Sejak
pilkades digulirkan dan termasuk dalam kandidat terkuat untuk menduduki
jabatan kades, mas Hans mulai diliputi rasa cemas. Cemas akan nasib
pentungan yang selama ini selalu bersamanya, cemas akan
nasib pos ronda, cemas akan nasib Dorma sepeninggalnya dan terutama
cemas akan nasib cemilan dan makanan yang selalu ada menemani malam-malam mereka di pos ronda.
Berhari-hari
mas Hans berpikir. Pikirannya jadi bercabang kemana-mana. Selain harus
mempersiapkan diri untuk kampanye kades, mas Hans juga harus memikirkan
calon penggantinya. Belum lagi setiap hari harus mendengar kampanye dari
gadis-gadis dan wanita-wanita Rangkat yang berebut untuk menjadi ibu
kades. Makin membuat pusing kepala mas Hans.
“ Aku harus tenang. Masalah harus di clearkan satu persatu.” Ucap mas Hans mencoba menenangkan pikirannya yang mulai galau.
“ Belum jadi kades sudah puyeng begini, bagaimana nanti kalau udah jadi kades.” Keluhnya sambil memeluk guling.
Mas
Hans mulai memikirkan calon penggantinya di pos ronda untuk menemani
Dorma. Terpikir untuk membuka pendaftaran penerimaan hansip. Tapi siapa
warga Rangkat yang berminat menjadi hansip? Sejak dulu bahkan telah
digalakkan pemberdayaan hansip wanita namun yang bertahan hanya Dorma
seorang. Itu juga tidak lepas dari peran mas Hans yang tahu bagaimana
cara membuat Dorma betah di pos ronda. Mas Hans rela menyediakan cemilan
dan makanan agar Dorma tidak menolak jabatan hansip. Ternyata ide itu
membuat Dorma akhirnya mengikuti pendaftaran dan terpilih menemani mas
Hans hingga sekarang.
“Jadi kira-kira siapa ya, yang bisa menggantikan aku jadi hansip?” gumam mas Hans bingung.
Tiba-tiba mas Hans memukul gulingnya.
“
Aduh! Kenapa aku jadi lola begini? Kan ada si Rey, tuh anak harus
segera di paksa kembali ke habitatnya menjadi hansip. Dia harus tunduk
pada perintah atasan. Cukup sudah selama ini aku memberikan kebebasan
dan cuti yang lumayan panjang. Dia harus menggantikan aku dan menemani
Dorma di pos ronda.”
Mas Hans akhirnya tidur dengan nyenyak. Walau episode cerita masih berlanjut karena mas
Hans mimpi di kejar-kejar wanita-wanita Rangkat yang ingin
mendampinginya menjadi ibu kades. Susah payah mas Hans melepaskan diri
meski tidak sepenuhnya berhasil karena ternyata ada seorang wanita yang duduk
di boncengan motornya. Wajahnya samar namun suaranya terdengar jelas.
Mas Hans terbangun karena kaget. Dia mencoba mengingat siapa wanita yang
telah hadir dan menjadi ibu kades dalam mimpinya.
Sementara
itu gosip panas tentang pengganti mas Hans sebagai hansip rupanya telah
sampai ditelinga Rey. Dia sudah harap-harap cemas, berdoa siang dan
malam semoga mas Hans lupa akan keberadaanya. Semoga mas
hans lupa kalau dia pernah menjadi hansip di Rangkat. Pokoknya semoga
mas Hans terkena amnesia.
Sayang
sekali doa Rey tidak terkabul. Ketukan di pintu dan suara nyaring yang
memanggil namanya membuatnya melompat dari kursi saking kagetnya.
“
Rey, aku tahu kamu didalam! Ayo buka pintunya. Aku bawa kabar baik
untuk kamu.” Teriak mas Hans dari luar sambil menggedor-gedor pintu
dengan pentungan yang sebentar lagi akan diserahterimakan.
Rey
berdiri terpaku dibalik gorden pintu. Rasa cemas kini berubah menjadi
rasa takut. Dengan mengendap-endap dia menuju pintu ruang tamu.
Mengintip lewat gorden jendela. Namun naas baginya karena di waktu yang
sama, mas Hans juga tengah mengintip ke dalam rumahnya. Mas Hans
tersenyum saat matanya bertemu pandang dengan Rey.
“
Aha, Rey. Ayo buka pintunya. Seharusnya kamu senang aku datang
berkunjung. Aku juga rindu sama kamu…” bujuk mas Hans membuat batin Rey luluh.
Pintu
akhirnya terbuka dan nampak Rey dengan baju kaos dan sarung
kotak-kotak. Mas Hans memandangnya dari ujung kaki ke ujung rambut
dengan penuh iba.
“ Sudah
sepantasnya kamu kembali jadi hansip. Penampilanmu sekarang ini sungguh
memilukan.” Ucapnya membuat Rey susah untuk bernafas.
“ Ja..ja..di hansip, mas Hans?” tanya Rey seolah ingin menyakinkan dirinya. Mas Hans mengangguk cepat.
“
Semalam aku berpikir, siapa kira-kira yang nanti bisa menggantikan aku
jadi hansip. Aku lupa kalau kamu masih memegang kartu anggota hansip
Rangkat. Hanya karena alasan yang tidak jelas, kamu memilih untuk cuti
sementara waktu. Karena aku sudah terpilih menjadi kades
yang baru, sekarang aku ingin kamu kembali menjadi hansip. Menempati
posisi yang dulu kamu tinggalkan.”
“ Ta..ta..pi.”
“
Tidak ada alasan tapi tapi an lagi. Aku sudah memberikan waktu yang
sangat panjang untuk kamu mengurus kegiatanmu yang tidak jelas itu.
Sekarang Desa Rangkat membutuhkan kehadiran seorang hansip. Sementara
untuk membuka pendaftaran, aku yakin lebih sulit dibanding harus
membujuk kamu. Sekarang juga kita menghadap ke bos, Pak Thamrin Dahlan.
Kamu harus kembali ke kesatuan.”
Rey
makin panik. Tanpa berpikir panjang lagi dia langsung berlari keluar
rumah. Mas Hans yang tidak menyangka tindakan nekad Rey hanya terpana
sebelum akhirnya ikut keluar dan mengejar Rey yang lari pontang panting.
“
Rey!!!! Kembali kau! Mau kemana? Kemanapun kau pergi, akan aku kejar!
Pokoknya kamu harus kembali jadi hansip!!!” teriak mas Hans.****
0 komentar:
Posting Komentar