Minggu, 28 Juli 2013

Impian Dena #23

0


El Cuento by Elena Dudina



“Dulu aku pernah patah hati karena mas Rivan, mbak.” Kataku akhirnya. Mbak Mia tercengang menatapku. Bibirnya bergerak seperti hendak berbicara tapi batal. Dia terdiam dengan mimik wajah terkejut.

“Kejadiannya sudah lama, waktu aku sma. Tapi sampai sekarang, sakitnya masih terasa.”

“Apa karena itu kamu bingung menerima lamarannya?”

Aku mengangguk.

“Aku masih ragu, mbak. Meski mas Rivan sudah menjelaskan. Bukan juga karena saat ini aku punya pacar..”

“Oh,ya? Kamu udah punya pacar?kok nggak bilang sama mas mu?”

Mbak Mia memotong ucapanku.

“Punya pacar atau tidak. Keputusanku tidak ada hubungannya dengan statusku, mbak. Ada salah paham yang membuatku ragu antara menerima atau menolak lamaran mas Rivan.”

“Kalian bertengkar?”

“Tidak. Mas Rivan bahkan tak tahu kalau aku menyukainya.”

“Mbak nggak ngerti.”

Aku tersenyum getir.

“Mas Rivan mengira aku mempermainkannya. Tak benar-benar serius menaruh hati padanya. Karena itu dia pergi dengan kemarahan yang baru kemarin aku tahu. Aku sedih, mbak. Sedih sekali...”

Ku hapus air mata yang memenuhi kedua mataku.

“Aku terus berpikir, terus merenungkan pertemuan kami. Penjelasannya padaku. Permintaan maafnya. Aku coba menepis keraguan itu. Tapi tetap saja ada rasa takut jika kelak kami bersama lalu terjadi kesalahpahaman lagi, mas Rivan akan meninggalkanku seperti dulu..”

Mbak Mia menyentuh jemariku.

“Sekarang aku benar-benar bingung, mbak. Aku senang bertemu kembali dengannya apalagi saat aku tahu mas Rivan berniat melamarku tapi aku tak ingin melewati masa-masa yang menyakitkan itu lagi. Bagaimana jika ketakutanku terbukti? Aku pasti akan menyesalinya sepanjang hidupku..”

“Dena, apa kamu masih mencintai Rivan?” tanya mbak Mia dengan lembut.

“Iya, mbak.”

“Coba Dena pikirkan baik-baik. Pertimbangkan dengan perasaan tenang. Antara cinta dan rasa takut jika ditinggalkan lagi, mana yang lebih berat Dena rasakan? Mbak hanya tidak ingin Dena melupakan kebahagiaan jika bersamanya. Hidup bersama seseorang yang kita cintai dan mencintai kita, itu anugerah Dena.”

“Tapi sampai saat ini aku bahkan belum tahu perasaan mas Rivan, mbak. Dia hanya mengatakan menyesal telah meninggalkanku waktu itu. Dia ingin menebus kesalahan dengan melamarku. Tapi soal cinta, aku bahkan belum sempat menanyakannya..”

“Dari sikapnya, apa yang Dena rasakan?”

“Kami baru saja bertemu lagi. Berpisah sekian tahun, butuh waktu untuk menebak sikapnya mbak. Walau berulang kali mas Rivan menyampaikan pada mas Damar bahwa dia ingin menikah denganku.”

“Nah, karena itu sebaiknya kalian lebih sering bersama. Setidaknya untuk memastikan perasaan kalian berdua. Terus menduga-duga tidak akan menyelesaikan masalah, Dena..”

“Apa karena itu mas Damar memintaku mewakili perusahaan dalam kerja sama dengan perusahaan mas Rivan?”

“Mungkin. Mbak juga belum menanyakannya, maklum akhir-akhir ini mbak sibuk mengurus rencana pernikahan Viola. Ehm, pacar kamu gimana? Apa dia tahu tentang Rivan?”

“Iya, mbak. Aku bingung juga soal Farhan ini.”

“Namanya Farhan..” mbak Mia bergumam.

“Dia sangat baik padaku hanya saja sampai sekarang aku belum mencintainya. Aku bahkan ragu, apakah perasaanku karena kami terlanjur dekat selama ini, hingga tidak jelas lagi rasa itu cinta atau persahabatan saja.”

“Kerja di mana?”

“Kami satu tempat kerja mbak hanya dia lebih senior dari aku.”

“Tanggapannya gimana?”

“Jelas saja dia cemburu. Dia bahkan berniat melamarku juga ketika tahu mas Rivan hendak melamarku.”

“Dena, sama seperti mas Rivan. Untuk Farhan, sikap yang harus Dena ambil adalah bertanya pada diri sendiri, apakah yakin memilih Farhan? Jika tidak jangan memaksakan diri hanya karena rasa kasihan. Kecuali Dena benar-benar yakin, jika suatu saat akan mencintai Farhan. Kesampingkan dulu pekerjaan. Bagaimanapun Farhan akan sulit bersaing jika menyangkut masalah pekerjaan. Kamu tahu sendiri, mas Rivan memiliki perusahaan sedangkan Farhan hanya karyawan biasa. Saran mbak, sebaiknya Dena jangan menghindari salah seorang di antara mereka. Tetapkan dengan hati, jika ada  di antara keduanya yang membuatmu merasa paling takut kehilangan, maka itulah jawaban atas keraguanmu.”

Aku tercenung memikirkan ucapan mbak Mia. Kata-katanya terus merasuki pikiranku hingga dia meninggalkanku seorang diri di teras. Ucapan Mbak Mia benar, aku harus memilih salah seorang di antara mereka sesuai suara hatiku bukan alasan lain. Itu artinya jika aku menerima tawaran kerja dari mas Damar berarti aku harus keluar dari tempat kerjaku yang sekarang, berpisah dengan Farhan. Memikirkan pemuda itu, hatiku makin tak tenang.

****

Pagi ini cuaca sangat bersahabat, tak seperti kemarin, sejak pagi mendung menggelayut di langit hingga malam menjelang. Perubahan ini memberi semangat pada penghuni rumah. Mas Damar, istri dan putri-putrinya terlihat sibuk mempersiapkan keperluan mereka sebelum beraktivitas.

Setelah pamit pada mama dan papa, aku kemudian meninggalkan rumah menuju tempat kerja. Sembari menunggu angkot, masih sempat kubaca pesan singkat dari Farhan yang menanyakan keadaanku. Tak lupa dia menuliskan kalimat penuh sayang. Aku tersenyum membacanya. Perasaan diperhatikan memang tak dapat digantikan dengan apapun.

Pemuda itu tak tahu jika semalaman aku terus berpikir, alasan yang sebaiknya aku utarakan padanya jika dia menanyakan mengapa aku berhenti bekerja. Jika aku mengatakan bekerja di kantor mas Damar, aku khawatir dia akan tahu disana ada mas Rivan yang setiap saat menemaniku. Jika mas Rivan yang jadi alasanku, sudah pasti dia akan menolak mentah-mentah, kemungkinan terburuk dia akan marah.

Aku menahan angkot lalu naik dengan perasaan gundah yang belum menemukan muara kelegaan. Aku hanya berdoa semoga diberi kekuatan dan keberanian untuk menyampaikan keinginanku pada Farhan. Jarak yang semakin dekat makin menambah kencang debaran jantungku.  Terlebih saat angkot berhenti tepat di depan tempat kerjaku. Aku turun dengan perasaan enggan.

Langkahku pelan menapak di trotoar. Aku berdoa sambil terus mencari kata-kata terbaik yang tidak akan membuat Farhan marah apalagi tersinggung. Tapi kata-kata seperti apa yang hendak aku sampaikan? Otakku mendadak beku. Sapa teman-teman yang menyusul langkahku hanya kubalas dengan senyuman. Dengan langkah cepat mereka mendahuluiku yang berjalan pelan.

“Sejak kapan kamu jadi kura-kura?” seseorang menegurku. Aku menoleh. Farhan tepat di belakangku.

“Tumben kamu datang telat?” tanyaku menutupi rasa gugup yang tiba-tiba hadir. Dia tertawa.

“Aku sengaja menunggumu.” Katanya lalu ikut berjalan bersisian denganku.

“Perasaanku tidak enak aja sejak semalam. Aku ingat kamu terus..” sambungnya. Aku menelan ludah.

“Maaf, aku tadi tidak membalas sms mu.”

“Oh, nggak kok. Aku nggak apa-apa. Aku tahu kamu pasti sedang dalam perjalanan kemari.”

Aku terdiam demikian pula dengan Farhan.

“Kamu kenapa? Kok diam?” tanya Farhan ketika kami hampir sampai di pintu gudang.

“Kamu ada waktu sepulang kerja?” tanyaku.

“Sebentar aku nggak ada kegiatan. Kenapa? Ada yang ingin kamu bicarakan?”

“Iya. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu tapi sebaiknya jangan di sini.”

“Masalah kita?”

“Iya.”

“Oke. Ntar sore, kamu tunggu saja aku di depan. Mungkin agak telat karena sepertinya aku akan menemani bos ke pelabuhan. Aku ke ruangannya dulu, ya. Sejak tadi dia mencariku.”

Farhan kemudian meninggalkanku yang masih berdiri termenung.

“Dena, jangan lama-lama melamun. Pekerjaan hari ini banyak!” teriak Gatot lalu mengisap rokoknya. Di sebelahnya ke dua teman kerjaku cekikikan tertawa.

“Baik bos Gatot..” kataku sambil tertawa lalu melewati mereka menuju meja kerjaku.

Sebelum menaruh di laci meja, aku membuka tasku. Ada lipatan map warna hijau. Ku keluarkan lembaran kertas yang terselip di dalamnya. Surat pengunduran diri yang kubuat semalam. Kubaca sekali lagi kemudian melipatnya lalu memasukkan kembali ke dalam tas. Niatku ingin menyerahkan surat itu hari ini, tapi tertunda. Melihat wajah Farhan membuatku urung menyerahkan surat tersebut. Semoga nanti sore tidak terjadi sesuatu yang buruk hingga aku bisa mengundurkan diri dengan tenang.

Kulihat sekeliling sambil menghela nafas. Rasanya berat meninggalkan tempat ini. Kebersamaan, ritme kerja serta kekompakan telah mengikat rasa persaudaraan di antara kami. Dibalik hal-hal yang kadang membuatku kesal, ada hal menyenangkan yang juga menghadirkan rasa bahagia. Canda tawa yang mewarnai rutinitas kerja yang padat memberi semangat tersendiri hingga meski setiap hari berkutat dengan pekerjaan yang sama kami tidak merasa bosan apalagi jenuh.

Hari ini aku benar-benar menikmati setiap hal yang aku lakukan. Saat bekerja atau berbincang dengan teman-teman saat jam makan siang. Hal-hal yang dulu kadang kurasakan menyebalkan sekarang tampak menyenangkan. Tak ada wajah-wajah lelah, yang ada hanya keceriaan, bersenda gurau melepas penat.

Kadang di sela-sela tawa, aku tercenung. Melihat wajah teman-teman yang bahagia membuatku lupa akan masalahku. Seharusnya aku bisa bahagia, tidak menyimpan gundah dalam hatiku. Seharusnya aku membiarkan semuanya berlalu tanpa sedikitpun menyentuh hatiku yang terdalam. Membiarkan duka memelukku tidak adil bagi kehidupanku. Begitu banyak karunia yang telah diberikan Allah padaku, masihkah aku kurang bersyukur atas nikmatnya selama ini?

Aku terenyuh dalam lamunan. Apapun yang terjadi disekelilingku, aku tetap harus fokus pada diriku. Tidak membiarkan duka bersemayam menjadi penghuni hatiku yang seharusnya bersih dari hal-hal yang menimbulkan kesedihan. Aku harus semangat! Esok dan selanjutnya aku harus menjadi diriku yang bahagia. Kematian bisa datang kapan saja, lalu mengapa aku harus menyia-nyiakan hidup untuk hal-hal yang tidak membuatku bahagia?

***

“Aku perhatikan sepanjang hari ini, sikapmu lain.” Ucap Farhan ketika kami berdua telah berada di taman kota. Tempat yang jadi favoritku karena bisa berbincang tanpa khawatir pembicaraan kami didengarkan orang lain. Para pedagang telah membuka lapak mereka untuk berjualan.

“Apanya yang lain?” tanyaku sembari duduk di salah satu lapak yang sepi. Farhan ikut duduk di sebelahku.

“Entahlah, aku merasa seolah-seolah kamu akan pergi jauh. Itu perasaanku loh..”

Tebakanmu benar Farhan, kataku dalam hati.

“Mau pesan apa?” tanyanya lagi.

“Nasi goreng sama jus jeruk aja.”

Farhan lalu memberi kode agar si penjual mendekat.

“Pesan apa,mas?” tegur si bapak dengan ramah.

“Nasi goreng dua, jus jeruk dua, pak.” Farhan menyebutkan pesanan kami.

“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Farhan setelah si bapak  meninggalkan kami. Aku terdiam sejenak sambil berusaha bersikap  tenang.

“Besok aku berhenti kerja.” Kataku tanpa berani menatap wajahnya.

“Kamu bercanda kan, Dena?”

Aku mengangkat wajahku, menatapnya. Ingin sekali aku meralat apa yang baru saja aku ucapkan demi melihat sorot mata Farhan yang ragu, tak percaya pada ucapanku.

“Itu benar, Farhan. Besok aku berhenti kerja.”

“Kenapa berhenti? Apa ini ada hubungannya dengan lamaran lelaki itu? Kakakmu memaksamu lagi?”

“Tidak ada paksaan, Farhan. Ini semua keinginanku. Aku hanya ingin menyelesaikan semua masalah ini lebih cepat.”

“Maksudmu? Kerja disini, adalah salah satu masalah buatmu?”

“Bukan. Mas Damar menawarkan pekerjaan padaku. Aku rasa sudah saatnya aku bersikap baik pada kakakku itu. Tawarannya kali ini tanpa paksaan. Aku tidak enak menolak karena sejak lama dia ingin aku bekerja padanya.”

“Ini tidak ada kaitannya dengan lelaki itu kan?”

Aku terdiam, bingung menjawab pertanyaan Farhan. Pemuda itu tak berkedip menatapku. Pandangannya penuh selidik serasa masuk ke dalam pikiranku. Syukurlah si bapak penjual mengantar hidangan pesanan kami. Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan aku masih bisa menetralisir perasaan gugup yang tiba-tiba menghampiriku.

Ternyata dugaanku meleset. Farhan sama sekali tak menyentuh nasi goreng dan minuman  didepannya. Pandangan matanya tak berubah, serasa menghujam ke dalam mataku.

“Kamu belum menjawab, apa ini ada kaitannya dengan lelaki itu? Aku bahkan tak tahu siapa namanya.”

“Aku bekerja di perusahaan kakakku bukan perusahaan mas Rivan.”

“Oww namanya Rivan. Tapi kakakmu kan berteman baik dengan dia. Apa benar ini murni ingin mengajakmu kerja di tempatnya ataukah sudah ada rencana jangka panjang yang diatur kakakmu?”

“Farhan, apakah salah jika kakak sendiri mengharapkan adiknya mendapat kerja yang lebih baik lagi? Apalagi ini perusahaannya sendiri, wajar bukan jika dia memintaku bekerja di tempatnya.”

“Artinya tempat kerjamu yang sekarang masih belum memuaskan..” suara Farhan terdengar getir.

“Aku masih meragukannya, Dena. Hatiku berkata lain. Kamu belum sepenuhnya jujur, maafkan aku, aku hanya merasa ini langkahmu untuk lebih jauh dariku.”

Ku sentuh jemari Farhan. Mendengar ucapannya membuatku iba. Aku tidak tega melihatnya.

“Aku kan tidak pergi jauh, Farhan. Aku masih ada di kota ini, kita hanya beda tempat kerja tidak lagi seperti dulu selalu bersama. Tapi kita bisa bertemu kapan saja, yang pasti diluar jam kerja.”

“Kamu benar-benar yakin ingin bekerja di tempat kakakmu?”

“Iya. Awalnya aku ragu tapi setelah mempertimbangkan, aku akhirnya menerima. Aku ingin menjaga hubungan baik dengan kakakku. Bagaimanapun dia saudaraku. Rukun sebagai satu keluarga bukankah itu lebih baik daripada terus bersitegang?”

“Kalau sudah menjadi keputusanmu, aku hanya bisa mendukung. Setidaknya aku tahu ini murni keinginanmu sendiri, bukan paksaan.”

“Jadi kamu setuju aku bekerja di tempat mas Damar?”

Farhan mengangguk sambil tersenyum. Aku terharu karena bahagia. Perasaanku yang semula sesak dengan bayang ketakutan kini sirna.

“Tapi janji ya, kita masih bisa sering ketemu..” lanjutnya sebelum meneguk jus jeruk.

 Aku tersenyum senang. Sambil menyantap nasi goreng sesekali aku memperhatikan wajah Farhan. Entah mengapa aku tiba-tiba merasa tidak tega jika suatu saat harus meninggalkannya, lalu bagaimana dengan mas Rivan? Apakah aku sanggup menolaknya? Bagaimanapun aku harus memilih, tidak mungkin aku memiliki keduanya.


( Bersambung )



0 komentar:

Posting Komentar