El Cuento by Elena Dudina
Tiba di rumah, aku bergegas mencari
mbak Mia. Kakak iparku itu ternyata sedang sibuk merapikan peralatan pesta
setelah acara lamaran kemarin. Mbak Mia nampak sibuk mengarahkan pembantunya
dalam meletakkan barang-barang. Aku terus memperhatikan hingga mbak Mia sadar
keberadaanku.
“Udah pulang, Dena?” tegurnya.
“Mbak Mia, ada yang ingin Dena
sampaikan.” Kataku sambil sambil mendekatinya.
“Ada kabar apa? Soal mas Rivan? Kamu
tahu Dena, mas mu seneng banget begitu tahu mas Rivan memberikan hadiah baju
pesta untukmu.” Aku mendadak terdiam.
“Kata mas mu, jika benar kalian
berjodoh. Dia yang paling bahagia. Kamu tahu kenapa? Karena mas mu menilai, mas
Rivan itu lelaki yang bertanggung jawab. Tidak ada kesan sombong meski dia
telah berhasil menjalankan perusahaannya.”
Kata-kata yang telah aku siapkan
serasa tertelan kembali ke dalam tenggorokanku. Aku hanya bisa menelan ludah
mendengar ucapan mbak Mia.
“Mbak Mia sendiri bagaimana?” tanyaku
setelah menetralisir keterkejutanku.
“Kalau mbak terserah mas mu. Mbak
percaya penilaian mas Damar tidak pernah salah. Dia selalu bisa menilai
seseorang meski baru bertemu. Karena itu ketika pertama kali bertemu mas Rivan,
ada keinginan dalam hati mas mu untuk menjadikannya bagian keluarga kita.”
Aku makin tenggelam dalam lautan
keraguan. Niatku untuk menyampaikan perihal baju itu akhirnya menguap. Binar
kegembiraan yang terpancar dari kedua mata mbak Mia telah menyiratkan hal yang
berlawanan dengan hatiku. Jika aku memberitahu soal baju yang ternyata bukan
mas Rivan yang mengirim, pasti kakak iparku itu akan kecewa.
“Mbak, kapan mas Rivan menanyakan
ukuran bajuku?” tanyaku hati-hati. Kali ini aku merubah rencanaku. Aku ingin
menyelidiki tanpa sepengetahuan mbak Mia dan mas Damar.
“Tanggal pastinya mbak lupa, Dena.
Hanya waktu itu mas Rivan mengirim sms menanyakan pada mbak.”
Aku tertegun mendengar jawaban mbak
Mia. Mas Rivan mengirim pesan sms? Bukankah itu bukti yang nyata jika mas Rivan
benar-benar telah menanyakan langsung pada mbak Mia. Tapi karena mas Rivan
tidak mengakui lalu siapa yang nekad telah menggunakan handphone miliknya?
Lagipula apa keuntungan yang akan di dapat mas Rivan jika berbohong? Justru hal
itu akan menambah nilai poin dia di mata keluargaku. Seandainya bukan, seharusnya mas Rivan bisa mengakui seolah-olah dia yang telah melakukannya demi
menjaga citranya didepanku. Seharusnya dia senang ada yang membantu melancarkan
jalannya mendekatiku. Tapi ini justru sebaliknya.
“Mbak Mia tahu alamat rumah mas
Rivan?”
Mbak Mia menggeleng.
“Tidak Dena, kemungkinan mas Damar
yang tahu karena mereka rekanan bisnis. Coba saja tanyakan padanya.”
Aku melangkah masuk ke dalam kamar
dengan beribu pertanyaan dalam kepalaku. Hingga masuk ke kamar mandi aku terus
memikirkan teka-teki pengirim baju itu. Siapa gerangan dia yang dengan mudahnya
menggunakan handphone milik mas Rivan. Aku benar-benar penasaran. Menurutku
selain mas Rivan, aku tak mengenal satupun dari keluarganya. Jangankan kerabat,
karyawannya saja aku tidak tahu. Jadi jika ada yang berinisiatif mengirim baju
itu pastilah orang itu telah mengenalku dan ada niat untuk menyatukan aku dengan mas
Rivan. Tapi siapa????
Malam kurasakan berlalu sangat lambat.
Aku tak bernafsu untuk makan dan memilih untuk berdiam dalam kamar. Sesekali
aku keluar ke teras kamar sambil menghirup dalam-dalam udara malam hingga
kurasakan rongga dadaku sedikit lega. Aku membutuhkan udara segar malam ini
untuk menetralisir kegundahan hati. Mencairkan rasa penasaran yang kini semakin
menggunung.
Siapa dia? Siapa dia? Pertanyaan ini
terus mengalun dalam benakku dan sulit untuk kulepaskan. Sepertinya masalah
baju ini tidak bisa aku diamkan begitu saja. Aku harus tuntas mengusutnya.
Sambil menatap langit yang kali ini penuh bintang, aku mengucap janji pada
malam. Entah mengapa jantungku berdegup kencang ketika sekelebat melintas nama
dalam pikiranku. Cepat-cepat kubuang jauh-jauh nama itu dalam pikiranku. Itu
tidak mungkin. Mustahil jika dia ikut campur dalam perjodohanku dengan mas
Rivan.
Akhirnya aku tertidur karena lelah
berpikir.
****
Keesokan harinya aku sengaja menunggu mas Damar di depan ruang
kerjanya.
“Ada apa, Dena? Apa ada sesuatu yang
ingin kamu tanyakan?” sambutnya sambil menutup pintu. Kakakku tengah bersiap
menuju kantornya.
“Ini mas, apa mas tahu alamat rumah
mas Rivan?” Mas Damar tersenyum mendengar pertanyaanku. Entah apa yang ada
dalam pikirannya saat ini.
“Pertanyaan ini seharusnya kamu
tanyakan pada mas Rivan. Mas juga nggak tahu alamat rumahnya. Kami ketemu itu
kebanyakan di kantor atau di restoran ketika mengadakan meeting. Itu saja.”
Aku mengeluh dalam hati. Tidak ada
jalan lain bagiku selain bertanya langsung pada staf mas Rivan. Sepertinya aku
harus bersabar hingga esok hari ketika masuk kerja dan resmi mewakili perusahaan
kakakku.
***
“Alamat bos?” sekretaris mas Rivan
malah bertanya balik. Aku mengangguk cepat.
“Maaf, mbak. Selama ini alamat
pengiriman apapun hanya melalui kantor tidak pernah mencantumkan alamat rumah
pak direkturr.”
“Masak sih tidak ada alamat rumahnya?
Misalnya mbak ada keperluan mendadak bertemu dengan bos, apa mbak tidak
kerumahnya?”
“Biasanya bapak yang langsung
menyebutkan nama lokasi pertemuan tanpa pernah menyebutkan alamat rumahnya.”
“Apa beliau sama sekali tidak pernah
membuat acara yang mengharuskan kalian mendatangi rumahnya?” Si sekretaris
kembali mengangguk membuatku putus asa.
“Benar-benar tidak ada alamat sama
sekali yang tersimpan dalam dokumen atau file komputer?”
Sekretaris itu nampak diam berpikir.
“Begini saja, mbak bisa menanyakan
pada sopir bapak, namanya pak Surahman. Mungkin saja dia tahu karena beliau
yang mengantar pak direktur kemana-mana..”
Aku bergegas mencari sopir yang di
maksud, namun satpam mengatakan pak Surahman baru saja meninggalkan kantor
bersama mas Rivan. Aku hanya bisa terpaku di depan kantor. Sepertinya aku harus
bersabar mengembalikan baju itu.
Saat hendak masuk kembali ke dalam
kantor, kulihat seseorang yang mirip mas Kembara. Aku mengikutinya. Benar mas
Kembara. Tapi ada urusan apa mas Kembara datang ke kantor mas Rivan?
Langkahnya terus menuju ruangan mas
Rivan, aku batal mengikuti hanya berdiri di depan lift. Mas Rivan berhenti di
depan sekretaris. Entah apa mereka yang bicarakan yang jelas wajah mas Rivan
bersemu merah menahan amarah saat berbalik menuju lift. Aku segera bersembunyi
tapi sedetik kemudian aku menyadari ketololanku. Untuk apa aku bersembunyi? Aku
tertawa sendiri.
Saat keluar dari persembunyian, mas
Kembara sudah tidak ada lagi. Aku penasaran dan mendatangi sekretaris mas
Rivan. Sepertinya kedatanganku tidak diharapkan olehnya. Gadis cantik itu
memasang wajah tak senang saat melihatku.
“Mau bertanya alamat lagi, tidak ada
alamat pak direktur mbak..” suaranya terdengar ketus.
“Bukan itu, mbak. Bapak yang tadi ada
urusan apa ya? Apa mencari pak direktur juga?”
Kali ini sekretaris itu berdiri sambil
memasang wajah jutek. Astaga ternyata wajahnya bisa jelek juga jika sedang
marah.
“Begini mbak, ya. Urusan mbak adalah
bekerja mewakili perusahaan mbak di kantor ini dengan baik tanpa harus mencari
tahu hal-hal pribadi atau pekerjaan yang berkaitan dengan bos kami. Mbak itu
perwakilan perusahaan lain, tidak etis bertanya hal yang tidak ada kaitannya
dengan pekerjaan.” Jelasnya panjang
lebar dengan sikap ketus. Dia kembali duduk sambil memeriksa berkas-berkas di
depannya.
Aku terpaku di depannya. Apakah yang
aku lakukan telah melewati batas hingga menerima perlakuan seperti ini? aku
berjalan menuju lift dengan perasaan tak nyaman. Mungkin benar rasa ingin tahu
membuat diriku sedikit tidak terkontrol. Aku lupa aturan-aturan yang ada di
dalam perusahaan ini, apalagi aku bukan karyawan. Wajar jika sekretaris itu
kesal melihat tingkahku. Aku akhirnya kembali ke ruanganku.
Sepanjang siang aku tak tenang. Hari
pertama bekerja, aku malah belum bertemu dengan mas Rivan. Sikap lelaki itu
kurasakan sangat berbeda. Ketika bertemu dengannya kemarin, aku mulai merasakan
hal itu. Sikapnya meski ramah namun terkesan dingin. Berbeda sekali yang aku
rasakan ketika acara lamaran Viola. Saat itu aku yakin jika mas Rivan benar-benar
menyukaiku. Tapi pertemuan kami kemarin kembali mengkandaskan pikiranku. Aku
kembali ke titik awal dari rasaku. Rasa yang
hadir sejak kembali bertemu dengannya. Seolah ada tembok yang membatasi
gerak mas Rivan. Itu terpancar dari sikapnya. Aneh. Apakah mungkiin dia
memiliki dua kepribadian?
“Mbak Dena..” suara lembut
menyadarkanku dari lamunan. Nampak Lisa mengintip dari balik pintu ruanganku.
Dia bergerak masuk setelah sebelumnya menoleh kanan dan kiri seolah takut
ketahuan. Aku tertawa melihat tingkahnya. Karyawan mas Rivan ini memang lucu.
Tadi pagi, dia yang pertama kali memperkenalkan diri tanpa sungkan padaku.
“Kenapa tingkahmu seperti itu?” Lisa
tak menjawab malah duduk di kursi di hadapanku.
“Mbak Dena ingin tahu alamat rumah
direktur?” aku terkesiap. Pertanyaan yang tak kuduga meluncur dari mulutnya
yang mungil.
Aku mengangguk cepat. Lisa mengulurkan
lipatan kertas.
“Ini alamatnya. Aku mencatat dari
komputer ketika mbak Mieske sedang ke kantin. Aku tahu dia berbohong pada mbak
Dena padahal data direktur lengkap kok dalam komputer.”
Aku meraih lipatan kertas itu dan
buru-buru membukanya. Kubaca alamat perumahan yang tak asing lagi bagiku.
Sepertinya aku pernah mendengar nama perumahan ini, entah kapan yang pasti aku
merasa pernah mendatangi tempat itu.
Aku mengucapkan terima kasih pada Lisa
karena telah membantuku. Gadis itu juga rupanya senang membantuku. Berada
di kantor yang baru dan masih asing,
rasanya perhatian Lisa membuatku terhibur. Aku merasa mulai betah bekerja di
kantor mas Rivan.
“Maaf mbak, kalo boleh tahu.
Sebenarnya untuk apa alamat itu mbak?”
“O, itu. Aku hanya ingin jalan-jalan
kerumahnya...” jawabku. Lisa nampak tak puas dengan jawabanku.
“Begitu, ya... sebenarnya di kantor
ini banyak yang penasaran dengan direktur, mbak. Orangnya ganteng, direktur,
hidupnya mapan. Benar-benar lelaki idaman. Cuma....”
“Cuma apa?”
“Sikapnya sangat dingin...” jawab Lisa
sambil berbisik. Aku makin penasaran.
“Semua hal tentangnya, aku tahu.
Kecuali apa dia sudah menikah atau belum...”
“Menurutmu, apa dia sudah menikah?”
" Entahlah..." Lisa menggeleng seraya mengangkat kedua bahunya.
Hingga sore hari aku tak melihat sosok
mas Rivan. Lelaki itu juga tak menelpon atau mengirim sms menanyakan keadaanku.
Apakah dia sangat sibuk hingga lupa jika
hari ini aku mulai menempati ruangan dikantornya? Berkali-kali aku mengintip ke
bawah. Melihat ke arah pintu gerbang, berharap mobil yang biasa dia tumpangi
muncul. Meski tak sepenuhnya mengharapkan mas Rivan dalam hatiku, aku merasa
sedih ketika kehadiranku tidak dia pedulikan.
Malah Farhan yang mengirim sms,
menanyakan perasaanku bekerja satu kantor dengan mas Rivan. Pemuda itu tetap
saja tidak bisa menutupi rasa cemburu dalam hatinya. Dia terus mengingatkan
jika dia adalah pacarku. Pertama kali aku masih membalas smsnya namun lama
kelamaan aku merasa pesan itu seperti gangguan bagiku. Hingga dia menelpon aku
sengaja tak menerimanya. Membaca pesan-pesannya saja nyaris membuatku naik
darah apalagi harus berbicara dengannya. Aku tidak ingin bertengkar dengannya
saat ini.
***
Taksi yang kutumpangi meluncur cepat
menuju alamat yang aku tuju. Alamat mas Rivan yang tertera di kertas lembaran
yang diberikan Lisa padaku. Aku terus membacanya karena khawatir salah jalan.
Rupanya pak sopir telah tahu alamat perumahan tersebut hingga dia bisa mencari
jalan pintas yang lebih dekat. Hari mulai beranjak sore dan warna keemasan
mulai terbit di ufuk barat ketika kami tiba di pintu gerbang. Mataku menatap
kaget saat melihat gerbang tersebut. Bukankah ini perumahan tempat mas Kembara
tinggal? Kenapa bisa ada kebetulan seperti ini?
Perlahan-lahan taksi memasuki
perumahan. Pak sopir mencari nomor rumah yang sesuai dengan petunjukku. Aku
coba mengingat letak rumah mas Kembara saat mendatangi tempat ini beberapa
waktu yang lalu tapi aku lupa dimana tepatnya. Mungkin karena saat mendatangi
tempat ini, kami tiba malam hari hingga suasana sekitar tidak terlalu jelas
bagiku.
“Ini rumahnya, pak.” Kataku saat
melihat nomor rumah yang sesuai.
Pak sopir menghentikan kendaraannya
tepat di depan rumah tersebut.
“Iya, mbak. Ini rumahnya. Nomornya
udah cocok.” Ucapnya.
Aku kemudian turun lalu membayar
ongkos taksi. Sambil menunggu kembalian dari sopir aku memperhatikan rumah mas
Rivan. Ciri khas rumah-rumah di perumahan ini adalah mereka tidak membangun
pagar yang menjadi batas antara rumah. Begitu juga yang aku lihat di rumah mas
Kembara. Serupa dengan bangunan kantor mas Rivan, rumahnya juga di cat dengan
warna cerah yang lembut hingga mata terasa sejuk melihatnya.
Setelah taksi berlalu aku kemudian
melangkah menuju rumah mas Rivan. Sepertinya mas Rivan belum kembali pulang
dari kantor. Rumahnya terlihat sangat sepi. Kutekan bel beberapa kali. Agak
lama menunggu sebelum terdengar suara-suara yang saling bersahutan dari dalam.
Seseorang mengintip dari balik jendela, lalu tidak lama pintu terbuka perlahan.
Seorang gadis berambut panjang
menatapku dengan senyumnya yang sangat manis. Melihat dari sikapnya, mungkin
saja gadis ini saudara dari mas Rivan, tebakku dalam hati.
“Mbak cari siapa, ya?” tanyanya tanpa
menghilangkan senyum dari wajahnya.
“Apa benar disini rumah mas Rivan?”
“Iya, benar tapi Bapak belum pulang.
Biasanya jam sepuluh atau sebelas baru kembali ke rumah. Ngomong-ngomong mbak
siapa ya?”
“Saya
rekanan kerja mas Rivan.” Aku menjawab sambil berusaha melihat ke dalam
rumah. Mungkin saja ada seseorang yang bisa aku temui.
“Siapa tamunya, Karmila..” terdengar
suara seorang wanita dari dalam rumah. Gadis itu menoleh ke samping.
“Teman kerja bapak, bu.” Jawab gadis
itu. Aku menebak kemungkinan suara wanita yang kudengar adalah ibu mas Rivan.
Lalu terdengar suara berderit. Makin
lama makin jelas menghampiri kami. Gadis itu mundur hingga aku bisa melihat
dengan jelas suara derit tersebut berasal dari kursi
roda. Pandanganku menyusuri roda, perlahan terus naik hingga wajah yang duduk
di atas kursi roda. Aku terperanjat kaget. Mataku melotot tak percaya demikian
pula dengan sosok di depanku. Kurasa kami berdua sama-sama terkejut.
“Dena!?!”
“Mbak Tiara!?”
0 komentar:
Posting Komentar