Jumat, 03 Agustus 2012

Bukan Karena Cinta

0

1343977651352722144

Fariz berdiri di dekat pintu memperhatikan satu persatu temannya yang keluar dari ruangan lalu masuk ke dalam bus. Sementara Kayla, gadis paling cantik di kelas tersebut memilih untuk keluar belakangan. Ada sesuatu yang ingin dia ucapkan pada Fariz. Hal penting dan  tidak ada yang boleh mendengar selain dirinya dan Fariz.

Fariz yang alergi melihat sikap Kayla padanya selama ini bergegas berjalan ketika gadis itu mendekati pintu.

“Fariz tunggu dulu! Ada yang mau aku bicarakan denganmu.”

“Apalagi? Kamu pikir aku tertarik padamu? Sikap baikku jangan kamu salah artikan.” Ucapnya kesal. Kayla menatap bingung.

“Jadi ini yang kamu pikirkan selama ini? Menganggap aku tertarik padamu dan mengejar-ngejar kamu? Kamu geer sekali…” Kayla melangkah meninggalkan Fariz dengan wajah cemberut.

“Geer amat..” batinnya kesal. Kini giliran Faris yang bingung, mematung sejenak menatap tubuh Kayla yang lincah masuk ke dalam bus.

Rasa kesal Kayla masih berlanjut hingga ke dalam bus. Setelah duduk dia memasang headset ditelinganya lalu memejamkan mata. Dia tidak peduli dengan suara riuh teman-temannya yang tertawa, bercanda dan saling mengucapkan kata-kata lucu.

“Apa yang ingin kamu bicarakan?” Fariz langsung duduk di sebelah Kayla dan menyikut lengannya. Kayla membuka mata dan memasang wajah cemberut saat melihat Fariz. Dia tidak menyahut tapi berpaling ke arah jendela.

“Tadi kamu bilang mau membicarakan sesuatu. Apa itu?” kembali Fariz menyikut lengannya.

“Tidak jadi. Aku sudah lupa!” Kayla menjawab singkat. Emosi dalam dirinya belum juga redup.

“Baiklah. Ini yang terakhir kali. Kalau ada hal yang ingin kamu bicarakan aku tidak akan mendengarkan!” Fariz bangkit dengan rasa kesal. Dia mengomel saat menuju tempat duduknya.

***

Seminggu berlalu. Fariz dan Kayla tak lagi saling menegur. Masing-masing menyimpan rasa kesal dengan alasan yang berbeda.

“Bagaimana Kayla? Dia masih mengejarmu?” tanya Sardi, teman sebangku Fariz sambil melirik Jenifer yang baru masuk ruangan.

“Mungkin dia marah karena aku menebak keinginannya. Tapi apa yang kalian sampaikan waktu itu benarkan?” tanya Fariz. Sardi berbalik menatap teman sebangkunya itu.

“Yang mana?”

“Tentang Kayla. Dia benar-benar naksir aku kan?” Sardi tertawa.

“Soal itu aku nggak tahu, Riz.”

“Tempo hari kan kamu yang ngomong? Kamu dengar sendiri Kayla menyebut namaku dan mengatakan ingin jadi pacarku!”

“Oh, itu bukan aku. Teman-teman yang bilang..”

“Maksudmu?” Fariz makin bingung. Perasaannya mulai tidak tenang.

“Katanya Kayla suka sama kamu.”

“Siapa yang bilang???” tak sadar Fariz berteriak karena kesal. Sardi kaget.

“Aku nggak tau..” jawabnya dengan ekspresi tak berdosa.

Fariz beranjak berdiri lalu menuju gerbang sekolah. Muncul Kayla dengan langkah anggun dari baik gerbang.

“Eh, apa-apaan ini?!?” Teriak Kayla. Fariz tidak peduli. Dia menarik tangan Kayla ke belakang gedung sekolah.

“Kamu ingin bicara apa tempo hari?” ekpresi Fariz tegang.

“Aku sudah lupa!” Kayla berusaha melepaskan tangan Fariz yang menahan lengannya.

“Jawab aku! Kalau tidak aku akan salah paham terus padamu!”

Kayla bengong.

“Kamu memang sudah salah paham! Siapa yang naksir kamu? Aku udah punya pacar tau..”

“Lalu gosip yang beredar? Kenyataannya kamu juga terus mengejar-ngejar aku?”

“Aku mau klarifikasi soal gosip yang tidak benar itu, bodoh! Minggir aku mau ke kelas. Jadi orang jangan suka geer. Sikapmu baik aku artikan salah? Mana mungkin?”

Kayla mendorong tubuh Fariz lalu berlari menuju kelasnya. Tinggal Fariz yang berdiri lunglai bersandar pada tembok. Wajahnya muram. Sekilas dia masih melihat tubuh Kayla yang menghilang.

“Padahal aku benar-benar naksir padamu..” ucapnya dengan rasa kecewa yang dalam.

********

0 komentar:

Posting Komentar