Aku masih diam di kamar ini. Walau matahari telah meninggi tapi selimutku tetap tak meninggalkan tubuh. Rasa dingin karena merasa demam membuat selimut ini menjadi temanku sejak semalam. Aku tak ingin minum obat. Rasa takut akan ketergantungan dengan obat membuatku bertahan mengandalkan kekuatan badan untuk melawan penyakitku.
“ Mita..ayo minum dong obatnya. Sejak semalam demammu tidak juga hilang. Kalau nggak minum obat, demammu tidak akan turun.” Suara Kirey sahabatku membuatku membuka mata. Dia masuk lagi untuk menemaniku. Dia nampak segar karena baru saja selesai mandi.
“ Tuh, kan. Kamu gitu deh. Badanmu itu butuh obat. Kalau tidak minum obat gimana mau sembuh?”
Aku memaksa diri tersenyum. Akh, bagaimana harus memberitahu Kirey tentang penyakitku. Dia pasti mengira ini hanya demam biasa. Sahabatku itu tak perlu tahu. Aku tidak tega kalau harus membuatnya semakin cemas. Sejak aku sakit, dialah yang paling sibuk mengurusku. Entah apa jadinya aku tanpa kehadiran dirinya. Terdampar di kota yang jauh dari rumah. Tak ada sanak saudara. Kehadiran Kirey memang seperti malaikat bagiku.
“ Atau telpon mas Edi saja, gimana? Dia harus tahu kamu sedang sakit.” Usul kirey itu membuatku menggeleng cepat walau lemah.
“ Tidak usah.”
“ Lho? Kok tidak usah? Mas Edi kan pacarmu? Pacar sakit ya harus tahu.”
“ Dia tidak perlu tahu.” Kataku lagi mencoba mematahkan semangatnya.
“ Kalian bertengkar?”
“ Tidak.”
“ Lalu?”
“ Mas Edi tidak perlu tahu. Dia terlalu sibuk dengan kerjaannya. Kasihan kalau harus datang kemari.”
Kulihat Kirey menghela nafas. Aku tahu dia belum menyerah.
“ Kalian pasti bertengkar.”
“ Tidak.”
“ Kalo begitu buktikan! Sekarang kita hubungi mas Edi.” Tangan Kirey meraih handphoneku yang ada di atas meja dengan cepat. Andai tubuhku tidak lemah, pasti aku sudah mendahului gerakannya. Dengan cepat Kirey mencari nomor mas Edy, lalu memencet tombol panggil. Kupandangi wajahnya yang dari ekspresi semangat berubah menjadi lesu.
“ Tidak aktif.” Katanya tanpa semangat. Aku bangkit perlahan lau meraih handphone dari tangannya. Kuselipkan handphone itu di bawah selimutku.
“ Kalian sudah putus, ya?” pertanyaan Kirey ini membuatku tersenyum perih walau dalam hati aku ingin mengatakan mungkin.
“ Mas Edi sedang tugas dalam hutan. Di sana tidak ada sinyal. Jadi percuma menghubungi dia.” Kataku pelan.
Aku hanya bisa melanjutkan dalam hati. Mas Edi juga tidak ingin aku menghubunginya. Jangankan menelpon, mengirim sms saja tidak boleh. Dia tidak ingin terganggu. Benarkah aku mengganggunya? Seorang wanita menghubungi kekasih tercinta, bisakah itu disebut mengganggu? Bukankah saat awal kami pacaran dialah yang terus menghubungiku? Mengapa sekarang telpon dan sms ku membuatnya terganggu?
“ Aku ke belakang dulu ya, mau buatin kamu bubur.” Kirey pamit sambil membawa piring kotor ke belakang. Kupandangi tubuhnya yang menghilang dibalik gorden. Airmataku yang sejak tadi tertahan akhirnya merembes. Mengalir membentuk aliran sungai yang deras. Aku tidak ingin menangis di depan Kirey. Walau dia seperti malaikat, tapi rasanya tidak tega kalau harus membuatnya ikut bersedih.
Kirey tidak perlu tahu kalau seminggu yang lalu aku pingsan di sebuah warung makan. Saat hendak memesan makanan tiba-tiba saja kepalaku terasa pening. Saat aku sadar ternyata aku tengah terbaring di kamar pemilik warung. Ibu pemilik warung menatapku dengan penuh kasih.
“ Istrahat saja, nak. Tidak apa-apa. Nanti kalau sudah baikan, baru pulang ya..” katanya ramah. Sosok keibuan yang membuatku sangat merindukan ibuku. Airmataku menetes. Ibu itu menghapus airmataku dengan lembut.
“ Tadi waktu kamu pingsan. Handphonemu bunyi. Ibu terima. Katanya dari Edi, dia pacarmu ya?”
Aku mengangguk.
“ Ibu beritahu kalau kamu sedang pingsan. Dia panik dan menelpon terus. Mungkin sebentar lagi dia menelpon. Dia sudah janji sama ibu.”
Benar saja. Belum selesai si ibu mengucapkan kalimatnya. Handphone berdering. Ibu itu yang menerimanya.
“ Halo, iya nak Edi. Mbaknya sudah sadar. Nih, mbaknya mau bicara.”
Ibu itu menyerahkan handphone kepadaku. Tapi bukannya berbicara, aku malah mematikan handphoneku. Wajah si ibu terlihat bingung. Mungkin dia heran karena aku mematikan handphoneku.
Suara handphoneku yang satunya berdering lagi. Kali ini aku sendiri yang meraihnya. Kulihat dilayar nama mas Edi yang muncul. Aku mematikannya lagi. Keheranan makin terlihat dari wajah si ibu.
“ Kok dimatikan? Kasihan nak Edi dari tadi panik. Dia ingin tahu kabar kamu bagaimana?”
Aku hanya tersenyum lalu berusaha bangun dari pembaringan. Ibu itu tidak perlu tahu masalahku. Mas Edi juga. Cukup hanya aku sendiri. Satu-satunya orang yang ingin aku beritahu malah menghindariku. Jadi sekarang untuk apa mas Edi khawatir dengan keadaanku.
“ Nggak apa-apa kok bu. Nanti saja di rumah baru aku hubungi.” Kataku mencoba menghilangkan rasa penasaran dalam pikiran si ibu. Aku lalu duduk, merapikan diri lalu berdiri. Kepalaku masih sedikit pusing tapi tetap kupaksakan untuk berjalan.
“ Sudah bisa jalan ya?” tanya si ibu cemas sambil memapahku keluar kamar.
“ Sudah bisa kok, bu. Makasih.”
Ibu itu mengantarku keluar ke warungnya. Aku memilih untuk duduk dulu diwarungnya. Kupesan makanan yang tadi tak jadi karena aku terlanjur pingsan. Dengan cepat anak si ibu menyiapkan pesananku lalu membawanya didepanku.
Ibu pemilik warung masih duduk agak jauh disebelahku. Sepertinya dia sangat khawatir. Untunglah warung tidak terlalu ramai jadi insiden pingsanku tadi tidak menjadi tontonan. Sambil mengunyah makananku sesekali kupandangi si ibu yang tersenyum melihatku.
Akhirnya aku tak tahan. Tangisku pecah. Perhatian ibu itu membuatku merindukan ibuku. Tapi airmataku menetes karena mas Edi. Dialah yang membuatku menangis akhir-akhir ini. Kata-kata mas Edi sebulan yang lalu membuatku sedih.
“ Maaf kalau aku kurang perhatian akhir-akhir ini, tapi aku mohon pengertian dari kamu. Sekarang ini aku lagi banyak masalah di kantor. Aku butuh menenangkan pikiran. Kalau bisa telpon dan sms kita kurangi dulu, kalau bisa. “
Aku hanya terdiam mendengar kata-katanya. Aku berharap itu hanyalah sekedar kata-kata yang nanti akan batal jika rasa rindu datang. Namun mas Edi membuktikan kata-katanya. Setiap aku menelpon, dia seperti tidak antusias menyambut. Begitu juga sms-sms yang kukirim padanya. Akhirnya dari sehari, menjadi dua hari, tiga hari hingga seminggu. Aku bertahan untuk tidak menghubunginya. Rasa bertahan yang kubangun dengan susah payah karena begitu beratnya menahan rindu.
Aku berusaha menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan, agar aku bisa melupakannya. Kadang aku berpikir, apakah kami masih berpacaran? Kalau masih kenapa aku tidak boleh menelpon apalagi mengirim sms? Bukankan sepasang kekasih harus saling memberi semangat dalam suka dan duka? Saling memberi kabar? Mengingat jarak kami yang jauh, perekat cinta kami apalagi kalau bukan telpon dan sms. Hati kita bukan jaringan on line yang bisa saling berbicara. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mas Edi kalau tidak menghubunginya.
Aku bukan tidak mempercayainya. Rasa percaya itu ada sejak aku mengenalnya. Namun permintaannya untuk tidak menghubunginya seperti menikam hatiku. Aku merasa seperti sesuatu yang mengganggu hingga harus dia hindari. Wajar kalau aku berpikir demikian. Kalau kehadiranku membuatnya tidak tenang, sebutan apalagi yang pantas selain pengganggu?
Karena tidak tahan, aku mengirim sms padanya..
Kalau tidak bisa telpon dan sms, jadi kita kapan ngomongnya?
Kesabaranku sudah habis saat mengirim pesan itu. Tapi balasan yang aku terima membuatku makin merasa sakit.
Aku butuh menenangkan diri..tolong dimengerti..
Menenangkan diri dari siapa!!! Jeritku tertahan. Dari aku? Kenapa mas Edi malah menghindari aku? Kalau bukan aku penyebabnya mengapa harus menghindar?
Aku tidak sadar saat tangan ibu itu mengelus pundakku. Dengan lembut si ibu menyorongkan tissu di depanku. Kuraih tissu dengan cepat sambil memohon maaf.
“ Sabar, ya nak.” Kata si ibu sambil tetap mengelus pundakku.
Kesedihanku belum usai tapi aku segera pamit. Setelah mengucapkan terima kasih aku kemudian meninggalkan warung. Sambil berjalan kaki menuju tempat kostku susah payah kutahan air mataku. Mas Edi, apa yang kau inginkan sebenarnya? Mengapa menghindariku? Kalau ingin putus, mengapa tidak bicara saja terus terang. Tidakkah mas Edi ingin berbagi cerita dengaku? Dan tidakkah aku juga punya cerita yang ingin aku bagi?
“ Mita? Kamu nangis ya? Kenapa?” suara Kirey membuatku tersadar. Kubalikkan badanku. Terlambat menghapus airmata yang membasahi wajahku.
“Kamu kenapa? Kangen dengan mas Edi?” aku tak menjawab. Malah airmataku yang kian deras membasahi pipiku.
“ Jadi bagaimana dong? mas Edi susah dihubungi.” Wajah Kirey terlihat sedih. Dia maju lalu duduk di sebelahku. Dengan lembut diusapnya rambutku.
“ Tidak usah menghubungi mas Edi. Dia tidak perlu tahu. Kasihan dia sudah terlalu pusing dengan urusan kantor. Aku hanya menganggunya saja.” Kataku dengan suara tertahan karena tangisan.
Benar,mas Edi tidak perlu tahu tentang aku. Tentang penyakitku. Akan menambah beban dalam pikirannya. Aku tidak ingin dia terganggu. Cukuplah rasa sakit hati di anggap mengganggu pikirannya. Biarlah penyakit ini cukup aku yang tahu. Kanker di otakku, dia tidak perlu tahu.***
_______________________________________________________________


0 komentar:
Posting Komentar