sampai kemudian bayangannya benar-benar jelas dalam ingatanku. Tapi penampilan Aldo sekarang dengan ingatanku tentangnya saat smp sangat berbeda jauh. Seperti bumi dan langit. Beda seratus delapan puluh derajat. Sama sekali tidak mirip. Kemana perginya Aldo yang dulu imut-imut? Aku bahkan lebih tinggi darinya kala itu. Tubuhnya yang kurus dengan wajah yang mungil, memberi kesan kalau dia masih anak-anak.Sekarang kesan itu hilang berganti dengan pemuda tampan dengan tubuh atletis. Rambutnya yang cepak membuatku menebak kalau dia sekarang kerja di kemiliteran.

“ Iya, sekarang aku ingat. Ehm, tapi kok sekarang kamu lain, ya?” tanyaku dengan kikuk. Berhadapan dengan cowok tampan membuat jantungku berpacu lebih cepat. Padahal dia adalah temanku sendiri.

“ Aku biasa saja. Kamu tuh sekarang tambah manis. Tambah putih. Seingatku dulu kulitmu tidak seputih ini. Eh, salah sekarang kulitmu kuning langsat. Rambutmu juga dulu selalu sebahu sekarang panjang. Baguslah, kamu jadi kelihatan feminim dengan rambut tebalmu yang hitam. Tahi lalat di hidungmu masih ada ya. Aku kira udah hilang.”

Aku tersipu. Kata-kata Aldo membuatku terbang melayang. Bagaimana seorang Aldo bisa mengingat tentang diriku begitu detil? Seingatku dulu aku termasuk kuper. Didalam kelas aku jarang kemana-mana. Biasanya aku hanya duduk di bangku pojok paling belakang. Aku juga bukan termasuk siswa yang pintar hingga harus selalu tampil didepan kelas. Kepintaranku mungkin standar. Biasa saja. Cenderung pas-pasan malah.

“ Dulu kamu suka makan permen karet kan?” tebak  Aldo dengan senyum manisnya.

Alamak! Bahkan permen karet yang menjadi hobi ku juga masih dia ingat! Ku atur nafasku mencoba bersikap netral. Tissu yang kupegang jadi basah karena tanganku sudah keringatan sejak tadi. Aku berdoa semoga jantungku tetap bertahan. Rasanya kakiku makin tidak kuat menyanggah tubuhku.

“ Sepertinya ngobrol disini nggak asyik deh. Gimana kalo kita masuk ke mall. Kita bisa ngobrol sambil makan. Kamu setuju nggak? Oh, ya kamu belum makan siang kan?”

Entah mengapa aku tiba-tiba mengangguk cepat. Padahal jelas-jelas aku baru saja menyantap menu di KFC yang ada di dalam mall. Apakah pengaruh cinta hingga aku jadi hilang kesadaran. Eits, cinta? Apakah sekarang ini aku benar-benar merasakan cinta? Aku yakin bukan. Aku hanya terpesona dengan sosok Aldo yang baru saja aku kenal. Ingatannya tentangku makin membuat dirinya menjadi istimewa. Seseorang yang bisa mengingat hal kecil tentangmu, bukankah itu sangat membanggakan?

Sambil berjalan masuk kembali ke dalam mall, aku terus berdoa semoga ini bukan kebersamaan kami yang pertama dan terakhir. Aku berharap masih ada kisah-kisah yang nanti akan kami jalani.

~

Handphone berdering tepat saat aku sedang berdiri di depan sanggar mas Handi.

“ Mel, kamu kemana aja? Naskahmu gimana? Jadi titip nggak?” suara Jenifer terdengar diseberang.

“ Maaf Jen, aku nggak jadi nitip naskahku.”

“ Lho, kok nggak jadi?”

“ Biar deh. Nggak apa-apa aku nanya mas Handi. Mungkin memang cerpenku yang butuh banyak perbaikan.”

“ Ya, udah. Asal kamu tahan mental saja kalau dikritik. Ntar kalo nggak tahan, kamu cari aku saja. Aku sekarang di tempat mbak Kia.”

Aku menggangguk cepat sambil tersenyum walau aku tahu Jenifer tidak melihatku. Anggukan dan senyumku bukan untuk Jenifer melainkan untuk seseorang yang baru saja keluar dari dalam rumah. Seseorang yang membuatku semangat untuk kembali datang ke sanggar menemui mas Handi. Aku rela sekalipun harus mendengar komentar pedas dari mas Handi. Sepahit apapun itu aku siap untuk menerimanya.

Sahabatku Jenifer, maafkan aku. Biarlah untuk sekarang cukup aku yang merasakan kegembiraan ini. Tunggulah, aku pasti akan bercerita padamu. Cerita tentang seorang  Aldo, teman smp ku dulu yang ternyata adalah sepupu mas Handi. Aldo yang kembali lagi ke kota ini dan tinggal di rumah mas Handi karena orang tuanya menetap di kota lain. Cerita tentang rasa yang tiba-tiba hadir di hatiku saat pertama kali bertemu lagi dengan Aldo. Aku berharap ceritaku nanti hanya diikuti dengan kegembiraan bukan kesedihan. Semoga saat aku bercerita nanti,  Aldo telah jadi kekasihku. ****

_______________________________________________________________

0 komentar:

Posting Komentar