Selasa, 03 April 2012

Saat Cinta Mendekapmu

0

13286959371726900780

Aku tak ingin menangis lagi. Kepedihan ini bukan duri lagi. Sunyi yang terasa bukan petaka lagi buatku. Kini semua adalah temanku. Mereka menjadi penghibur dalam galauku. Kepergianmu bukan musibah kini. Itu mungkin suatu anugerah yang terselubung, tak terlihat olehku sebelumnya. Menangis kini karena aku merasa bahagia. Seharusnya seperti itu. Lepas darimu, lepas dari cintamu, lepas dari segala yang ada dirimu. Kini aku benar-benar bebas. Tak ada dirimu, tak ada dirinya.

” Mbak Maya,buburnya di makan ya?” suara lembut yang sangat aku kenal. Aku menoleh melihatnya, kugenggam tangannya yang putih.

” Makasih ya, Renita. Kalau gak ada kamu, mbak mungkin udah mati.” ucapku dengan mata basah. Renita duduk di sampingku. Mengelus rambutku dengan penuh kasih seperti biasa.

” Aku tidak punya kakak tempat aku bisa bermanja. Senang sekali menemukan kakak. Lain kali jangan mencoba bunuh diri lagi ya, mbak. Hampir saja malam itu aku menabrak mbak.”

Tatapan Renita yang teduh membuat tenang jiwaku. Sejak bertemu dengannya seminggu yang lalu, aku merasa menemukan keluarga kembali. Keluarga yang telah lama aku lupakan dan mungkin juga melupakan aku. Aku tidak ingin mengingat semua itu meski kadangkala dalam lamunanku ada celah yang mengusik kenangan masa lalu.

” Papa tadi menjenguk mbak tapi mbak lagi tidur.”

” Oh, ya. Maafkan mbak ya, belum bisa membantu banyak.” kataku sambil meraih piring berisi bubur.

” Oh, tidak apa-apa mbak. Di rumah ini kan ada pembantu. Lagipula mbak juga sedang sakit, jangan terlalu memaksa diri untuk terlihat sehat. Kata dokter, penyakit mbak hanya butuh istrahat.”

” Iya, sekali lagi makasih ya, Renita.”

Renita lalu pamit. Kini aku sendiri dalam kamar yang menurutku sangat luas. Aku sangat beruntung bertemu dengan Renita dan keluarganya. Mereka sangat baik dan mau menolong memberi tumpangan untukku. Malam saat aku nyaris di tabrak mobil Renita, kondisiku sangat labil. Kehilangan cinta yang teramat menyakitkan membuat pikiranku gelap.

Tak ada keinginan bunuh diri malam itu. Hanya ketika mencoba melangkah pulang, kepalaku pusing dan pandanganku berkunang-kunang hingga tak lagi jelas melihat jalan. Saat hendak menyeberang, aku benar-benar tak bisa melihat lagi. Tubuhku limbung dan terjatuh. Ketika sadar hanya wajah Renita dan keluarganya yang tampak. Wajah-wajah yang beberapa hari kemudian terasa tak asing lagi.

Keluarga Renita menganggapku seperti bagian dari keluarga merek sendiri. Aku merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan mereka. Namun rasa kehilangan membuatku sangat bersyukur bertemu dengan mereka. Aku ngeri membayangkan jika saja malam itu aku benar-benar jadi korban tabrak lari. Membayangkan saja aku tidak sanggup.

” Mbak Maya.” panggil Renita yang muncul dari balik pintu.

” Ada apa, Renita?”

Renita mendekatiku dengan wajah terlihat sungkan.

” Kamu kenapa, bicara saja sama mbak.”

Renita terlihat gugup. Aku akhirnya menghabiskan bubur lalu menaruh piring di atas meja di samping tempat tidur.

” Semalam, aku sudah ngomong dengan papa. Tapi kalau mbak tidak setuju, ya tidak apa-apa.”

Aku masih tidak mengerti dengan ucapan Renita. Kuraih tangannya dan kuletakkan di atas tanganku.

” Kamu ingin menyampaikan apa sama mbak? bicara saja, jangan malu atau sungkan.”

Renita menghela nafas sejenak.

” Aku ingin mbak tinggal di sini bersama kami. Aku ingin punya kakak. Dulu, aku punya kakak perempuan. Cuma dia meninggal karena kecelakaan. Karena itu kehadiran mbak membuat kami sekeluarga yakin,  mbak mungkin di kirim Allah untuk mengisi kehilangan yang kami rasakan.”

Aku mengerti dan terharu. Kupeluk Renita. Aku sedih mendengar kisahnya. Kesedihan yang juga aku alami karena kehilangan keluarga. Aku juga merindukan keluarga yang tak mungkin aku datangi lagi. Aku telah  terbuang sejak menolak pernikahan yang di jodohkan keluarga. Aku tak lagi di akui anak. Jangankan keluarga sendiri, keluarga jauh juga seperti mengikuti perintah dari orang tuaku. Tak ada yang berani menampung apalagi mencariku.

” Mbak senang berada di sini. Mbak sangat berterima kasih, keluargamu sudah menerima mbak. Kalau itu yang kalian inginkan, mbak akan sangat bahagia menjadi bagian dari keluarga kalian.”

Renita memelukku. Dia menangis. Aku juga. Kami berdua larut dalam tangis.

” Makasih, mbak. Jangan tinggalkan kami lagi ya? tinggal di sini saja.”

Aku menggangguk. Ku elus rambutnya. Aku akan tinggal karena aku juga merindukan keluargaku Renita, batinku.

********

Beberapa hari kemudian  kondisiku sudah pulih dan bisa berjalan-jalan di dalam rumah. Setiap pagi, aku ke dapur dan bertemu dengan pembantu rumah, Bi Wanu.  Wanita paruh baya itu selalu menyiapkan jamu untukku. Menurutnya, jamu itu sangat menyehatkan. Aku hanya tersenyum lalu meminum jamu buatannya.

” Bi Wanu sudah lama kerja di sini?” tanyaku sambil membantu memotong-motong sayur. Dia mengangguk.

” Bibi ikut waktu tuan dan nyonya baru menikah, mbak.”

” Oh, ya. Sudah lama juga ya.”

” Iya.”

Aku tiba-tiba teringat dengan potret wanita yang ada di ruang tengah.

” Wanita itu siapa, bi. Wanita yang fotonya ada di ruang tengah.”

” Oh, itu foto nyonya. Tapi dia sudah meninggal.” Raut wajah bi Wanu berubah sedih.

” Meninggal? setahuku yang meninggal cuma kakak Renita, namanya Wulandari.”

” Nyonya juga meninggal. Mereka meninggal dalam kecelakaan yang sama. Tapi bagi non Renita, kehilangan kakaknya lebih menyakitkan daripada kehilangan mamanya. Non Wulan sangat dekat dengan adiknya.”

” Kok, bisa begitu bi?”

” Nyonya terlalu sibuk hingga tak sempat mengurus keluarga. Sebenarnya…” bi Wanu menghentikan ucapannya. Dia melihat sekeliling. Aku jadi heran melihat sikapnya.

” Sebenarnya hari itu, tuan dan nyonya sudah bercerai.”

Aku terperangah.

” Nyonya mengambil non Wulandari dan tuan mengambil non Renita. Mereka berbagi anak. Malang tak dapat di tolak. Dalam perjalanan keduanya mengalami kecelakaan dan tewas.”

Bi Wanu mengusap air matanya. Aku ikut sedih mendengar kisahnya. Pantas saja Renita begitu bahagia ketika aku mengatakan setuju untuk menjadi kakaknya.

” Sejak kejadian yang menimpa mantan istri dan anaknya, tuan selalu murung. Non Renita juga. Kehidupan di rumah ini berubah seperti kuburan, mbak. Sepi. Tapi sejak kedatangan mbak, bibi melihat perubahan yang besar. Tuan selalu tersenyum, begitu juga dengan Non Renita. Mereka berdua seperti bergairah lagi dengan hidup mereka.”

Aku makin paham. Aku juga ingin seperti mereka, kembali menikmati hidup dengan penuh semangat. Aku harus membahagiakan orang-orang yang menginginkan kehadiranku. Bukan terus menyesali kehidupan masa lalu yang membuatku terluka.

Setelah membantu Bi Wanu dan mendengarkan kisah yang mengharukan darinya, aku lalu ke ruang tengah. Di sana aku duduk sambil menonton siaran tivi. Iseng-iseng sambil duduk aku mengambil album foto yang tertata rapi di bawah meja.

Lembar album ku buka. Nampak wajah yang sangat aku kenal, Renita dalam pelukan papanya. Satu album yang ku buka, hanya memperlihatkan foto Renita dan papanya. Tak ada orang lain. Aku lalu mengambil album yang lain lagi. Aku berharap bisa melihat wajah mama Renita dan kakaknya, Wulandari. Namun foto dalam album itu juga  sama.

Karena penasaran, aku kembali mendatangi Bi Wanu di dapur.

” Kalau foto nyonya dan non Wulandari, adanya di ruang perpustakaan. Mbak ke sana saja. Dari sini, terus ada dua kamar, belok kiri. Nah di situ perpustakaan.”

Aku mengikuti petunjuk Bi Wanu. Rasa penasaran tak dapat lagi aku tahan. Aku ingin melihat wajah Wulandari. Kadang aku merasa wajahku dan wajah Renita ada kemiripan. Bi Wanu juga pernah mengatakan hal yang sama. Mungkin kami sudah ditakdirkan untuk bertemu karena kemiripan kami.

Aku membuka pintu perpustakaan. Mataku menatap sekeliling yang di penuhi rak-rak. Ruangannya tidak terlalu luas namun cara mengatur memberi kesan lapang ketika masuk. Aku segera mencari album foto. Tidak sulit menemukannya karena di letakkan di atas meja.

Mataku sejenak menatap bunga edelweis yang jadi hiasan pemanis di atas meja. Aku terpesona melihatnya. Bunga  lambang cinta yang abadi. Semoga cinta yang ada di rumah ini juga akan abadi. Sesaat pesona itu  membuatku lupa dengan album foto. Aku tersadar dan segera meraih album foto lalu duduk di kursi pojok ruangan.

Tanganku segera membuka album foto pertama. Kulihat ada tiga album yang di letakkan di atas meja. Kubuka lembar pertama. Benar saja. Bisa ku tebak foto wanita yang nampak adalah ibu Renita. Foto yang sama sudah aku lihat di ruang keluarga.

Entah mengapa debar jantungku terasa cepat ketika mataku terpaku pada foto seorang gadis berambut panjang. Aku Menatap lebih lekat, takut ada yang salah dengan penglihatanku. Tetap sama. Wajah gadis itu mirip sekali denganku, hanya potongan rambut kami berbeda. Aku dengan rambut pendek, sementara rambut gadis itu panjang.

Aku masih menatap tak berkedip. Inikah alasan hingga Renita menginginkan aku jadi bagian dari keluarganya? rasa kehilangan akan sosok kakak, terobati dengan kehadiranku yang memiliki wajah mirip dengan Wulandari, kakaknya.

Renita yang malang. Aku tidak yakin bisa menjadi kakak yang baik bagimu. Aku merasa terlalu banyak kekurangan. Aku tak pantas menjadi kakak bagimu. Kehidupan kita sangat jauh berbeda. Kamu harus tahu siapa aku sebelum menjadikan aku bagian keluargamu. Aku tidak bisa, maafkan aku.

Aku keluar ruang perpustakaan dengan linangan air mata. Hatiku benar-benar sakit. Jika sebelumnya aku setuju menjadi kakak bagi Renita, namun sekarang aku merasa malu. Aku takut keluarga Renita lambat laun akan sadar siapa diriku dan itu menjadikan mereka terluka. Aku tidak ingin mereka menanggung beban yang seharusnya aku tanggung sendiri.

” Mbak Maya?” Renita memanggilku. Aku tak sempat menyeka airmataku. Kakiku yang setengah langkah lagi masuk ke kamar akhirnya hanya bisa mematung. Diam tak bergerak melihatnya terus mendekatiku.

” Mbak Maya kenapa? kok menangis?” Renita memegang bahuku membuatku tak kuasa menahan tangisku.

” Ijinkan mbak pergi dari sini. Mbak tidak bisa menjadi kakak yang baik bagimu. Terlalu banyak kekurangan mbak yang belum kamu ketahui. Mbak tidak ingin kamu dan papamu menanggung malu karena perbuatan mbak.”

Ucapku dengan linangan air mata. Renita juga ikut menangis denganku. Dia memelukku.

” Kami sudah tahu semua, mbak. Karena itu kami ingin mbak tinggal bersama kami.”

Aku melepaskan pelukannya karena kaget.

” Kalian sudah tahu? tapi mengapa masih menginginkan mbak jadi kakak dan saudara di rumah ini? apa karena wajah mbak mirip dengan Wulandari, kakakmu?”

Mata Renita membulat. Bibirnya bergetar ingin mengucapkan sesuatu..

” Mbak sudah melihat foto kak Wulan?”

Aku mengangguk.

” Mbak bukan dia. Kami sangat berbeda. Kalau karena kemiripan itu yang membuat kalian menerimaku. Kalian salah. Aku tidak seharusnya berada di sini.”

Renita memelukku lagi. Dia menangis.

” Jangan pergi, mbak. Aku mohon. Tinggallah bersama kami. Sudah lama aku merindukan suasana seperti ini. Kehadiran mbak membuat kehidupan kami kembali normal. Tolong jangan tinggalkan kami. Meski kak Wulan dan mbak sangat berbeda, namun kami yakin mbak memiliki cinta yang sama seperti  kak Wulan. Mbak pasti tidak akan tega melihat kehidupan kami kembali seperti dulu. Masa lalu mbak yang kelam bukan penghalang bagi kami. Kami tahu, pasti ada alasan hingga mbak berbuat demikian.”

Aku menangis mendengar ucapannya. Ku balas pelukannya. Jujur aku bahagia berada diantara mereka. Serasa memiliki keluarga yang utuh kembali. Rasa kasih sayang yang telah lama hilang dan tak aku rasakan lagi. Aku sangat ingin berada dalam lingkungan keluarga yang bahagia.

Renita melepas pelukannya lalu menatapku. Airmatanya berlinang.

” Mbak janji tidak akan meninggalkan kami kan? janji ya?”

Aku akhirnya mengangguk.

” Iya, mbak janji. Mbak tidak akan pergi  karena mbak juga sangat menyayangi kalian. Mbak juga bahagia bisa menemukan kalian yang menerima mbak apa adanya.”

Renita memelukku lagi. Terima kasih ya Allah, karuniamu sungguh tak terhingga. Aku ingin memberikan cinta dan kebahagiaan untuk keluarga ini. Keluarga yang menerimaku dengan tulus dan penuh kasih.

********

0 komentar:

Posting Komentar