Gambar : Tideart Showcase Elena Dudina
Pagi ini aroma kopi terasa hambar,
rasanya pun tak seperti biasanya. Aku bukan penikmat kopi tapi saat-saat
tertentu terkadang aku ingin menikmati secangkir kopi hangat sekedar untuk
meredam rasa gundah dalam hatiku.
Kuletakkan kembali cangkir kopi di depanku
lalu meraih handphone yang sejak tadi berbunyi nada panggil dan pesan tapi
batal ku buka. Sengaja kubiarkan, pagi ini aku agak malas mendengar kabar
apapun bahkan meski itu membahagiakan.
“Kenapa tidak di angkat, mbak?” tegur
Jamil, pembantu di rumahku ketika handphone berdering lagi. Dia sedang asyik
memangkas tanaman. Mungkin terasa aneh baginya melihatku mengacuhkan handphone.
Sikap yang tidak biasa. Aku dan benda kecil itu telah menjadi satu kesatuan.
Job-job pekerjaanku berasal dari panggilan handphone.
Aku hanya tersenyum membalas
ucapannya. Kusandarkan tubuhku pada kursi sambil memandang Jamil yang sibuk
dengan kegiatannya. Pemuda itu telah tiga tahun bekerja sebagai pembantu di
rumahku. Selain rajin, dia juga jujur dan sangat baik hingga aku tetap
mempertahankannya untuk menemani bu Maryam, salah seorang pembantuku juga.
“Mau sarapan apa, mbak?” tegur bu
Maryam yang tiba-tiba muncul. Aku menoleh.
“Nasi goreng aja, bu Maryam. Eh, iya, sekalian
tolong buatin kopi susu.”
Sepeninggal bu Maryam, aku kembali
termangu. Merenung tapi kali ini tak melihat Jamil. Kupandangi jalan raya yang
sepi. Entah sepi karena terbawa
perasaanku ataukah memang para pemilik kendaraan tak ada yang berniat melewati
jalan itu. Aku menarik nafas panjang. Perasaanku tak juga kunjung tenang.
Handphoneku berdering lagi. Kali ini
aku menerimanya. Kepala Jamil yang mendongak menyadarkanku akan tegurannya
tadi.
“Halo....” sambutku acuh. Tak ada
suara dari seberang.
“Masih marah?”suara lembut dari pria
yang sudah dua tahun ini menjadi kekasihku.
“Ehmm..”
“Aku minta maaf..”
“Kenapa harus minta maaf? Toh bukan
kamu yang bersalah?” kataku sinis.
“Luna, tolong jangan seperti ini.”
Aku memejamkan mata berusaha menahan
bulir bening dari mataku.
“Lalu aku harus seperti apa? Apa aku
harus ke rumahmu, memohon pada ibumu? Siapa aku, Hend? Aku bukan
siapa-siapa...”
Ku tutup telpon lalu menekan tombol
off. Hari ini aku tidak ingin menerima telpon dari siapapun. Termasuk seorang
Hendra. Antara sedih dan emosi yang memuncak kurasakan aliran darah dalam
tubuhku seluruhnya menyatu di kepala.
Tak sadar tanganku terulur meraih
segelas kopi di depanku. Ku teguk hingga tandas. Pelarianku ternyata pada
secangkir kopi ini. Aku tak lagi peduli pada rasanya yang membuatku batal
meminumnya tadi.
Hendra, lelaki itu membuat kesabaranku
lenyap. Bertemu dan marah padanya hanya membuang energi saja. Dua tahun menjadi
kekasihnya, baru seminggu yang lalu aku tahu ternyata setahun yang lalu dia
telah bertunangan!
Lalu apa artinya hubungan kami selama
ini? kunjunganku ke rumahnya? Keluarganya bahkan tak tahu kalau aku ini
kekasihnya. Dalam pandangan keluarganya, aku ini adalah rekanan bisnis Hendra,
sering terlibat dalam proyek yang sama hingga akhirnya kami bersahabat.
Sahabat? Kata ini yang membuatku
marah. Ingin rasanya aku berteriak mengatakan kalau aku ini kekasihnya. Tapi
percuma, tunangannya itu adalah sepupunya dan bahkan selama ini tinggal serumah
dengannya. Yang membuatku makin terluka bila teringat, aku sering kali
bercengkrama dengan tunangannya itu tiap kali berkunjung ke rumah Hendra.
“Mbak, ini nasi goreng sama kopi
susu..” Bu Maryam berdiri di sampingku.
Aku meraih nampan yang disodorkan bu
Maryam.
“Makasih, bu Maryam..” kataku lalu
meletakkan nampan berisi nasi goreng dan segelas kopi susu itu di atas meja di
depanku.
Wanita paruh baya itu kemudian masuk
ke dalam rumah. Aroma nasi goreng ternyata tak mengundang seleraku untuk segera
mencicipi. Begitu juga dengan kopi susu yang sejak tadi ingin ku minum. Aku
hanya memandang tanpa menyentuh sedikitpun. Pikiranku tetap di penuhi Hendra.
Apa yang harus aku lakukan pada pria ini? Aku makin suntuk.
Kualihkan pandanganku mengitari
sekitar rumah. Kususuri taman, bunga-bunga hasil kreasi Jamil makin indah di
pandang. Pepohonan yang berderet rapi di samping dan depan rumahku, hijaunya
menyejukkan mata. Lalu lalang kendaraan yang mulai padat bahkan langit yang
cerah seperti intermezzo, membuat jeda pikiranku dari sosok Hendra.
Mendadak mataku terpaku di arah jam
sembilan dari posisiku. Tepat di pintu gerbang, Hendra berjalan sambil
menatapku dari kejauhan. Aku berpaling, kaget dengan kehadirannya. Degup
jantungku berpacu cepat. Apalagi saat terdengar suara lembutnya menyapa Jamil. Hatiku
berdesir. Rindu ini ternyata masih miliknya.
Namun aku tetap diam tak tertarik
untuk melihatnya. Sudut mataku samar-samar menangkap bayangan tubuhnya makin
mendekatiku. Aku tetap tak bergeming. Pandanganku hanya lurus menatap ke depan.
Detak sepatu yang menjejak lantai teras kian menggetarkan hatiku. Jantungku
kuatlah bertahan, jangan biarkan pemilikmu ini menjadi permainan lelaki ini.
“Wah, ada nasi goreng ternyata, eh,
ada kopi susu juga. Mantap nih, kok kamu bisa tahu sih sayang, kalo keduanya
adalah favoritku.”
Hendra mengambil piring berisi nasi
goreng lalu duduk di sampingku. Menyantap nasi goreng itu meski aku menatap
kesal padanya. Dia tersenyum sambil mengunyah makanan.
“Pacar datang, kok wajahmu masih
seperti pegawai belum terima gaji sih, sayang? Senyum dong, gembira..”
Aku makin kesal. Pria ini ternyata
tidak punya perasaan!
Aku beranjak berdiri namun tangan
Hendra menahanku.
“Kamu siap-siap aja. Ibu ingin ketemu
denganmu. Aku sudah ceritakan semuanya. Meski awalnya ibu marah tapi ibu
akhirnya bisa menerima. Aku tidak ingin kamu menganggapku lelaki tidak
bertanggung jawab.”
Aku terhenyak. Pelan-pelan aku menoleh
melihat Hendra. Lelaki itu meletakkan piring di atas meja lalu berdiri.
Menggenggam erat jemariku sambil menatap lekat wajahku. Mata kami saling
bertatapan. Aku mencari kesungguhan dari kedalaman matanya. Wajahnya serius tak
ada senyum canda seperti tadi.
“Sekarang kamu jangan marah lagi ya,
sayang. Aku tidak pernah berniat mempermainkanmu. Sejak awal, aku ingin kita
menikah. Masalah yang ada sebenarnya ingin aku selesaikan diam-diam, ternyata kamu
keburu tahu. Akhirnya jadi seperti ini.”
“Kamu nggak bercanda, kan?” aku masih
ragu. Hendra menggeleng.
“Cepatlah. Ibu menunggu di rumah.”
Aku terharu sekaligus gembira. Kupeluk
Hendra dengan mataku yang nyaris menangis. Lelaki itu membalas pelukanku.
Sesaat kami larut dalam kebahagiaan. Kami bahkan tak peduli pada Jamil yang
entah sejak kapan menghilang. Saat melepaskan pelukan Hendra, kucari, pemuda
itu tak ada lagi di taman.
Aku tersenyum bahagia. Serasa terbang
saat aku berlari masuk ke dalam rumah. Hari ini ingin kukenakan gaun terindah
milikku. Menghadap calon mertua, penampilanku harus sempurna. Terima kasih ya
Allah atas karuniamu.
*****
*****


0 komentar:
Posting Komentar