“Akhirnya!!!” teriak Dayat mengagetkan
kedua temannya yang sedang asyik menghadap laptop. Dayat terus menatap
hape dengan senyum sumringah.
“Akhirnya dia membalas sms ku.”serunya.
“Siapa?” tanya Wawan hanya menantap
sekilas lalu kembali melanjutkan mengutak-atik laptopnya. Dia bosan
melihat tingkah Dayat yang setiap detik hanya memandangi hape yang tidak
pernah berbunyi.
“Dia! siapa lagi? Mayaaaaaaa….”
Kedua temannya seolah tersadar. Dalam sekejap mereka telah berada disamping Dayat, menempel didekat kepala Dayat.
“Apa katanya?”kejar Wawan tak sabar.
“Dia menerima cintamu?”sambung Igbal tak kalah semangatnya.
“Tenang. Aku juga belum membaca sms nya.
Sebaiknya kita berdoa sebelum membuka pesan ini. Semoga dia menerimaku
menjadi kekasihnya..”
“Berdoa? Kamu sendiri saja yang berdoa..”Wawan tertawa.
Dayat memandang kedua temannya bergantian.
“Doa tiga orang tentu akan terkabul dibanding jika aku berdoa sendiri. Kalian temanku atau bukan??”
Mereka akhirnya berdoa bersama. Cukup
lama hingga nyaris membuat Igbal tertidur karena ngantuk. Sejak semalam
dia begadang menyelesaikan tugas kuliah.
“Ingat motto kita..ditolak wanita itu
hal biasa, memotong rambut itu luar biasaaaaaa..” Wawan nyeletuk. Dayat
dan Iqbal mengangguk setuju.
“Selama rambut kita panjang, tak ada kata sedih untuk patah hati..” Iqbal melanjutkan.
“Bismillahirrahmanirrahim…”ucap Dayat
lalu membuka sms dari Maya. Kedua temannya begitu antusias ingin membaca
sms tersebut hingga menghalangi pandangan Dayat.
“Sabar dong! bagaimana aku bisa baca
kalau kalian seperti ini!” Dayat berdiri lalu pindah tempat duduk. Kedua
temannya mengikuti.
Dayat, aku akan menerima cintamu, jika rambutmu yang panjang terurai itu kamu gunting…
Ketiganya bengong. Diam lalu saling pandang. Tenggorokan Dayat terasa tercekat.
“Ingat motto kita..ditolak wanita itu
hal biasa, memotong rambut itu luar biasa..” Ulang Wawan mengingatkan
Dayat yang tampak shock. Dia menyandarkan tubuh dengan gelisah.
“Sabar kawan. Motto kita bukan sekedar
motto. Itu adalah perisai kita. Jangan patah hati hanya karena di tolak
Maya. Jika dia mencintaimu, maka dia akan menerima apapun keadaanmu.”
Iqbal menepuk pundak Dayat lalu kembali ke depan laptopnya. Dia bisa
merasakan kesedihan Dayat. Telah sejak lama Dayat memendam rasa pada
Maya, model kampus yang cantiknya luar biasa.
Bagaikan pungguk merindukan bulan,
demikian mereka menyebut impian Dayat pada wanita pujaannya. Bukan tanpa
alasan jika Dayat mendapat gelar seperti itu. Status Maya yang jadi
idola di kampus membuat ajang persaingan semakin berat. Dayat makin
tersungkur hingga ke pinggiran. Jangankan mendapat senyuman Maya,
lirikan Maya pun mungkin hal yang mustahil baginya.
Namun keberuntungan rupanya berpihak
pada Dayat. Memendam cinta sekian lama, akhirnya dia bisa seatap dengan
Maya ketika mereka menyelesaikan tugas magang di pedesaan. Seolah telah
diatur sang pencipta, Dayat satu kelompok dengan Maya. Hal yang tak
pernah dia bayangkan. Meski hanya sebulan kebersamaan mereka, namun
benih-benih cinta di hati Dayat telah mengakar dan menjadi pohon yang
sangat besar. Sulit untuk disingkirkan.
Sekarang, setelah menanti dalam gelisah,
pesan yang datang sungguh diluar dugaan. Hal yang paling mereka
takutkan terjadi juga. Untuk kesekian kalinya, diantara mereka harus
meredam rasa demi mempertahankan rambut panjang mereka.
“Apa tidak sebaiknya kamu ikuti saja
keinginannya. Toh cepat atau lambat kamu akan memangkas rambutmu itu.
Kamu tidak akan bisa ikut ujian akhir, jika tidak berambut cepak.”
Dayat menoleh menatap Wawan dengan putus asa.
“Tapi motto kita bagaimana? tidak mungkin aku mengikuti perasaan sementara sejak lama kalian berkorban. Itu egois namanya..”
Wawan terdiam. Sarannya juga tidak murni
rela. Dia bersikeras dengan prinsip cinta menerima apa adanya.
Perempuan yang memberi persyaratan saat akan menerima cinta, berarti
tidak tulus mencinta. Itu anggapan yang tertanam dalam benaknya sejak
dia memutuskan memelihara rambutnya hingga serupa wanita jika terurai
dan terlihat dari belakang. Entah sudah beberapa kali dia harus meredam
rasa dan mengubur rasa pedih takkala gadis yang dia incar menolak karena
alasan rambut.
“Alaaaaaa..lupakan saja Maya mu itu.
Percayalah suatu saat akan datang seorang gadis yang dengan tulus
menyukaimu tanpa peduli dengan rambutmu..” Akhirnya terlontar kalimat
pamungkas yang selalu mereka ucapkan jika kesal dengan keadaan.
Dayat tak bersuara lagi. Dia terdiam dan
terus melamun. Kedua temannya tahu apa yang sedang dia pikirkan. Siang
dan malam tak lagi beda di mata Dayat. Rasa lapar dan kenyang juga sama.
Dia tidak bernafsu untuk makan. Kebiasaan mereka bermain sepak bola
setiap sore juga tak lagi dia lakukan. Tidak ada gairah menjalani hidup.
Pandangan mata Dayat kosong menerawang menembus jendela menuju
awan-awan putih. Mungkin dia melukis wajah Maya atau sedang membayangkan
rambutnya tengah di pangkas di salon.
****
Suatu sore, minggu ke dua sejak sms Maya yang mengagetkan mereka.
“Apa-apaan kalian?!” Dayat tersentak kaget ketika kedua temannya menarik tubuhnya dari pembaringan.
“Ayo! sekarang juga kita ke Salon mbak
Nunik. Obat penyakitmu ini hanya satu, gunting rambut.” Ucap Iqbal
sambil menarik tangan Dayat yang berusaha bertahan.
“Aku tidak mau! apa kalian sudah gila!
bagaimana dengan motto kelompok kita? kalau aku tidak bisa bertahan,
semuanya akan sia-sia!” protesnya sambil mengibaskan tangan kedua
temannya.
“Peduli amat dengan motto! aku tidak mau
punya teman yang akhirnya masuk rumah sakit jiwa karena urusan cinta.
Sekarang atau tidak sama sekali. Rambut bisa panjang kapan saja, tapi
gadis seperti Maya, aku tidak yakin kamu akan menemukan dalam sisa
hidupmu!” Ucap Wawan tak mau kalah membuat Dayat termangu. Ucapan Wawan
ada benarnya. Tidak mudah menemukan gadis seperti Maya. Bertahun-tahun
dia hanya terbuai oleh sosok Maya tanpa bisa mengalihkan perhatian pada
orang lain.
“Bagaimana? ikut sekarang atau kamu akan kehilangan kesempatan memiliki Maya sebagai kekasih.”
Dayat akhirnya menyerah dan ikut melangkah dengan kawalan dikiri kanan kedua temannya yang menggandeng tangannya.
*****
Tok..tok..tok…
Pintu terbuka, nampak seorang gadis
dengan rambut seindah iklan shampoo,tergerai tertiup angin sore yang
sejuk. Wawan terpukau. Matanya tak berkedip memandang sosok gadis cantik
didepannya.
“Maaf, anda mencari siapa?” Teguran suara merdu menyadarkan Wawan.
“Mbak yang bernama Maya?” Tanya Wawan
gugup. Gadis itu mengangguk dengan senyum yang sangat manis menggetarkan
hati. Wawan menelan ludah. Pantas saja Dayat nyaris gila, lebih dekat
ternyata Maya lebih cantik, batin Wawan.
Dia menarik nafas untuk mengumpulkan keberanian. Menghilangkan rasa gugup yang menyelimuti tubuhnya sejak memandang Maya.
“Perkenalkan, aku Wawan, teman Dayat.
Kami setia sebagai sahabat sudah bertahun-tahun lamanya. Kami juga
setia menyayangi rambut kami yang panjang ini. Namun karena cinta
padamu, Dayat rela melepaskan kesetiaannya pada rambut indahnya.”
Wawan berhenti sejenak mengatur perasaan sementara Maya masih menyimak dengan pandangan bingung.
“Aku datang mengantarkan sahabatku,
Dayat. Aku harap sekembalinya dia dari sini, statusnya tak lagi jomblo.
Aku tidak ingin pengorbanannya sia-sia..”
Wawan memberi kode lalu dari arah
samping muncul Iqbal yang menggandeng Dayat. Maya terbelalak namun tak
sampai bersuara. Dia hanya tersenyum. Sementara Dayat terlihat kikuk.
“Baiklah, Maya. Sekarang temanku
kuserahkan padamu. Ingat, aku tidak ingin dia kembali dalam keadaan
patah hati.” Ucap Wawan lalu menarik tangan Iqbal yang masih ingin
menyaksikan adegan romantis.
Sepeninggal Wawan dan Iqbal, Dayat tak
berbicara. Lidahnya terasa kaku. Dia hanya sesekali memandang Maya yang
tak juga berhenti tersenyum.
“Apa aku terlihat lucu?”ucapnya tak tahan lagi. Maya tersenyum lebar nyaris tertawa.
“Ternyata sms ku , kamu tanggapi serius.
Aku tidak peduli rambutmu panjang atau pendek. Aku hanya ingin melihat
kesungguhanmu. Ternyata kamu benar-benar serius menggunting rambut..”
Dayat menghela nafas lega.
“Kamu pikir aku rela melepaskan cinta hanya demi rambut? tentu saja aku akan mengguntinganya kalau kamu yang meminta..”
Maya mendekat, menyentuh lengan Dayat yang mulai gemetaran.
“Aku menyukaimu meski rambutmu panjang
menyaingi rambutku. Hatimu baik, itu yang aku suka. Jadi dirimu sendiri
jika itu membuatmu nyaman. Aku tidak suka dengan kepura-puraan karena
itu aku tertarik padamu.”
Kata-kata Maya terasa menyejukkan. Dayat
tak kuasa menahan tangannya untuk mengusap rambut indah Maya. Ternyata
hatimu seindah wajahmu, batin Dayat senang.
“Jadi aku diterima atau tidak nih?” tanya Dayat terlihat masih belum yakin.
“Tentu saja diterima, bodoh. Kamu sudah
menggunting rambutmu, apa aku tega menyakiti hatimu..” balas Maya dengan
tatapan penuh cinta.
****
0 komentar:
Posting Komentar