
Beberapa hari kemudian.
Aku terbangun ketikan sentuhan dingin menyentuh pipiku. Perlahan ku buka mataku. Nampak Siska tersenyum manis. Aku menatap lekat-lekat wajahnya. Pandanganku yang salah ataukah saat ini Siska sedang sakit? Wajahnya pucat.
Kusentuh jemari tangannya, sangat dingin.
“Kamu sakit, Sis?” sesaat Siska terdiam lalu beranjak menuju cermin besar. Aku bangun lalu duduk. Kuperhatikan sikapnya yang terlihat aneh pagi ini.
“Kembara melamarku, Dena. Aku bahagia sekali..” Siska berbalik sambil tersenyum lalu menatap cermin. Entah mengapa kabar ini terasa aneh bagiku. Aku tidak melihat hal menggembirakan yang terpancar dari mata Siska. Sebaliknya aku melihat sekilas kesedihan yang coba disembunyikan Siska dariku.
“Kamu tidak gembira, Dena?” tanya Siska tanpa melihatku.
“Apakah kamu sehat-sehat saja, Sis?” Aku menghampiri Siska yang masih berdiri di depan cermin. Lewat cermin dia memandangku.
“Aku sehat. Apa ada yang salah?”
Aku hanya menatap dirinya yang tampak berbeda. Apakah aku yang terlalu sibuk dengan masalah pribadi dan pekerjaan hingga tak memperhatikan sahabatku ini?
“Kamu sangat kurus dan pucat. Ada apa? Jangan bohong padaku. Aku tahu kamu sedang tidak fit. Iya, kan?”
“Aku sehat. Hanya aku terlalu gembira Kembara melamarku hingga tidak ada nafsu makan dan hanya sibuk mengurus rencana pernikahan kami.”
“Benarkah seperti itu? Syukurlah, setidaknya kamu sehat. Tapi kalau boleh aku beri saran, jaga kesehatan, perhatikan pola makanmu. Dengan tampilanmu seperti ini, siapapun akan berpikir kamu sedang sakit.”
“Jangan khawatir, aku senang kamu memperhatikan aku. Beberapa hari ini, aku seperti tidak mengenalmu. Kita juga jarang bertemu. Bagaimana kerjaanmu? Makin betah atau ingin pindah tempat kerja lagi?”
Siska mengalihkan pembicaraan. Aku menjawab karena tak ingin terus mendesaknya meski dalam hati masih khawatir dengan kondisinya.
***
Pagi ini aku berangkat kerja dengan perasaan cemas. Cemas akan kondisi Siska. Siska tidak masuk kantor dengan alasan ingin istrahat. Beberapa hari ini dia kelelahan mengurus rencana pernikahannya. Begitu alasan yang dia utarakan padaku.
Saat hendak membayar ongkos angkot, hapeku berdering. Tak kuangkat. Berdering lagi. Ku terima. Dari Kembara.
“Halo, mas Kembara? Apa kabar? Selamat ya udah mau nikah dengan Siska.” Suaraku yang riang berbanding terbalik dengan suara Kembara yang terdengar tak bersemangat.
“Dena, boleh kita bertemu selepas kamu kerja? Ada hal penting yang mau aku sampaikan. Ini soal Siska.”
Bulu kudukku merinding ketika mendengar ucapan Kembara. Apakah terjadi sesuatu dengan Siska hingga suara Kembara terdengar lesu?
Hingga jam istrahat pikiranku tak tenang. Rasa cemas membuat tak konsentrasi dan sering salah melakukan pekerjaan.
“Kalo kamu kurang fit sebaiknya istrahat saja. Jangan memaksakan diri.”
Farhan mendahuluiku meraih kotak di atas rak lalu menyerahkan padaku.
“Belum ada kabar dari mama. Aku juga takut menghubungi mama, takut mama jadi sedih. Padahal aku sangat ingin tahu keadaan papa saat ini.”
Mataku mulai terasa panas. Farhan menepuk pundakku dengan lembut.
“Sabarlah. Kamu dan keluargamu, masing-masing butuh waktu untuk saling instrospeksi. Tidak ada manusia yang sempurna. Kalian harus sama-sama saling memaafkan. Bagaimanapun keluarga adalah tempat kita kembali dari berbagai hal yang kita alami. Tanpa keluarga semua akan terasa hambar.”
“Makasih, Farhan. Aku ke depan dulu ya, mau antar barang ini.” Kataku lalu meninggalkan Farhan. Sekilas kulihat Etha duduk di pojokan sambil mencatat sesuatu di buku. Sikapnya sekarang sangat tenang. Tidak seperti waktu yang lalu. Apakah dia mulai ikhlas menerima perpisahannya dengan Farhan? Entahlah.
Menjelang sore hapeku berdering lagi. Dari Kembara. Dia menanyakan keberadaanku dan menyebutkan lokasi pertemuan kami.
“Aku antar ya, Dena.” Seperti biasa Farhan telah siap di depanku dengan motornya.
“Tapi aku belum pulang ke rumah. Aku ada janji dengan teman.”
Dia tersenyum. Manis sekali.
“Jangan khawatir. Aku bukan mau menguntitmu atau mencegahmu bertemu dengan temanmu itu. Sekali jalan, nggak enak menikmati sore sendirian. Ayo naik..”
Aku bergegas duduk di boncengan Farhan. Namun sikap Farhan kali ini tidak leluasa ku nikmati. Pikiranku tertuju pada Kembara dan Siska. Ada apa dengan mereka berdua. Siska terlihat sakit dan pucat sementara Kembara terdengar sangat khawatir. Hubungan mereka lepas dari perhatianku sejak Kembara memutuskan untuk kembali pada Siska.
Aku juga jarang bertemu dengan Siska. Kesibukan di toko membuat kami sering lembur. Siska juga sering pulang larut malam dengan alasan pekerjaan. Sementara Kembara sejak terakhir pertemuan kami, baru tadi pagi dia menghubungiku. Kuharap hubungan mereka baik-baik saja.
“Ada apa, mas? Apa ada masalah dengan Siska?”
Tanyaku begitu tiba dan duduk berhadapan dengan Kembara di sebuah warung lesehan. Kembara menunduk lalu menarik nafas dalam-dalam membuatku makin cemas.
“Sebaiknya kita pesan makanan dulu, ya...” Kembara lalu memanggil pelayan dan menyebutkan pesanannya.
“Aku ikut saja.” Kataku saat Kembara melihatku. Rasa penasaran membuat nafsu makanku hilang.
“Mas, aku tidak bisa makan dengan tenang kalau belum tahu masalah apa yang ingin mas ceritakan..” kataku tak tahan lagi melihat sikap diam Kembara.
Kembali Kembara menghela nafas lalu menatapku.
“Siska hamil, Dena.”
Aku terdiam. Kaget. Tenggorokanku terasa tercekat.
“Siska hamil? benarkah, mas? Selama ini dia baik-baik saja. Hanya tadi pagi aku lihat kondisinya tidak begitu baik. Dia pucat dan nampak kurus.”
“Ternyata selama ini Siska menyembunyikan kehamilannya. Aku juga tidak tahu hingga dia pingsan saat kami sedang melihat-lihat cincin pernikahan. Aku membawanya ke rumah sakit dan baru tahu saat itu.”
“ Lalu apa Siska tahu kalau mas udah tahu tentang kehamilannya?”
Kembara menggeleng.
“Mungkin dia tidak tahu. Sekarang aku bingung bagaimana harus mengatasi masalah kami. Aku butuh saran karena saat ini aku tidak bisa berfikir. Apa aku harus bertanya siapa ayah dari jabang bayi yang dikandungnya? Aku tidak ingin dia terluka dan malu karena pertanyaanku. Tapi aku juga merasa kecewa dan harus tahu yang sebenarnya. Mengapa dia tidak jujur padaku. Kami hampir menikah loh, Dena. Seharusnya tidak ada hal yang dia rahasiakan jika menyangkut hubungan kami.”
Kuteguk jus jeruk untuk menghilangkan kegelisahanku. Sementara Kembara merenung. Pandangannya menerawang jauh melewati jalan poros yang ramai dengan kendaraan yang lalu lalang.
“Apa yang harus aku lakukan, Dena? Aku manusia biasa. Aku tidak siap dengan kondisi Siska yang seperti ini. Menerima kekurangannya itu hal berbeda dengan apa yang dia alami saat ini. Seharusnya bukan aku yang bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya. Bukankah lebih baik dia mencari lelaki itu sebelum menerima lamaranku?”
Mungkin lelaki itu Gilang, batinku. Aku tidak ingin mengucapkan nama itu di depan Kembara.
“Kalau aku boleh beri saran. Sebaiknya mas bertanya langsung pada Siska. Sebagai sahabat, rasanya aku tidak tega untuk menanyakan langsung padanya. Persis seperti yang mas tadi katakan. Dia akan malu kalau aku tahu tentang keadaannya. Ini sudah terlanjur dan kalian sedang mempersiapkan pernikahan. Masih banyak waktu untuk memikirkan langkah yang akan mas ambil. Apakah akan meneruskan atau membatalkan pernikahan ini semua tergantung keputusan mas.”
“Aku juga berniat seperti itu karena terus terang aku kesal dan ingin mendapat penjelasan mengapa dia tidak meminta pertanggung jawaban dari lelaki itu bukan malah menerima lamaranku.”
“Mas, sebaiknya mas membicarakan ini sekarang dengan Siska. Lebih cepat kalian menyelesaikan masalah akan lebih baik.”
Kembara nampak setuju dengan usulku. Setelah menikmati hidangan yang tersaji kami lalu berpisah. Aku tahu kemana tujuan Kembara, dia akan menemui Siska. Sekarang aku sendiri di tepian jalan. Bingung hendak kemana. Aku tidak mungkin pulang dan bertemu dengan Siska. Tiba-tiba terpikir satu ide dalam kepalaku. Aku ingin melihat papa. Aku rindu dan ingin tahu keadaannya.
*****
( Bersambung)
0 komentar:
Posting Komentar