Selasa, 05 November 2013

[ ECR ] Ilalang Dalam Bayang Senja

0

 

"Mama merasa sedih melihat kehidupan kalian tanpa Abi." Ucap mama Enggar saat Asih menemaninya pulang ke rumah setelah usai siaran.


"Mama jangan sedih, kami baik-baik saja. Meski mas Abi tak bersama kami, mas Abi tetap suami dan ayah anak-anakku,ma."


Mama Enggar tak kuasa menahan haru. Sebagai single parent ia tahu beban yang kini disandang menantunya itu. Menjadi ayah sekaligus ibu pernah ia jalani dan itu dirasakannya sangat berat.


"Seharusnya sebagai anakku, Abi yang harus menjaga dan merawat mama, bukan dirimu Jeng. Apalagi Abi meninggalkanmu dengan dua putri yang masih butuh kehadiran seorang ayah. Mama bener-bener merasa bersalah dan minta maaf atas sikap anak mama padamu."


Asih menyentuh punggung tangan mertuanya lalu mengusapnya lembut. 


"Ma, mama sudah nanda anggap mama kandung. Jadi mama jangan sungkan apalagi merasa bersalah. Sudah kewajiban nanda sebagai menantu untuk menjaga dan merawat mama."


Mama Enggar terenyuh mendengar ucapan menantunya. Beberapa saat dia terdiam, lalu..


"Jika Jeng ingin bercerai dari Abi, mama pasrah."


"Masya Allah. Ma, jangan ucapkan kata-kata itu. Tidak pernah terbesit sedikitpun dalam hati nanda untuk bercerai dari mas Abi."


"Tapi dia telah pergi bertahun-tahun, Jeng. Tanpa kabar apalagi nafkah untuk kehidupan kalian. Mama tidak akan menyalahkanmu jika ingin bercerai dan menikah lagi."
Asih menggeleng cepat.


"Tidak ma, nanda mencintai dan selamanya akan mencintai mas Abi. Nanda akan setia menjadi istrinya meski apapun yang terjadi kecuali..."
Ucapan Asih terhenti. Ia menghela nafas, mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan kata-kata.


"'Kecuali apa,Jeng?" Raut wajah mama Enggar terlihat cemas. 


"Kecuali mas Abi sendiri yang menceraikan nanda, ma. Andai itu terjadi, semoga saja tidak. Nanda akan menerima apapun keputusan mas Abi."


***


Langit mulai beranjak gelap ketika Asih bergegas keluar dari rumah mertuanya. Saat menutup pintu pagar, ia menatap sejenak rumah mertuanya itu sebelum berbalik lalu melangkah pergi. Helaan nafas berat sebanding dengan wajahnya yang muram. Lalu dengan langkah gontai ia menjauh tak melihat gorden ruang tamu rumah mertuanya tersingkap.

 

Nampak mama Enggar tengah memandangnya dengan air mata berlinang. Diusapnya airmata dengan jemarinya yang tampak memucat. Tubuhnya mendadak menggigil namun ditahannya demi melihat menantunya. Setelah Asih tak lagi nampak dalam pandangan, Ia lalu masuk ke dalam kamar, menarik selimut menutupi tubuhnya lalu memejamkan mata yang basah karena air mata.


Sementara Asih terus terngiang ucapan mertuanya. Sesekali ia menggelengkan kepala seolah menolak sesuatu yang hadir dalam pikirannya.


( Silahkan di lanjutkan )


 

0 komentar:

Posting Komentar