El Cuento by Elena Dudina
“Dulu aku pernah patah hati karena mas
Rivan, mbak.” Kataku akhirnya. Mbak Mia tercengang menatapku. Bibirnya bergerak
seperti hendak berbicara tapi batal. Dia terdiam dengan mimik wajah terkejut.
“Kejadiannya sudah lama, waktu aku
sma. Tapi sampai sekarang, sakitnya masih terasa.”
“Apa karena itu kamu bingung menerima
lamarannya?”
Aku mengangguk.
“Aku masih ragu, mbak. Meski mas Rivan
sudah menjelaskan. Bukan juga karena saat ini aku punya pacar..”
“Oh,ya? Kamu udah punya pacar?kok
nggak bilang sama mas mu?”
Mbak Mia memotong ucapanku.
“Punya pacar atau tidak. Keputusanku tidak
ada hubungannya dengan statusku, mbak. Ada salah paham yang membuatku ragu
antara menerima atau menolak lamaran mas Rivan.”
“Kalian bertengkar?”
“Tidak. Mas Rivan bahkan tak tahu
kalau aku menyukainya.”
“Mbak nggak ngerti.”
Aku tersenyum getir.
“Mas Rivan mengira aku
mempermainkannya. Tak benar-benar serius menaruh hati padanya. Karena itu dia
pergi dengan kemarahan yang baru kemarin aku tahu. Aku sedih, mbak. Sedih
sekali...”
Ku hapus air mata yang memenuhi kedua
mataku.
“Aku terus berpikir, terus merenungkan
pertemuan kami. Penjelasannya padaku. Permintaan maafnya. Aku coba menepis
keraguan itu. Tapi tetap saja ada rasa takut jika kelak kami bersama lalu
terjadi kesalahpahaman lagi, mas Rivan akan meninggalkanku seperti dulu..”
Mbak Mia menyentuh jemariku.
“Sekarang aku benar-benar bingung,
mbak. Aku senang bertemu kembali dengannya apalagi saat aku tahu mas Rivan berniat melamarku tapi aku tak ingin melewati masa-masa yang
menyakitkan itu lagi. Bagaimana jika ketakutanku terbukti? Aku pasti akan
menyesalinya sepanjang hidupku..”
“Dena, apa kamu masih mencintai Rivan?”
tanya mbak Mia dengan lembut.
“Iya, mbak.”
“Coba Dena pikirkan baik-baik.
Pertimbangkan dengan perasaan tenang. Antara cinta dan rasa takut jika
ditinggalkan lagi, mana yang lebih berat Dena rasakan? Mbak hanya tidak ingin
Dena melupakan kebahagiaan jika bersamanya. Hidup bersama seseorang yang kita
cintai dan mencintai kita, itu anugerah Dena.”
“Tapi sampai saat ini aku bahkan belum
tahu perasaan mas Rivan, mbak. Dia hanya mengatakan menyesal telah
meninggalkanku waktu itu. Dia ingin menebus kesalahan dengan melamarku. Tapi
soal cinta, aku bahkan belum sempat menanyakannya..”
“Dari sikapnya, apa yang Dena rasakan?”
“Kami baru saja bertemu lagi. Berpisah
sekian tahun, butuh waktu untuk menebak sikapnya mbak. Walau berulang kali mas
Rivan menyampaikan pada mas Damar bahwa dia ingin menikah denganku.”
“Nah, karena itu sebaiknya kalian
lebih sering bersama. Setidaknya untuk memastikan perasaan kalian berdua. Terus
menduga-duga tidak akan menyelesaikan masalah, Dena..”
“Apa karena itu mas Damar memintaku
mewakili perusahaan dalam kerja sama dengan perusahaan mas Rivan?”
“Mungkin. Mbak juga belum
menanyakannya, maklum akhir-akhir ini mbak sibuk mengurus rencana pernikahan
Viola. Ehm, pacar kamu gimana? Apa dia tahu tentang Rivan?”
“Iya, mbak. Aku bingung juga soal
Farhan ini.”
“Namanya Farhan..” mbak Mia bergumam.
“Dia sangat baik padaku hanya saja
sampai sekarang aku belum mencintainya. Aku bahkan ragu, apakah perasaanku
karena kami terlanjur dekat selama ini, hingga tidak jelas lagi rasa itu cinta
atau persahabatan saja.”
“Kerja di mana?”
“Kami satu tempat kerja mbak hanya dia
lebih senior dari aku.”
“Tanggapannya gimana?”
“Jelas saja dia cemburu. Dia bahkan
berniat melamarku juga ketika tahu mas Rivan hendak melamarku.”
“Dena, sama seperti mas Rivan. Untuk
Farhan, sikap yang harus Dena ambil adalah bertanya pada diri sendiri, apakah
yakin memilih Farhan? Jika tidak jangan memaksakan diri hanya karena rasa
kasihan. Kecuali Dena benar-benar yakin, jika suatu saat akan mencintai Farhan.
Kesampingkan dulu pekerjaan. Bagaimanapun Farhan akan sulit bersaing jika
menyangkut masalah pekerjaan. Kamu tahu sendiri, mas Rivan memiliki perusahaan
sedangkan Farhan hanya karyawan biasa. Saran mbak, sebaiknya Dena jangan
menghindari salah seorang di antara mereka. Tetapkan dengan hati, jika ada di antara keduanya yang membuatmu merasa
paling takut kehilangan, maka itulah jawaban atas keraguanmu.”
Aku tercenung memikirkan ucapan mbak
Mia. Kata-katanya terus merasuki pikiranku hingga dia meninggalkanku seorang
diri di teras. Ucapan Mbak Mia benar, aku harus memilih salah seorang di antara
mereka sesuai suara hatiku bukan alasan lain. Itu artinya jika aku menerima
tawaran kerja dari mas Damar berarti aku harus keluar dari tempat kerjaku yang sekarang,
berpisah dengan Farhan. Memikirkan pemuda itu, hatiku makin tak tenang.
****
Pagi ini cuaca sangat bersahabat, tak
seperti kemarin, sejak pagi mendung menggelayut di langit hingga malam
menjelang. Perubahan ini memberi semangat pada penghuni rumah. Mas Damar, istri
dan putri-putrinya terlihat sibuk mempersiapkan keperluan mereka sebelum
beraktivitas.
Setelah pamit pada mama dan papa, aku
kemudian meninggalkan rumah menuju tempat kerja. Sembari menunggu angkot, masih
sempat kubaca pesan singkat dari Farhan yang menanyakan keadaanku. Tak lupa dia
menuliskan kalimat penuh sayang. Aku tersenyum membacanya. Perasaan
diperhatikan memang tak dapat digantikan dengan apapun.
Pemuda itu tak tahu jika semalaman aku
terus berpikir, alasan yang sebaiknya aku utarakan padanya jika dia menanyakan
mengapa aku berhenti bekerja. Jika aku mengatakan bekerja di kantor mas Damar,
aku khawatir dia akan tahu disana ada mas Rivan yang setiap saat menemaniku.
Jika mas Rivan yang jadi alasanku, sudah pasti dia akan menolak mentah-mentah,
kemungkinan terburuk dia akan marah.
Aku menahan angkot lalu naik dengan
perasaan gundah yang belum menemukan muara kelegaan. Aku hanya berdoa semoga
diberi kekuatan dan keberanian untuk menyampaikan keinginanku pada Farhan.
Jarak yang semakin dekat makin menambah kencang debaran jantungku. Terlebih saat angkot berhenti tepat di depan
tempat kerjaku. Aku turun dengan perasaan enggan.
Langkahku pelan menapak di trotoar.
Aku berdoa sambil terus mencari kata-kata terbaik yang tidak akan membuat
Farhan marah apalagi tersinggung. Tapi kata-kata seperti apa yang hendak aku
sampaikan? Otakku mendadak beku. Sapa teman-teman yang menyusul langkahku hanya
kubalas dengan senyuman. Dengan langkah cepat mereka mendahuluiku yang berjalan
pelan.
“Sejak kapan kamu jadi kura-kura?”
seseorang menegurku. Aku menoleh. Farhan tepat di belakangku.
“Tumben kamu datang telat?” tanyaku
menutupi rasa gugup yang tiba-tiba hadir. Dia tertawa.
“Aku sengaja menunggumu.” Katanya lalu
ikut berjalan bersisian denganku.
“Perasaanku tidak enak aja sejak
semalam. Aku ingat kamu terus..” sambungnya. Aku menelan ludah.
“Maaf, aku tadi tidak membalas sms
mu.”
“Oh, nggak kok. Aku nggak apa-apa. Aku
tahu kamu pasti sedang dalam perjalanan kemari.”
Aku terdiam demikian pula dengan
Farhan.
“Kamu kenapa? Kok diam?” tanya Farhan
ketika kami hampir sampai di pintu gudang.
“Kamu ada waktu sepulang kerja?”
tanyaku.
“Sebentar aku nggak ada kegiatan.
Kenapa? Ada yang ingin kamu bicarakan?”
“Iya. Ada hal penting yang ingin aku
bicarakan denganmu tapi sebaiknya jangan di sini.”
“Masalah kita?”
“Iya.”
“Oke. Ntar sore, kamu tunggu saja aku
di depan. Mungkin agak telat karena sepertinya aku akan menemani bos ke
pelabuhan. Aku ke ruangannya dulu, ya. Sejak tadi dia mencariku.”
Farhan kemudian meninggalkanku yang
masih berdiri termenung.
“Dena, jangan lama-lama melamun.
Pekerjaan hari ini banyak!” teriak Gatot lalu mengisap rokoknya. Di sebelahnya
ke dua teman kerjaku cekikikan tertawa.
“Baik bos Gatot..” kataku sambil
tertawa lalu melewati mereka menuju meja kerjaku.
Sebelum menaruh di laci meja, aku
membuka tasku. Ada lipatan map warna hijau. Ku keluarkan lembaran kertas yang
terselip di dalamnya. Surat pengunduran diri yang kubuat semalam. Kubaca sekali
lagi kemudian melipatnya lalu memasukkan kembali ke dalam tas. Niatku ingin
menyerahkan surat itu hari ini, tapi tertunda. Melihat wajah Farhan membuatku
urung menyerahkan surat tersebut. Semoga nanti sore tidak terjadi sesuatu yang
buruk hingga aku bisa mengundurkan diri dengan tenang.
Kulihat sekeliling sambil menghela
nafas. Rasanya berat meninggalkan tempat ini. Kebersamaan, ritme kerja serta
kekompakan telah mengikat rasa persaudaraan di antara kami. Dibalik hal-hal
yang kadang membuatku kesal, ada hal menyenangkan yang juga menghadirkan rasa
bahagia. Canda tawa yang mewarnai rutinitas kerja yang padat memberi semangat
tersendiri hingga meski setiap hari berkutat dengan pekerjaan yang sama kami
tidak merasa bosan apalagi jenuh.
Hari ini aku benar-benar menikmati
setiap hal yang aku lakukan. Saat bekerja atau berbincang dengan teman-teman saat
jam makan siang. Hal-hal yang dulu kadang kurasakan menyebalkan sekarang tampak
menyenangkan. Tak ada wajah-wajah lelah, yang ada hanya keceriaan, bersenda gurau
melepas penat.
Kadang di sela-sela tawa, aku
tercenung. Melihat wajah teman-teman yang bahagia membuatku lupa akan
masalahku. Seharusnya aku bisa bahagia, tidak menyimpan gundah dalam hatiku.
Seharusnya aku membiarkan semuanya berlalu tanpa sedikitpun menyentuh hatiku
yang terdalam. Membiarkan duka memelukku tidak adil bagi kehidupanku. Begitu
banyak karunia yang telah diberikan Allah padaku, masihkah aku kurang bersyukur
atas nikmatnya selama ini?
Aku terenyuh dalam lamunan. Apapun
yang terjadi disekelilingku, aku tetap harus fokus pada diriku. Tidak
membiarkan duka bersemayam menjadi penghuni hatiku yang seharusnya bersih dari
hal-hal yang menimbulkan kesedihan. Aku harus semangat! Esok dan selanjutnya
aku harus menjadi diriku yang bahagia. Kematian bisa datang kapan saja, lalu
mengapa aku harus menyia-nyiakan hidup untuk hal-hal yang tidak membuatku
bahagia?
***
“Aku perhatikan sepanjang hari ini,
sikapmu lain.” Ucap Farhan ketika kami berdua telah berada di taman kota.
Tempat yang jadi favoritku karena bisa berbincang tanpa khawatir pembicaraan
kami didengarkan orang lain. Para pedagang telah membuka lapak mereka untuk
berjualan.
“Apanya yang lain?” tanyaku sembari
duduk di salah satu lapak yang sepi. Farhan ikut duduk di sebelahku.
“Entahlah, aku merasa seolah-seolah
kamu akan pergi jauh. Itu perasaanku loh..”
Tebakanmu
benar Farhan, kataku
dalam hati.
“Mau pesan apa?” tanyanya lagi.
“Nasi goreng sama jus jeruk aja.”
Farhan lalu memberi kode agar si
penjual mendekat.
“Pesan apa,mas?” tegur si bapak dengan
ramah.
“Nasi goreng dua, jus jeruk dua, pak.”
Farhan menyebutkan pesanan kami.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya
Farhan setelah si bapak meninggalkan
kami. Aku terdiam sejenak sambil berusaha bersikap tenang.
“Besok aku berhenti kerja.” Kataku
tanpa berani menatap wajahnya.
“Kamu bercanda kan, Dena?”
Aku mengangkat wajahku, menatapnya.
Ingin sekali aku meralat apa yang baru saja aku ucapkan demi melihat sorot mata
Farhan yang ragu, tak percaya pada ucapanku.
“Itu benar, Farhan. Besok aku berhenti
kerja.”
“Kenapa berhenti? Apa ini ada
hubungannya dengan lamaran lelaki itu? Kakakmu memaksamu lagi?”
“Tidak ada paksaan, Farhan. Ini semua keinginanku.
Aku hanya ingin menyelesaikan semua masalah ini lebih cepat.”
“Maksudmu? Kerja disini, adalah salah
satu masalah buatmu?”
“Bukan. Mas Damar menawarkan pekerjaan
padaku. Aku rasa sudah saatnya aku bersikap baik pada kakakku itu. Tawarannya kali
ini tanpa paksaan. Aku tidak enak menolak karena sejak lama dia ingin aku
bekerja padanya.”
“Ini tidak ada kaitannya dengan lelaki
itu kan?”
Aku terdiam, bingung menjawab
pertanyaan Farhan. Pemuda itu tak berkedip menatapku. Pandangannya penuh
selidik serasa masuk ke dalam pikiranku. Syukurlah si bapak penjual mengantar hidangan
pesanan kami. Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan aku masih bisa
menetralisir perasaan gugup yang tiba-tiba menghampiriku.
Ternyata dugaanku meleset. Farhan sama
sekali tak menyentuh nasi goreng dan minuman
didepannya. Pandangan matanya tak berubah, serasa menghujam ke dalam
mataku.
“Kamu belum menjawab, apa ini ada
kaitannya dengan lelaki itu? Aku bahkan tak tahu siapa namanya.”
“Aku bekerja di perusahaan kakakku
bukan perusahaan mas Rivan.”
“Oww namanya Rivan. Tapi kakakmu kan
berteman baik dengan dia. Apa benar ini murni ingin mengajakmu kerja di
tempatnya ataukah sudah ada rencana jangka panjang yang diatur kakakmu?”
“Farhan, apakah salah jika kakak
sendiri mengharapkan adiknya mendapat kerja yang lebih baik lagi? Apalagi ini
perusahaannya sendiri, wajar bukan jika dia memintaku bekerja di tempatnya.”
“Artinya tempat kerjamu yang sekarang
masih belum memuaskan..” suara Farhan terdengar getir.
“Aku masih meragukannya, Dena. Hatiku
berkata lain. Kamu belum sepenuhnya jujur, maafkan aku, aku hanya merasa ini
langkahmu untuk lebih jauh dariku.”
Ku sentuh jemari Farhan. Mendengar
ucapannya membuatku iba. Aku tidak tega melihatnya.
“Aku kan tidak pergi jauh, Farhan. Aku
masih ada di kota ini, kita hanya beda tempat kerja tidak lagi seperti dulu
selalu bersama. Tapi kita bisa bertemu kapan saja, yang pasti diluar jam kerja.”
“Kamu benar-benar yakin ingin bekerja
di tempat kakakmu?”
“Iya. Awalnya aku ragu tapi setelah
mempertimbangkan, aku akhirnya menerima. Aku ingin menjaga hubungan baik dengan
kakakku. Bagaimanapun dia saudaraku. Rukun sebagai satu keluarga bukankah itu
lebih baik daripada terus bersitegang?”
“Kalau sudah menjadi keputusanmu, aku
hanya bisa mendukung. Setidaknya aku tahu ini murni keinginanmu sendiri, bukan
paksaan.”
“Jadi kamu setuju aku bekerja di tempat
mas Damar?”
Farhan mengangguk sambil tersenyum.
Aku terharu karena bahagia. Perasaanku yang semula sesak dengan bayang
ketakutan kini sirna.
“Tapi janji ya, kita masih bisa sering
ketemu..” lanjutnya sebelum meneguk jus jeruk.
Aku tersenyum senang. Sambil menyantap nasi
goreng sesekali aku memperhatikan wajah Farhan. Entah mengapa aku tiba-tiba
merasa tidak tega jika suatu saat harus meninggalkannya, lalu bagaimana dengan
mas Rivan? Apakah aku sanggup menolaknya? Bagaimanapun aku harus memilih, tidak
mungkin aku memiliki keduanya.
( Bersambung )


0 komentar:
Posting Komentar