
Ku mulai kisahku. Kisah
yang selama ini menjadi rahasia dan hanya tersimpan dalam hatiku. Kisah yang
berulangkali ingin kututup dengan gembok terbesar tapi tetap saja jika
kerinduan hadir, aku akan melihatnya diam-diam sekedar mengobati rasa rindu
padanya. Rindu yang sekian lama tak pernah hilang meski disisiku telah ada gadis
yang sangat mencintaiku. Gadis yang selama ini menjadi tumpuan rasa bersalahku
karena terus memikirkan seseorang yang tak semestinya aku ingat lagi.
Gadis itu bernama Risa
sebelum aku tahu jika namanya adalah Raisha.
“Belum pulang?” tegurku
seraya menghampirinya. Saat itu hujan deras dan suasana kampus sangat sepi
karena hari beranjak sore. Gadis itu
masih berdiri di pelataran kampus. Tubuhnya menggigil kedinginan dalam balutan
sweeter tipis. Kulit wajahnya yang putih tampak pucat dan bibirnya yang
gemetaran tanpa polesan lipstik makin menggetarkan hatiku. Dia tersenyum sambil
menggiyakkan.
“Nunggu jemputan ya?” tanyaku
lagi. Sebenarnya aku berharap dia menjawab tidak. Aku bahkan berdoa demi mendengar
jawaban itu.
“Iya.” Suara lembutnya
nyaris menghancurkan harapanku.
“Di jemput pacar ya?” aku menunggu
jawabannya dengan harap-harap cemas karena dia tak kunjung mengangguk atau
menggeleng.
“Bukan. Sepupu....” akhirnya
meluncur jawaban yang membuatku lega. Risa mengalihkan pandangan ke arah pintu gerbang. Sesaat aku terpesona
melihat matanya yang indah dengan bulu mata hitam lentik tanpa bantuan maskara.
Aku mengikuti arah tatapannya. Sebuah mobil avanza putih perlahan mendekati
gedung lalu berhenti beberapa meter dari tempat kami berdiri.
“Maaf, aku duluan ya..”
pamitnya tak lupa memamerkan senyumnya yang indah lalu berlari menerobos hujan
menuju mobil avanza. Gadis impianku telah berlalu, tinggal aku sendiri terpaku
di pelataran kampus. Menghirup dalam-dalam aroma parfumnya yang masih membekas.
Anganku tentangnya kian melambung.
Sore itu adalah pertemuan
pertama yang menurutku berhasil karena aku berbicara dengannya. Di antara
puluhan rencana dalam kepalaku, akhirnya aku bisa mendengar suaranya. Berbagai
ide timbul tenggelam demi mendekatinya. Kadang rencana yang telah tersusun
matang, berantakan di tengah jalan. Aku nyaris putus asa.
Namun sejak pertemuan
mengesankan hari itu, aku jarang melihatnya. Berhari-hari aku terus mencari
sosoknya namun Risa seperti hilang ditelan bumi. Aku mulai cemas, apakah gadis
itu sakit ataukah dia tidak kuliah lagi? Hatiku benar-benar hampa. Daya tarik
untuk ke kampus tak ada lagi. Entah bagaimana caranya memulihkan semangatku
yang terlanjur drop karena kehilangannya.
Hingga suatu hari...
“Mau ikut aku, Al?” ajak
sepupuku, Firham. Dia keluar dari kamarnya dengan tampilan yang Istimewa. Aku
berdecak kagum. Aku tahu Firham sangat peduli dengan penampilannya. Sepupuku
itu selalu berusaha tampil sempurna setiap hari. Namun kali ini terasa berbeda
dan aku tak sanggup menahan rasa ingin tahu yang hadir dalam pikiranku.
“Kemana? Tumben kali ini
kamu rapi bener?”
“Pacarku ulang
tahun..” aku tergelak.
“Akhirnya, kamu punya
pacar juga.. ckckckckck.. aku jadi penasaran, seperti apa gadis yang bisa
menaklukkan hatimu. Standarmu kan tinggi banget hehehehehehe..”
Firham acuh mendengar
ocehanku.
“Mau ikut tidak? Aku jamin
banyak gadis cantik disana yang akan membuatmu melupakan Risa.”
“Tidak akan! Risa yang
terbaik, She is the best..” kataku bersemangat sambil beranjak berdiri.
Kuputuskan untuk ikut kali ini daripada bengong sendirian di rumah Firham dan
hanya memikirkan Risa. Kepalaku nyaris pecah karena terus membayangkan dirinya.
Tiba di rumah kekasih Firham,
suasana sangat ramai. Beberapa mobil telah terparkir di halaman. Aku berdecak
kagum. Pilihan sepupuku memang tidak salah. Saat dia memutuskan mempunyai
kekasih maka gadis itu tentu bukan orang
sembarangan. Tidak sia-sia dia menjomblo selama ini. Posturnya yang tegap serta
wajahnya yang tampan bahkan sempat meragukanku. Aku sempat khawatir dia bukan
pria tulen. Maafkan aku Firham, peace...
Kami berdua masuk ke dalam
rumah. Aku merasa grogi karena tidak biasa berada dalam suasana keramaian
seperti ini. Orang-orang memperhatikan kehadiran kami. Wajar, sosok Firham
adalah idola di kampusnya. Aku seperti badut berdiri di sebelahnya.
“Firham!” seorang gadis
cantik menghampiri kami.
“Eh, Yeni.”
“Udah ketemu Raisha?”
lanjutnya.
“Belum.”
Yeni lalu mengajak kami ke
suatu tempat. Aku mengekor di belakang Firham sambil melihat-lihat gadis-gadis
yang hadir di acara ini. Benar kata Firham, semuanya cantik-cantik.
“Raisha, Firham udah
datang..” Yeni menyentuh bahu seorang gadis yang membelakangi kami.
Aku penasaran dengan pacar
Firham, apa yang dia miliki hingga sanggup meluluhkan hati Firham yang terkenal
sulit jatuh cinta. Meski tampan, jangan pernah berharap melihat seorang gadis
bersamanya. Bagi Firham, gadis yang bisa duduk bersamanya di dalam mobil adalah
kekasihnya. Dan menjadi kekasihnya tidak mudah!
Aku makin penasaran dan
tidak mengalihkan pandanganku sedikitpun dari sosok kekasih Firham itu.
Perlahan Raisha berbalik, sedikit demi sedikit, dan aku hanya bisa melotot
melihatnya. Bukan karena kecantikannya yang membuatku terpesona, tapi karena
Raisha kekasih Firham adalah Risa, gadis yang selama ini aku rindukan siang dan
malam.
Dia melangkah mendekati
kami. Aku hanya bisa terpaku menyaksikan senyumnya serta tatapan matanya yang
indah. Namun semua itu bukan ditujukan padaku. Arah pandangannya lurus menatap
Firham. Dan Tangan sepupuku terulur, siap memeluk Raisha. Aku menutup mataku
ketika adegan romantis itu benar-benar terjadi.
Sekarang aku mengerti.
Seleraku dan Firham ternyata sama dalam menilai seorang gadis. Kami ternyata menyukai
tipe yang lembut dan keibuan. Semua kriteria wanita idamanku ada pada Raisha. Karena
selera kami sama maka hal yang wajar jika Firham jatuh cinta padanya. Aku hanya
bisa menelan kekecewaan tak siap dengan kenyataan pahit yang baru saja aku
ketahui.
Aku akhirnya menyingkir.
Kubiarkan Firham dan Raisha berdua saja. Aku tidak ingin berada di dekat mereka
dan menjadi batu karena perasaan cemburu yang kian membuncah. Aku ingin marah,
tapi marah pada siapa? Aku ingin berteriak tapi untuk apa? Bukankah selama ini
hanya aku seorang yang merasakan rindu? Raisha atau Risa sama sekali tak tahu
apalagi Firham.
Raisha Ayana Dela,
ternyata itu namanya. Aku hanya tahu namanya Risa, teman di kampus yang memberitahu. Dan baru kusadari mengapa aku
tidak mencari tahu nama lengkapnya. Aku pasrah saja dan mengira itu adalah nama
lengkap Risa. Bodohnya aku mengira Risa belum memiliki kekasih.
“Haloo, kamu sepupu
Firham, kan?” aku berbalik. Seorang gadis manis menyodorkan minuman padaku. Aku
menerimanya, dia lalu duduk didekatku.
Aku sengaja menyendiri di teras samping, terpisah dari keramaian.
“Iya, aku sepupu Firham.”
“Aku pernah melihatmu..”
“Dimana?”
“Waktu itu aku menjemput
Raisha di kampus, kalian sedang berdua di pelataran kampus..”
Aku tersenyum.
“Jadi sepupu yang dimaksud
Raisha, itu kamu?” Gadis itu mengangguk.
“Kenalkan, namaku Feby.
Dunia benar-benar sempit ya, ternyata kamu sepupu Firham, kekasih sepupuku,
Raisha. Kebetulan yang sangat istimewa.”
“Maksudmu?”
“Iya, jujur aku nggak suka
basa basi. Aku juga bukan gadis yang suka menyimpan perasaan suka di dalam
hati. Kalau aku suka sama cowok, aku akan langsung mengatakan padanya.
Sayangnya, sampai sekarang belum ada cowok yang menerima pernyataan suka
dariku. Kalau sebaliknya ya banyak..” Feby tertawa.
“Aku malah belum pernah
nembak cewek..” kataku berterus terang. Feby tersenyum.
“Aku suka sama kamu.
Pertama kali melihatmu bersama Raisha, aku penasaran. Tapi aku hanya bisa menunggu karena satu-satunya
orang yang mengenalmu adalah Raisha dan dia mendadak pindah kampus.”
Aku tercengang. Gadis ini
benar-benar berani, batinku.
“Tak disangka, ternyata
kita ketemu disini. Karena itu aku menyebutnya kebetulan yang sangat istimewa.
Saat aku hendak mencari dirimu, ternyata sepupumu pacaran dengan sepupuku. Ini
namanya jodoh..”
Aku meneguk minuman yang
diberikannya. Lumayan untuk menetralisisr keterkejutanku.
“Kamu kaget ya, hehehehe
jangan tegang. Biasa aja. Proses pacaran dimulai dari perkenalan. Kata-kataku
jangan kamu anggap serius. Aku memang suka sama kamu, tapi aku nggak mau egois
memaksakan keinginanku. Bisa saja dirimu menyukai gadis lain dan aku tidak
termasuk dalam kriteriamu. Aku hanya ingin kamu tahu saja perasaanku. Itu saja.
Karena memendamnya dalam hati membuatku gelisah. Aku tidak tenang..”
Aku memperhatikan cara
gadis itu berbicara, rasa percaya dirinya sangat tinggi. Wajar jika dia berani
mengucapkan isi hatinya. Tapi dari penuturannya barusan, dia juga belum pernah
menyatakan suka pada seseorang. Berarti gadis ini mirip dengan Firham, tidak
mudah jatuh cinta. Lalu dengan diriku, apa yang membuatnya menyukaiku?
“Beri kesempatan aku untuk
mengenalkan diriku, aku juga aku mengenalmu lebih dekat. Jadi kita jangan
berkomitmen dulu, temenan aja. Nggak apa-apa kan?” mata bulatnya menatapku.
Kembali aku terpaku.
Melihat sosok Feby dan Raisha atau Risa, mereka dua orang yang sangat berbeda.
Mirip seperti diriku dan Firham. Tapi aku terlanjur menyukai Raisha, apakah
hatiku bisa berpaling? Mengharapkan Raisha juga mustahil. Firham tentu tidak
akan begitu saja melepaskan gadis yang sudah di proklamirkan sebagai
kekasihnya. Lagipula aku tidak mungkin tega merebut kekasih sepupuku sendiri.
Hubunganku dan Firham
sangat dekat. Sejak kecil aku terbiasa tinggal di rumahnya. Aku bahkan lebih
betah tinggal dirumahnya dari pada rumahku sendiri. Kedua orang tuaku
seringkali protes tapi mereka tidak bisa melarangku. Bagaimana aku bisa betah
tinggal di rumah yang sepi layaknya kuburan? Papa dan mama lebih banyak
menghabiskan waktu diluar kota.
“Halooooo, bagaimana? Kamu
setuju aja, ya. Kita jalani aja, TTM hehehehehe..”
Aku akhirnya mengangguk setuju
karena tak ada pilhan lain bagiku. Pujaan hatiku telah menjadi milik sepupuku,
apa salahnya aku mencoba mengobati luka hatiku dengan menerima tawaran Feby.
Terus meratapi Raisha hanya akan membuatku tersiksa. Jalanku benar-benar telah
tertutup. Peluangku sudah tamat. Mungkin ini saatnya aku mengucapkan selamat
tinggal pada Raisha. Good bye my love.
***
Hari hari berlalu.
Hubunganku dengan Feby semakin akrab. Meski di antara kami belum ada komitmen,
tapi hubungan ke arah yang lebih serius sepertinya bakal terjadi. Aku mulai
bisa menerima kehadiran Feby namun ku akui tidak untuk hatiku. Seutuhnya ruang
itu masih menjadi milik Raisha. Aku masih belum bisa melupakannya.
Aku tahu ini tidak adil
bagi Feby. Saat dia berusaha menerimaku apa adanya, aku malah belum seutuhnya
menempatkan dia dalam hatiku. Aku memang bisa tertawa, bercanda bersamanya tapi
di saat yang sama bayangan Raisha melintas dipelupuk mataku. Entah apakah Feby
bisa merasakan hal itu? Aku tidak bisa menebak jalan pikirannya. Dia selalu
terlihat gembira. Aku bahkan penasaran, apakah dia tidak pernah bersedih?
Seringkali kami pergi
kencan berempat. Bukan aku yang mengusulkan ide ini, terlebih Firham. Dia yang
lebih dulu menentang ide ini ketika Raisha menelponnya. Tapi Sepupuku itu hanya
bisa bungkam jika suara lembut Raisha yang memohon. Dan ternyata ide ini dari
Feby. Aku benar-benar tak habis pikir, apa yang ada dalam pikiran gadis itu?
Entah sampai kapan aku
bisa melupakan Raisha. Setiap kali aku mencoba melupakan, sosoknya selalu
hadir. Dia juga sering berkunjung ke rumah Firham. Dan jika Firham tak ada, aku
yang menemaninya mengobrol. Jika Firham sibuk dengan kuliahnya hingga tak bisa
mengantarnya ke suatu tempat, sepupuku
itu akan langsung menelponku. Apakah aku harus meninggalkan kota ini? bagaimana
aku bisa melupakannya jika setiap saat kami bertemu?
***
Malam itu, Firham nampak
gelisah dikamarnya. Dia mondar mandir entah apa yang tengah meresahkan
pikirannya.
“Kamu kenapa? Gelisah
amat?” tegurku. Kualihkan pandanganku dari buku yang sedang aku baca.
“Aku ingin menikah.”
Firham menatapku. Kurasakan aliran darah dalam tubuhku mendadak terhenti. Kata
menikah itu seperti kiamat untukku. Aku benar-benar akan kehilangan Raisha.
“Lalu kenapa kamu
gelisah?” tanyaku menahan rasa kecewa dalam hati. Firham duduk di sebelahku.
“Karena aku akan menikah,
bodoh. Jelas saja aku gelisah.” Firham cemberut.
“Gelisahmu itu cari
pemecahannya jangan hanya mondar mandir, bolak balik kayak setrikaan..”
“Aku bingung bagaimana
menyampaikan hal ini ke papa. Aku takut papa menolak rencana kami karena kami berdua
masih kuliah..”
“Iya. Betul itu..”
Firham melotot padaku. Aku
cepat-cepat menutup mulutku.
“Kamu beritahu papa dan
mamamu agar mereka tahu. Gelisah sendiri tidak akan menyelesaikan masalah.
Setidaknya kedua orang tuamu sudah tahu niatmu. Itu saja yang harus kamu
selesaikan.”
Firham beranjak berdiri.
“Iya, aku harus berani
menyampaikan hal ini. Terima kasih sepupuku yang baik hati. Saranmu akan aku
laksanakan sekarang juga.”
Firham menaruh tangannya
di samping kepala, menghormat padaku seperti pada bendera kemudian dia bergegas
keluar dari kamar. Aku terbahak melihat tingkahnya namun saat pintu tertutup,
tawaku lenyap berganti kesedihan. Kuraih bantal dan menutup wajahku, air mataku
menetes. Hatiku sakit mengetahui Firham dan Raisha akan menikah. Malam itu
untuk kesekian kali aku patah hati pada gadis yang sama.
***
Sore yang indah dengan
sinar keemasan yang menghiasi langit. Aku duduk di teras lantai dua ketika
seseorang merangkulku dari belakang. Melihat kulit tangannya yang mulus serta
aroma farfum khas miliknya, aku bisa menebak dengan pasti..
“Tumben nongol nggak
nelpon lebih dulu...” aku menoleh. Feby tersenyum dengan sangat manis.
“Sekali-kali mengangetkan
pacar, nggak apa-apa kan?” dia tertawa. Entah mengapa, setiap kali melihat Feby
tertawa, aku merasa iba padanya. Aku ragu, apakah benar gadis ini tidak
merasakan jika aku memikirkan gadis lain, bukan dirinya?
Feby mengeluarkan sesuatu dari
dalam tasnya.
“Ini model undangan yang aku pilih. Dari beberapa contoh,
aku suka yang ini. Menurut mas ini cantik bukan?” kuraih contoh undangan
pernikahan itu. Memperhatikan setiap detil modelnya.
“Undangan ini, kok sama
dengan undangan Firham dan Raisha?”
“Aku sudah coba melihat
model lain, tapi tetap saja model undangan ini jauh lebih menarik.”
Alasan yang masuk akal
menurutku. Modelnya memang sangat cantik. Saat Firham memperlihatkan undangan
pernikahan mereka tiga tahun silam, aku juga sangat terpesona. Tapi mengapa
harus model yang sama? Bukankah begitu banyak model undangan yang bisa dipilih?
Tidak mesti sama kan? Aku makin tidak
mengerti.
Dari mulai gedung resepsi,
Wedding Organizer, foto pre wedding, gaun pengantin hingga penata rias semua
sama persis seperti saat Firham dan Raisha melangsungkan pernikahan. Terakhir
model undangan yang membuatku terenyuh. Sepertinya ada sesuatu yang
disembunyikan Feby dariku. Jika menyangkut urusan pernikahan, semua sama dengan
pilihan Firham dan Raisha.
“Kamu pengen kita bulan
madu dimana?” tanyaku memancing jawaban yang membuatku penasaran.
“Firham dan Raisha tempo
hari ke Lombok. Kita ke sana juga ya?” Aku termangu. Jawaban Feby makin
menguatkan kecurigaanku.
“Apakah kita tidak punya
pilihan lain? Mengapa semua hal mulai dari A sampai Z, semua sama mengikuti
Firham dan Raisha?” aku mulai tak tahan. Rasa penasaran membuat kepalaku panas seolah ingin meledak. Feby terdiam
menatapku. Dia yang selalu ceria menjawab pertanyaanku kali ini tak bersuara.
“Menurutku pilihan mereka
bagus..” jawabnya terbata.
“Lalu pilihan kita nggak
bagus, begitu maksudmu?”
“Mas kenapa sih? Bukankah
mas Aldi sendiri yang meminta aku mengurus semuanya? Kenapa sekarang
menyalahkan aku?”
“Aku bukan menyalahkanmu
hanya aku merasa heran, kok semua yang kamu katakan, kamu pilih, pasti ada
Firham dan Raisha di baliknya. Apa kita tidak bisa menentukan pilihan yang
berbeda dari mereka?”
“Tapi bener kan semuanya
memang bagus? Saat mereka menikah, aku memang sudah berniat akan mengikuti
detil kegiatan mereka saat menikah nanti. Apakah aku salah mas?”
Aku menyandarkan tubuhku,
mengontrol emosiku yang hampir mencapai ubun-ubun. Melihat mata Feby yang mulai
berkaca-kaca, aku tersadar untuk
berhenti menjejarinya dengan berbagai pertanyaan. Mungkin benar alasan
Feby, jika dia hanya ingin mengikuti prosesi yang sama ketika Firham dan Raisha
menikah. Apakah karena aku masih merindukan Raisha hingga menaruh curiga pada
tindakan Feby, seolah dia telah tahu apa yang aku pikirkan?
Aku terdiam, demikian pula
dengan Feby. Mungkin dia bingung mengapa sekarang aku malah mengajukan berbagai
macam pertanyaan. Tak ada senyum ceria di wajahnya, dia hanya menunduk. Aku
termenung. Sampai kapan aku harus bersikap seperti ini terhadap Feby? Haruskah
aku bertahan berada disampingnya dengan rasa cinta yang bahkan tak jelas bentuknya?
“Maafkan aku..” kataku
akhirnya seraya meraih jemarinya. Dia mengangkat wajahnya. Aku terkejut melihat
air mata yang menetes di pipinya.
“Bisakah mas hanya
memikirkanku? bisakah mas melupakan dia?” aku terperanjat mendengar ucapan Feby. Pikiranku telah bercabang
kemana-mana mencari petunjuk kemungkinan yang selanjutnya akan dia katakan.
“Bertahun-tahun, sudah
tiga tahun mas. Apakah kehadiranku sama sekali tidak berarti dalam hatimu.
Pengorbananku selama ini, apakah tidak ada artinya dimatamu..”
“Apa maksud perkataanmu?”
“Mas jangan berpura-pura
lagi, aku sudah sangat bersabar hingga menjelang pernikahan kita. Tapi aku
tidak ingin menikah dengan seseorang yang masih terikat hati dengan gadis lain.
Aku tahu sejak awal, mas sangat menyukai Raisha. Tapi aku tetap bertahan karena
aku mencintai mas. Ingat mas, dua bulan lagi pernikahan kita. Bisakah mas
melupakan dia? Jika bukan mas yang melepaskan Raisha dari hati mas, maka aku
yang akan pergi. Aku tidak ingin menikah dengan seseorang yang tidak
mencintaiku. Aku bukan patung mas, aku juga punya perasaan..”
Feby menangis lalu
beranjak meninggalkanku sambil membuang contoh undangan ke lantai. Dia berlari
menuruni anak tangga, aku yang kaget tak menyangka mendengar pengakuan
mengejutkan dari Feby hanya bisa terpaku. Hingga terdengar suara kendaraan
meninggalkan rumah, aku baru tersadar jika Feby telah pergi. Aku berlari
mengejarnya, namun terlambat. Mobil Feby melaju kencang meninggalkan rumah.
Entah mengapa aku hanya
bisa diam tak bereaksi. Seolah ada yang menahan langkahku hingga aku pasrah
melihat mobil Feby di kejauhan. Aku melangkah gontai masuk ke dalam rumah terus
naik ke lantai dua, masuk ke dalam kamarku. Pandanganku mengitari kamarku, baru
aku sadari ternyata tak ada satupun benda di kamar ini yang menyiratkan jika
aku dan Feby adalah sepasang kekasih. Tak ada bahkan untuk foto kami berdua.
Ku buka laci meja, kuraih
selembar foto. Kupandangi lekat-lekat dengan perasaan sedih. Wajah Raisha yang
lembut dengan senyum keibuan yang mempesona.
“Raisha, mengapa sangat
sulit melupakanmu? Apa yang harus aku lakukan agar bisa melupakanmu? Aku tahu
dirimu bukan lagi impian yang harus aku kejar. Tapi tetap saja aku bertahan
dengan ketidak warasanku, mengira semua akan sesuai harapku. Tapi sampai kapan
Raisha? Sampai kapan aku berpikir bahwa itu benar dan mimpiku bukan puing, aku berdiri membangun mimpi di atas mimpi sedangkan
dirimu makin jauh dan tak mungkin lagi untuk aku raih.”
Aku masih menatap sedih
wajah Raisha ketika handphoneku berdering. Kuraih handphone dan melihat sekilas layar handphone. Ibu Feby!
Kesedihanku mendadak lenyap.
“Halo...” bukan suara
lembut yang terdengar melainkan jerit tangis dari seberang.
“Mama?. Ada apa? Kenapa mama
menangis?” aku ikutan panik.
“Nak Aldi, Feby
kecelakaan!”
Kuraih kunci mobil lalu
berlari keluar kamar tanpa menunggu ibu Feby menyelesaikan ucapannya. Aku
sempat mendengar beliau menyebutkan nama rumah sakit tempat Feby dirawat.
Kupacu mobilku sekencang mungkin. Karena panik tanganku gemetaran saat menyetir
hingga aku memilih menepi di tepi jalan untuk menenangkan diri beberapa saat.
Kusandarkan tubuhku pada
jok mobil, rasa bersalah menekan perasaanku. Ya, Allah apa yang telah aku
lakukan? Bagaimana bisa aku melukai hati gadis yang selama ini sangat setia
mendampingiku meski dia tahu aku tidak mencintainya? Feby mengalami kecelakaan
karena sikapku padanya. Lelaki macam apa aku ini? bagaimana bisa aku
mengabaikan mutiara yang ada dalam genggamanku dan terus memikirkan permata
yang bukan milikku? Bagaimana jika aku kehilangan mutiara itu, apakah aku akan
sanggup menerimanya?
Aku memacu kendaraan
dengan perasaan cemas. Kali ini aku benar-benar takut kehilangan Feby. Sepanjang
jalan tawanya yang renyah, senyumnya
yang ceria hingga tatapan matanya yang berbinar membayang di pelupuk mataku.
Jika terjadi sesuatu yang buruk dengan Feby, aku pantas untuk disalahkan. Akulah
yang membuat gadis itu kecelakaan. Akulah yang membuat hatinya terluka hingga
pikirannya kalut saat menyetir mobil.
Tiba di ruang IGD rumah
sakit, kakak Feby ternyata sedang menunggu di depan ruangan. Dia histeris
menyambutku,memelukku sambil menangis. Aku tak kuasa menahan air mata apalagi
jika mengingat kejadian sebelum Feby kecelakaan. Kurasakan penyesalanku kian
berlipat-lipat. Aku sangat ingin melihatnya. Aku ingin berada didekatnya,
menemaninya. Tapi kami dilarang masuk.
Meski shock melihat
kondisi Feby namun aku bersyukur dia masih hidup. Setidaknya aku masih bisa
menebus kesalahanku padanya. Aku sangat menyesal. Aku berjanji akan melupakan
Raisha karena dia bukan milikku. Dia hanya masa lalu yang tak akan mungkin
kembali. Sementara Feby, gadis ini tulus mencintaiku. Aku ingin membahagiakannya.
Aku ingin bersamanya mengarungi bahtera kehidupan yang nyata bukan hanya dalam
mimpi.. Maafkan aku Feby, mulai sekarang tak akan ada Raisha lagi dalam hatiku
selain dirimu.
=========================================
0 komentar:
Posting Komentar