
Kesadaranku entah kemana hilangnya. Ucapan Dino membuatku lupa akan status diriku sebagai kekasih Handy. Terlupa kalau diriku bukan lagi ABG yang kegirangan bertemu pujaan hati. Aku merasa, akulah gadis yang akan diberi hadiah oleh Dino. Wajar bukan jika aku geer?. Ciri-ciri yang disebutkan Dino semua tertuju padaku.
Penuh semangat aku mencari hadiah yang sesuai keinginanku. Aku yakin seyakin-yakinnya, karena itu kupilih boneka panda berwarna pink yang sangat aku impikan. Bukan karena aku tak mampu membelinya, tapi aku menunggu pacarku yang menghadiahkan boneka itu untukku.
Sayang sekali, Handy bukan tipe romantis yang akan memanjakanku dengan berbagai macam hadiah. Itu juga jika dia ingat kalau aku ulang tahun. Biasanya aku yang menelpon atau mengirim sms jika lewat hari dia tak juga mengucapkan selamat ulang tahun. Dia terlalu sibuk hingga melupakan kehidupan nyata di sekelilingnya. Dalam pikirannya hanya urusan kantor karena itu ketika dia mencegatku untuk membicarakan masalah kami, aku sangat terkejut. Bukan kebiasaannya membicarakan masalah pribadi terlebih jika sedang sibuk dengan tugas kantor.
“Boneka ini ya, mbak?” Dino melihatku sambil meraih boneka itu dari tanganku. Dia mengangkat boneka itu lalu memandang sambil tersenyum.
“Mbak yakin hadiah ini bakal dia sukai?” Aku menganggguk cepat. Tentu saja Dino, siapapun gadis itu, aku berharap dia adalah aku. Akhirnya akan ada boneka yang menghiasi kamarku. Sesuatu yang kuidamkan sejak lama. Aku ingin seperti teman-temanku yang lain. Mereka menerima hadiah dari kekasih mereka.
Tapi tunggu dulu, bukankah Dino bukan kekasihku? Lalu apa arti hadiah itu buatku?
“Baiklah, semoga dia menyukainya.” Ucap Dino membuatku lega.
Dino lalu melangkah menuju meja kasir. Aku menyusulnya setelah meraih hiasan kupu-kupu yang tadi dikibaskan Dino.
“Oh, mbak Nilam juga suka kupu-kupu ya?” tegur Dino ketika kuletakkan hiasan kupu-kupu itu di depan kasir. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Nggak usah, mbak. Biar sekalian aku bayarin. Anggap itu hadiah dariku.” Dino menahan tanganku saat membuka dompet. Senyumannya sangat manis membuat hatiku berdesir sesaat.
Setelah pembayaran selesai kami keluar dari toko. Sambil melangkah menuju parkiran, aku berharap setelah ini, Dino akan mengajakku makan atau setidaknya berbincang di suatu tempat. Tapi tak ada pembicaraan itu, aku juga sungkan untuk mengajaknya.
“Ehm, mbak. Ntar kita singgah di warung Hanimun ya.”
Dihatiku seperti ada kepak sayap kupu-kupu. Akhirnya terlontar juga ajakan dari Dino.
“Kita beli makanan aja, untuk tante juga. Ntar kita makan bareng di rumah mbak, gimana?”
Aku mengangguk kecewa. Susah payah ku tarik kedua ujung bibirku agar membentuk senyuman tulus. Kegembiraanku ternyata hanya sekejap.
“Terserah Dino..” jawabku dengan perasaan lunglai.
Kepak sayap kupu-kupu itu mendadak hilang. Sepanjang jalan aku hanya merenungi diri. Kenapa malam ini aku benar-benar seperti ABG yang baru merasakan cinta? Aku karyawati berusia dua puluh lima tahun, punya kekasih mapan yang siap melamarku, apa istimewanya Dino hingga aku menggelepar berada disisinya?
Terngiang ucapan Maya padaku tempo hari. Apakah benar yang dikatakan Maya? Aku kini termakan ucapanku sendiri. Aku kualat lalu menerima karma perubahan perasaanku dari benci menjadi cinta. Apa rekasi Maya jika tahu keadaanku saat ini? Aku tak berani menceritakan meski hanya sekedar menyebutkan nama Dino didepannya. Aku yakin saat aku menyebutkan nama Dino, tatapan penuh curiga akan terus tampak dari sorot matanya jika kami bertemu.
***
Hari-hari menjelang ulang tahunku membuatku uring-uringan. Aku gelisah seminggu terakhir. Malam tidurku tak lelap, siang aku tak nyaman di kantor. Waktu pulang sore hari adalah aktivitas yang paling aku tunggu. Aku bahkan lupa jika kekasihku, Handi juga sekantor denganku. Syukurlah Handi tidak memprotesku. Posisinya sebagai accounting perusahaan terkadang mengharuskannya lembur. Aku sebagai kekasih sudah terbiasa pulang sendiri. Meski kadang kami pulang beriringan mengendarai motor. Jarang ada waktu bagi kami untuk sekedar rileks menikmati masa-masa pacaran kami.
Hari Sabtu dan Minggu, Handi kuliah. Dia ingin menuntaskan kuliah S1 yang sekian lama terhambat karena mengejar karir di kantor. Sementara aku, lebih banyak berada di rumah mempelajari seni meramu masakan atau membuat kue dari buku resep. Kadang aku merasa aneh dengan model pacaran kami. Namun seperti kata Handi, kami sudah sama-sama dewasa dan saling percaya. Aku adalah kekasihnya dan dia adalah kekasihku. Tak ada yang berubah meski kami jarang bersama.
Mungkin ini sebabnya hingga aku seperti kasmaran kembali, aku kesepian. Selama ini aku aman-aman saja menjalani status sebagai kekasih Handi. Aku merasa nyaman karena belum ada seseorang yang bisa menarik perhatianku. Sekarang hal itu terjadi, Dino dengan segala kekurangannya di banding Handi, ternyata menjadi kelebihannya untuk merebut hatiku.
Lalu apa yang akan aku lakukan seandainya Dino benar-benar mengungkapkan perasaannya? Batinku resah. Aku sungguh ingin hari itu tiba, hari saat Dino mengatakan suka padaku. Aku ingin mendengarnya. Sulit mengungkapkan perasaanku saat ini. Dulu ketika aku memulai kisah dengan Handi, aku tidak seperti ini. Cemas menantikan sesuatu terjadi.
***
Dan, hari ini ulang tahunku.
Kupacu motorku untuk segera pulang ke rumah. Pesan singkat dari Handi mengabarkan dia sedang meeting di luar membuatku leluasa untuk secepatnya pulang. Aku juga menolak ajakan Maya yang ingin mentraktirku karena dia tahu hari ini adalah ulang tahunku. Maya tentu saja heran tapi dia tidak boleh tahu apa yang sedang aku pikirkan. Walau seharian ini tak ada sms atau telpon dari Dino yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku, aku tetap yakin jika akulah gadis yang akan dia beri hadiah boneka.
Tapi tiba di rumah, tak ada Dino. Kamar kostnya tergembok dari luar. Teman sebelah kamarnya mengatakan, sejak siang Dino keluar. Aku menyabarkan hati dan mengira dia sedang kuliah. Tapi hingga jam sepuluh malam tak ada tanda-tanda kehadirannya.
Kemana anak itu? Bahkan mengirim ucapan selamat ulang tahun padaku juga tak sempat. Ingin rasanya menelpon menanyakan kabarnya, tapi hati kecilku menahannya. Aku harus sabar. Sabar Nilam, menunggu itu sesuatu yang membosankan tapi harus aku jalani.
Kulirik jam di kamarku, sudah jam 12 malam. Aku tak bisa memejamkan mata sedikitpun. Sejak tadi aku hanya berbaring, bolak balik badanku memeluk guling. Terbangun ketika terdengar suara motor tapi kemudian aku kembali ke pembaringan dengan perasaan kecewa karena bukan Dino yang pulang. Anak itu seperti hilang di telan bumi.
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu ruang tamu. Apakah itu Dino? Aku segera melompat dari pembaringan tapi langkahku tertahan di depan pintu kamarku. Kupandangi diriku di cermin, aku nampak kusut. Aku harus merapikan diri. Segera kuraih sisir lalu setelah merapikan rambut dan penampilanku, aku melangkah pelan ke ruang tamu. Jantungku berdetak cepat. Terlebih saat mengintip dari balik gorden, nampak boneka panda yang aku pilih tempo hari bersama Dino. Aku kegirangan dan memastikan itu pasti Dino. Nyala lampu di teras membuat boneka pink itu terlihat jelas.
Kubuka pintu dengan perasaan gembira.
“Ya Tuhan......”
Aku belum melanjutkan ucapanku ketika sedetik kemudian menyembul wajah Handi dari balik boneka itu. Dia tersenyum sambil menyerahkan boneka pink itu padaku. Aku terpaku tanpa bisa menahan keterkejutanku.
“Selamat ulang tahun sayang..” ucapnya lalu mengecup keningku. Boneka itu berpindah dalam pelukanku. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benakku.
“Maaf aku datang tengah malam, aku baru saja kelar meeting trus ingat kalau hari ini ulang tahunmu. Aku ingat, dulu kamu pernah bilang suka dengan boneka panda berwarna pink, karena itu aku sempatkan singgah di toko lalu membelikannya untukmu.”
Aku masih terpaku bingung. Mulutku terkatup tak bisa berkata-kata. Tiba-tiba aku tersadar dan terharu, mataku berkaca-kaca. Mengapa aku seperti ini? Aku malah memikirkan Dino saat kekasihku sedang ada didepanku memberikan hadiah ulang tahun. Kekasih macam apa aku yang masih berharap Dino yang datang memberi ucapan selamat. Seharusnya aku bersyukur memiliki kekasih seperti Handi.
Aku merasa bersalah dan menyesal telah berpaling dari Handi.
“Makasih mas, makasih atas kadonya..” kataku sambil memeluknya dengan segenap perasaanku. Handi membalas pelukanku. Dalam hati aku berjanji tak akan menggantikan Handi dengan siapapun dalam hatiku. Aku akan setia padanya. Cinta Dino yang sesaat dalam hatiku harus aku hilangkan. Aku tak akan memikirkannya lagi.
T A M A T
0 komentar:
Posting Komentar