flower.bmp
Kau selalu ingin tampak sempurna.
Bahkan untuk hal-hal yang kecil sekalipun. Aku tak mengenalmu lagi.
Inikah wujud aslimu yang sekian lama tersembunyi di balik status kita
sebagai kekasih? Setelah semua terlewati dirimu mulai menampakkan wujud
asli yang sangat menyebalkan bagiku.
Aku mungkin yang tak menyadari karena
tertutup cinta teramat dalam. Sikapmu yang penuh perhatian membuatku
tersanjung. Kini kurasakan sangat menyiksaku. Tak ada hal yang
terlewati dari pandangan matamu. Aku muak dan mulai jenuh dengan
kehidupan yang kita lakoni bersama. Cinta kita makin tak jelas
bentuknya. Kasih sayang ataukah hanya kewajiban sebagai pasangan suami
istri?
Hari ini aku ingin mengikuti suara
hatiku. Aku tidak ingin lagi tunduk pada kesempurnaan versi dirimu. Aku
ingin bebas, kembali menjadi diriku yang dulu. Tampil apa adanya,
tanpa kepura-puraan hanya demi terlihat sempurna. Aku tak ingin
bersikap munafik. Aku adalah diriku, bukan orang lain yang sedang aku
perankan.
Mata Rista, si asistenmu melotot saat
aku keluar ruangan. Dia menatap dari ujung kaki ke ujung rambut. Aku
tidak peduli meski aku tahu sebentar lagi handphoneku akan berdering.
Aku terus melangkah melewati dirinya yang hanya berdiri terpaku.
“Aku pergi dulu,katakan pada bosmu, aku ingin bebas.” Kataku dengan senyum sinis.
Dirimu lebih percaya pada asistenmu
daripada aku, istrimu sendiri. Percuma aku mempertahankan kesabaran
mengikuti semua keinginanmu jika yang kudapat hanya pengekangan dan
rasa tidak puas darimu atas segala hal yang aku lakukan.
Seharusnya kamu menyadari, aku istrimu
dan dia asisten. Dia bukan siapa-siapa, bukan dia yang merasakan
kekhawatiranku sebagai istri. Setiap waktu yang aku lewati,
menghadirkan beban bagiku. Kau tak tahu karena di matamu segala hal
berdasarkan pikiranmu. Tak memikirkan aku sama sekali.
“Halo, sayang!kamu mau kemana?”suaramu nyaring dari seberang.
Aku menatap asistenmu yang melihatku lewat jendela. Mungkin dia puas karena bisa menemukan kesalahanku.
“Lolita!”
“Aku mau jalan-jalan. Aku ingin mencari kesibukan sendiri.”
“Tapi kau istriku. Seharusnya dandananmu tidak seperti itu!”
“Apa?dandanan? bagaimana mas bisa
melihat dandananku?” Aku makin kesal. Pasti si asisten itu yang
memberikan informasi tentangku. Sungguh menyebalkan.
“Segera ubah penampilanmu atau aku akan minta satpam untuk melarangmu keluar dari rumah!” Suaramu terdengar penuh emosi.
“Aku istrimu atau bukan? Mengapa aku
tidak boleh bersikap sesuai keinginanku!” teriakku kesal. Kedua satpam
yang sedang duduk di penjagaan memandangku. Aku yakin mereka tahu
mengapa aku berteriak histeris.
“Karena kau istriku maka kau harus
patuh dan menjaga martabat suamimu. Kamu pikir saat keluar dari rumah,
bukan dirimu yang mereka perguncingkan tapi aku.”
“Aku muak di rumah, aku ingin bebas.
Aku ingin….” suaraku tertahan. Aku ingin punya anak. Sesuatu yang tak
mungkin aku dapatkan karena menurut dokter dirimu mandul. Meski aku
sangat marah namun aku tak ingin mengucapkan kata-kata itu. Biarlah itu
menjadi rahasiaku, aku tak ingin dirimu menjadi rendah diri dan malu
di depan anak buahmu.
“Lebih baik kamu segera ubah penampilanmu. Jaga martabat suami dan dirimu sendiri.”
Aku berdiri dan menyandarkan tubuhku di
mobil. Kumasukkan hape dalam tas lalu masuk ke dalam mobil. Lewat kaca
spion kulihat kedua satpam itu mulai bergerak mendekati pintu pagar.
“Buka!” teriakku pada mereka karena belum juga membuka pintu gerbang. Mereka tak bergeming.
“Buka kataku!”
“Maaf, bu. Bapak berpesan agar ibu mengubah penampilan ibu.”
“Ke makam saja harus mengubah penampilan? Buka pintunya!”
Keduanya nampak mulai ragu. Mereka
saling pandang lalu salah seorang maju membuka pintu gerbang. Aku
meluncur melewati jalan raya. Tak kupedulikan nyanyian dari
handphoneku. Aku yakin itu pasti darimu. Aku tidak peduli jika kali ini
kau marah padaku.
Jika tadi aku hendak ke mall, kali ini
tujuanku berbeda. Aku ingin ke makam ayah. Sudah lama aku tidak
berkunjung sejak dirimu menerapkan segala aturan kesempurnaan dalam
rumah tangga kita.
Aku lupa kapan terakhir mengunjungi
makam ayah. Dulu, seminggu sekali aku datang ke makam ayah. Menaburkan
bunga. Berbincang dengan ayah tentang segala hal. Jika ada yang
melihatku, mungkin akan mengira aku gila. Sekarang aku ingin
mengembalikan hal-hal yang hilang dalam hidupku. Kurasakan hidupku
makin tak sempurna sejak bersamamu.
Kesempurnaan bagiku dan bagimu sangat
berbeda. Aku melihat kesempurnaan dari hati. Jika kita bahagia, maka
itu adalah kesempurnaan. Sedangkan bagimu, kesempurnaan adalah jika
segala hal di sekitarmu sesuai keinginanmu. Tak ada yang sempurna jika
tak searah dengan pikiranmu.
Makam ayah di penuhi semak belukar. Tak
lagi terawat. Aku sedih dan meneteskan air mata. Aku anak yang tak
berguna. Rumahku begitu mewah tapi makam ayah seperti tak bertuan.
Ku seka air mataku dan mulai membereskan semak yang memenuhi makam ayah. Seorang penjaga makam mendekatiku.
“Mbak Lolita?” tegurnya.
“Bapak siapa?” tanyaku. Aku tak mengenalnya.
“Mbak lupa sama saya? Sejak ayah mbak meninggal, saya yang merawat makamnya.”
Aku tertegun mendengar ucapannya. Merawat makam ayah? Dengan kondisi seperti ini dikatakan merawat?
“Tapi makam ayah penuh semak begini?”
Dia tersenyum membuatku makin bingung.
“Makam ayah mbak di sebelah sana. Mbak salah makam.”
“Salah makam?aku yakin makam ayah di
sini, meski namanya sudah kehapus.” Kataku mencoba bertahan.
Kuperhatikan kembali makam ayah. Benarkah aku salah?
“Mbak sudah lama tidak kemari, jadi lupa makam ayah sendiri. Ikut saya, mbak. Biar mbak percaya.”
Aku mengikuti lelaki itu. Dia
menunjukkan makam yang sangat indah. Pagar dan keramik menghiasi makam
ayah. Aku masuk setelah pintu makam yang terkunci di buka. Ku baca nama
yang tertera pada nisan. Aku bersimpuh dan menangis. Air mataku
mengalir.
“Suami mbak yang merenovasi makam ini
dan setiap minggu datang berkunjung.” Sahut si lelaki. Aku tercengang
mendengarnya. Dirimu rajin berkunjung ke makam ayah? Mengapa aku tak
tahu? Aku si anak satu-satunya malah bertahun-tahun lupa jika di
pemakaman ini ada makam ayah. Aku benar-benar anak durhaka.
Airmataku makin deras mengalir. Rasa
sesal membuat perasaanku makin sedih. Aku ingat ayah, ingat dirimu.
Perhatianmu pada ayah membuatku terharu. Benarkah sikapku selama ini
padamu? Aku mulai ragu. Apakah diriku yang salah menilai kesempurnaan?
Menganggap dirimu terlalu kaku dengan
segala kesempurnaan yang ada dalam benakmu. Aku yang nyaris tak peduli
dengan makam ayahku sendiri hingga lupa letak makamnya. Aku malu
padamu, malu pada ayah. Andaikan ayah masih hidup, tentu dia akan
memujimu sebagai menantu teladan. Sementara aku, sama sekali tak
menghargaimu sebagai suamiku.
Perlahan aku berdiri setelah lama
terbenam dalam tangis dan penyesalan. Aku berbincang dengan ayah
seperti kebiasaanku dulu. Kebiasaan yang hampir kulupakan. Sekarang
hatiku lega. Aku ingin kembali padamu. Menjadi seseorang yang membuatmu
bangga. Bukan lagi istri yang selalu membuat suami gelisah dan sibuk
mencari kesalahan dirimu. Semoga dirimu masih mau memaafkanku.
=====
0 komentar:
Posting Komentar