“ Pulanglah.” Tegur Dimas sambil menyentuh pundak Rara.
“
Gak baik kamu terus ada di sini. Ini udah malam. Aku antar pulang ya?”
lanjutnya sambil menatap penuh kasih. Rara meluruskan kakinya. Sejak
tadi duduk meringkuk di lantai membuat kakinya kesemutan.
“
Aku pulang kemana?” tanya Rara dengan mata sembab. Sejak tadi dia hanya
menangis menceritakan masalahnya. Dimas mendengarkan dengan penuh iba
namun tetap aturan kost harus di patuhi. Rara tidak bisa berada hingga
jam 8 malam di rumah kontrakkannya.
“
Kerumahmu. Jangan di ambil hati, orang tua marah itu biasa. Ayo, aku
antar kamu pulang.” Dimas meraih kunci motor dan jaket yang tergantung
di balik pintu.
“
Ayo. Sebelum aku di tegur ibu kost.” Panggil Dimas lagi ketika melihat
Rara belum beranjak dari duduknya. Rara kemudian bangkit dengan lesu.
Dia merapikan sejenak dandanannya di depan cermin.
Berdua mereka beriringan keluar. Teman-teman Dimas yang kebetulan duduk di teras, menoleh sambil tersenyum ketika Dimas menyapa.
“ Kamu pake jaketku.” Ucap Dimas lalu menyerahkan jaket pada Rara. Rara memakai jaket dan helm yang diserahkan Dimas.
“ Turunkan aku di depan rumah tanteku saja. Aku tidak ingin pulang ke rumah.” Ucapan Rara membuat Dimas menatapnya.
“
Ayolah, Ra. Gak baik seperti ini. Kamu udah 3 hari gak pulang ke rumah.
Orang tuamu bisa cemas. Kemarin kamu di rumah Susan, trus rumah Laras.
Malam ini rencana mau nginap di rumah tantemu? Kenapa gak balik saja ke
rumahmu?”
Rara menggeleng.
“
Aku masih kesal sama mama. Aku gak pengen ketemu mama dulu.” Jawab Rara
lalu duduk di belakang Dimas. Dimas tak berbicara lagi. Dia tidak ingin
memaksa Rara untuk kembali. Setidaknya malam ini dia merasa tenang
karena Rara akhirnya memilih menginap di rumah salah seorang tantenya.
Itu lebih baik daripada harus berpindah-pindah tempat.
Sepanjang
jalan mereka berdua hanya terdiam. Namun Dimas tidak tahu,
dibelakangnya mata Rara berkaca-kaca. Ingatan Rara kembali ke rumahnya.
Mengingat kembali masalah yang membuatnya kabur dari rumah. Rara
memejamkan mata, merasa pedih dengan ketidak adilan yang dirasakannya.
Masih
terngiang pertengkarannya dengan mama karena masalah Rahmi, kakaknya.
Rara protes karena mamanya selalu menuruti keinginan Rahmi.
“ Kakakmu itu kuliah di jurusan yang banyak biaya, wajar jika dia minta uang banyak.” Ucap mamanya menjawab protes Rara.
“
Tapi kak Rahmi gak seperti itu, ma. Rara udah lihat sendiri,kamar kost
kak Rahmi itu seperti hotel bintang lima. Lengkap. Seharusnya kan gak
seperti itu. Pantas aja biaya kostnya mahal.”
“
Loh, kok jadi menuduh kakakmu yang bukan-bukan. Dia gak pernah minta
uang lain ke mama selain biaya kuliah. Fasilitas hotel apa? Kamu kok
makin mengada-ada.”
“
Bener, ma. Di kamar kak Rahmi ada fasilitas AC, kulkas, spring bed, TV.
Kak Rahmi juga catering. Kalo mama gak percaya tanya saja sendiri sama
kak Rahmi.”
Tapi ucapan Rara tidak membuat mamanya percaya. Dia malah kena damprat dari Rahmi ketika tahu mengadu ke mamanya.
“
Kamu anak kecil tau apa? Jangan sembarangan kalo ngomong ya, bilang aja
kamu ngiri. Lain kali jangan datang ke tempat kostku lagi, aku gak suka
sama orang yang panjang mulut.” Ucap Rahmi di kamar Rara.
“
Tapi kasihan mama, kak. Kak Rahmi minta uang untuk hidup mewah. Apa gak
keterlaluan itu?” Rahmi malah melotot mendengar ucapan adiknya.
“ Itu bukan urusanmu!kalo kamu pengen minta aja sendiri jangan ikut campur urusan kakak.”
Rahmi kemudian keluar menemui mamanya. Dengan senyum manis dia lalu mencium tangan mamanya.
“ Rahmi balik dulu ya, ma.” Ucapnya sambil memeluk penuh kasih. Mamanya menepuk-nepuk pundaknya.
“ Belajar yang rajin, ya sayang. Hati-hati bawa motor.”
“ Iya, ma.”
Rara yang melihat dari balik gorden kamarnya hanya bisa menatap penuh kebencian.
“ Dasar pembohong! Kasihan mama.” Rara lalu mengambil tas. Dia keluar meninggalkan mamanya yang menatap heran.
“
Mau kursus, Ra?” tegur mamanya. Rara hanya mengangguk tanpa berbalik.
Dia terus berjalan melewati lorong-lorong perkampungan padat sekitar
rumahnya. Dia kesal karena mamanya tetap saja mau di bohongi kakaknya.
Mamanya begitu bangga anaknya lolos di fakultas kedokteran. Hingga semua
keinginan Rahmi di penuhi termasuk ketika Rahmi ingin tinggal sendiri
dan mengontrak di dekat kampusnya.
Alasan
Rahmi biar mudah jika ke kampus. Padahal Rara tahu, Rahmi malu jika
teman-temannya berkunjung dan melihat kondisi rumah mereka yang sangat
sederhana. Tentu teman-temannya akan mencibir melihat perbandingan
terbalik antara penampilan Rahmi dengan kondisi rumah. Sayang hanya Rara
yang tahu hal itu namun karena itu dia jadi sering berdebat dengan
mamanya.
“
Jangan urusi lagi kakakmu. Kuliahnya bisa terganggu. Biar dia tenang.
Apa kamu gak bangga punya sodara dokter, kamu saja mendaftar kuliah gak
lolos-lolos.” Jawaban mamanya membuat Rara makin kesal. Jika berdebat
pasti akan merembet ke masalah dia yang tidak juga berhasil masuk ke
perguruan tinggi negeri. Selalu menyinggung soal kepintaran yang tak
sama dengan kakakknya.
“ Bagaimana saya bisa lolos,ma jika saya tidak mendaftar?” jerit Rara dalam hati.
Mamanya
tidak pernah tahu kenyataan yang sebenarnya selalu Rara sembunyikan.
Rara tidak ingin menambah beban mamanya dengan ikut-ikutan kuliah
seperti kakaknya. Dia memilih kursus di balai latihan kerja.
Mengorbankan kepintarannya yang selalu meraih juara umum di sekolah.
Rara harus memendam cita-cita karena tahu mamanya tidak akan bisa
membiayai mereka berdua. Namun pengorbanan Rara malah dianggap kelemahan
yang makin membuat mamanya membela Rahmi.
“
Coba lihat kakakmu,cantik, pintar, sebentar lagi jadi dokter.
Seandainya ayahmu masih hidup, pasti dia sangat bangga.” Ucap mamanya
ketika mereka berdua duduk bersama. Rara terkadang muak, biasanya Rara
akan segera beranjak lalu masuk ke dalam kamarnya.
“ Apakah aku benar iri dengan kak Rahmi?” tanya Rara sambil menatap cermin. Dia tersenyum.
“ Ya, aku benar iri padanya karena sanggup melakukan apa saja termasuk membohongi mama.”
Rara
melihat sekeliling kamarnya. Sungguh berbeda dengan kamar Rahmi.
Kamarnya hanya berdinding tripleks yang bahkan tak di cat sama sekali.
“ Aku harus mengubah kamarku.” Ucap Rara mantap lalu keluar menemui mamanya.
“
Ma, Rara mau mengubah kamar Rara, boleh ya..” bujuk Rara sambil
merangkul mamanya. Mamanya melihat sekilas sambil mengaduk adonan pecel.
Seorang wanita yang tengah duduk menanti pecel buatan mamanya hanya
tersenyum.
“
Iya, nanti saja kita omongkan.” Rara melonjak kegirangan. Dia berlari
masuk ke dalam kamarnya. Otaknya segera mengatur rencana akan seperti
apa model kamarnya. Dia berencana menjadikan kamarnya seperti kamar
Rahmi. Apa bedanya dia dengan Rahmi, dia juga anak mama. Wajar jika dia
ingin diperlakukan sama.
“ Apa?” mamanya membelalak kaget saat mendengar keinginan Rara.
“
Apa gak berlebihan sayang? kamar kok mau pake AC, tipi layar datar,
spring bed, harus di tegel juga. Itu biaya gak sedikit, membuang uang
sia-sia.” Keluh mamanya lalu beranjak keluar ke teras lagi.
“
Tapi kamar kak Rahmi seperti itu, ma. Rara juga pengen punya kamar yang
keren seperti punya kak Rahmi.” Rara mulai merajuk. Selalu seperti ini
jika dia menginginkan sesuatu, tidak pernah terkabul.
“
Berhenti membicarakan kakakmu, setiap saat kamu selalu menuduh yang
bukan-bukan. Kakakmu itu butuh ruang yang nyaman biar tenang belajar.”
“
Rara juga mau punya kamar yang layak untuk di tempati bukan hanya kak
Rahmi. Apa mama tahu selama ini kak Rahmi selalu membohongi mama? Kalo
kemari saja penampilannya sederhana, mama gak tahu penampilannya di luar
seperti anak orang kaya saja. Mama pilih kasih.”
Plakk, mamanya menampar Rara. Rara yang terkejut hanya bisa menyentuh pipinya yang terasa sakit.
“
Jangan lagi mengatakan mama pilih kasih, semua sudah mama lakukan agar
kalian mendapat kehidupan yang layak. Soal kakakmu yang lebih beruntung,
itu hanya masalah takdir, jangan membuat mama makin terluka.” ucap
mamanya dengan tangisan.
Rara
berlari masuk ke kamarnya dengan menangis, meraih tas lalu meninggalkan
rumah dengan perasaan hancur. Hatinya sakit mendapat tamparan dari
mamanya. Sekarang benar-benar terbukti kalau mamanya memperlakukan dia
berbeda dengan kakaknya. Rahmi mendapat segalanya sedangkan dia tidak.
“ Ra, udah sampai.” Tegur Dimas. Rara tersadar dari lamunan. Dia segera turun lalu membuka jaket dan helmnya.
“ Makasih ya, Dimas. Aku mau nginap dulu di sini. Mungkin beberapa hari hingga aku tenang.”
Dimas tersenyum lalu mengusap rambutnya.
“ Sabar ya, sayang. Aku yakin kamu pasti baikan lagi sama mamamu.”
Dimas
kemudian menjalankan motornya meninggalkan Rara yang masih menatap
hingga bayangannya lenyap di antara lalu lalang kendaraan.
Baru saja hendak membuka pintu pagar, hape Rara berdering. Dari nomor yang tidak di kenalnya.
“ Halo.” Sapanya penasaran.
“ Ini mbak Rara, ya. Saya Wati, tetangga mbak. Ibu mbak sekarang sakit, lagi di rumah sakit.”
Rara
tercenung kaget mendengar berita tentang mamanya. Bergegas di naik
angkot dan menuju rumah sakit tempat ibunya di rawat. Di rumah sakit
telah hadir kakaknya, Rahmi yang menatap kesal padanya.
“
Ulahmu seperti ini ya, pergi gak pamit sama mama. Parah.” Omel Rahmi
yang kemudian beranjak meninggalkan ruangan. Seorang wanita yang Rara
kenal sebagai Wati mendorong kursi agar Rara bisa berada di samping
tempat tidur. Rara menyentuh tangan mamanya dengan perasaan sedih.
“ Mamaku kenapa mbak?” tanya Rara cemas.
“
Mbak gak tau persisnya, hanya waktu mau beli pecel tiba-tiba mamamu
terjatuh pingsan sampai sekarang belum sadar.” Rara menangis.
“
Kamu gak usah ada di sini. Tetap saja keluyuran biar batin kamu
tenang.” Tiba-tiba Rahmi sudah berada di belakangnya dengan kemarahan
terbaca jelas di wajahnya.
“ Kamu
itu ya, kalo gak bikin mama senewen dalam sehari saja gak betah. Niatan
amat bikin mama koslet.” Lanjut Rahmi. Rara menunduk sedih, bukan
karena ucapan Rahmi namun karena merasa bersalah telah meninggalkan
mamanya.
Tiba-tiba mama mereka tersadar. Rahmi segera mendekati mamanya.
“ Ma, mama sudah sadar? Mama bisa melihat Rahmi kan?” mamanya mengangguk pelan membuat Rahmi meneteskan air mata.
“
Jangan marah sama adikmu, kasihan dia.” Ucap mamanya terbata. Rahmi
melirik sekilas Rara yang kebetulan juga sedang melihatnya. Dia
mencibir.
“ Kalian berdua bersaudara, tidak baik berantem terus. Mama mau pulang saja, lebih enak di rumah daripada di sini.”
**
Sejak
insiden mamanya pingsan dan harus di bawa ke rumah sakit, Rara tidak
lagi berpikir macam-macam. Dia juga tidak lagi peduli dengan kehidupan
Rahmi. Baginya asal mamanya sehat itu sudah cukup membuatnya bahagia.
Dia tidak ingin menambah beban mamanya dengan meminta sesuatu karena
cemburu pada Rahmi.
Suatu
siang tanpa sengaja Rara menemukan selembar surat di tumpukan resep
obat milik mamanya. Hanya selembar namun sanggup mengguncang batinnya..
Mbak, maaf baru bisa kirim surat lagi, gimana kabar anakku Rahmi,
semoga kuliahnya lancar ya. Biaya bulanan untuk Rahmi selalu aku
transfer di rekening mbak, jangan sampai dia tahu kalau aku adalah
ibunya.
Rara tidak melanjutkan membaca surat itu. Dia hanya melihat nama si pengirim di akhir surat.
“Maya Lestari.” Gumamnya. Rara mencoba mengingat seperti pernah mendengar nama itu, tapi dimana?
Akhirnya
Rara bisa mengingatnya. Dulu ibunya pernah mengajak mereka mendatangi
hotel berbintang. Entah apa nama hotel itu. Di sana mereka bertemu
dengan seorang wanita yang sangat cantiik. Rara ingat wanita itu bernama
Maya Lestari. Ternyata dia ibu kak Rahmi, pikir Rara.
“ Jangan pernah membaca surat-surat mama tanpa sepengetahuan mama.” Mamanya tiba-tiba muncul dan merampas kertas di tangan Rara.
“ Tapi, ma, tante Maya itu..”
“
Jangan pernah menyebut nama itu di rumah ini. Terutama Rahmi jangan
sampai tahu kalau mamanya adalah wanita panggilan. Jangan pernah.”
“
Rara harus tahu yang sebenarnya! Itukah alasan mama membedakan kami
berdua? Karena kak Rahmi punya mama kandung yang membiayai hidupnya
sedang aku hanya punya mama yang miskin?”
“
Cukup! Mama mohon jangan bertengkar lagi dengan kakakmu. Biarkan dia
menjalani hidupnya,kamu menjalani hidupmu. Hiduplah sebagai saudara yang
baik dan jangan membuat mama pusing lagi.”
Rara terdiam begitu juga dengan mamanya. Mereka berdua tak menyadari, Rahmi meninggalkan rumah dengan berlinang air mata.**
0 komentar:
Posting Komentar