Minggu, 10 November 2013

Impian Dena #26

0




El Cuento by Elena Dudina


Tiba di rumah, aku bergegas mencari mbak Mia. Kakak iparku itu ternyata sedang sibuk merapikan peralatan pesta setelah acara lamaran kemarin. Mbak Mia nampak sibuk mengarahkan pembantunya dalam meletakkan barang-barang. Aku terus memperhatikan hingga mbak Mia sadar keberadaanku.

“Udah pulang, Dena?” tegurnya.

“Mbak Mia, ada yang ingin Dena sampaikan.” Kataku sambil sambil mendekatinya.

“Ada kabar apa? Soal mas Rivan? Kamu tahu Dena, mas mu seneng banget begitu tahu mas Rivan memberikan hadiah baju pesta untukmu.” Aku mendadak terdiam.

“Kata mas mu, jika benar kalian berjodoh. Dia yang paling bahagia. Kamu tahu kenapa? Karena mas mu menilai, mas Rivan itu lelaki yang bertanggung jawab. Tidak ada kesan sombong meski dia telah berhasil menjalankan perusahaannya.”

Kata-kata yang telah aku siapkan serasa tertelan kembali ke dalam tenggorokanku. Aku hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan mbak Mia.

“Mbak Mia sendiri bagaimana?” tanyaku setelah menetralisir keterkejutanku.

“Kalau mbak terserah mas mu. Mbak percaya penilaian mas Damar tidak pernah salah. Dia selalu bisa menilai seseorang meski baru bertemu. Karena itu ketika pertama kali bertemu mas Rivan, ada keinginan dalam hati mas mu untuk menjadikannya bagian keluarga kita.”

Aku makin tenggelam dalam lautan keraguan. Niatku untuk menyampaikan perihal baju itu akhirnya menguap. Binar kegembiraan yang terpancar dari kedua mata mbak Mia telah menyiratkan hal yang berlawanan dengan hatiku. Jika aku memberitahu soal baju yang ternyata bukan mas Rivan yang mengirim, pasti kakak iparku itu akan kecewa.

“Mbak, kapan mas Rivan menanyakan ukuran bajuku?” tanyaku hati-hati. Kali ini aku merubah rencanaku. Aku ingin menyelidiki tanpa sepengetahuan mbak Mia dan mas Damar.

“Tanggal pastinya mbak lupa, Dena. Hanya waktu itu mas Rivan mengirim sms menanyakan pada mbak.”

Aku tertegun mendengar jawaban mbak Mia. Mas Rivan mengirim pesan sms? Bukankah itu bukti yang nyata jika mas Rivan benar-benar telah menanyakan langsung pada mbak Mia. Tapi karena mas Rivan tidak mengakui lalu siapa yang nekad telah menggunakan handphone miliknya? Lagipula apa keuntungan yang akan di dapat mas Rivan jika berbohong? Justru hal itu akan menambah nilai poin dia di mata keluargaku. Seandainya bukan, seharusnya mas Rivan bisa mengakui seolah-olah dia yang telah melakukannya demi menjaga citranya didepanku. Seharusnya dia senang ada yang membantu melancarkan jalannya mendekatiku. Tapi ini justru sebaliknya.

“Mbak Mia tahu alamat rumah mas Rivan?”

Mbak Mia menggeleng.

“Tidak Dena, kemungkinan mas Damar yang tahu karena mereka rekanan bisnis. Coba saja tanyakan padanya.”

Aku melangkah masuk ke dalam kamar dengan beribu pertanyaan dalam kepalaku. Hingga masuk ke kamar mandi aku terus memikirkan teka-teki pengirim baju itu. Siapa gerangan dia yang dengan mudahnya menggunakan handphone milik mas Rivan. Aku benar-benar penasaran. Menurutku selain mas Rivan, aku tak mengenal satupun dari keluarganya. Jangankan kerabat, karyawannya saja aku tidak tahu. Jadi jika ada yang berinisiatif mengirim baju itu pastilah orang itu telah mengenalku dan ada niat untuk menyatukan aku dengan mas Rivan. Tapi siapa????

Malam kurasakan berlalu sangat lambat. Aku tak bernafsu untuk makan dan memilih untuk berdiam dalam kamar. Sesekali aku keluar ke teras kamar sambil menghirup dalam-dalam udara malam hingga kurasakan rongga dadaku sedikit lega. Aku membutuhkan udara segar malam ini untuk menetralisir kegundahan hati. Mencairkan rasa penasaran yang kini semakin menggunung.

Siapa dia? Siapa dia? Pertanyaan ini terus mengalun dalam benakku dan sulit untuk kulepaskan. Sepertinya masalah baju ini tidak bisa aku diamkan begitu saja. Aku harus tuntas mengusutnya. Sambil menatap langit yang kali ini penuh bintang, aku mengucap janji pada malam. Entah mengapa jantungku berdegup kencang ketika sekelebat melintas nama dalam pikiranku. Cepat-cepat kubuang jauh-jauh nama itu dalam pikiranku. Itu tidak mungkin. Mustahil jika dia ikut campur dalam perjodohanku dengan mas Rivan.

Akhirnya aku tertidur karena lelah berpikir.

****

Keesokan harinya aku  sengaja menunggu mas Damar di depan ruang kerjanya.

“Ada apa, Dena? Apa ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan?” sambutnya sambil menutup pintu. Kakakku tengah bersiap menuju kantornya.

“Ini mas, apa mas tahu alamat rumah mas Rivan?” Mas Damar tersenyum mendengar pertanyaanku. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.

“Pertanyaan ini seharusnya kamu tanyakan pada mas Rivan. Mas juga nggak tahu alamat rumahnya. Kami ketemu itu kebanyakan di kantor atau di restoran ketika mengadakan meeting. Itu saja.”

Aku mengeluh dalam hati. Tidak ada jalan lain bagiku selain bertanya langsung pada staf mas Rivan. Sepertinya aku harus bersabar hingga esok hari ketika masuk kerja dan resmi mewakili perusahaan kakakku.

***

“Alamat bos?” sekretaris mas Rivan malah bertanya balik. Aku mengangguk cepat.

“Maaf, mbak. Selama ini alamat pengiriman apapun hanya melalui kantor tidak pernah mencantumkan alamat rumah pak direkturr.”

“Masak sih tidak ada alamat rumahnya? Misalnya mbak ada keperluan mendadak bertemu dengan bos, apa mbak tidak kerumahnya?”

“Biasanya bapak yang langsung menyebutkan nama lokasi pertemuan tanpa pernah menyebutkan alamat rumahnya.”

“Apa beliau sama sekali tidak pernah membuat acara yang mengharuskan kalian mendatangi rumahnya?” Si sekretaris kembali mengangguk membuatku putus asa.

“Benar-benar tidak ada alamat sama sekali yang tersimpan dalam dokumen atau file komputer?”

Sekretaris itu nampak diam berpikir.

“Begini saja, mbak bisa menanyakan pada sopir bapak, namanya pak Surahman. Mungkin saja dia tahu karena beliau yang mengantar pak direktur kemana-mana..”

Aku bergegas mencari sopir yang di maksud, namun satpam mengatakan pak Surahman baru saja meninggalkan kantor bersama mas Rivan. Aku hanya bisa terpaku di depan kantor. Sepertinya aku harus bersabar mengembalikan baju itu.

Saat hendak masuk kembali ke dalam kantor, kulihat seseorang yang mirip mas Kembara. Aku mengikutinya. Benar mas Kembara. Tapi ada urusan apa mas Kembara datang ke kantor mas Rivan?

Langkahnya terus menuju ruangan mas Rivan, aku batal mengikuti hanya berdiri di depan lift. Mas Rivan berhenti di depan sekretaris. Entah apa mereka yang bicarakan yang jelas wajah mas Rivan bersemu merah menahan amarah saat berbalik menuju lift. Aku segera bersembunyi tapi sedetik kemudian aku menyadari ketololanku. Untuk apa aku bersembunyi? Aku tertawa sendiri.

Saat keluar dari persembunyian, mas Kembara sudah tidak ada lagi. Aku penasaran dan mendatangi sekretaris mas Rivan. Sepertinya kedatanganku tidak diharapkan olehnya. Gadis cantik itu memasang wajah tak senang saat melihatku.

“Mau bertanya alamat lagi, tidak ada alamat pak direktur mbak..” suaranya terdengar ketus.

“Bukan itu, mbak. Bapak yang tadi ada urusan apa ya? Apa mencari pak direktur juga?”

Kali ini sekretaris itu berdiri sambil memasang wajah jutek. Astaga ternyata wajahnya bisa jelek juga jika sedang marah.

“Begini mbak, ya. Urusan mbak adalah bekerja mewakili perusahaan mbak di kantor ini dengan baik tanpa harus mencari tahu hal-hal pribadi atau pekerjaan yang berkaitan dengan bos kami. Mbak itu perwakilan perusahaan lain, tidak etis bertanya hal yang tidak ada kaitannya dengan  pekerjaan.” Jelasnya panjang lebar dengan sikap ketus. Dia kembali duduk sambil memeriksa berkas-berkas di depannya.

Aku terpaku di depannya. Apakah yang aku lakukan telah melewati batas hingga menerima perlakuan seperti ini? aku berjalan menuju lift dengan perasaan tak nyaman. Mungkin benar rasa ingin tahu membuat diriku sedikit tidak terkontrol. Aku lupa aturan-aturan yang ada di dalam perusahaan ini, apalagi aku bukan karyawan. Wajar jika sekretaris itu kesal melihat tingkahku. Aku akhirnya kembali ke ruanganku.

Sepanjang siang aku tak tenang. Hari pertama bekerja, aku malah belum bertemu dengan mas Rivan. Sikap lelaki itu kurasakan sangat berbeda. Ketika bertemu dengannya kemarin, aku mulai merasakan hal itu. Sikapnya meski ramah namun terkesan dingin. Berbeda sekali yang aku rasakan ketika acara lamaran Viola. Saat itu aku yakin jika mas Rivan benar-benar menyukaiku. Tapi pertemuan kami kemarin kembali mengkandaskan pikiranku. Aku kembali ke titik awal dari rasaku. Rasa yang  hadir sejak kembali bertemu dengannya. Seolah ada tembok yang membatasi gerak mas Rivan. Itu terpancar dari sikapnya. Aneh. Apakah mungkiin dia memiliki dua kepribadian?

“Mbak Dena..” suara lembut menyadarkanku dari lamunan. Nampak Lisa mengintip dari balik pintu ruanganku. Dia bergerak masuk setelah sebelumnya menoleh kanan dan kiri seolah takut ketahuan. Aku tertawa melihat tingkahnya. Karyawan mas Rivan ini memang lucu. Tadi pagi, dia yang pertama kali memperkenalkan diri tanpa sungkan padaku.

“Kenapa tingkahmu seperti itu?” Lisa tak menjawab malah duduk di kursi di hadapanku.

“Mbak Dena ingin tahu alamat rumah direktur?” aku terkesiap. Pertanyaan yang tak kuduga meluncur dari mulutnya yang mungil.

Aku mengangguk cepat. Lisa mengulurkan lipatan kertas.

“Ini alamatnya. Aku mencatat dari komputer ketika mbak Mieske sedang ke kantin. Aku tahu dia berbohong pada mbak Dena padahal data direktur lengkap kok dalam komputer.”

Aku meraih lipatan kertas itu dan buru-buru membukanya. Kubaca alamat perumahan yang tak asing lagi bagiku. Sepertinya aku pernah mendengar nama perumahan ini, entah kapan yang pasti aku merasa pernah mendatangi tempat itu.

Aku mengucapkan terima kasih pada Lisa karena telah membantuku. Gadis itu juga rupanya senang membantuku. Berada di  kantor yang baru dan masih asing, rasanya perhatian Lisa membuatku terhibur. Aku merasa mulai betah bekerja di kantor mas Rivan.

“Maaf mbak, kalo boleh tahu. Sebenarnya untuk apa alamat itu mbak?”

“O, itu. Aku hanya ingin jalan-jalan kerumahnya...” jawabku. Lisa nampak tak puas dengan jawabanku.

“Begitu, ya... sebenarnya di kantor ini banyak yang penasaran dengan direktur, mbak. Orangnya ganteng, direktur, hidupnya mapan. Benar-benar lelaki idaman. Cuma....”

“Cuma apa?”

“Sikapnya sangat dingin...” jawab Lisa sambil berbisik. Aku makin penasaran.

“Semua hal tentangnya, aku tahu. Kecuali apa dia sudah menikah atau belum...”

“Menurutmu, apa dia sudah menikah?” 

 " Entahlah..." Lisa menggeleng seraya mengangkat kedua bahunya.

Hingga sore hari aku tak melihat sosok mas Rivan. Lelaki itu juga tak menelpon atau mengirim sms menanyakan keadaanku. Apakah dia  sangat sibuk hingga lupa jika hari ini aku mulai menempati ruangan dikantornya? Berkali-kali aku mengintip ke bawah. Melihat ke arah pintu gerbang, berharap mobil yang biasa dia tumpangi muncul. Meski tak sepenuhnya mengharapkan mas Rivan dalam hatiku, aku merasa sedih ketika kehadiranku tidak dia pedulikan.

Malah Farhan yang mengirim sms, menanyakan perasaanku bekerja satu kantor dengan mas Rivan. Pemuda itu tetap saja tidak bisa menutupi rasa cemburu dalam hatinya. Dia terus mengingatkan jika dia adalah pacarku. Pertama kali aku masih membalas smsnya namun lama kelamaan aku merasa pesan itu seperti gangguan bagiku. Hingga dia menelpon aku sengaja tak menerimanya. Membaca pesan-pesannya saja nyaris membuatku naik darah apalagi harus berbicara dengannya. Aku tidak ingin bertengkar dengannya saat ini.

***

Taksi yang kutumpangi meluncur cepat menuju alamat yang aku tuju. Alamat mas Rivan yang tertera di kertas lembaran yang diberikan Lisa padaku. Aku terus membacanya karena khawatir salah jalan. Rupanya pak sopir telah tahu alamat perumahan tersebut hingga dia bisa mencari jalan pintas yang lebih dekat. Hari mulai beranjak sore dan warna keemasan mulai terbit di ufuk barat ketika kami tiba di pintu gerbang. Mataku menatap kaget saat melihat gerbang tersebut. Bukankah ini perumahan tempat mas Kembara tinggal? Kenapa bisa ada kebetulan seperti ini?

Perlahan-lahan taksi memasuki perumahan. Pak sopir mencari nomor rumah yang sesuai dengan petunjukku. Aku coba mengingat letak rumah mas Kembara saat mendatangi tempat ini beberapa waktu yang lalu tapi aku lupa dimana tepatnya. Mungkin karena saat mendatangi tempat ini, kami tiba malam hari hingga suasana sekitar tidak terlalu jelas bagiku.

“Ini rumahnya, pak.” Kataku saat melihat nomor rumah yang sesuai.

Pak sopir menghentikan kendaraannya tepat di depan rumah tersebut.

“Iya, mbak. Ini rumahnya. Nomornya udah cocok.” Ucapnya.

Aku kemudian turun lalu membayar ongkos taksi. Sambil menunggu kembalian dari sopir aku memperhatikan rumah mas Rivan. Ciri khas rumah-rumah di perumahan ini adalah mereka tidak membangun pagar yang menjadi batas antara rumah. Begitu juga yang aku lihat di rumah mas Kembara. Serupa dengan bangunan kantor mas Rivan, rumahnya juga di cat dengan warna cerah yang lembut hingga mata terasa sejuk melihatnya.

Setelah taksi berlalu aku kemudian melangkah menuju rumah mas Rivan. Sepertinya mas Rivan belum kembali pulang dari kantor. Rumahnya terlihat sangat sepi. Kutekan bel beberapa kali. Agak lama menunggu sebelum terdengar suara-suara yang saling bersahutan dari dalam. Seseorang mengintip dari balik jendela, lalu tidak lama pintu terbuka perlahan.

Seorang gadis berambut panjang menatapku dengan senyumnya yang sangat manis. Melihat dari sikapnya, mungkin saja gadis ini saudara dari mas Rivan, tebakku dalam hati.

“Mbak cari siapa, ya?” tanyanya tanpa menghilangkan senyum dari wajahnya.

“Apa benar disini rumah mas Rivan?”

“Iya, benar tapi Bapak belum pulang. Biasanya jam sepuluh atau sebelas baru kembali ke rumah. Ngomong-ngomong mbak siapa ya?”

“Saya  rekanan kerja mas Rivan.” Aku menjawab sambil berusaha melihat ke dalam rumah. Mungkin saja ada seseorang yang bisa aku temui.

“Siapa tamunya, Karmila..” terdengar suara seorang wanita dari dalam rumah. Gadis itu menoleh ke samping.

“Teman kerja bapak, bu.” Jawab gadis itu. Aku menebak kemungkinan suara wanita yang kudengar adalah ibu mas Rivan.

Lalu terdengar suara berderit. Makin lama makin jelas menghampiri kami. Gadis itu mundur hingga aku bisa melihat dengan jelas suara derit tersebut berasal dari kursi roda. Pandanganku menyusuri roda, perlahan terus naik hingga wajah yang duduk di atas kursi roda. Aku terperanjat kaget. Mataku melotot tak percaya demikian pula dengan sosok di depanku. Kurasa kami berdua sama-sama terkejut.

“Dena!?!”

“Mbak Tiara!?”

 

( Bersambung ) 

Part   2  3   5  6   8  9  10  11  12  13  14  15  16  17  18  19  20

21  22  23  24  25  




 




0 komentar:

Posting Komentar