Sabtu, 06 Agustus 2011

Kekasihku, Luna

0




13105641991119181179


Gary, bubuk racun yang dulu kamu ceritain itu bisa membunuh nggak kalau diminum banyak?

Gary terlonjak kaget membaca sms singkat dari pacarnya. Dengan cepat diketiknya balasan sms.

Kok nanya yang gituan? Emang mau ngapain?

Nggak kok. Cuma nanya saja..

Tapi kok nanya yang seperti itu? Bikin aku kaget saja..

Hehehe Cuma bercanda..

Tak ada balasan lagi. Gary tetap mematung didepan laptopnya. Matanya memandang deretan angka-angka dalam laporan bulanan yang harus dia selesaikan. Tapi pikirannya kini tak konsentrasi lagi. Pikirannya dipenuhi wajah kekasihnya, Luna. Gadis itu sekarang sedang tertekan mungkin nyaris depresi karena penolakan keluarganya terhadap hubungan cinta mereka. Sms nya barusan makin membuat pikiran Gary tidak tenang.

Handphone yang masih ada ditangannya mulai dia perhatikan lagi. Akhirnya tangannya memencet nomor kekasihnya. Dia mencoba menghubungi lagi. Tapi tidak diangkat. Menelpon berulang-ulang juga tidak diangkat. Karena panik tidak ada respon dari kekasihnya, Gary bangkit dari kursi yang telah empat jam menemaninya. Diraihnya kunci mobil lalu berjalan keluar dari kantornya. Malam ini dia berniat lembur. Sambil berjalan keluar dia mencoba menenangkan diri. Tugas kantor bisa dia kerjakan setelah balik kembali, batinnya. Toh dia juga tidak bisa mengerjakan apapun kalau rasa penasaran akan keadaan Luna terus menghantui.

Gary menuju pelataran parkir dengan langkah tergesa. Apalagi sambil menuju pelataran dia terus mencoba menghubungi handphone Luna, tapi tetap tidak diangkat. Perasaan cemas makin sulit dia kendalikan. Rasa cemas itu beralasan karena dia tahu Luna pernah melakukannya saat dia SMA. Gary juga yang waktu itu dengan panik membawanya ke rumah sakit. Sekarang saat Luna mengatakan hal yang sama, wajar kalau Gary mengingat kejadian saat mereka SMA.

Sepanjang perjalanan Gary terus menelpon. Jarak rumah Luna yang jauh membuatnya menyesal mempunyai mobil. Ingin rasanya dia memiliki pesawat jet pribadi yang bisa dengan cepat mendarat didepan rumah Luna. Tapi apa daya dia tidak bisa secepat itu tiba walau harus mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Setiap tiba di lampu merah, Gary selalu mengumpat. Kasabarannya betul-betul telah habis.

Dia ingin memaki tapi memaki siapa? Dia tidak mungkin marah pada kekasihnya yang bahkan tidak mengangkat telponnya sejak sms terakhir. Dia juga tidak bisa marah pada lampu merah yang memang tugasnya seperti itu. Kalau dia nekad mungkin akibatnya lebih fatal. Bisa saja dia kecelakaan atau malah ditahan petugas karena melanggar aturan. Bukannya mempercepat kerumah Luna malah makin memperlambat.

Gary bernafas lega saat memasuki kompleks rumah Luna. Suasana kompleks sangat sunyi. Maklum sudah jam sepuluh malam. Hanya gerobak penjual makanan yang terlihat lengkap dengan suara penjualnya yang memecah kesunyian malam. Makin mendekati rumah rumah, Gary makin tegang. Dia takut melihat kenyataan kalau kekasihnya telah menjadi mayat.

Ketika jaraknya mobilnya dengan rumah Luna kurang beberapa meter lagi, Gary menajamkan pandangannya. Didepan rumah Luna ada gerobak bakso yang sedang parkir. Sepertinya pembeli dari rumah Luna. Gary lalu memarkir mobilnya, dia sengaja memarkir agak jauh agar tidak terlihat oleh keluarga Luna.

Gary turun dari mobil lalu berlari mendekati gerobak bakso yang ada di depan rumah Luna. Dia bersyukur ada gerobak disitu, jadi dia bisa mengintip tanpa ketahuan keluarga Luna. Matanya tak henti memandang kearah rumah Luna yang masih terang benderang. Lampu kamar Luna juga masih menyala. Tapi anehnya, tak ada keributan. Apakah tidak terjadi apa-apa pada Luna? Pikir Gary.

“ Mas, baksonya banyakin ya..” suara lembut seorang gadis membuat mata Gary melotot. Dengan cepat dia menoleh melihat kearah gadis berambut panjang yang tengah berdiri disamping penjual bakso.

“ Luna?!? Teriaknya kaget. Tak sadar Gary maju dan langsung memeluk Luna dengan sangat erat. Luna yang tak menyangka akan kedatangan Gary juga sangat terkejut.

“ Gary?kamu kog disini? Katanya di kantor?” tanyanya saat Gary melepaskan pelukannya. Gary memeluknya berulang-ulang dengan rasa gembira.

“ Syukurlah kamu tidak apa-apa.” ucapnya dengan rasa lega. Luna menatap heran kearah kekasihnya yang terus tersenyum.

“ Lho, memangnya aku kenapa? Aku sehat-sehat aja kok? Kan tadi dah sms an.”

“ Nggak apa-apa. Sekarang aku dah tenang.”

“ Kamu kok aneh begitu sih? Memangnya aku kenapa?”

Gary tidak menjawab. Dia langsung memeluk kekasihnya itu lalu berlari ke mobilnya.

“ Besok aja aku telpon, aku balik kantor dulu. Banyak kerjaan!” teriaknya sambil membuka pintu mobil. Gary menjalankan mobilnya dengan santai. Batinnya kini tenang. Tak ada yang perlu dicemaskan. Kecurigaannya tidak beralasan. Dia sudah berpikir kalau Luna akan bunuh diri ternyata kekasihnya itu malah sibuk membeli bakso. Gary masih tersenyum-senyum. Dia tidak menyadari kekasihnya masih memandangnya dengan rasa heran bahkan saat mobilnya telah menghilang dari pandangan.**

_________________

0 komentar:

Posting Komentar