“ Ruri! Ada apa? kenapa kucingnya?” Ibu menatapku panik saat melihat
leher kucing kesayangannya yang berharga jutaan menjuntai. Buru-buru
ibu mengambilnya dari tanganku lalu meraba kucing itu. Ibu terkulai
lemah di lantai sambil menatapku, tangisnya pecah.
“ Kamu apakan kucing kesayangan ibu, Ruri? Kamu apakan?!?!”
Ibu mengguncang tubuhku. Aku hanya diam menatapnya. Dalam benakku di
usiaku yang ke enam, aku hanya tidak suka ibu lebih menyayangi kucing
itu daripada aku.
“ Ruri hanya ngajak main, bu.” Jawabku tenang.
“ Main apa?!?!” Ibu makin histeris.
“ Main Oreo. Di putar, terus di celupin deh di kolam.”
0 komentar:
Posting Komentar