“Tolong bantu aku melepaskan lukisan ini.” Ucap Kembara ketika melihatku hanya berdiri di sampingnya.
“Baik..”
Aku kemudian
mendekati lukisan yang lain, memegang lalu melepaskan dari dinding.
Setelah semua terlepas dan terkumpul di sudut ruangan, Kembara kembali
ke tempat duduknya. Menatap lukisan-lukisan yang tampaknya tak berarti
lagi. Terlihat dari pandangan matanya dan cara dia memperlakukan lukisan
tersebut.
“Lukisan ini akan mas simpan dimana?” tanyaku memecahkan keheningan dalam ruangan.
“Akan aku simpan di gudang.” Katanya lesu. Dia beranjak berdiri.
“Apa tidak sebaiknya mas kirim ke Siska. Toh itu lukisan wajahnya, pasti dia senang menerimanya.”
“Lalu setelah dia
menerimanya? Apa kamu pikir hidupnya akan tenang dan bisa melupakan
aku? Dia akan terbebani dan merasa bersalah. Aku tidak mau memulai
lembaran baru lagi dalam hidupnya. Biarkan dia tenang dan tak lagi
mengingatku.”
Tekanan suara
Kembara terdengar putus asa. Dia melangkah keluar dan membiarkan pintu
terbuka tanpa menoleh melihatku. Bahkan tak ada ajakan atau
pemberitahuan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Sambil menggerutu
aku keluar lalu menutup pintu. Andai dia tidak sedang patah hati, pasti
saat ini aku sudah pergi dan meninggalkannya seorang diri, pikirku
kesal. Bagaimana bisa Siska mencintai lelaki yang acuh dan tidak ada
sedikitpun kesan romantis seperti itu? Aku tiba-tiba ingat Farhan.
Farhan yang sederhana namun sangat perhatian dan mengerti cara
memperlakukan perempuan.
Aku berhenti di
sudut tembok dekat pintu ketika kulihat Farhan sedang berdiri mematung
di depan jendela kaca. Pandangannya lurus menatap lampu-lampu taman.
Kulirik jam tanganku.
“Mas, apa mas udah baikan? aku ingin pulang sekarang. Siska pasti menungguku.”
Kembara menoleh melihatku.
“Maaf aku sudah
menghabiskan waktumu. Tapi aku tidak bisa mengantarmu pulang. Aku akan
menginap disini.” Kembara berjalan mendekatiku. Dalam hati aku merasa
kecewa tapi kupaksakan untuk tersenyum. Meski aku tahu saat ini Kembara
sedang terluka tapi penolakannya untuk mengantarku tetap terasa
menyakitkan. Bagaimana bisa dia membiarkanku pulang sendiri padahal dia
yang telah mengajakku dan membawaku ke tempat ini?
“Tidak apa-apa, mas. Aku bisa pulang sendiri.” Kataku lalu meraih tas yang sejak tadi tergolek manis di sofa ruang tengah.
“Maaf, kalau kamu
tidak keberatan, ini ongkos taksi. Anggap ini sebagai permohonan
maafku.” Kembara mengulurkan uang lembaran ratusan ribu padaku. Aku
meliriknya sekilas.
“Mas, makasih
atas perhatiannya. Tapi maaf juga, ijinkan kali ini aku menolaknya.
Anggap juga aku sedang membantu seorang teman yang sedang kesulitan.
Lain kali saja kalau ada kesempatan kita bertemu lagi.” Dalam hati aku
membatin, semoga tak ada pertemuan itu lagi.
Aku bergegas
keluar dari rumah Kembara. Dia mengantarku sampai ke teras setelah
sebelumnya menelpon taksi. Tidak lama taksi muncul dan aku buru-buru
masuk ke dalam taksi dengan perasaan lega. Aku menarik nafas
berulang-ulang untuk melegakan perasaanku. Aku ingin segera tiba di
rumah dan tidur!
***
Masih
terkantuk-kantuk aku menyeret langkah menuju dapur. Nampak samar-samar
Siska sedang berdiri di teras samping. Ku kucek mataku untuk
mengembalikan kesadaran. Masih sangat pagi tapi Siska sudah di luar
rumah. Baru juga jam setengah enam.
Kubuka kulkas
lalu mengeluarkan botol air mineral, menuang airnya dalam gelas lalu
menaruhnya kembali di dalam kulkas. Setelah menutup pintu kulkas, aku
berjalan mendatangi Siska yang sedang menikmati udara pagi.
“Pagi, Sis.”
Ucapku setelah meminum air di gelas. Siska menoleh lalu tersenyum.
Wajahnya kini memerah tidak lagi pucat seperti beberapa waktu yang lalu.
“Semalam kamu dari mana? Ku dengar pintu kamarmu terbuka tapi aku sudah mengantuk.”
“Oh, dari rumah teman. Dia lagi ada masalah.”
“Hidup memang
penuh dengan masalah. Yang penting kamu jangan lupa memperhatikan
dirimu. Terlalu sibuk mengurusi orang lain, kamu bahkan lupa dengan
keluargamu.”
“Maksudmu, Sis?” tanyaku bingung.
“Kemarin siang, kakakmu datang kemari. Dia ingin menjemputmu. Tapi kamu tak ada, akhirnya mereka pulang.”
Aku meminum air digelas hingga habis. Kuletakkan gelas di atas meja lalu duduk di kursi.
“Keluargaku memang sudah memintaku pulang tapi aku masih merasa enggan, Sis.”
“Kenapa?” Siska duduk di kursi sebelahku.
“Apa kamu baik-baik saja jika aku pindah dari sini? Kamu akan sendirian.”
Siska menyentuh lembut jemariku.
“Sekarang aku baik-baik saja. Ada Gilang yang akan menemani. Selain itu orang tuaku juga akan kembali. Kamu jangan khawatir.”
Penuh haru
kupeluk Siska. Rasanya sedih jika mengingat akan berpisah dengannya.
Sekian lama kami hidup bersama dalam suka dan duka, kini aku harus
meninggalkannya.
“Ingat Dena,
keluarga yang utama. Kasihan papa dan mamamu, saudara-saudaramu. Jangan
biarkan mereka pusing lagi memikirkanmu. Sudah saatnya kamu menjadi
dewasa dan bisa mandiri dalam sifat dan perbuatan.”
Aku mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
“Aku akan ke
tempat kerjaku dulu, nanti sepulang kerja baru aku bereskan pakaian lalu
kembali ke rumahku. Terima kasih ya Siska, selama ini kamu sangat
sangat banyak membantuku. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas budi
atas kebaikanmu.”
“Tidak usah
membalas budi, Dena. Cukuplah hidup dengan tenang, maka itu sudah
membahagiaanku. Aku akan sangat berterima kasih, jika suatu saat
mendengar kabar kalau kamu dan keluargamu telah rukun kembali.”
Aku memeluknya
lagi. Kali ini lebih erat. Siska menepuk-nepuk pundakku. Kurasakan kali
ini dia sangat tegar. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Masalah yang
Siska hadapi membuatnya lebih bijak dan tegar dalam hidup.
“Ok, sekarang aku
buat sarapan dulu ya..sarapan terakhir..” kulepaskan pelukanku lalu
beranjak menuju dapur. Ku usap air mata yang tiba-tiba menetes saat
tubuhku berbalik memasuki dapur. Aku sangat sedih. Terlebih saat
kupandangi dapur yang selama ini menjadi ruang bagi kami untuk
berdiskusi dan bercanda. Dapur yang menyatu dengan ruang makan membuat
aktifitas kami lebih banyak berada di ruang ini.
“Selamat tinggal
dapurku, aku akan sangat merindukanmu.” Ku sentuh tembok dapur seolah
mahkluk hidup yang bisa merasakan kesedihanku. Sambil mempersiapkan
sarapan berupa nasi goreng, tak henti-hentinya air mataku mengalir.
Perpisahan memang menyakitkan.
***
“Aku melihatmu semalam.” Suara Farhan yang tiba-tiba muncul dibelakangku, mengagetkanku.
“Apa?”
“Semalam aku melihatmu dengan temanmu itu. Di warung depan toko kita.”
Aku tercekat, bukankah semalam tidak ada teman-teman yang tampak di depan toko? Lalu dari mana Farhan bisa melihatku?
“Kamu tahu darimana?” tanyaku sambil terus bekerja berusaha meredam rasa gugup yang tiba-tiba hadir.
“Mencintai seseorang, tidak perlu meilhatnya untuk tahu keberadaannya. Aku merasakan hawa tubuhmu dari angin yang berhembus..”
Aku terpana mendengar kata-kata Farhan yang puitis. Nyaris tertawa tapi kutahan dengan senyuman tipis.
“Kenapa senyum-senyum? Kamu tidak percaya kalau aku bisa merasakan kehadiranmu?”
Aku akhirnya tertawa. Perasaan geli tak dapat lagi kutahan.
“Kamu belajar dari mana membuat kata-kata puitis seperti itu..” kataku sambil terkekeh.
“Dena! Jangan
tertawa, seharusnya kamu senang mendengar kata-kataku. Biasanya
perempuan suka jika kekasihnya mengucapkan kata-kata romantis.”
“Tapi itu bukan kebiasaanmu. Agak aneh mendengarnya..”
“Tapi kamu suka kan? Bilang saja iya, biar hapalanku tidak sia-sia..”
Tawaku makin tak
terhahankan. Aku memilih duduk karena tak sanggup lagi berdiri. Farhan
ikut jongkok di depanku. Dia menatapku yang masih tertawa. Karena risih
di pandangi dengan sangat lekat oleh Farhan, aku kemudian menghentikan
tawa.
“Aku mencintaimu, Dena. Tolong pikirkan itu. Semalam aku sangat cemburu. Aku tidak sanggup melihatmu berdua dengan lelaki itu.”
Aku terdiam. Kali ini sorot mata Farhan tajam menghujam ke mataku. Aku tak sanggup dan mengalihkan pandangan ke tempat lain.
“Dena, tolong
lihat aku. Aku hanya ingin kepastian. Apa arti aku dalam hatimu? Kalau
bagimu aku ini hanyalah seorang teman atau sahabat, setidaknya aku sudah
tahu.”
“Farhan, maafkan aku. Semua ini serba mendadak. Aku belum siap menjawabnya.”
Farhan menyandarkan tubuhnya di deretan dos-dos barang. Menghela nafas tapi tak melihatku.
“Maafkan aku Farhan. Aku butuh waktu, setidaknya beri aku kesempatan untuk berpikir.”
Farhan terdiam lalu menoleh melihatku. Dia menyentuh pundakku lalu tersenyum.
“Aku mengerti.
Kamu tenang saja. Aku siap menunggu. Setidaknya aku masih punya peluang
menjadi kekasihmu.” Farhan lalu berdiri kemudian meninggalkanku.
Aku masih duduk
dengan gelisah. Pikiranku berkecamuk. Pernyataan cinta dari Farhan yang
terkesan mendadak membuatku tak bisa memutuskan dengan tenang.
Semoga jawabanku tidak melukai hatimu, Farhan, batinku seraya berdiri memandang dirinya yang sibuk memeriksa barang.
( Bersambung )


maaf, lanjutan cerita impian dena-nya kok tidak diteruskan? ataukah saya yang kurang update??
BalasHapusmakasih sudah berkunjung ke blog saya, lanjutannya memang belum ada, sementara masih dalam proses :)
Hapus