Senin, 27 Februari 2012

Warung Ibu Wardi

0

Pasar sudah sepi siang itu ketika saya mendekati sebuah warung kecil yang hanya ditutupi tenda seadanya. Sebagian tenda malah sudah terlihat ada yang berlubang. Saya masuk ke dalam warung itu. Terlihat ibu Wardi pemilik warung sedang tertidur. Saya tersenyum. Mungkin dia kelelahan. Saya lalu mengucapkan salam. Ibu Wardi langsung terbangun. Karena sudah lanjut usia, ibu Wardi membutuhkan waktu beberapa menit untuk duduk. Sambil tersenyum ibu Wardi bangun dari pembaringannya.

Yang biasa,bu” saya menyebutkan makanan yang biasa saya pesan. Ibu Wardi lalu menuju meja tempat dia meletakkan makanan yang di jualnya.

Tumben sepi, bu. Biasanya rame..”

Biasa, bu. Kalah saingan sama warung di perempatan jalan itu..”

Ibu Wardi menunjuk ke arah warung yang baru seminggu buka. Saya menengok sebentar ke arah warung itu.

Semenjak ada warung itu, pembeli di warung ini langsung berkurang..” kata ibu Wardi lagi. Saya hanya terdiam.

Tapi makanan yang ibu jual juga enak, suami dan anak saya yang kecil malah maunya di belikan di warung ibu…” ibu Wardi tertawa.

Terima kasih. Tapi mungkin hanya ibu saja yang betah membeli makanan di tempat saya…” katanya sambil membungkus makanan yang saya pesan. Setelah membayar makanan saya kemudian keluar dari warung. Dengan berjalan kaki saya melewati warung yang disebutkan ibu Wardi. Dari luar terlihat banyak orang yang sedang makan di warung tersebut. Ada juga yang berdiri mungkin pembeli yang seperti saya. Membeli dalam bentuk bungkusan.

Sebenarnya tiga hari yang lalu saya membeli makanan di warung tersebut. Awalnya hanya ingin mencoba. Namanya warung baru. Tapi saat tiba di rumah dan kami memakan makanan tersebut kami langsung kecewa. Rasanya jauh bereda dengan masakan ibu Wardi. Makanan yang ibu Wardi jual jauh lebih enak. Kekurangan warung ibu Wardi hanya masalah tempat. Seandainya ibu Wardi mau mengubah model warungnya pastilah banyak orang yang akan datang untuk membeli makanan di tempatnya. Mungkin ibu Wardi juga menyadari hal itu tapi karena tidak ada modal maka dengan segala keterbatasan ibu Wardi tetap membuka warungnya. Walau dari ke hari pembeli yang datang makin berkurang.

Saya teringat saat ibu Wardi baru saja membuka warung di dekat pasar tersebut. Makanan yang dijualnya laris manis. Saya menjadi langganan bu Wardi sejak  menetap di kota ini. Banyak pembeli yang memilih ke tempatnya karena selain murah, makanannya juga enak. Terkadang saya malah tidak kebagian makanan karena terlambat datang. Padahal saat itu baru jam dua belas siang. Waktu itu suami ibu Wardi, pak Wardi masih hidup. Anak-anaknya juga masih bisa membantu. Tapi setelah suaminya meninggal dan anak-anaknya menikah. Jadilah warung itu di kelola sendiri oleh ibu Wardi. Anak-anaknya sesekali datang membantu tapi itu jarang sekali. Kondisi warungnya juga makin lama makin mengenaskan tidak seperti waktu pertama kali di buka. Walau begitu ibu Wardi tetap bertahan. Mungkin dalam pikirannya asal bisa mendapatkan uang walaupun cuma sedikit tapi setidaknya ada yang menopang hidupnya.

***

Pagi itu saya bermaksud membeli makanan di warung ibu Wardi. Tapi dari jauh terlihat warungnya sudah tidak ada. Saya baru saja pulang dari kampung halaman selama dua minggu jadi saya tidak tahu kapan pastinya warung ibu Wardi tutup.

Saya menghampiri bapak tukang tambal ban yang ada disitu. Saya hanya ingin mendapatkan informasi kemana pindahnya ibu Wardi. Kalau jaraknya masih dekat, saya pasti akan tetap membeli makanan di warungnya.

Ibu Wardi sudah meninggal bu, seminggu yang lalu. Kecelakaan. Ibu Wardi ketabrak minibus…di jalan sana… di belokan itu….” kata bapak itu sambil menunjuk arah dengan dagunya. Tangannya masih memegang ban.

Saya tertegun lalu mengucapkan kalimat inna lillahi wainna ilaihi rojiun. Kabar ini terlalu mengejutkan. Tanpa sadar saya meneteskan air mata. Bapak itu kemudian bercerita kalau ibu Wardi baru saja mau ke warungnya sambil membawa makanan. Tiba di belokan tiba- tiba muncul minibus yang melaju kencang. Becak yang di tumpangi ibu Wardi tertabrak. Ibu Wardi dan tukang becak itu terluka parah. Mereka di bawa ke rumah sakit tapi nyawa ibu Wardi tidak bisa diselamatkan. Akhirnya ibu Wardi meninggal beberapa jam setelah berada di rumah sakit.

Saya meninggalkan lokasi pasar dengan langkah lesu. Terbayang dalam ingatan wajah tua ibu Wardi. Di usianya yang sudah semestinya istrahat ibu Wardi masih saja mencari nafkah untuk menyambung hidupnya. Kehidupan yang sangat menyedihkan.

Saat melewati warung di perempatan jalan, saya teringat kata-kata ibu Wardi. Saya tidak singgah di warung itu  tapi terus melangkah pulang ke rumah. Biarlah untuk saat ini saya tidak membeli di warung tersebut. Mungkin nanti saat saya sudah bisa melupakan ibu Wardi dengan warungnya.***

0 komentar:

Posting Komentar