Rabu, 10 Juli 2013

Ternyata Cinta Itu Masih Milikku

0



Gambar : Tideart Showcase Elena Dudina

Pagi ini aroma kopi terasa hambar, rasanya pun tak seperti biasanya. Aku bukan penikmat kopi tapi saat-saat tertentu terkadang aku ingin menikmati secangkir kopi hangat sekedar untuk meredam rasa gundah dalam hatiku.

Kuletakkan kembali cangkir kopi di depanku lalu meraih handphone yang sejak tadi berbunyi nada panggil dan pesan tapi batal ku buka. Sengaja kubiarkan, pagi ini aku agak malas mendengar kabar apapun bahkan meski itu membahagiakan.

“Kenapa tidak di angkat, mbak?” tegur Jamil, pembantu di rumahku ketika handphone berdering lagi. Dia sedang asyik memangkas tanaman. Mungkin terasa aneh baginya melihatku mengacuhkan handphone. Sikap yang tidak biasa. Aku dan benda kecil itu telah menjadi satu kesatuan. Job-job pekerjaanku berasal dari panggilan handphone.

Aku hanya tersenyum membalas ucapannya. Kusandarkan tubuhku pada kursi sambil memandang Jamil yang sibuk dengan kegiatannya. Pemuda itu telah tiga tahun bekerja sebagai pembantu di rumahku. Selain rajin, dia juga jujur dan sangat baik hingga aku tetap mempertahankannya untuk menemani bu Maryam, salah seorang pembantuku juga.

“Mau sarapan apa, mbak?” tegur bu Maryam yang tiba-tiba muncul. Aku menoleh.

“Nasi goreng aja, bu Maryam. Eh, iya, sekalian tolong buatin kopi susu.”

Sepeninggal bu Maryam, aku kembali termangu. Merenung tapi kali ini tak melihat Jamil. Kupandangi jalan raya yang sepi. Entah sepi karena  terbawa perasaanku ataukah memang para pemilik kendaraan tak ada yang berniat melewati jalan itu. Aku menarik nafas panjang. Perasaanku tak juga kunjung tenang.

Handphoneku berdering lagi. Kali ini aku menerimanya. Kepala Jamil yang mendongak menyadarkanku akan tegurannya tadi.

“Halo....” sambutku acuh. Tak ada suara dari seberang.

“Masih marah?”suara lembut dari pria yang sudah dua tahun ini menjadi kekasihku.

“Ehmm..”

“Aku minta maaf..”

“Kenapa harus minta maaf? Toh bukan kamu yang bersalah?” kataku sinis.

“Luna, tolong jangan seperti ini.”

Aku memejamkan mata berusaha menahan bulir bening dari mataku.

“Lalu aku harus seperti apa? Apa aku harus ke rumahmu, memohon pada ibumu? Siapa aku, Hend? Aku bukan siapa-siapa...”

Ku tutup telpon lalu menekan tombol off. Hari ini aku tidak ingin menerima telpon dari siapapun. Termasuk seorang Hendra. Antara sedih dan emosi yang memuncak kurasakan aliran darah dalam tubuhku seluruhnya menyatu di kepala.

Tak sadar tanganku terulur meraih segelas kopi di depanku. Ku teguk hingga tandas. Pelarianku ternyata pada secangkir kopi ini. Aku tak lagi peduli pada rasanya yang membuatku batal meminumnya tadi.

Hendra, lelaki itu membuat kesabaranku lenyap. Bertemu dan marah padanya hanya membuang energi saja. Dua tahun menjadi kekasihnya, baru seminggu yang lalu aku tahu ternyata setahun yang lalu dia telah bertunangan!

Lalu apa artinya hubungan kami selama ini? kunjunganku ke rumahnya? Keluarganya bahkan tak tahu kalau aku ini kekasihnya. Dalam pandangan keluarganya, aku ini adalah rekanan bisnis Hendra, sering terlibat dalam proyek yang sama hingga akhirnya kami bersahabat.

Sahabat? Kata ini yang membuatku marah. Ingin rasanya aku berteriak mengatakan kalau aku ini kekasihnya. Tapi percuma, tunangannya itu adalah sepupunya dan bahkan selama ini tinggal serumah dengannya. Yang membuatku makin terluka bila teringat, aku sering kali bercengkrama dengan tunangannya itu tiap kali berkunjung ke rumah Hendra.

“Mbak, ini nasi goreng sama kopi susu..” Bu Maryam berdiri di sampingku.

Aku meraih nampan yang disodorkan bu Maryam.

“Makasih, bu Maryam..” kataku lalu meletakkan nampan berisi nasi goreng dan segelas kopi susu itu di atas meja di depanku.

Wanita paruh baya itu kemudian masuk ke dalam rumah. Aroma nasi goreng ternyata tak mengundang seleraku untuk segera mencicipi. Begitu juga dengan kopi susu yang sejak tadi ingin ku minum. Aku hanya memandang tanpa menyentuh sedikitpun. Pikiranku tetap di penuhi Hendra. Apa yang harus aku lakukan pada pria ini? Aku makin suntuk.

Kualihkan pandanganku mengitari sekitar rumah. Kususuri taman, bunga-bunga hasil kreasi Jamil makin indah di pandang. Pepohonan yang berderet rapi di samping dan depan rumahku, hijaunya menyejukkan mata. Lalu lalang kendaraan yang mulai padat bahkan langit yang cerah seperti intermezzo, membuat jeda pikiranku dari sosok Hendra.

Mendadak mataku terpaku di arah jam sembilan dari posisiku. Tepat di pintu gerbang, Hendra berjalan sambil menatapku dari kejauhan. Aku berpaling, kaget dengan kehadirannya. Degup jantungku berpacu cepat. Apalagi saat terdengar suara lembutnya menyapa Jamil. Hatiku berdesir. Rindu ini ternyata masih miliknya.

Namun aku tetap diam tak tertarik untuk melihatnya. Sudut mataku samar-samar menangkap bayangan tubuhnya makin mendekatiku. Aku tetap tak bergeming. Pandanganku hanya lurus menatap ke depan. Detak sepatu yang menjejak lantai teras kian menggetarkan hatiku. Jantungku kuatlah bertahan, jangan biarkan pemilikmu ini menjadi permainan lelaki ini.

“Wah, ada nasi goreng ternyata, eh, ada kopi susu juga. Mantap nih, kok kamu bisa tahu sih sayang, kalo keduanya adalah favoritku.”

Hendra mengambil piring berisi nasi goreng lalu duduk di sampingku. Menyantap nasi goreng itu meski aku menatap kesal padanya. Dia tersenyum sambil mengunyah makanan.

“Pacar datang, kok wajahmu masih seperti pegawai belum terima gaji sih, sayang? Senyum dong, gembira..”

Aku makin kesal. Pria ini ternyata tidak punya perasaan!

Aku beranjak berdiri namun tangan Hendra menahanku.

“Kamu siap-siap aja. Ibu ingin ketemu denganmu. Aku sudah ceritakan semuanya. Meski awalnya ibu marah tapi ibu akhirnya bisa menerima. Aku tidak ingin kamu menganggapku lelaki tidak bertanggung jawab.”

Aku terhenyak. Pelan-pelan aku menoleh melihat Hendra. Lelaki itu meletakkan piring di atas meja lalu berdiri. Menggenggam erat jemariku sambil menatap lekat wajahku. Mata kami saling bertatapan. Aku mencari kesungguhan dari kedalaman matanya. Wajahnya serius tak ada senyum canda seperti tadi.

“Sekarang kamu jangan marah lagi ya, sayang. Aku tidak pernah berniat mempermainkanmu. Sejak awal, aku ingin kita menikah. Masalah yang ada sebenarnya ingin aku selesaikan diam-diam, ternyata kamu keburu tahu. Akhirnya jadi seperti ini.”

“Kamu nggak bercanda, kan?” aku masih ragu. Hendra menggeleng.

“Cepatlah. Ibu menunggu di rumah.”

Aku terharu sekaligus gembira. Kupeluk Hendra dengan mataku yang nyaris menangis. Lelaki itu membalas pelukanku. Sesaat kami larut dalam kebahagiaan. Kami bahkan tak peduli pada Jamil yang entah sejak kapan menghilang. Saat melepaskan pelukan Hendra, kucari, pemuda itu tak ada lagi di taman.

Aku tersenyum bahagia. Serasa terbang saat aku berlari masuk ke dalam rumah. Hari ini ingin kukenakan gaun terindah milikku. Menghadap calon mertua, penampilanku harus sempurna. Terima kasih ya Allah atas karuniamu.

***** 




0 komentar:

Posting Komentar