Kamar
kontrakan mas Reporter sudah seperti kapal pecah. Seprei, kasur dan
bantal pindah ke lantai. Lemari terbuka dan isinya berantakan. Kertas
dan map bercampur aduk di lantai. Mas Reporter akhirnya tak sanggup
lagi. Dia kelelahan bercampur stress karena benda yang dia cari belum
juga ditemukan.
“
Aku taruh dimana, ya? Apa masih di kantor desa atau udah aku ambil?
gawat kalo sampai hilang. Aku gak mungkin minta tanda tangan Kembang
lagi. Ntar dia curiga tanda tangan itu untuk apa.” Ucap mas Reporter
sambil mengusap keringat di keningnya.
“
Permisi! Mas Rizal?Assalamu Alaikum.” Terdengar suara perempuan dari
luar. Mas Reporter beranjak berdiri lalu keluar menuju teras. Wajahnya
seketika berubah pucat pasi saat melihat wanita yang sedang berdiri
didepannya. Kembang menatap dengan wajah kesal nyaris menangis.
“
Mas Rizal kok nggak ngomong kalo tanda tangan Kembang untuk kelengkapan
berkas pernikahan kita? Nih berkas dari kantor desa. Tadi mas Kades
memberikan ini ke Kembang.” Kembang menyerahkan map warna kuning
kemudian beranjak pergi dengan air mata berlinang. Dia berlari
meninggalkan rumah mas Reporter.
“ Kembang!!! Jangan pergi dulu!! Teriak mas Reporter sambil ikut berlari mengejar Kembang.
Sementara
di kantor desa, mas Kades Hans nampak murung. Bunga gladiol yang
berderet didepannya bukan lagi pemandangan yang indah. Sejak tadi dia
hanya menarik nafas sambil memainkan pulpen ditangannya.
Asih dan Acik yang bergantian mengintip makin bingung.
“ Apa ada peristiwa yang luput dari perhatian kita,Ciek?” tanya Asih. Acik berpikir beberapa saat.
“Sepertinya
tidak ada tuh,mbak. Cuma tadi mas kades keluar membawa map kuning.
Nggak tahu map itu untuk apa. Pulangnya, wajah mas kades udah seperti
itu.”
“ Kamu nggak tahu berkas apa yang di map kuning itu?”
“ Belum sempat sih, mbak. Aku baru mau memeriksa trus keburu di ambil mas kades untuk ditandatangani.”
“ Kira-kira kenapa ya, mas kades jadi berubah murung?”
Mereka berdua belum menemukan sebab dari perubahan sikap mas Kades.**
ECR4
0 komentar:
Posting Komentar