Sejak mama menceritakan hal-hal yang telah dilakukan Dino selama mama sakit, aku jadi sering memikirkan pemuda itu. Kehadirannya tidak lagi kurasakan mengganggu. Setiap pulang dari kantor, aku mendapati dia tengah berbincang dengan mama di kamar. Aku senang dengan sikapnya, terutama karena melihat mama berangsur-angsur pulih dan mulai bisa duduk di teras.
“Nilam, bisa kita bicara?” Handi mengejarku di lorong kantor. Langkahku yang cepat mendadak terhenti.
“Ada apa?” tanyaku sambil menatapnya. Handi terdiam sejenak. Tatapannya sangat aneh.
“Kamu ada waktu sekarang? Jangan pulang dulu, ada yang ingin aku bicarakan.”
“Aduh bagaimana ya, mas. Aku harus pulang ke rumah. Mama sedang sakit.”
Kataku mencari alasan untuk menghindar.
Handi tak menjawab. Dia menarik tanganku lalu menggiringku ke tempat parkir.
“Nilam, aku tahu mamamu sakit. Aku juga tahu akhir-akhir ini kamu sering pulang cepat tanpa menunggu aku atau pamitan padaku. Aku paham itu. Cuma aku nggak ngerti dan merasa akhir-akhir ini, kamu sangat berbeda.”
“Berbeda apanya, mas? Aku masih tetap Nilam, kok. Aku bukan orang lain.”
“Apa kamu masih pacarku? Ayo jawab dengan jujur, aku tidak akan bertanya seperti ini jika tidak merasa ragu atas sikapmu.”
“Kenapa mas menanyakan itu?”
“Nilam, please. Aku merasa kamu terus menghindari aku. Iya, kan?”
“Mas, ada apa sih? Kenapa mas meragukan aku?”
Pertanyaanku membuat Handi tercenung namun tatapannya tetap mengamatiku. Aku jadi salah tingkah.
“Maafkan aku, mungkin aku yang terlalu curiga padamu. Kalau kamu mau pulang sekarang, silahkan. Aku masih ada kerjaan lagi.”
Handi kemudian meninggalkanku. Langkahnya pelan sambil menunduk. Aku hanya bisa menghela nafas berusaha menahan beban batin yang muncul. Mataku berkaca-kaca tanpa kusadari.
Maafkan aku, mas. Kecurigaanmu beralasan. Saat ini, aku, kekasihmu, memang sedang goyah. Ada orang lain yang menyita perhatianku. Membuatku berpaling darimu. Tapi sungguh, aku tidak pernah berniat melupakanmu. Aku hanya tidak bisa menahan gejolak rasa yang tiba-tiba saja hadir tanpa bisa kuhindari. Maafkan aku, batinku pedih.
Kupacu motorku dengan perasaan bimbang. Melihat punggung Handi dan kekecewaan yang tampak di matanya, membuatku tersadar akan statusku. Aku bukan gadis singel, aku sudah memiliki kekasih. Kekasih yang bahkan telah berniat melamarku seandainya aku memberi persetujuan. Kekasih yang sangat aku banggakan dan berusaha aku pertahankan agar aku bisa menjadi istrinya kelak. Lalu mengapa sekarang aku mengabaikannya? Membuatnya kecewa dan merasa tak kuhiraukan? Ada apa denganku? Apakah ini karena kehadiran Dino yang menguras kesadaranku?
“Mbak Nilam, selamat sore..” Dino menyapaku dengan senyum yang sangat manis. Tampilan casualnya membuatku tertegun terlebih karena dia baru saja mengubah gaya rambutnya menjadi potongan militer. Dia nampak sangat segar.
Aku tersenyum lalu memarkir motor.
“Sore.” Balasku lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Ternyata Dino menyusulku. Kurasakan desiran halus dalam hatiku ketika dia mendekatiku.
“Mbak boleh minta tolong?”
“Iya, ada apa?”
“Mbak ada waktu sebentar malam?”
“Ehm..”
“Aku minta tolong ditemani mencari hadiah.”
“Hadiah?”
Dino tersenyum malu.
“Ada seseorang yang mau aku beri hadiah, perempuan. Aku belum pernah memberi hadiah, jadi tidak tahu hadiah apa yang pas untuk seorang wanita.”
Entah mengapa jantungku berdegup kencang.
“Iya, bisa.” Jawabanku menghadirkan binar kegembiraan dalam mata Dino. Dia kemudian pamit lalu masuk ke dalam kamar kostnya. Aku hanya bisa mematung sambil berusaha meredam debaran jantungku yang kian kencang.
***
Kami berdua memasuki toko yang khusus menjual berbagai pernak-pernik aksesoris dan suvenir. Berbagai ragam boneka, hiasan-hiasan berbagai bentuk memacu pandanganku mengitari setiap sudut untuk mencari hadiah seperti permintaan Dino.
“Kira-kira kamu tahu kesukaannya apa?” tanyaku. Sejak tadi bersamanya aku masih belum bisa meredam getaran yang hadir dalam hatiku. Dino menggeleng.
“Aku tidak tahu, mbak. Aku baru mengenal dekat dirinya. Aku tidak berani untuk bertanya.”
Jawaban Dino membuatku merinding. Pikiran aneh mulai merasuki benakku.
Apakah aku wanita itu, Dino? Tanyaku dalam hati.
“Kira-kira dari penampilannya, apa yang bisa kamu tebak? Ehm, misalnya, pakaiannya atau jam tangan seperti apa yang dia pakai. Mungkin saja dari gelang yang menghiasi tangannya.”
Dino tercenung sesaat.
“Oh, iya mbak. Aku tahu. Dia suka sesuatu yang berwarna pink!”
Ucapan Dino membuatku nyaris terjerembab ke dalam kotak mainan yang ada didekatku.
Itu aku banget!!! Teriakku dalam hati. Aku suka semua hal yang berwarna pink. Ataukah, jangan-jangan, mungkinkah, Ya Tuhan....
Aku yang semula tenang kini berubah cemas. Keringat dingin tiba-tiba menjalar di seluruh tubuhku padahal fasilitas AC yang ada mustahil menghadirkan rasa panas.
“Kamu tidak tahu tanggal lahirnya kapan?”
Aku tak tahan untuk bertanya lebih detil. Perasaan gelisah dalam hatiku seperti terus mendorongku untuk mengusut lebih jauh.
“Maksud, mbak?”
“Dari tanggal lahirnya kita bisa tahu zodiak dia apa. Dari sana kita bisa menebak dia tipe seperti apa dan jenis hadiah apa yang dia sukai.” Aku menjelaskan dengan setenang mungkin.
“Oh itu, aku tahu mbak. Kebetulan aku tahu baru saja. Karena itu aku ingin memberi dia hadiah. Ulang tahunnya minggu depan, 20 Februari....”
Saat Dino menyebutkan 20 Februari, aku merasa melayang. Nampak Dino dengan mulut yang masih bercuap-cuap tanpa bisa aku dengar lagi. Tubuhku serasa terbang ke awan dan bermain dengan buih-buih putih. Terus menerobos pantulan cahaya mentari. Semua terlihat indah dengan kupu-kupu yang berterbangan.
“Mbak Nilam!mbak kenapa?” Aku tersadar. Nampak Dino mengibaskan hiasan kupu-kupu di wajahku.
“Ini bagaimana?” tanyanya sambil tersenyum. Aku hanya bisa terpaku. Grogi mengingat tanggal 20 Februari yang baru saja diucapkan Dino.
Ya, Allah. Itu tanggal lahirku!!!! batinku berteriak kegirangan.
****
( Bersambung )


0 komentar:
Posting Komentar