Selasa, 03 Juli 2012

Ketika Cintaku Tersenyum

0



13412914761130536044

“Akhirnya!!!” teriak Dayat mengagetkan kedua temannya yang sedang asyik menghadap laptop. Dayat terus menatap hape dengan senyum sumringah.

“Akhirnya dia membalas sms ku.”serunya.

“Siapa?” tanya Wawan hanya menantap sekilas lalu kembali melanjutkan mengutak-atik laptopnya. Dia bosan melihat tingkah Dayat yang setiap detik hanya memandangi hape yang tidak pernah berbunyi.

“Dia! siapa lagi? Mayaaaaaaa….”

Kedua temannya seolah tersadar. Dalam sekejap mereka telah berada disamping Dayat, menempel didekat kepala Dayat.

“Apa katanya?”kejar Wawan tak sabar.

“Dia menerima cintamu?”sambung Igbal tak kalah semangatnya.

“Tenang. Aku juga belum membaca sms nya. Sebaiknya kita berdoa sebelum membuka pesan ini. Semoga dia menerimaku menjadi kekasihnya..”

“Berdoa? Kamu sendiri saja yang berdoa..”Wawan tertawa.

Dayat memandang kedua temannya bergantian.

“Doa tiga orang tentu akan terkabul dibanding jika aku berdoa sendiri. Kalian temanku atau bukan??”

Mereka akhirnya berdoa bersama. Cukup lama hingga nyaris membuat Igbal tertidur karena ngantuk. Sejak semalam dia begadang menyelesaikan tugas kuliah.

“Ingat motto kita..ditolak wanita itu hal biasa, memotong rambut itu luar biasaaaaaa..” Wawan nyeletuk. Dayat dan Iqbal mengangguk setuju.

“Selama rambut kita panjang, tak ada kata sedih untuk patah hati..” Iqbal melanjutkan.

“Bismillahirrahmanirrahim…”ucap Dayat lalu membuka sms dari Maya. Kedua temannya begitu antusias ingin membaca sms tersebut hingga menghalangi pandangan Dayat.

“Sabar dong! bagaimana aku bisa baca kalau kalian seperti ini!” Dayat berdiri lalu pindah tempat duduk. Kedua temannya mengikuti.

Dayat, aku akan menerima cintamu, jika rambutmu yang panjang terurai itu kamu gunting…

Ketiganya bengong. Diam lalu saling pandang. Tenggorokan Dayat terasa tercekat.

“Ingat motto kita..ditolak wanita itu hal biasa, memotong rambut itu luar biasa..” Ulang Wawan mengingatkan Dayat yang tampak shock. Dia menyandarkan tubuh dengan gelisah.

“Sabar kawan. Motto kita bukan sekedar motto. Itu adalah perisai kita. Jangan patah hati hanya karena di tolak Maya. Jika dia mencintaimu, maka dia akan menerima apapun keadaanmu.” Iqbal menepuk pundak Dayat lalu kembali ke depan laptopnya. Dia bisa merasakan kesedihan Dayat. Telah sejak lama Dayat memendam rasa pada Maya, model kampus yang cantiknya luar biasa.

Bagaikan pungguk merindukan bulan, demikian mereka menyebut impian Dayat pada wanita pujaannya. Bukan tanpa alasan jika Dayat mendapat gelar seperti itu. Status Maya yang jadi idola di kampus membuat ajang persaingan semakin berat. Dayat makin tersungkur hingga ke pinggiran. Jangankan mendapat senyuman Maya, lirikan Maya pun mungkin hal yang mustahil baginya.

Namun keberuntungan rupanya berpihak pada Dayat. Memendam cinta sekian lama, akhirnya dia bisa seatap dengan Maya ketika mereka menyelesaikan tugas magang di pedesaan. Seolah telah diatur sang pencipta, Dayat satu kelompok dengan Maya. Hal yang tak pernah dia bayangkan. Meski hanya sebulan kebersamaan mereka, namun benih-benih cinta di hati Dayat telah mengakar dan menjadi pohon yang sangat besar. Sulit untuk disingkirkan.

Sekarang, setelah menanti dalam gelisah, pesan yang datang sungguh diluar dugaan. Hal yang paling mereka takutkan terjadi juga. Untuk kesekian kalinya, diantara mereka harus meredam rasa demi mempertahankan rambut panjang mereka.

“Apa tidak sebaiknya kamu ikuti saja keinginannya. Toh cepat atau lambat kamu akan memangkas rambutmu itu. Kamu tidak akan bisa ikut ujian akhir, jika tidak berambut cepak.”

Dayat menoleh menatap Wawan dengan putus asa.

“Tapi motto kita bagaimana? tidak mungkin aku mengikuti perasaan sementara sejak lama kalian berkorban. Itu egois namanya..”

Wawan terdiam. Sarannya juga tidak murni rela. Dia bersikeras dengan prinsip cinta menerima apa adanya. Perempuan yang memberi persyaratan saat akan menerima cinta, berarti tidak tulus mencinta. Itu anggapan yang tertanam dalam benaknya sejak dia memutuskan memelihara rambutnya hingga serupa wanita jika terurai dan terlihat dari belakang. Entah sudah beberapa kali dia harus meredam rasa dan mengubur rasa pedih takkala gadis yang dia incar menolak karena alasan rambut.

“Alaaaaaa..lupakan saja Maya mu itu. Percayalah suatu saat akan datang seorang gadis yang dengan tulus menyukaimu tanpa peduli dengan rambutmu..” Akhirnya terlontar kalimat pamungkas yang selalu mereka ucapkan jika kesal dengan keadaan.

Dayat tak bersuara lagi. Dia terdiam dan terus melamun. Kedua temannya tahu apa yang sedang dia pikirkan. Siang dan malam tak lagi beda di mata Dayat. Rasa lapar dan kenyang juga sama. Dia tidak bernafsu untuk makan. Kebiasaan mereka bermain sepak bola setiap sore juga tak lagi dia lakukan. Tidak ada gairah menjalani hidup. Pandangan mata Dayat kosong menerawang menembus jendela menuju awan-awan putih. Mungkin dia melukis wajah Maya atau sedang membayangkan rambutnya tengah di pangkas di salon.

****

Suatu sore, minggu ke dua sejak sms Maya yang mengagetkan mereka.

“Apa-apaan kalian?!” Dayat tersentak kaget ketika kedua temannya menarik tubuhnya dari pembaringan.

“Ayo! sekarang juga kita ke Salon mbak Nunik. Obat penyakitmu ini hanya satu, gunting rambut.” Ucap Iqbal sambil menarik tangan Dayat yang berusaha bertahan.

“Aku tidak mau! apa kalian sudah gila! bagaimana dengan motto kelompok kita? kalau aku tidak bisa bertahan, semuanya akan sia-sia!” protesnya sambil mengibaskan tangan kedua temannya.

“Peduli amat dengan motto! aku tidak mau punya teman yang akhirnya masuk rumah sakit jiwa karena urusan cinta. Sekarang atau tidak sama sekali. Rambut bisa panjang kapan saja, tapi gadis seperti Maya, aku tidak yakin kamu akan menemukan dalam sisa hidupmu!” Ucap Wawan tak mau kalah membuat Dayat termangu. Ucapan Wawan ada benarnya. Tidak mudah menemukan gadis seperti Maya. Bertahun-tahun dia hanya terbuai oleh sosok Maya tanpa bisa mengalihkan perhatian pada orang lain.

“Bagaimana? ikut sekarang atau kamu akan kehilangan kesempatan memiliki Maya sebagai kekasih.”

Dayat akhirnya menyerah dan ikut melangkah dengan kawalan dikiri kanan kedua temannya yang menggandeng tangannya.

*****

Tok..tok..tok…

Pintu terbuka, nampak seorang gadis dengan rambut seindah iklan shampoo,tergerai tertiup angin sore yang sejuk. Wawan terpukau. Matanya tak berkedip memandang sosok gadis cantik didepannya.

“Maaf, anda mencari siapa?” Teguran suara merdu menyadarkan Wawan.

“Mbak yang bernama Maya?” Tanya Wawan gugup. Gadis itu mengangguk dengan senyum yang sangat manis menggetarkan hati. Wawan menelan ludah. Pantas saja Dayat nyaris gila, lebih dekat ternyata Maya lebih cantik, batin Wawan.

Dia menarik nafas untuk mengumpulkan keberanian. Menghilangkan rasa gugup yang menyelimuti tubuhnya sejak memandang Maya.

“Perkenalkan, aku Wawan, teman Dayat. Kami setia sebagai sahabat sudah bertahun-tahun lamanya. Kami juga setia  menyayangi rambut kami yang panjang ini. Namun karena cinta padamu, Dayat rela melepaskan kesetiaannya pada rambut indahnya.”

Wawan berhenti sejenak mengatur perasaan sementara Maya masih menyimak dengan pandangan bingung.

“Aku datang mengantarkan sahabatku, Dayat. Aku harap sekembalinya dia dari sini, statusnya tak lagi jomblo. Aku tidak ingin pengorbanannya sia-sia..”

Wawan memberi kode lalu dari arah samping muncul Iqbal yang menggandeng Dayat. Maya terbelalak namun tak sampai bersuara. Dia hanya tersenyum. Sementara Dayat terlihat kikuk.

“Baiklah, Maya. Sekarang temanku  kuserahkan padamu. Ingat, aku tidak ingin dia kembali dalam keadaan patah hati.” Ucap Wawan lalu menarik tangan Iqbal yang masih ingin menyaksikan adegan romantis.

Sepeninggal Wawan dan Iqbal, Dayat tak berbicara. Lidahnya terasa kaku. Dia hanya sesekali memandang Maya yang tak juga berhenti tersenyum.

“Apa aku terlihat lucu?”ucapnya tak tahan lagi. Maya tersenyum lebar nyaris tertawa.

“Ternyata sms ku , kamu tanggapi serius. Aku tidak peduli rambutmu panjang atau pendek. Aku hanya ingin melihat kesungguhanmu. Ternyata kamu benar-benar serius menggunting rambut..”

Dayat menghela nafas lega.

“Kamu pikir aku rela melepaskan cinta hanya demi rambut? tentu saja aku akan mengguntinganya kalau kamu yang meminta..”

Maya mendekat, menyentuh lengan Dayat yang mulai gemetaran.

“Aku menyukaimu meski rambutmu panjang menyaingi rambutku. Hatimu baik, itu yang aku suka. Jadi dirimu sendiri jika itu membuatmu nyaman. Aku tidak suka dengan kepura-puraan karena itu aku tertarik padamu.”

Kata-kata Maya terasa menyejukkan. Dayat tak kuasa menahan tangannya untuk mengusap rambut indah Maya. Ternyata hatimu seindah wajahmu, batin Dayat senang.

“Jadi aku diterima atau tidak nih?” tanya Dayat terlihat masih belum yakin.

“Tentu saja diterima, bodoh. Kamu sudah menggunting rambutmu, apa aku tega menyakiti hatimu..” balas Maya dengan tatapan penuh cinta.

****

0 komentar:

Posting Komentar