Biasanya Mommy lewat depan kios Sekar akan menyapa dengan suaranya yang riang karena yakin bakal dapat kripik gratis. Tapi kali ini berbeda. Mommy bahkan tak melirik kios Sekar. Dia terus melenggang dengan anggun, tak peduli tatapan heran Sekar yang melihatnya dengan mulut menganga karena kaget dan tak percaya.
“ Mommy!” panggil Sekar yang mengira Mommy terkena penyakit lupa. Namun Mommy tetap saja acuh dan tak peduli. Mommy sibuk membeli sayuran di kios yang berdekatan dengan kios kripik milik Sekar Mayang.
Karena tidak mendapat tanggapan, Sekar nekad mendekati Mommy. Tidak lupa dia membawa dua bungkus kripik sebagai hadiah untuk Mommy sang calon mertua.
“ Mommy?” tegurnya seraya menyentuh tangan Mommy dengan lembut. Mommy berbalik tapi tatapannya sangat dingin.
“ Mommy sakit ya? Kok tidak singgah di kios Sekar. Nih, Sekar bawain kripik apel, rasanya enak, semoga Mommy suka.”
“ Maaf ya, Sekar. Sekarang ini Mommy lagi bad mood. Jangan tambah lagi dengan pedekate yang murahan seperti ini.” Ucap Mommy ketus. Sekar tidak menyangka akan mendapat sambutan seperti itu hanya terpaku. Dia tak bisa berkata-kata lagi. Hanya diam memandangi Mommy yang berlalu dengan acuhnya.
Sekar akhirnya kembali ke kios dengan pikiran galau. Dia cemas mengetahui calon mertuanya bersikap sangat dingin bahkan terkesan membencinya. Sekar merasa heran. Apa salahku? Mengapa Mommy yang begitu lembut dan ramah tiba-tiba kesal dan marah padanya? Apa dia telah melakukan sesuatu yang membuat Mommy tidak senang? Tapi apa? Sekar makin bingung.
Karena tak tahan memendam berbagai pertanyaan dalam benaknya, Sekar akhirnya datang ke rumah Mommy. Kebetulan rumah Mommy lagi sepi. Sekar terus masuk ke dalam rumah dan mendapati Mommy tengah memasak di dapur.
“ Kenapa kemari?” Mommy langsung menegurnya. Sikapnya tetap saja tak ramah. Sekar jadi salah tingkah tapi dia tak peduli. Daripada penasaran lebih baik bertanya langsung ke Mommy.
“ Mom, Sekar salah apa? Kok Mom sepertinya marah sama Sekar?” tanya Sekar dengan wajah memelas. Mommy menghela nafas seolah ingin melepaskan amarah. Dia menatap Sekar.
“ Jangan dekati Ari anak Mom.” Ucap Mommy.
“ Tapi kenapa Mom? Sekar suka berteman dengan mas Ari. Kenapa kami tidak boleh berdekatan?”
“ Kamu sadar gak, karena kamu si Ari jadi malas ke sekolah. Nilai-nilainya jeblok. Coba kamu lihat sendiri di dalam kamarnya. Semua buku tulisnya hanya tertulis namamu!” Wajah Mommy yang putih kini berubah dengan gurat-gurat merah tanda menahan kesedihan. Matanya berkaca-kaca berusaha menahan tangis. Sekar terperanjat. Dia tidak menyangka kemarahan Mommy karena hubungannya dengan Ari, putra Mommy.
“ Maaf, Mom. Sekar minta maaf. Sekar tidak tahu kalau kedekatan kami bisa berdampak buruk untuk mas Ari.”
“ Sekarang Sekar jawab dengan jujur. Benar Sekar suka dan cinta sama anak Mommy?” Mommy menatap penuh keseriusan. Sekar mengangguk.
“ Kalau begitu Sekar harus tentukan pilihan. Jangan ikut-ikutan ngirim bunga untuk mas Kades Hans. Karena kelakuanmu itu, si Ari jadi frustasi. Patah hati. Dia malas sekolah dan makan. Mommy capek memasak dia nggak mau makan.” Omel Mommy yang membuat Sekar tersenyum geli. Ternyata Mommy marah karena dia ikut mengirim bunga ke mas kades. Mommy tidak tahu kalau malam kemarin, dia dan mas Ari telah menikmati malam romantis. Tak ada lagi wajah Aa Kades dalam pikirannya. Sekarang hanya wajah mas Ari yang menemani mimpi-mimpi tidurnya.
Sekar tiba-tiba memeluk Mommy dari belakang. Sikapnya berubah manja.
“ Sekar mau jadi menantu Mommy. Terima Sekar ya, Mom?” pintanya.
****
____________________________________________________________________
DESA RANGKAT menawarkan kesederhanaan cinta untuk anda, datang, bergabung dan berinteraksilah bersama kami (Klik logo kami)


0 komentar:
Posting Komentar