========================================================================
“Bunda, berdoanya lama banget. Minta doa apa sih, bun?” tanya Vianna ketika Asih baru saja melipat mukenanya sehabis sholat maghrib. Vianna makin manja, memeluk erat pinggang bundanya.
“Berdoa agar anak-anak bunda segera menemukan jodoh, semoga di tahun yang baru nanti, bunda sudah menimang cucu.”
“Hehehe bunda ada-ada saja, calon saja belum ada, kok sudah ngomongin cucu hehehe..” Vianna tertawa geli.
“Doakan dapat yang ganteng dan bertanggung jawab ya, bunda.” Aya muncul dari dalam.
“Kok mbak Aya bisa tahu?”
“Dari caramu tertawa, mbak yakin pasti yang dibahas masalah jodoh.” Vianna tergelak.
“Terus tadi bunda minta doa apa lagi?”
“Bunda meminta petunjuk sama Allah, siapa kiranya yang jadi jodoh kalian.”
“Trus?” Aya beringsut mendekat, duduk berdempetan dengan Vianna yang terpaksa mendorong tubuhnya ke pinggir dengan wajah cemberut.
Namun suara ketukan di pintu ruang tamu menggantung rasa penasaran Aya. Bergegas dia membuka pintu.
“Mama ada, Aya?”
“Oh, ada mas Hans. Silahkan.”
Asih terpaku sejenak tak segera menghampiri mas Hans yang ternyata datang berdua dengan mas Reporter. Asih teringat doanya saat sholat maghrib tadi. Inikah petunjuk dari Allah yang di pintanya agar dihadirkan malam ini? Jantung Asih berdegup kencang namun gemuruhnya tak rasakan oleh kedua anaknya yang tak paham mengapa bundanya tiba-tiba terlihat gugup.
****
0 komentar:
Posting Komentar